
~POV AYU~
*****
Akhirnya hari ini tiba juga.
Hari yang sama beratnya dengan hari sidang meja hijau dulu. Salah, tidak sama, aku rasa ini lebih berat. Karena aku merasa sangat deg-degan dan gelisah. Ini bahkan masih jam delapan pagi tapi jantungku sudah berdetak lebih kencang dari biasanya.
Aku berguling dan berguling lagi di atas kasurku. Ponsel di tanganku tak kunjung bergetar ataupun berdering. Apakah hari ini jadi makan malam atau di batalkan?
Sudut hatiku yang paling tersembunyi mengharapkan di batalkan saja karena ada rasa belum siap untuk bertemu orang tua Jansen, apalagi mengingat bagaimana mereka begitu tidak terimanya atas diriku.
Tapi, sudut hatiku yang paling depan berkata, 'Ayo, ini kesempatan baik, semangat!!!'.
Pikiranku melayang pada peristiwa ketika aku bertemu dengan orang tua Jansen waktu itu.
----Flashback On
+62852 4578 91**
'Saya dr. Helena, Mamanya Jansen. Apa bisa kita bertemu? Saya tunggu di kafetaria rumah sakit xx sore ini jam 3.'
Saat melihat pesan yang masuk dari nomor tidak tersimpan di kontakku. Aku mengira itu adalah nomor dari sales asuransi atau sales lainnya atau bahkan nomor penipu yang berlagak baik memberikan hadiah
Aku mengabaikannya untuk sesaat karena ku pikir itu tidak penting. Hingga saat jam makan siang, tanpa sengaja jariku menyenggol tombol pesan dan pesan itu terbuka.
"Astaga!" Spontan aku berseru di ruang pantry dan itu membuat teman-teman yang sedang makan disana juga terkejut dan mengarahkan mata penuh tanda tanya ke arahku.
"Maaf... maaf... Silahkan di lanjutkan. Maaf udah udah ganggu konsentrasi makannya." Aku menunduk dengan senyum penuh minta maaf.
Me:
'Maaf tante, saya baru baca pesannya. Saya kabari sebentar lagi yah tante, saya ijin bos saya dulu.'
Perasaanku sudah mulai tak enak, apa ini? Apa ini imbas dari ku terimanya tawaran Jansen untuk jalan bersama menentang orang tuanya? Aku membatin.
Makan siang yang tersisa dua suap lagi aku abaikan saja. Aku kini fokus pada pesan yang baru saja aku terima lebih tepatnya aku baca. Karena aku lihat jam masuk pesannya tadi jam 09.37.
Ajak ketemu jam 3 sore, sekarang sudah jam 12 lewat. Sekitar dua jam lebih lagi. Bagaimana ini?
Apa aku harus beritahu Jansen dan minta pendapatnya?
Tidak, tidak, aku tidak mau dia jadi gagal fokus pada pekerjaannya hari ini. Baiklah, mari kita bertemu, Nyonya.
Dengan modal keberanian yang hanya seujung kuku, aku meminta ijin pulang jam dua pada atasanku. Dan mengatakan bahwa akan ke rumah sakit xx, ada saudara yang di rawat. Untung aku pandai bersilat lidah dan menunjukkan raut wajah sedih campur khawatir. Jadi aku di ijinkan. Nggak percuma calon artis yah, walaupun gagal, hihihi.
Jam tiga kurang sedikit, aku sudah tiba di kafetaria yang di tetapkan sebagi tempat pertemuan. Jarak kafe ini dari tempat kerjaku lumayan jauh, aku sedikit membalap tadi agar tidak terlambat. Walau aku belum di restui bahkan sekarang jadi musuh mereka sekeluarga mungkin, tapi aku harus berusaha mengambil hati mereka dengan berbagai cara, salah satunya yah ini, tidak terlambat, dan bahkan siap menunggu.
Aku memesan es teh sambil menunggu. Aku berharap sang nyonya segera datang agar perasaan deg-degan ini selesai. Tidak nyaman pemirsa.
Tidak lama, tiba-tiba seseorang langsung duduk di depanku. Seorang dokter paruh baya yang masih kelihatan segar dan cantik. Penampilannya sangat elegan walau dia memakai jas dokter seperti dokter pada umumnya. Aku segera berdiri kala kesadaran menamparku.
