
"Beb!"
Jansen memanggilku dengan sangat tegas ketika aku mempertanyakan kedatangan Mira ke kantornya.
"Sumpah! Aku tidak tahu apapun kenapa dia datang ke kantorku. Aku juga tidak tau kenapa dia mengaku menjadi tunanganku. Sejak hari aku memutuskan perjodohan, aku tidak pernah membicarakan apapun dengan orang tuaku mengenai Mira, Aku juga hanya bertemu sekali dengan Mira secara pribadi untuk memberikan alasan penolakanku. Sumpah Beb, aku nggak pernah punya niat untuk menyerah."
Apa ini konspirasi orang tuanya? Hmm.. sepertinya semakin sulit saja untukku.
"Aku masih tetap pada pendirianku. Mengenai Mira, ayo kita tanyakan sama-sama apa tujuannya datang dang mengaku-ngaku. Aku akan atur waktunya dan kita ketemu dia bersama-sama. Hmmm?"
Aku mengangguk. Aku juga penasaran apa tujuan Mira. Apa dia ingin mematahkan hubungan kami dengan ngaku-ngaku tunangan Jansen? Apa dia ingin membuatku menjadi seorang pelakor?
Astaga.... Itu gelar yang tidak ada di kamus keinginanku.
Suasana kami sedikit canggung karena pembahasan berat ini. Aku tidak tahu harus di mulai dari mana lagi supaya agak mencair.Moodku benar-benar udah terjun bebas sekarang.
Saat kami di landa kebisuan tanpa kami sadari cuaca semakin gelap dan hujan tiba-tiba turun dengan deras. Aku mengajaknya masuk karena suara kami akan redam oleh derasnya hujan.
"Nginap saja yah, Nak. Hujan deras, rumah kamu jauh, bahaya." Bapak dan Ibu yang masih di ruang tamu menonton drama ikan terbang menatap Jansen.
".... Kita tunggu sebentar yah, Bu. Jika masih deras, yah Jansen nginap kalau tidak merepotkan." Jansen membalas setelah teridiam sejenak. Mungkin dia sungkan dan merasa tidak enak.
"Jangan sungkan, tidak ada yang repot. Yu, beresin kamar abang kamu!"
Aku berdiri lagi, padahal baru aja duduk. Aku pergi dan membereskan kamar abangku yang sudah lama tidak di pake. Tetap bersih sih, cuma agak lembab aja.
Aku mengganti sprei dan sarung bantalnya. Juga mengambil selimut dari lemari. Aku membuatnya serapi mungkin agar Jansen nyaman. Aku tahu pasti, kamar miliknya mungkin melebihi kamar hotel. Semoga dia betah di kamar sederhana ini.
*****
Jansen P:
* 'Beb, udah tidur?'*
* Me:*
* 'Belum, kenapa? Nggak nyaman?'*
Karena hujan yang tk kunjung reda, akhirnya Jansen menginap.
* Jansen P:*
* 'Sedikit,'*
* 'Aku jarang pindah tidur, kecuali ke luar kota yg wajib nginap.'*
__ADS_1
Kasihan juga, kalau keluar kota nginap juga di hotel kan? pasti lebih nyaman?
Me:
* 'Sabar, yah!'*
* 'Mau minum teh?'*
* 'Biar sedikit hangat dan nyaman.'*
Gak papa lah begadang malam ini, temanin ayang yang sedang gelisah.
Jansen P:
* 'Boleh,'*
* 'Aku juga mau peluk kamu, boleh?'*
Buset, dingin-dingin gini emang harusnya pelukan sih, tapi bahaya, ada Ibu dan bapak yang masih hidup di jaman purba kala.
Me:
* 'Mau, tapi ijin Ibu dulu, yah'*
Aku tertawa membaca balasan dari Jansen.
Aku keluar kamar dan langsung menuju dapur, Aku membuat dua gelas teh dan membawanya ke ruang tamu. Jansen sudah disana duduk dengan hp di tangan.
Untuk menemani kami begadang malam ini, aku menyalakan tipi dan mencari acara yang bisa menarik perhatian kami.
