MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
70. AKHIRNYA DI TERIMA


__ADS_3

    "Gara-gara kamu, aku kena omel."


Aku mendengar kekehan renyah dari priaku di seberang sana. Aku sedang mencoret-coret kertas di depanku dan ponselku berdiri bersandar pada gelas minumku.


Sejak dulu, aku sedikit suka menggambar desain-desain pakaian. Walau hanya corat coret tak jelas, tapi aku sangat menyukai kegiatan itu.


Kali ini, entah kenapa aku seperti ingin mendesain sebuah gaun mewah, gaun pernikahan tepatnya. Aku tidak tahu apakah karena belakangan aku selalu membahas soal pernikahan atau apakah ada keinginan dari alam bawa sadarku.


    "Ya sudah, baiklah, gara-gara aku. Aku akan pura-pura lupa siapa yang duluan dusel dan peluk-peluk aku semalam. Siapa yang duluan cium," Mengalah tapi seolah menjelaskan dosaku satu per satu. Wajahnya yang tanpa dosa itu membuatku semakin kesel.


    "Ya, kan kamu juga mau, kamu juga nggak nolak." Aku mencari pembelaan diri yang pada akhirnya mengakui bahwa akulah yang sumbernya.


Jansen tertawa saja dan menggelengkan kepala.


    "Beb, deketan sini!"  Jansen bingung tapi dia juga mendekat pada layar ponsel dan kini wajahya memenuhi layar ponselku.


    ummmahh


Aku mencium ponselku seolah-olah aku mencium Jansen. Jansen meresponku dengan tawa keras.


    "Awas yah, nanti kalo kita udah ketemuan, aku habisin kamu!"


Aku berlakon kayak aku sedang ketakutan pada ancamannya dengan mata membola.


    "Bibir kamu saya habisin!" lanjut Jansen.


    "I like it then," jawabku santai. Akhir-akhir ini otakku udah ngeres. Aku sering membayangkan ciumanku dengan Jansen. Saat aku menonton drakor juga begitu, aku akan berpikir bahwa yang sedang perang bibir itu adalah aku dan Jansen.


Benar-benar udah terkontaminasi ini otak.


    "Jangan menolakku nanti!" ucapnya dengan mimik sungguh-sungguh.


Dasar pria. Hal begini akan menjadi nomor satu di otaknya.


    "Beb, udah jadi tanya Mira?" Aku mengalihkan topik. Lama-lama otakku bisa makin korslet kalau omongin cippokan terus.


    "Oh, lupa." Jansen menepuk keningnya sendiri.


    "Bentar yah, aku text dia bentar," ucapnya seraya mengutak-atik ponselnya yang masih aktif video call denganku.


    "Beb, besok sore yah, aku jemput kamu, kita sama-sama jumpain dia. Aku ambil lokasi tengah, biar kamu nggak kejauhan," lanjut Jansen dna kini wajahnya sudah kembali di layar ponselku.


    "Oke, nggak usah di jemput, aku datang sendirian aja. Capek bolak-balik terus ntar kamu antarin aku lagi."

__ADS_1


Tidak di jawab langsung. Butuh pertimbangan oleh yang mulia Jansen.


    "Apa nggak kemaleman kamu naik motor?"


    "Ya kita jangan sampe malam la, atur waktu ketemuannya jam tujuh aja."


    "Ya udah, itupun jadi lah. Nanti aku kabarin kamu lagi." Jawaban Jansen seperti ada maksud lain. Wajahnya juga mencerminkan ada rencana lain.


    Aku harus mendengar sendiri apa tujuan Mira datang ke kantor Jansen dengan mengaku sebagai tunangannya. Bukankah dia sudah di tolak? Kenapa dia pede sekali? Apa karena dia adalah pilihan orang tua Jansen jadi merasa di atas angin dan bisa berbuat sesukanya?


*****


    Disinilah kami berada. Meja bundar dengan penuh hidangan enak tapi tak satupun di antara kami yang memulai acara makan siang ini.  Tatapan dari gadis di depanku seperti bisa membelah tubuhku dengan sekali hunus.


    "Ayo makan!" Jansen bergerak dan memilih menu yang aku suka dan meletakkannya di piringku.


    "Makan yang banyak!" lanjutnya kemudian dia mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


    "Silahkan Mir," katanya pada gadis itu.


Ya, firasatku benar, Jansen mengubah jadwal pertemuan kami menjadi makan siang alih-alih makan malam dengan Mira. Gosip di kantorku akan semakin heboh setelah  siang ini atau mungkin sekarang udah heboh. Bagaimana tidak, Jansen datang langsung dan meminta ijin secara pribadi ke atasan aku. Aku tahu mereka teman, tapi tidak harus begitu lah. Dengan dia bersikap begitu aku semakin ketahuan kalau aku masuk lewat jalur belakang. Yang bikin makin kesal, bukannya nunggu di mobil, malah menunggu di lobby.


    "Makan!" ucapnya tegas padaku karena aku masih mendelik padanya. Sungguh, aku masih merasa kesal.


