MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
96. HELENA LAGI


__ADS_3

~POV HELENA~


*****


        Duniaku serasa runtuh ketika aku mengetahui bahwa anak ku Jansen menjalin hubungan dengan gadis yang jauh dari standar yang ku tetapkan sebagai menantu.


Aku rasa, gadis bernama Ayu itu bahkan tidak ada seperempatnya Mira. Dari segala sisi. Kecantikan, pendidikan, hingga kekayaan. Aku menangis semalaman ketika mengetahui ini. Mira, gadis yang kumau, apa kurangnya? Cantik, iya. Kaya, iya. Pendidikan bagus, iya. Kenapa Jansen malah memilih gadis yang bahkan masih tergolong bocah?


        Ini bermula dari saat aku bertemu Mira di sebuah butik. Akhirnya kami pergi makan bersama siang itu. Saat kami makan, aku bertanya mengenai perkembangan hubungannya dengan Jansen. Aku kaget luar biasa saat mengetahui bahwa anakku sudah sangat jarang bertemu dengannya, bahkan sudah lebih dari tiga bulan mereka tidak pernah keluar bersama. Hanya bertemu jika ada acara makan bersama -dua keluarga- yang rutin kami lakukan tiap bulan atau dua bulan sekali.


        "Sabar yah, Sayang. Mungkin Jansen lagi sibuk, karena selain jalankan bisnisnya, dia juga bantu papanya. Mungkin waktunya terkuras. Kamu nggak mau kan, jalan sama dia, malah dia ketiduran atau nggak fokus karena capek?" Sebisa mungkin aku berbicara meyakinkan Mira agar dia percaya pada kebohonganku. Sementara di dalam hatiku, aku sudah ingin mencabik-cabik Jansen. Berani sekali dia membuatku malu begini.


        "Iya Tan, Mira ngerti kok. Jansen sibuk jugakan untuk masa depan kami," jawabnya dengan senyum pengertian. Oh Tuhan, kenapa Jansen buta. Gadis sebaik dan setulus Mira, bisa dia abaikan.


Selera makanku hilang seketika. Aku tidak sabar untuk segera tiba di rumah.


        *****


        "Dimana Jansen?" tanyaku begitu kakiku menapak di ruang keluarga rumahku. Ada Johana dan Ruli dan juga suamiku disana.


        "Duduk dulu, Ma, kenapa tergesa-gesa begitu? Jansen yah masih di kantor lah, atau sedang di jalan," balas Johana yang duduk di sofa yang hanya menatapku sekilas lalu pandangannya beralih ke televisi super besar di depannya.


        "Kantor apaan, ini hari sabtu dan sudah jam berapa ini?"


        "Mama kenapa? Sabtu juga kantor Jansen buka Ma." Suamiku ~Hartawan~ turut berkomentar.


Aku duduk dengan menghentakkan tubuhku karena kesal.


        "Mama malu sama Mira, sudah lebih dari tiga bulan Jansen nggak pernah jumpai dia, padahal setiap malam minggu dia keluar. Kemana? Hahh..." Aku membuang napas kasar. Dadaku masih memanas karena kesal.


        "Barusan Mama ketemu Mira di mal. Dia cerita, Jansen nggak pernah ajak keluar lagi, bahkan telponan juga jarang. Pesannya kadang-kadang nggak di balas. Apa sih maunya itu anak?"


        "Mama tenang dulu. Tarik napas, buang pelan-pelan. Ya, begitu." Johana membantuku untuk tenang.


        "Nanti,  nanti setelah Jansen tiba di rumah, kita tanya pelan-pelan. Jangan serang dia dengan pertanyaan sekaligus. Dia bisa tertekan, Ma. Pelan-pelan yah. Dia butuh waktu juga," lanjut Johana dan itu membuat aku melihat suaminya dengan sinis. 


Tertekan apanya? Kan Jansen sendiri yang minta waktu untuk pendekatan dan pengenalan lebih pribadi. 'Jangan sampai Jansen memberontak kaya kamu!' batinku.

__ADS_1


Entah kenapa, walau Ruli bersikap baik, ramah dan bekerja keras, aku tetap saja belum klop sama dia. Padahal Ruli sudah menjadi menantuku selama tujuh tahunan. Tapi jarak kami sangat jauh.


        "Sepertinya kita harus mempercepat pertunangan Jansen deh, Pa. Firasat mama udah nggak enak. Udah kelamaan juga waktu yang kita kasih buat Jansen," ucapku setelah tenang sedikit.


        "Mama atur aja. Mama yang bicara sama Jansen. Papa dukung," ucap suamiku dengan lembut. Sementara Johana dan juga suaminya Ruli, tidak memberi komentar.


    Untuk menghabiskan waktu di sore hari di weekend ini, aku bermain dengan cucuku. Belvania yang imut. Menjawab pertanyaan yang tiada habisnya yang keluar dari mulutnya.


        "Jansen kemana, sih? Jarak kantor ke rumah, mama rasa nggak perlu sampe lima jam. Sabtu juga kantornya cuma setengah hari, kan?" tanyaku seraya menatap jam mahal yang melingkar di pergelangan tanganku.


Sudah hampir jam tujuh malam. Kemana dia?


        "Bentar lagi Ma, di tunggu aja kenapa, siih?" Johana juga sudah mulai kesal sepertinya karena ini sudah pertanyaan kesekian kalinya dariku.