"Sore, Dokter." Aku menunduk menyapa seperti orang korea saja. Tak percuma aku pecinta drakor, jadi sedikit kesopanan mereka bisa ku tiru walau itu seperti berlebihan di negara konoha ini. Karena aku masih jarang melihat seseorang menyapa seraya menundukkan kepala.
"Hmmm. Sudah lama?" Basa-basinya sangat ramah.
"Belum, Dokter."
"Kita bukan sebagai dokter dan pasien, tidak perlu memanggilku seperti itu!"
"???"
Sedetik kemudian otakku langsung bekerja.
"Baik, Tante."
Hening sejenak
Aku melihat nyonya itu melambaikan tangan memanggil pelayan dan kemudian memesan air kopi panas satu.
"Mau makan sesuatu?" Dia bertanya tanpa menatapku. Jadi aku diam saja, siapa tau dia ada teman kasat mata, yah kan?
"Hmm?" tanyanya padaku dan segera aku menggeleng seraya mengucap terimakasih.
Ternyata beliau bertanya padaku shay. Ya, aku nggak salah kan tadi? Ntar aku jawab di kira kepedean.
"Udah kabarin Jansen kamu kesini?" tanya beliau setelah pelayan pergi dengan pesanan kopi panas satu dan sepiring kentang goreng.
"Belum, Tante."
"Bagus, ternyata kamu pintar juga."
Pintar karena tidak memberitahu? Wah, pemikiran orang hebat memang beda yah. Hal begini saja di bilang pintar. Kan di pesannya nggak ada suruh hubungi atau lapor Jansen. Berarti pilihan untuk tidak text Jansen tadi adalah benar. Karena itu sekarang aku di anggap pintar.
"Sudah berapa lama berhubungan dengan Jansen?
"Setahun lebih, Tante."
"Sudah lumayan lama ternyata," ucapnya sambil mengangguk mengerti.
"Jansen ada cerita, bahwa dia saya jodohkan dengan gadis bernama Mira?"
__ADS_1
"Ada, Tante. Baru-baru ini dia cerita."
"Apa tanggapanmu?"
"???"
Apa yah? tentunya aku sedih, kecewa, marah dan waktu itu minta putus sama Jansen.
"Apa kamu nggak merasa keterlaluan?"
What? Keterlaluan karena apa?
Wah, aku biasanya memuji otakku yang cerdas, tapi kini aku tahu aku tidak secerdas itu, ini pertanyaan kedua dari mamanya Jansen yang tidak bisa ku jawab.
"Kamu kan perempuan, apa kamu nggak merasa bersalah pada Mira, karena berpacaran dengan calon tunangannya?
Ckckck... rasa empati gadis-gadis jaman sekarang memang sudah sangat tipis."
Beliau berbicara dengan raut ramah tapi tidak dengan apa yang keluar dari mulut. Maaf untuk para gadis baik-baik. Karena aku kalian kena imbas dan di katai miskin empati.
Aku rasa, pujian beliau yang mengatakan aku pintar karena tidak melapor pada Jansen adalah kebalikan. Dan beliau mengambil kesempatan untuk mengintimidasi aku dengan sangat halus.
"Apa kamu tidak punya pembelaan?"
Wah,, sepertinya nyonya ini mau berdebat dengan ku. Apa dia ingin tau seberapa tajam mulutku? Maaf nyonya, mulutku tidak setajam yang anda punya.
"Maaf, Tante, Jansen masih baru cerita, dari awal dia nggak pernah cerita kalau dia ada tunangan. Tante tadi tanya apa aku tidak merasa keterlaluan? Saya tidak bisa menjawabnya, karena saya tidak tau keterlaluan di bagian mana?"
Tante Helena menggeleng sambil tersenyum tipis. Dari kebiasaan orang kaya yang pernah aku lihat di drama-drama, tawa seperti ini adalah tawa meremehkan.
"Apa kamu nggak merasa bersalah pada Mira?" jawabnya seperti menyederhanakan pertanyaan pertama tadi.
"Bukankah dia juga harusnya merasa bersalah jika tetap ngotot ingin bersama Jansen padahal Jansen tidak mau?"
Mati... Mati... Apa barusan aku menantang beliau?
Oh Dewa... auto di coret namaku dari daftar calon menantu.
"Apa maksudmu?" Mampus aku, udah mulai ngegas.
"Bukankah Jansen tidak mencintai Mira? Jika Mira bersikeras bersama Jansen, bukankah dia juga hilang empati pada Jansen dan padaku?"