Gadis ini persis seperti deskripsi Jansen waktu itu. Dari tampangnya dia tampak tegas dan bossy.


Wanita karir yang otoriter.


    "Biasa, dia belum siap go publik." Jansen malah menanggapi tapi tangannya mendarat di kepalaku lalu mengacak-acak rambutku.


Jangan bilang aku norak shay, tapi aku benaran salting. Karena apa? Dia lakuin itu didepan calon yang di gadang-gadang untuknya dulu. Wajahku memanas aku yakin pipiku udah memerah sekarang.


    Dengan senyum tertahan, aku menikmati makananku. Ini sungguh luar biasa, tiap hari makan beginian apa nggak kanker tiba-tiba? (Kantong kering maksudku wak).


Bekal dari rumah yang ku bawa tadi pagi, aku kasih ke OB di kantor. Sayang di buang.


Untung aku sudah belajar table manner walau masih sedikit, setidaknya aku tidak mempermalukan diriku ataupun Jansen di depan Mira yang makan dengan begitu anggun. Gadis yang sempurna, makan saja dia cantik.


    "Kenapa tiba-tiba ajak aku makan siang?" tanya Mira.


    "Nanti saja, makan dulu!" jawab Jansen.


Kami makan dalam diam. Sesekali aku melotot pada Jansen yang sibuk meletakkan makanan  di piringku.

__ADS_1


    "Mira, aku ingin tanya, tolong jawab dengan jujur!" Jansen mulai obrolan sambil dia ngelap mulutnya.


Mira meletakkan gelas dan menarik sehelai tissu lalu menatap Jansen seolah bertanya 'apa?'


    "Benar kamu ke kantor aku kemarin?"


    "Ehem," jawabnya tenang.


Jansen mengangguk. Aku duduk dalam diam. Memuji ketenangan Mira. Jansen juga tidak terburu-buru. Apa begini cara orang kaya menyelesaikan masalah? Elegan...


Tidak bar-bar sepertiku.


    "Aku berterimakasih pada Om dan Tante karena sudah mengijinkan aku kenal lebih dekat dengan kamu sebelumnya.  Dan aku juga udah minta maaf dengan tulus karena aku harus menolak ide perjodohan orang tua kita. Aku terima jika Om dan Tante marah dan kecewa padaku, tapi pada akhirnya mereka mengerti akan perasaanku."


    Apaan sih si Jansen, untuk apa coba dia bicara pembukaan panjang lebar. Cukup tanya, apa maksud dan tujuan dia ngaku-ngaku jadi tunangan kamu aja, ribet bangat. Aku menggerutu d alam hati.


Tanpa kusadari, tangan Jansen menggenggam tanganku di bawa meja. Dia mengelus punggung tanganku dengan jempolnya seolah-olah untuk menenangkan ku.


Apa aku terlalu menunjukkan sisi bar-bar ku barusan? Oemji... aku selalu ketahuan.


    "Mir, aku minta maaf padamu karena aku tidak bisa melanjutkan perjodohan kita, ini untuk yang kedua kalinya.


    Tolong pahami perasaanku, jika kamu datang ke kantorku dan mengaku tunanganku, itu akan memberikan citra yang jelek untukku dan juga Ayu. Aku belum pernah memperkenalkan Ayu pada keluargaku secara resmi dan juga pada karyawanku. Jadi jika kamu melangkah seperti itu, Ayu akan kena imbasnya. Untuk kedepannya tolong perhatikan langkah-langkah kamu yah Mir. Ini untuk kebaikan kita semua."


    Ini bukan acara pengkonfirmasian, ini peringatan. Dan sejauh ini Mira tidak memberikan bantahan.


    "Aku hanya berjuang  saja dan mencari celah walau itu hanya sedikit. Aku tahu bahwa hubungan kalian belum diketahui karyawanmu walau Ayu pernah magang disana, mereka tidak akan mengira kalian pacaran. Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan. Dan jangan lupa, aku punya dukungan."


Mira masih merasa di atas angin karena dia nomini pilihan orang tua Jansen.


    "Dan jangan lupa Jansen, aku sudah pernah ingatkan kamu. Kamu hanya bisa menyingkirkan aku jika kamu menemukan yang lebih cantik dan lebih kaya. Untuk dua hal itu, aku ke sampingkan kecantikan karena ..."


Mira menatapku dengan intens lalu melanjutkan kata-kata mutiaranya lagi, "Dia lumayan."


    Buset, cantik paripurna gini, lumayan? Mira kampreet. Muka tembemku ini sangat di sukai orang-orang tahu.


Aku juga tidak punya minyak mengendap dan menggumpal di perutku. Berani sekali kamu bilang lumayan?


Gaes, aku sangat menggebu-gebu tapi semua itu hanya dalam hati. Aku masih mencoba menjadi gadis yang anggunly.


    "Kamu benar, Ayu tidak punya perusahaan seperti kamu, orang tuanya juga tidak punya pabrik. Tapi...


Kamu harus tahu, dia sudah di terima."

__ADS_1


__ADS_2