MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
74. SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU


__ADS_3

BACK TO POV AYU


*****


Setelah kepergian Mira dengan riak wajah yang marah. Aku bertanya pada Jansen,


"Maksudnya tadi apa?"


Aku belum tuli, hanya saja aku belum percaya apa yang di ucapkan Jansen.


Dengan tenang dia tersenyum padaku.


"Selamat! Aku di restui."


Walau dia mengatakannya dengan senyum di wajahnya tapi aku tahu ada sesuatu yang mengganjal, senyumnya tidak sampai ke mata.


"Tell me!" kataku tak menatapnya. Aku sibuk dengan sisa makanan penutup di meja.Walau aku sudah kenyang, aku mencoba mencicipinya untuk mengalihkan rasa penasaranku.


Hahhh


Aku mendengar Jansen menghela napas dengan kasar.


Dengan begitu aku yakin, di balik kata di terima ada syarat dan ketentuan berlaku. Aku teringat dengan kata-kata Jansen kemarin bahwa ada syarat yang akan dia sampaikan padaku.


Kata 'diterima' sekarang bukan menjadi sesuatu yang ku syukuri.


"Ada beberapa permintaan dari mama dan papa." Jansen berhenti sejenak.

__ADS_1


Dan aku tidak memberi komentar, selain menunggu dia akan bicara apa.


"Pertama, kamu boleh bekerja tetapi harus di kantorku atau di kantor papa."


Masih bisa di terima.


"Kedua, tidak ada pesta dalam tahun ini." Ada sedikit nada kecewa dalam kalimat Jansen, berbanding terbalik denganku yang sungguh bersyukur dengan syarat yang kedua ini. Aku tersenyum simpul sambil mengangguk. Aku tidak ingin kentara sekali karen itu akan menyinggung Jansen.


"Syarat kedua pasti menjadi favoritmu," ucapnya dengan tidak senang. "Aku bisa lihat bibirmu bergetar karena menahan tawa, tertawa aja sekarang!" lanjutnya. Dan tanpa mempedulikan perasaannya aku tertawa dan bersorak yes.


"Ketiga, pesta di adakan sesuai permintaan dan kemauan orang tuaku. Pihak kamu di larang ikut campur dalam pemilihan tema, tempat bahkan wo dan hidangan apa yang akan di suguhkan nanti."


Menurutku ini oke sih, tapi akan menyinggung ibu dan bapakku.


Aku akan bicarakan dulu ini dengan orang tuaku.


"Keempat, setelah menikah, kita harus tinggal di rumah orang tuaku."


"Apa ini bisa di tawar? Aku tidak meminta untuk tinggal dengan orang tuaku tapi setidaknya jangan orang tua mu juga.


Aku lebih senang di rumah kecil minim perabot mahal ketimbang rumah mertua."


Banyak cerita yang ku dengar mengenai hal ini. Jika dekat yang tercium hanya yang bau-baunya saja, segala yang jarum.lenyap entah kemana.


"Nanti kita coba, untuk sekarang ikutin saja dulu," ucap Jansen dan aku angguki.


"Kelima, mamaku minta empat cucu."

__ADS_1


Serakah!


Hanya itu kata yang bisa ku suarakan dalam hati. Emang menantunya mau jadi pabrik anak makanya minta sampe empat? batinku


"Masalah itu, kita ikut pemerintah saja, dua anak cukup!" ucapku dan Jansen


menggeleng.


"Aku minta enam, tapi di tolak mamaku, mamaku minta empat."


Buset, enam? Aku sampe menghitung jariku. Oh dewa, apa yang merasuki si Jansen?


"Next!" ucapku karena tidak ingin mendengar perkara anak. Apa jadinya jika aku tidak bisa memberinya, apa aku akan di pecat jadi menantu?


"Itu saja!"


Tidal terlalu berat menurutku. Aku kira mereka minta saham atau gabung usaha.


hahahahha


Aku lupa, keluargaku tidak punya saham dan perusahaan.


"Baiklah, apa konsekuensinya jika tidak memenuhi syarat, contoh, Ibu sama Bapak mau adakan pesta di rumah kami, atau ingin terlibat dengan perencanaan. Kamu tahu kan, kita punya adat, siapa yang bisa jamin mak bapakku tidak ingin pesta adat, siapa yang menjamin mereka menerima dengan lapang dada pesta internasional dari keluargamu.


Lalu, apa konsekuensinya jika aku tidak bisa melahirkan empat anak? atau kita bahkan tidak tau apakah kita terpilih dan layak menurut Tuhan untuk mendapatkan satu orang?"


Bukankah hal-hal seperti ini adalah takdir yang di gariskan?

__ADS_1


Walau sehat dan subur, tapi jika tidak di berkati apa boleh buat?


Apa setiap menantu yang bernasib seperti itu harus di buang? atau di kasih saingan?


__ADS_2