"Hmmh... Aku baru pertama bertemu denganmu. Dan aku sudah bisa menyimpulkan bahwa Jansen pasti sudah salah pilih. Apa yang dia lihat darimu? Kau dan Mira benar-benar berbeda. Sangat jauh."
Tante Helena mendengus lalu membandingkan ku dengan Mira. Calon menantu idaman yang di tolak anaknya.
"Hah... Aku sudah menghabiskan waktu berhargaku dengan sia-sia. Namamu Ayu, kan?" Aku mengangguk.
"Sebagai mama Jansen, aku minta coba pikirkan ulang hubunganmu dengan Jansen karena dilihat dari sudut manapun, Mira jauh lebih layak. Kami tidak mau orang-orang melihat kami dengan pandangan remeh jika kami menerimamu bersanding dengan Jansen. Maaf, sampai hari ini bahkan setelah aku bertemu denganmu, aku masih belum bisa menerimamu."
Beliau pergi tanpa kata-kata. "Huff... bukan hanya waktu anda yang terbuang sia-sia nyonya, waktuku juga," gumamku.
Tidak lama setelah hari itu, ada pesan baru dari nomor yang sama 'Mama Jansen' mengajak bertemu lagi.
Saat aku tiba di lokasi yang di tentukan, bukan hanya mamanya Jansen yang ada, ada juga pria paruh baya dan itu adalah Papanya Jansen karena aku bisa melihat kemiripan dengan Jansen.
Hal tang kami bahas sama juga tentang hubunganku dan Jansen yang seharusnya lebih cocok dengan Mira.
Dan dengan keras kepalaku, aku berusaha bersikap ramah dan mempertahankan cintaku pada Jansen.
"Ayahmu punya toko kelontong yang lumayan besar, Saudaramu juga, ya."
"Benar, Om."
"Apa orang tuamu sudah pernah bertemu Jansen?"
"Sudah pernah, Om."
"Apa dia tidak memberitahukan pekerjaannya pada orang tuamu?"
"Sudah, Om."
Ini sebenarnya mau bicara apa sih? Langsung ke intinya aja kenapa? Kok muter-muter dari tadi, batinku.
"Apa tanggapan orang tuamu?"
"Biasa aja, Om. Berterimakasih karena yang menyukai putrinya ini punya pekerjaan bagus dan mapan. Bukankah seharusnya orang tua merasa seperti itu?"
"Pasti orang tua mu sangat senang," celetuk mamanya Jansen.
"Bukankah itu wajar, Tante?"
"..."
"???"
"Siapa orang tua yang tidak senang ketika putrinya di apelin oleh seorang pria mapan? Jika berjodoh, setidaknya orang tua tidak cemas, anaknya tidak makan dengan baik. Sama halnya dengan Om dan Tante. Kalian juga pasti sangat senang jika Jansen menyukai Mira dan menikah dengannya. Selain karena dia cantik, dia juga punya karir bagus. Kehidupan mereka akan sangat sempurna jika bersama. Tapi sayangnya, Jansen tidak suka Om, Tante."
"Tuh, kan Pa, Mama bilang juga apa, dia pandai berbicara. Mulutnya tajam."
Aku "???"
__ADS_1
"Ehem," Papa Jansen berdehem sebelum melanjutkan kalimatnya, "Saya tidak ingin berbasa-basi, istri saya juga sudah pernah bertemu kamu kemarin. Sama, saya juga tidak menyetujui hubungan kamu dan Jansen. Kami harap kamu tau diri dan menjauh dari Jansen. Kamu bukan pilihan kami."
Kan, gitu dong, langsung ke intinya. Masa dari tadi mutar-mutar sampe ke orang tua ku dan kerjaannya.
"Maaf, Om, Tante. Sebaiknya katakan hal itu pada Jansen juga. Saya tahu saya bukan pilihan Om dan Tante, tapi saya pilihan Jansen."
-----------Flashback off--
Tring, bunyi notif di ponsel.
Lovely Mom:
'Jangan lupa makan, Ibu sama Bapak
berangkat.'
Ponsel yang bergetar dan pesan masuk yang barusan ku baca membawaku kembali ke alam nyata.
Mungkin karena aku tenggelam dalam ingatan masa kemarin, aku tidak mendengar ibu memanggilku. Maafkan Yuyu, Bu.
*****
Sore datang begitu cepat, aku bahkan tidak sadar bahwa aku belum makan siang.
Aku melihat ke arah dapur yang barusan aku bereskan dan sekarang aku harus menyiapkan makan malam untuk orang tuaku nanti.
