
"Kamu udah telepon mertua kamu, Yu?" pak Berton bertanya saat dua pasangan beda generasi itu selesai makan malam.
"Hm? Belum!" Ayu yang bersiap mengantar piring kotor ke wastafel yang berjarak sekitar tiga meter dari posisi meja makan berhenti sejenak. Tumpukan piring yang tadinya sudah di tangannya kembali di letakkan di atas meja.
"Kok belum! Telepon dong, kasih tahu kalian sudah ada di rumah bapak. Nanti mertuamu kira kalian masih di hotel. Sukur-sukur nggak datang jenguk kalian, gimana kalau tiba-tiba datang berkunjung malam ini, ternyata kalian nggak ada lagi," ujar pak Berton.
"Beb, telepon Mama, gih!" titah Ayu pada Jansen yang masih ada di meja makan juga.
"Kok suruh nak Jansen. Kamu dong!" Bu Rohaya menyahut.
"Harus Yuyu, ya?" tanya gadis itu seraya menggaruk kepala.
Ayu nyengir pada kedua orang tuanya juga pada suaminya.
"Ya, iya. Harus kamu!" ujar ibunya seraya mengambil piring yang tadi hendak di antarkan Ayu.
Mendengar itu, Ayu akhirnya berjalan ke ruang tamu. Dia mengambil ponsel yang di charger di dekat televisi.
Sambil menggigit jari, dia menempelkan ponsel yang sudah berbunyi tut tut itu.
"Malam, Ma!"
"...."
"Sehat, Ma. Sehat. Pegelnya udah sembuh. Kemarin si beliin balsem."
"...."
"Nggak mungkin dong, Ma. Yuyu sehat, kuat jasmani dan rohani."
"...."
"Itu yang mau Yuyu bilang, Ma. Yuyu sama Jansen udah di rumah ibu. Tadi sore kesini. Besok rencananya kesana. Jansen pengen nginap di rumah Yuyu katanya."
"...."
Yuyu menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. Sesekali dia menciut seperti orang yang di cekoki lemon di pagi hari.
"Maaf, Ma. Tapi masa disana terus. Yuyu nggak betah."
Suara di buat seperti merengek dan seperti orang tersiksa
"....."
"Bentar, Ma."
Ayu berjalan ke arah dapur yang kebetulan di satukan dengan ruang makan.
"Bu, Mama mau ngomong sama Ibu," ucapnya seraya menyodorkan ponselnya.
Jansen yang masih duduk mengikuti langkah istrinya yang mengambil alih cucian piring.
"Jan bantuin Yuyu bentar ya, Pak," ujarnya seraya berdiri dan menggeser kursi.
"Nggak usah Jan. Sisa sedikit itu. Duduk aja!" titah ibu mertuanya seraya memberikan isyarat untuk duduk kembali.
"Iya, Mbak yu. Saya juga heran, kenapa dua orang ini nongol di rumah saya sore tadi."
Jansen membulatkan mata, bukankah udah di kasih tau dari semalam? Semalam bahkan ibu mertuanya terdengar sangat girang menyambut kedatangan mereka. Dan juga terbukti dari hidangan yang tersedia hari ini.
__ADS_1
Semua bukan hidangan sehari-hari seperti biasa.
"Saya setuju juga sih mbak. Terserah mbak aja."
"...."
"Iya, nanti saya sampaikan."
"...."
"Jansen ada, Yuyu lagi bersih-bersih. Kami baru saja selesai makan malam."
"...."
"Nih Jan, mamamu mai bicara!"
Jansen menerima ponsel itu dengan terpaksa. Sudah tahu bahwa mamanya akan mengomel.
"Hallo, Ma."
"...."
"Iya, Jansen ingat. Yuyu juga ingat. Tapi nggak mungkin disana terus. Jan nggak betah, Ma. Mama tahu sendiri gimana Jan, kan?"
"...."
"Nanti Jan bicarakan sama Yuyu lagi. Cuti kami kan nggak banyak, Ma."
"...."
"Nggak bisa gitu dong, Ma. Biar Jan direkturnya, nggak bisa suka-suka dong! Jan kan harus jadi pimpinan yang pantas untuk di tiru. Kan Mama selalu ngingetin Jan tentang itu."
Diam-diam Jansen tersenyum karena bisa skakmat mamanya dengan alasan itu. Pesan yang selalu di pesankan le Jansen.
"....."
"...."
"Nggak boleh. Besok kalian harus pergi dari rumah ibu!" bu Rohaya menyahut. kedua Besan itu menjawab bersamaan dua kata pertama.
Jansen menghela napas pelan. Mama dan ibu mertuanya sungguh solid sekarang.
"Ya udah, nanti Jan omongin sama Yuyu. Bye, Ma!"
"....."