Aku berterima kasih pada Ibu dan Bapak yang pengertian tidak keluar kamar untuk mengecek kami. Ibu-bapak, tidur yang nyenyak yah, aku mau peluk calon mantumu malam ini, batinku terkikik.
Aku menyandarkan kepalaku di lengan Jansen dan menarik tangannya untuk memelukku.
"Kalo Ibu atau Bapak tiba-tiba keluar dan lihat ini, aku pasti di usir langsung malam ini, Beb," ucap Jansen ta[i tidak menarik tangannya, justru mengeratkan pelukannya padaku.
"Ibu sama bapak pasti udah tidur, kalau pun belum, mereka pasti pengertian, mereka juga palingan lagi pelukan sekarang," jawabku. Ini hangat dan nyaman. Memang yah, sesuatu yang sembunyi-sembunyi pasti lebih sedap.
Jansen hanya terkekeh merespon kata-kataku.
Ditengah malam, di saat hujan deras diluar, kami duduk menempel di sofa ruang tamu.
Ditemani oleh siaran televisi yang entah acara apa juga teh yang mengepulkan asapnya.
Nyaman, itulah yang kurasakan. Dan aku berani bertaruh bahwa Jansen juga merasakan hal yang sama denganku. Buktinya dia tetap memelukku walau awalnya protes, takut ketahuan ibu. Malah sekarang bibirnya singgah di kepalaku beberapa kali.
__ADS_1
Apa ini pancingan?
Aku tersenyum dan semakin merengsek ke dalam pelukannya.
'Tuhan, berikan kemudahan bagi kami, jauhkan rasa ingin menyerah dari hati kami.' Aku bergumam dalam hati.
"Aku merasa nyaman dan berharap ini bisa untuk seterusnya," ucap Jansen dan ku angguki.
"Demi Tuhan, aku berani melepaskan apa saja, asal bukan kamu. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa aku menyerah atas kita," lanjutnya lagi dengan suara yang sangat dalam.
"Aku percaya padamu, ku harap kamu juga begitu. Jangan kecewakan aku dengan sikap cemburumu yang berlebihan itu!"
"Hmmm... tapi, Andrian memang ancaman berat. Ketampanannya seperti punya magis. Bisa menarik kaum perempuan dengan mudah." Jansen seperti memuji dengan kewaspadaan.
"Iri bos?" ledekku.
"Nggak, selama kamu tidak lemah iman akan ketampanannya, aku masih pemenangnya." Dengan santainya di menjawabku.
Aku mencebik dan pura-pura ingin muntah mendengar jawabannya.
"Itu sudah tidak mempan lagi, aku udah di taklukkan oleh seseorang yang lebih tampan."
Aku mengatakannya seraya memanjangkan tanganku dan melingkarkannya di pinggang Jansen. Dia melakukan hal yang sama padaku.
Ini posisi enak untuk sebuah ciuman selamat malam. Dan akhirnya untuk pertama kalinya, aku mendongak dan mengangkat kepalaku sedikit. Aku mengecup bibirnya sambil tersenyum.
Kecupan hanyalah pembukaan, akhirnya kami perang bibir untuk beberapa saat. Menyalurkan kerinduan yang sudah tertahan beberapa hari.
*****
"Ck...ck...ck..."
Samar aku mendengar decakan kemudian sesuatu yang hangat menutupi tubuhku. Suara bising pun seketika hilang.
Aku mengeratkan pelukan pada guling hidup yang sedang ku pegang dan melupakan aku sedang dimana.
Aku mengarungi alam mimpi yang penuh dengan suka cita. Aku rasa aku juga tersenyum sambil tidur saking bahagianya aku di dalam mimpiku.
"Yu, bangun, Beb!" Suara Jansen masuk ke telingaku sambil dia mengguncang bahuku.
Dengan tidak rela aku membuka mata dan terbelalak dimana aku sekarang dan dalam posisi seperti apa.
Aku menatap Jansen yang wajahnya juga sama sepertiku. Muka bantal, baru bangun tidur, itupun kesiangan.
Nasib ... nasib ...
__ADS_1
Aku menoleh ke samping lagi dan terbelalak,
"Bapak?"