
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI TEMAN-TEMAN.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YAH.
Yuk, mari beri dukungan untuk Author dengan tab love, jempol dan komen.
******
Aku duduk dengan menunduk di kursi ruang tamu.
Aku tidak berani mengangkat kepalaku dan tidak berani menatap wajah Bapak dan Ibu yang duduk berdampingan di depan aku.
Huh, aku sudha menduganya tadi pagi. Ketenangan yang terpancar dari Bapak dan Ibu bukanlah hal yang menyenangkan tetapi hal yang harus di waspadai karena di balik ketenangan itu pasti ada badai seperti malam ini.
Sepulang kerja dan beberes rumah, ibu dan aku menyiapkan makan malam. Tidak ada topik yang lain yang di bahas selain tentang masakan dan juga pekerjaanku.
Saat itu, aku udah berpikir tenang, tidak akan ada sesi interogasi atau pembahasan mengenai kejadian tadi malam. Kalian masih ingatkan, kejadian apa itu?
Dan sekarang, aku duduk menunduk di hadapan mak bapak gue karena Ibu memanggilku ketika aku sudah selesai membereskan piring bekas makan kami dan hendak berlalu ke kamarku.
"Ceritain, kenapa kamu bisa tidur berduaan dengan Jansen semalam?"
Aku melihat iblis merah udah tertawa-tawa di samping kiri ibu, sementara malaikat suci itu sedang mengelus-elus dada ibu sambil meniupkan angin damai.
Aku beralih ke arah bapak yang duduk tenang menatapku. Tatapannya tenang dan aku bisa melihat Iblis di atas kepalanya sedang di pelintir oleh malaikan suci itu.
Aduh, aku ngomong apa sih. Ini nih kalau lagi di ruang sidang. Mata bisa melihat hal yang tidak ada.
Maaf yah shay, anggap saja hiburan.
"Maaf, Bu. Tapi aku nggak sengaja, aku ketiduran."
"Nggak sengaja-nggak sengaja kata kamu, kamu peluk dia begitu, masih bilang ngak sengaja. Kalau nggak sengaja itu yah berarti kamu tidur begini." Ibu mempraktekkan gimana tidur tidak sengaja.
"Bukan malah nempel kayak di lem. Kamu yah, bikin Bapak sama ibu malu. Kamu perempuan, gimana bisa kamu peruk Jansen sampe kegencet gitu? Udah kebelet kamu?" lanjut ibuku.
__ADS_1
Sepanjang yang kutahu, repetan ibu akan seimbang dengan kasihnya yang sepanjang masa.
Kalian dengar, kan? Aku yang di salahkan karena memeluk Jansen. Padahal Jansen juga memelukku.
"Maaf, Bu." Aku tidak berani membantah, walau di dalam hati aku menjawab-jawab juga.
"Maaf, maaf, Gimana kalo ada yang lihat? Mau taro dimana muka ibu?"
Ibuku sayang, siapa yang akan lihat? siapa yang akan datang ke rumah tetangga di tengah malam dan di bawah derasnya hujan? Siapa yang udah mau berkunjung di pagi buta yang dingin? Tidak ada Bu, tidak ada.
Lagian jika ada yang mengetuk pintu, aku pasti bangun, aku belum budek, Bu. Aku juga tidak kebo kalau tidur. Kecuali tadi malam sih, karena gulingnya bernapas. Hihihi
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?"
Mati, apa aku senyum barusan karena membayangkan dada Jansen yang aku peluk semalaman?
"Siapa yang senyum, Ibuuuuu?"jawabku gemes.
Biasanya ibu-ibu akan melantukan nyanyian di pagi hari atau langsung on the spot ketika kejadian berlangsung.
Ini ibuku beda, tunggu seharian dulu baru merepet.
"Untung tadi malam hujan deras, nggak kepikiran orang mau berkunjung." Kan di jawab sendiri.
Lagian kalau nggak huja deras, Jansen juga pulang, Bu! jawabku dalam hati.