Lovely Mom:
'Nggak usah masak, Bapak sama Ibu mau ke tempat abangmu, pulangnya agak malam.'
'Jangan malu-maluin di tempat Jansen nanti, jaga sikap!'
Me:
'Iya, Bu.'
Tenang, Bu. Percuma anakmu ini belajar keras selama ini.
Aku bersiap, mandi dan sedikit berdandan. Aku sekarang sudah ahli dalam hal beginian. Aku udah pintar klintong-klintong. Lukis alis juga sudah. Pokoknya aku udah keren sekarang. Hahahah
Tidak lama setelah itu, bunyu ketukan di pintu. Aku yakin itu adalah Jansen.
Aku berjalan kearah pintu dan membukanya. Aku tersenyum kecut kala yang datang bukan Jansen. Tapi Pian kampret.
"Cie cie cie, yang mau ketemu camer, dandan paripurna we," ejeknya seraya bersiap mengacak rambutku yang sudah rapi.
"Pake lipstik merah dong, biar sangar sikit!" lanjutnya. Sungguh saran yang menyesatkan.
"Pulang sono, aku mau pergi!"
"Gue pulang pas lo pergi, gue dapat mandat temani lo sebelum pergi. Nggak boleh berduaan di rumah sama Jansen." Pian berbisik saat mengucapkan kalimat terakhir.
Aku mencebik dan meninggalkan Pian yang langsung berbaring di sofa selayaknya di rumah sendiri.
Aku menoleh ke arah jam dinding, Sudah jam lima sore.
Tak lama aku mendengar ketukan di pintu. Aku biarkan saja karena ada Pian yang akan membukanya. Tapi sepertinya tidak di buka, buktinya ada ketukan kedua kalinya. Aku berjalan cepat dan membuka pintu. Ada Jansen dengan gaya kasual dan kegantengan maksimal seperti biasa. Aku tersenyum malu-malu bercampur rindu. Aku mendekat dan menghambur ke pelukannya. "Kangen," bisikku sendu.
"Aku juga," ucapnya membalas pelukanku. Aku merasakan ciuman beberapa kali di kepalaku.
Sabulan lebih nggak ketemu, siapa yang tidak kangen. Apalagi tidak ada video call.
"Ehem," deheman Pian membuat kami melepas pelukan kami.
"Kira-kira dong kalau mau mesra-mesraan, ada jomblo disini," ucapnya lalu berbaring lagi.
Jomblo? siapa kemarin yang sengaja mengeraskan suara kecupan pas bertelepon agar aku dengar?
"Pulang sana, aku mau pergi!" usirku pada Pian.
"Bentar yah, Beb. Aku ambil tas dulu." Aku melangkah setelah di angguki oleh Jansen.
Dikamar, aku menghembuskan napas kuat, saatnya go out. Aku meraih tas selempang kecil yang pernah di beli Jansen. Pasti mahal ini. Aku melihat diriku sekali lagi di cermin dan tersenyum menyemangati diriku.
Saat aku keluar, aku lihat Pian sudah duduk bersama Jansen di kursi teras.
*****
"Aku deg-degan," ucapku pada Jansen saat kami sudah di mobil dan ini sudah separuh perjalanan.
Dan, ini sudah kesekian kalinya aku mengeluhkan itu.
"Rileks aja, Yang. Tarik napas dan buang." titahnya dan kulakukan berkali-kali.
"Kamu cantik," puji Jansen dan aku tersenyum dan kurasa aku bersemu. Karena aku dapat merasakan sedikit memanas dipipiku. Astaga, padahal ini bukan kali pertama dia puji aku cantik, tapi aku masih bereaksi norak begitu.
Lama perjalan semakin terasa, walau Jansen mengajakku bercerita banyak hal untuk mengusir kebosanan dan juga untuk membuatku rileks. Tapi, aku tetap merasa gelisah dan sedikit takut.
Pikiranku melayang pada saat aku bertemu orang tua Jansen waktu itu. Bagaimanapun mereka pasti tidak lupa dengan caraku menantang mereka, kan? Apa mereka akan melakukan hal yang sama padaku di depan Jansen nanti? Apa mereka akan memancingku untuk berkata-kata tidak sopan nanti?
Tanganku yang tiba-tiba di genggam membawaku kembali ke alam nyata.
__ADS_1
Aku menoleh dan mendapati Jansen tersenyum hangat padaku.
"Kita sudah sampai, Ayo turun!"