MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
TAMAT


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda Bagian 50


Rate 18+


Oleh Sept


"Ish!" Dewa mendesis kesal, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Sedangkan Tika, ia tersenyum senang.


Cup cup cup


Muach


"Nanti malam, ya!" janji Tika sambil mengecup wajah pria tampan itu berkali-kali.


"Hemm!"


Tika terkekeh, kemudian berjalan menuju pintu.


"Eh, Sayang. Udah siap ke sekolah?"


Ciki mengangguk, kemudian berceloteh.


"Mama ayo ... nanti Ciki terpambat," rengek Ciki yang baru akan mulai sekolahnya.


"Iya, iya."


Mereka berdua pun meninggalkan kamar, menyisahkan Dewa yang sedang tersiksa.


"Uh!"


Pria itu lantas meraih tas dan ponsel di atas meja, kemudian ikut keluar bersama anak dan istrinya.


Beberapa saat kemudian. Di ruang tamu.


"Ma, Tika berangkat dulu. Titip Lion sama Cika."


Sebelum pergi, Tika mencium dulu Lion. Sedangkan Cika, anak nomor duanya itu masih tidur di kamar.


"Iya, hati-hati!"


Mama melambaikan tangan, setelah mencium gemas pipi Ciki yang akan berangkat sekolah.


***


Begitulah keseharian Tika dan keluarga. Sebuah keluarga yang tidak pernah Tika bayangkan sebelumnya. Ya, menikah dengan Dewa merupakan di luar ekspetasi Tika. Siapa yang mengira, pria yang dulu ia layani. Pria pemarah dan kejam itu malah kini menjadi suaminya. Sebuah garis takdir yang manis, meski kadang disertai tangis.


Perusahaan Diamondland.


"Permisi Pak, ini dokumen yang harus pak Dewa periksa!"


Malika datang dengan sebuah map di tangan. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis itu. Makin hari, pakaian Malika semakin minim saja. Apa mungkin Malika tidak punya uang untuk membeli baju? Karena pakaian yang ia kenakan sangat minim dan hampir memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya. Seolah sedang menggoda siapa yang melihatnya.


"Letakkan di sana!" titah Dewa tanpa menatap.

__ADS_1


"Saya letakkan di sini, ya Pak," ucap Malika dengan suara yang dibuat seserak mungkin. Sudah mirip pingkan mambu.


"Hemm!"


"Emmm ... apa Bapak mau saya bikinkan sesuatu."


"Tidak usah." Kali ini Dewa menatap ke arah Malika. Dilihatnya Malika mengigit bibir bawahnya.


"Apa yang dia lakukan? Sepertinya aku harus mencari sekretaris baru!" batin Dewa kemudian kembali fokus pada laptop di depannya.


"Cuaca sangat terik, apa Bapak mau saya buatkan jus?" Malika terus saja berusaha. Pantang menyerah, semangat gadis itu perlu diapresiasi.


"Saya tidak suka jus, oke! Tolong tutup pintunya saat kamu keluar," usir Dewa dengan sarkas.


Malika lantas mengepalkan tangan, dengan sebal ia berbalik dan pergi.


"Dia itu normal apa nggak sih? Kurang apa gueee?" maki Malika sambil terus berjalan.


Mungkin gadis itu merasa mahluk Tuhan paling seksi. Hanya mengandalkan tubuh, ia kira bisa memikat lelaki di luar sana. Ah dasar Malika, sepertinya ia memang cocok jadi kedelai dari pada PELAKOR. Bakat Malika nyatanya tidak bisa menembus pertahanan Dewa. Malika kurang greget, sepertinya Malika harus menimbah ilmu lagi, agar jadi PELAKOR yang handal.


Ketika Malika sibuk mengerutu dan mengutuk Dewa, tiba-tiba ia malah berpapasan dengan seorang wanita. Yang jelas wanita itu lebih gemuk dari pada tubuh Malika yang seperti triplek itu.


"Selamat siang, maaf mencari siapa?" sapa Malika dengan senyum ramah. Entah palsu atau asli. Yang jelas ketika di depan umum rubah betina itu sangatlah manis.


"Selamat datang, Bu!" sapa Manager yang langsung menghampiri Tika saat melihat sosok istri sang atasan. Pria itu bisa mengenali Tika dengan sekali melihat.


Tika sering kali diajak Dewa makan malam bersama kolega sang suami. Jadi tak heran, meski jarang muncul di perusahaan. Tapi, Tika cukup terkenal. Meskipun hanya untuk kalangan tertentu saja.


"Siang, Pak Rio. Saya mau ketemu suami saya."


"Mari saya antar, Bu!" Rio langsung bergegas mendahului Tika, berjalan menuju ruangan Dewa. Sedangkan di belakang mereka, Malika terlihat masam.


"Silahkan, Bu!" ucap Rio, pria itu kemudian pergi setelah mengantar Tika.


Tok tok tok


Dewa menghela napas panjang, sebenarnya ia tidak suka Malika terus menganggu dirinya. Mau ganti sekretaris, tapi belum ada yang cocok. Padahal itu semua ulah Malika, gadis itu mensabotase semua yang daftar jadi sekretaris Dewa.


