
Jerat Cinta Tuan Muda #20
Oleh Sept
Rate 18+
"Hi ... lama tidak bertemu," sapa Hera. Wanita berparas ayu, good looking dan memiliki senyum yang manis. Ia menyapa Dewa dan memperlihatkan lesung pipinya. Bibirnya yang tipis mengembang sempurna tak kala menatap Dewa. Dia adalah cinta monyet Dewa. Anak angkat dari kerabat jauh pria yang duduk di kursi roda tersebut.
"Kapan kamu kembali?" tanya Dewa dengan muka dingin.
"Kemarin, harusnya bulan depan aku pulang. Karena diajak Papi, aku putuskan mempercepat kepulanganku. Bagaimana? Kau suka kejutan dariku?"
Dewa diam, ia tidak merespon. Baginya Hera hanya masa lalu. Cinta monyet, cinta milik monyet. Bukan miliknya. Tidak ada jejak rasa yang tertinggal, karena waktu itu mereka baru kelas satu SMP.
Sementara itu, Tika langsung minder dengan aura kecantikan Hera yang bak dewi Yunani tersebut. Maha karya Tuhan yang nyaris sempurna. Bibirnya yang simetris dengan warna merah natural seperti orang Korea. Hidung mancung dan bentuk tubuh yang proporsional. Hera cocok jadi model. Apalagi wangi wanita itu, duh ... harum sekali.
"Oh ya, Mbak ... tolong ambilin minum."
Hera menatap Tika, meminta pada gadis itu segelas minuman. Karena mendadak ia merasa haus. Padahal, ia sengaja menyuruh Tika pergi. Ia mau bicara empat mata dengan mantan cinta monyetnya itu.
"Baik, Non!" Tika lalu keluar mengambil minuman untuk wanita cantik tersebut.
Sesaat kemudian setelah Tika pergi.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Dewa dengan sinis.
"Astaga! Basa-basilah sedikit, Wa. Aku ke sini karena kangen sama kamu."
Dewa tertawa remeh, "Silahkan keluar!"
Hera mengeryitkan dahi, susah juga mengambil hati pria dingin itu. Tapi ia tidak mau menyerah. Demi kehidupan yang terjamin sampai tujuh turunan. Ia akan melakukan apa saja agar Dewa menikahi dirinya.
"Ayolah, Wa ... kau lupa dengan ciuman pertama Kita?"
Ketika Hera sedang menggoda Dewa, di depan pintu, si Tika sedang menguping. Ia kepo berat tentang hubungan keduanya.
"Jangan bicara omong kosong, pergi dari kamarku!" sentak Dewa dengan kasar.
__ADS_1
Di depan pintu, Tika tersenyum, ternyata bukan hanya dia saja yang dikasarin Dewa. Bahkan wanita secantik itu pun kena sembur Dewa. Tika terkekeh sambil menutupi mulutnya. Takut suara tawanya terdengar sampai dalam.
"Aku tahu kamu pasti tidak percaya diri karena keadaan kamu sekarang. Tapi, bagiku itu tidak masalah. Kita akan mencoba pengobatan dan terapi terbaik. Bukankah kamu dulu pernah berjanji akan menikahiku?"
"Hera! Jangan ngelantur, keluar dari kamarku!"
Ganti Hera yang tersenyum kecut, ia pun melangkah mendekati Dewa. Kemudian berjongkok di depan pria itu.
"I miss you so much!"
CUP
Hera mengecup bibir Dewa dengan singkat, meninggalkan aroma manis karena lipgloss yang ia gunakan.
Dewa terbelalak, ia langsung mendorong tubuh Hera. Berani sekali Hera menciumnya tanpa ijin.
"Jangan gila! Berani sekali kamu melakukan ini?"
"Astaga! Itu hanya kecupan. Apa kamu mau yang lebih dalam dan hangat?"
Bruakkkk
"Aduh!" Hera memegang pinggangnya yang sakit, Dewa mendorong hingga menyentuh tepian kursi.
"Kamu keterlaluan Dewa!"
Hera menyalak marah, dengan emosi dia merobek sendiri baju atasannya.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?" Dewa kembali terbelalak dengan aksi gila wanita cantik tersebut.
"Sepertinya kamu nggak bisa diajak diskusi, ayo selesaikan di depan keluarga besar Kita." Hera langsung berbalik, ia keluar dengan gusar. Baju atasan pun sudah robek, sekilas seperti ada yang merobeknya.
***
Tap tap tap
"Piii!"
__ADS_1
Semua keluarga dan tamu yang datang langsung menatap ke tangga. Dilihatnya Hera dengan pakaian yang sobek-sobek.
"Hey! Habis diterkam singa di mana?" Ronald terkekeh melihat kondisi saudara angkatnya.
Hera langsung menghampiri papinya. Ia menangis di pelukan sang papi angkat.
"Siapa yang kurang ajar seperti ini?" Papi terlihat marah melihat putri kesayangannya dalam kondisi yang mengenaskan.
Mama Dewa, Nyonya Mira dan Ronald menatap aneh. Mereka berpikir ini jelas bukan kelakuan Dewa. Pria itu bahkan tidak mampu berdiri.
"Katakan! Siapa?"
Hera tidak menjawab, ia malah terus menitikan air mata buaya.
Ketika semua orang sedang tegang, tiba-tiba muncul Tika sembari mendorong Dewa.
"Nona itu mencium Tuan dengan paksa, jadi Tuan Dewa mendorongnya. Karena mara, Nona itu menyobek sendiri bajunya."
Tanpa ditanya, Tika langsung berbicara. Ia yang sejak awal menguping, tidak suka Tuan mudanya itu difitnah.
"Hey! Pembantu sialan! Apa yang kamu katakan!" Hera berteriak lantang, akibat teriakan itu. Ia sekarang jadi pusat perhatian. Bahkan, Mbak Mar yang sejak tadi di dapur, tidak mau ketingalan berita. Ia mengintip ingin melihat kegaduhan apa yang sedang berlangsung.
"Hera?" Mama Dewa menatap tidak percaya pada wanita yang menuduh putranya itu.
Sedangkan Nyonya Mira, ia hanya tersenyum kecut. Jurus basi, ia tidak menyangka. Hanya luarnya saja yang bagus. Dalamnya sangat-sangat busukk.
"Dewa, apa yang terjadi?"
Dewa langsung memutar kursi rodanya, ia pergi meninggalkan tempat itu. Dewa merasa jengkel, mengapa ia terlihat seperti korban kekerasan seksuall. Padahal ia kan pria. Sial! Dewa merutuk dalam hati.
"Tuan! Tunggu!" Tika mengikuti Dewa terus dari belakang.
"Kau menguping?" cibir Dewa dengan nada menyindir.
"Ah ... itu ... itu tidak sengaja."
"Terima kasih!" Dewa langsung melanjutkan kursi rodanya. Sedangkan Tika, ia tertegun. Dewa mengucap kata terima kasih, apa ia tidak salah dengar? Bersambung.
__ADS_1