"Astaga Mama, ngomong apa, sih? Udah ah Jan tutup. Mama makin ngawur."
klik
Sambungan di putus. Tanpa sengaja Jan berdecak kesal.
"Kenapa?" tanya Ayu yang baru saja mendekat usai membereskan pekerjaan di dapur kotor.
"Kita nggak di bolehin pulang sama Mama, Yang!"
"Ya udah, disini aja dulu sampe di bolehin. Hehehe!"
Bagi Ayu, itu menyenangkan. Kalau boleh selamanya aja nggak di bolehin pulang. Biar dia bisa tinggal di rumah mak bapaknya.
__ADS_1
"Disini juga nggak boleh. Mama sama ibu sekarang besti satu server," bisik Jansen.
"Wah... luar biasa!" Ayu kagum pada ibunya yang sudah ikut-ikutan tertular besan.
"Pak, Bener Yuyu sama Jansen nggak boleh tinggal disini lama?" Pandangannya di arahkan le ayahnya.
Sang ayah hanya menggeleng karena tidak mengerti.
"Mama larang pulang, Ibu juga larang tinggal disini. Terus kami kemana, Bu? Jansen belum.punya rumah. Iya kan, Beb?"
Yang ditanya mengangguk tanpa suara.
"Cari hotel sana! nggak boleh disini. Ibu sependapat sama mertua kamu. Pantang pulang sebelum garis dua."
Seketika suasana ruang makan berubah jadi canggung. Pembicaraan seperti ini hal sensitif. Terutama bagi ayah Ayu yang hidup di jaman now tapi pikiran di jaman old.
...*****...
"Benar-benar nggak habis pikir aku. Bisa-bisanya ibu satu server sama mama soal itu. Wah, ibu benar-benar tertular bisa mama." Ayu menggerutu sambil memilih-milih pakaian yang akan di susun di koper.
Mereka sudah di dalam kamar Ayu dan Jansen sudah baringan di ranjang Ayu sambil melihat-lihat album tua Ayu.
"Pantang pulang sebelum garis dua? Hahaha, ibuku udah gaul juga ternyata," lanjutnya walau tidak ada tanggapan dari suaminya.
Sejenak dia menoleh ke arah ranjang dan mendapati Jansen yang senyum-senyum sendiri melihat album tua Ayu.
"Kamu dengar aku nggak, sih?" tanyanya ketus.
"Dengar!" jawab Jansen datar.
"Jadi kita gimana?" tanya Ayu lagi.
Jansen melirik istrinya sejenak kemudian dia duduk.
"Ya udah, kita ikutin maunya para orang tua , Sayang!"
"Enteng bangat kamu ngomongnya. Mau kamu bayar hotel satu bulanan? Emang kamu pikir sekarang di tusuk besok langsung garis dua? Kayak kamu Edward Cullen aja!" gerutuan Ayu di tanggapi senyum jahil oleh Jansen. Ada satu kata yang menarik perhatiannya.
Jansen berdiri dan berjalan ke arah lemari, dimana istrinya sedang berdiri sambil memilah milah pakaian.
"Ditusuk gimana maksudnya, Sayang?" tanyanya jahil sambil meraba bagian terlarang yang sudah halal.
"Tanganmu Janseen!" Ayu mendesis seraya memukul tangan Jansen dengan pakaian yang baru saja di tarik dari lemari.
Perhatian keduanya teralihkan pada benda yang barusan terjatuh dari selipan baju itu.
Masih terlipat rapi dan terlihat usang. Lipatannya menyita perhatian karena ada gambar hati besar yang warnanya mulai menghitam karena di makan waktu.
"Apa ini?" ucap Jansen seraya menunduk.
Dia curiga itu adalah suatu kenangan istrinya yang berharga sehingga di simpan sampai sekarang.
"It-itu... itu .. aku lupa, mungkin surat-surat jaman sekolah. Aku biasanya simpan sampai lupa waktu," jawab Ayu terbata. Dia udah tahu itu apa. Dan berharap Jansen tidak membukanya apalagi membacanya.
"Wah, ternyata ini surat cinta. Siapa Aan?" tanya Jansen yang sudah membuka surat dan mendapati tulisan 'Untuk bang Aan tersayang'.
"Itu.. itu... siniin ah, itu surat-suratan jaman sekolah. nggak tahu kenapa masih ada disini, padahal waktu itu udah bersih-bersih dan bakar kertas-kertas lama." Ayu berujar dengan santai. Santai yang sungguh di buat-buat.
"Hahahha... Bagus juga Aan. Andrian playboy itu pasti kegirangan kalau dapat ini. Kenapa nggak kirim?"
__ADS_1
Jansen membaca isi surat dan mendapati ada nama Andrian. Di tambah dia pernah mendengar cerita Ayu bahwa Andrian itu dulu adalah crush Ayu sewaktu sekolah.
"Itu, itu aku ambil balik darinya karena dia menolak aku dulu!"