Kini, dengan malas-malasan, ia menyuruh Malika masuk. Jadi, Dewa pikir yang mengetuk pintu adalah sekretarisnya.


"Masuk!"


KLEK


Dewa tidak menatap siapa yang masuk, ia masih asik dan serius dengan layar di depannya.


"Tegang amat!"


Seketika Dewa langsung menoleh. Ia menatap Tika dengan senyum sumringah.


"Sama siapa?" Dewa memperhatikan belakang tubuh Tika, biasanya dua anak mereka selalu ikut sama mamanya.


"Sendirian, aku mampir sebentar. Habis dari supermarket dekat sini."


Dewa langsung menyeringai.

__ADS_1


"Akhirnya ... kapan terakhir kita cuma berduaan?" bisik Dewa. Kini pria itu sudah memeluk Tika dengan mesra.


"Geli!" Tika menepis kepala suaminya yang terus mendesak.


"Bentar, aku kunci pintunya dulu." Dewa bergegas menuju pintu, ia tidak mau diganggu.


"Ya ampun, ini kantor!"


"Gak apa-apa."


"Jangan aneh-aneh, Lion bahkan belum bisa merangkak!" ucap Tika prustasi.


"Hihihih, gak apa. Salah kamu sendiri, ngapain main ke sini."


Tanpa ba bi bu, Dewa langsung melepas kemejanya. Gerah, Dewa lantas melongarkan dasi juga.


Tika sampai tidak bisa berkata-kata, mantan tuan mudanya itu nyatanya tak pernah surut. Performa Dewa makin hari malah makin bertambah, Tika jadi sangsi. Jangan-jangan sebentar lagi ia bakal hamil lagi.


Sementara di luar sana, terlihat Malika sedang menempelkan telinganya pada pintu. Sejak tadi gadis itu menguping. Kini ia sekarang yang merasa ngilu sendiri. Mendengar pembicaraan kedua pasutri, Malika malah meremang. Wajahnya panas dingin membayangkan apa yang dilakukan Dewa dan Tika di dalam sana. Sambil memegang lehernya sendiri, Malika memilih pergi. Rasanya ia tak sanggup mendengar suara selanjutnya. Malika menyerah!


Beberapa saat kemudian.


"Sayang lama banget?" tanya Dewa yang berdiri di depan kamar kecil dalam ruangannya.


"Sebentar!" seru Tika yang kesal. Tika sedang berdiri di depan cermin. Ia sedang fokus menutupi bekas merah-merah di sekitar lehernya dengan krim serta bedak yang ada di dalam tasnya.


"Ngapain sih, lama bener ... bukak dulu lah." Dewa terus memaksa, membuat Tika terpaksa membuka.


Setelah pintu terbuka, Dewa lalu memperhatikan apa yang dilakukan Tika.


"Kenapa jadi ruam-ruam seperti itu?" tanya Dewa sambil mengerutkan dahi.


Bukkk


Tika langsung memukul lengan suaminya. Pakai acara nggak tahu. Siapa lagi biang keroknya?


Dewa lantas terkekeh. "Ya udah, pakai scarf atau apa gitu. Percuma kamu tutupin, kena air juga luntur," cetus Dewa dengan gaya santai.


Dengan sebal, Tika melirik Dewa. Sementara itu, Dewa yang mendapat lirikan mematikan dari sang istri, ia malah langsung mencium bibir ranum tersebut.


"Love you, Tika!" ucapnya setelah menautkan bibir mereka. Sebentar namun dalam.


"Luv you too!"


Tika pun melingkarkan lengan di leher Dewa, mengelayut manja pada tuan muda yang dulu super galak dan kasar itu.


"Terima kasih, hidupku sempurna karenamu," bisik Dewa dengan tulus.


Tika hanya bisa tersenyum, pelukan mereka pun semakin erat. Seolah tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Tidak peduli pada kasta yang sempat menjadi penghalang, tidak peduli dengan apapun itu. Karena cinta yang sejati adalah cinta tanpa syarat.


Tika dan Dewa akhirnya hidup bahagia, sesekali pasti ada cobaan yang menghampiri. Datang dan pergi silih berganti. Bukan hidup namanya kalau tidak ada masalah. Tapi, Kita harus percaya. Cinta sejati akan menjadi penguat satu sama lain. Seberat apapun ujian, bila saling berpegang. Tentunya akan semakin kuat. Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi. Bukan, bukan itu. Bercerai kita runtuh.


Belajar dari Dewa, setia itu mahal. Ambil baiknya dari Tika, pantang menyerah. Semangat menjalani hidup yang kadang tidak mudah. Semangat man teman. Jangan lupa, buang buruknya. Jangan nyontek mbak Mar sama Malika kedelai hitam ya.


Terima kasih sudah membaca tulisan Sept. Semoga bisa diambil baiknya, dibuang buruknya. Sekali lagi terima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di novel baru lainnya. ♥🇮🇩


TAMAT


__ADS_2