        "Jansen itu udah dewasa, Ma. Dia juga punya kehidupan pribadi di luar kendali Mama. Mungkin aja dia lagi bareng teman-temannya di akhir pekan ini. Sesekali kasih dia waktu untuk dirinya sendiri. Jangan terlalu mengekangnya, Ma!" lanjut Johana lagi dan aku mendengus sebagai respon.


Mengekangnya? dibagian mana? bisa di katakan mengekang jika aku mengurungnya di rumah aja kan? Kantor-Rumah dan Rumah-kantor. Selainnya tidak bisa kemana-mana tanpa aku. Itu baru mengekang.


Johana hanya tidak tau saja, aku khawatir jika terlalu membebaskan Jansen. Yang pada akhirnya akan berakibat seperti Johana. Dapat pacar jauh di bawah standar.


        "Ma, Jans---"


        "Jansen pergi jumpain pacarnya, Ma, di kota X," perkataan Johana terpotong oleh Josh yang baru memasuki ruang keluarga dengan baju santai sambil menatap ponsel. Penampilan yang jarang terjadi semenjak dia melanjutkan pendidikan ke spesialis di rumah sakit.


        "Maksudmu?" Johana yang lebih dulu tersadar. Aku bahkan mematung untuk beberapa saat.


        "Jansen lagi habiskan weekend sama pacarnya. Nih!" Josh mengacungkan ponselnya ke arah Johana kemudian ke arahku. Aku bisa melihat panggilan video sedang berlangsung dan yang menjadi objek di ponsel bukanlah wajah lawan bicara Josh. Melainkan Jansen yang sedang duduk berdua di taman bersama seorang gadis yang bersandar di bahunya sambil menikmati jajanan entah apa itu. Aku lihat sesekali gadis itu meniup-niupnya dan menyuapkan ke mulut Jansen yang dengan senang hati membuka mulut sambil tersenyum.


Pasangan romantis yang sangat bahagia. Eh... aku tersadar tiba-tiba.


        "Telpon Jansen dan suruh pulang sekarang!" kataku dengan keras membuat Vania yang duduk di lantai dengan berbagai mainan menatapku karena kaget.


        "Namanya Ayu, masih baru lulus kuliah, belum kerja. Sebelumnya dia magang di kantor Jansen," ujar Josh seraya menjauhkan ponsel dari hadapanku.


        "Man, ambil beberapa poto, gerak-gerikmu jangan sampai dicurigai yah!" ucap Josh, mungkin pada orang yang berada di video call.


Tak lama setelah itu dia memutus sambungan dan menyimpan ponsel di atas meja.

__ADS_1


        "Josh udah curiga beberapa waktu ini, Jansen sering sekali video call di kamarnya dan selalu panggil, 'beb'. Josh curiga dan akhirnya suruh orang buntutin dia diam-diam. Dan ya..." Josh mengendikkan bahu tidak melanjutkan kalimat yang sudah bisa kami tangkap apa makskudnya.


        "Mama tahan dulu, jangan langsung tanyain Jansen begitu tiba di rumah. Kita lihat sejauh apa dia bisa berjalan. Bukankah Mama sudah punya calon untuknya? Dia mungkin tidak akan menolak," ucap Josh.


        "Bukan tidak mungkin. Tapi, 'ti-dak bi-sa'. Ayo, Sayang. Kita makan!" ujar Johana sambil berdiri dan meraih Vania dari pangkuanku. Wajahnya sudah menunjukkan dia sedang kesal. 


        "Ayo, Mas!" panggilnya dengan keras ke arah suaminya. 


Keluarga kecil itu pergi tanpa mengajak kami untuk makan malam. 


        "Kita selidiki dulu. Sebisa mungkin Mama harus tahan. Oke! Kita lihat Jansen akan lakuin apa jika tanggal pertunangannya sudah di tetapkan." Aku bisa melihat senyum sinis penuh ejekan dari wajah Josh.


Tak lama, Johana datang lagi.


        "Ma, Pa, kami keluar dulu, Vania mau makan ayam kriuk katanya," ucapnya dengan wajah masih kesal.


Mungkin dia teringat dengan masa lalunya saat aku menentang habis kekasihnya Ruli. Dia kesal, karena dia sudah tahu bahwa aku akan melakukan hal yang sama pada Jansen. 


    Malam itu, usai makan malam, kami berbincang sebentar di ruang keluarga sambil menunggu Jansen dan Johana pulang. Pikiranku sudah di penuhi dengan Jansen dan perempuan tadi. Aku menoleh dengan cepat kala mendnegar suara mobil kemudian pintu rumah yang dibuka. Perlahan aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat.


        "Kamu---"


        "Kami pulang, kami langsung ke kamar yah Ma, Vania ketiduran," ucap Johana. Aku kira Jansen yang pulang.


Suamiku menggeleng dengan senyum kecilnya.


        "Ayo tidur, ini sudah jam sepuluh. Bentar lagi mungkin dia sudah sampai." Suamiku merangkulku ke kamar kami yang ada di lantai satu.


    Drrrttt


    Drrrttt


  Jansen :


   'Ma, Jan nggak pulang, yah. Ada acara bareng teman. Belum kelar.'


    'Gutnait, Mam. Love U'

__ADS_1


__ADS_2