"Kamu tuh yah, Yu. Jangan kecentilan gitu. Udah dewasa, udah kerja. Ya sedikit jual mahal lah, Ini malah kamu yang nemplok. Heran ibu sama kamu, Udah ngebet bangat kamu?" pertanyaan ulang.
"Belum ngebet Ibuuuu, tapi Jansen udah ajakin." jawabku menggantung dan ambigu.
Aku melihat ibu membelalakkan mata dan berekspresi kaget. Aku melihat Bapak juga sekilas kaget dengan jawabanku.
"Katanya dia mau ngomong sama orang tuanya untuk atur jadwal mau lamaran kesini," lanjutku dan aku melihat ayah berangsung lega pun dengan ibu yang sangat kentara sekali menunjukkan kelegaan.
"Emangnya orangtuanya nggak marah lagi? Udah mau terima kamu?" tanya ibu penasaran.
__ADS_1
Aku mengangguk dan menjawab, "Tapi ada syarat katanya, aku belum di kasih tahu syaratnya apa."
Ibu mangibaskan tangan di depan wajahnya, " Sama aja, itu belum di restuin."
"Jangan mau terima lamaran sebelum ada restu dari orang tuanya. Ibu harus dengar sendiri orang tuanya kasih restu sama kamu. Kamu dengar, kan Yu?" Ibu mengarahkan jari telunjuknya padaku sebagai tanda ketegasan.
"Ibu sama Bapak, tidak mau menikahkan kamu tanpa restu orang tua. Nggak berkah," ucap ibu lagi.
"Seandainya udah di restuin, ibu sama bapak ijinin Yuyu, nikah muda nggbak?"
Aku bertanya dengan hati-hati. Mungkin ini akan sedikit sulit, mengingat salah satu abangku yang di luar pulau belum juga menikah hingga saat ini.
"Kamu udah siap nggak?" sambar Bapak mendahului Ibu.
Aku bimbang. Jika aku menjawab belum, kasihan Jansen yang udah berharap.Jika aku jawab udah, kasihan mentalku yang belum siap tempur di pernikahan.
Aku menggeleng, "Mash ragu, Yuyu takut," jawabku pada akhirnya.
"Yuyu takut nggak bisa jadi istri, jadi menantu, jadi ipar yang baik dan sesuai keinginan mereka. Yuyu juga sebenarnya masih pengen senang-senang sama teman-teman. Masih mau nabung duit biar bisa bawa ibu sama bapak liburan. Kalau Yuyu nikah, nanti di suruh berhenti kerja, Yuyu dapat uang dari mana?"
Aku melihat bapak menarik napas dan membuang dengan perlahan.
"Bapak tidak mengerti tentang mental yang kamu bilang. Kalau memang masih berat, ya tunda aja dulu. Siapkan mental dulu sampai kamu benar-benar merasa 'oh udah ini saatnya'. Karena sepanjang yang udah bapak dan ibu jalani, mental kita ini akan terus di uji. Kesiapan itu akan terus siaga, tidak ada yang benar-benar langsung siap. Menjadi istri dan menantu yang di inginkan seperti apa juga tergantung keluarga suami. Contohnya Ibumu, Nenek dan kakek kamu nggak pernah paksa ibu dulu harus jadi begini dan begono, Mereka membebaskan ibu tapi harus di jalan yang semestinya. Jika sudah menjadi istri, yah bersikaplah selayaknya istri, selayaknya menantu. Jangan lagi kelayapan dengan teman-teman semasa muda sampai lupa waktu. Menikah itu ibarat sekolah yang tidak lulus sampai kapan pun. Terus belajar dan belajar."
Aku mengangguk, secara teorikal semua masuk akal, tapi dilapangan gimana?
Banyak istri-istri yang setres karena mengesampingkan keinginan sendiri demi mengikuti semua kemauan mertua dan suami. Seleranya berubah karena harus turut perintah.
Haduh, haruskah masa muda ku korbankan?
"Jangan mikir yang berat-berat dulu. Kalau belum mau yah ngomong sama nak Jansen. Jangan di paksakan. Lagian mending kamu dengar dulu apa syaratnya nanti. Jawaban kamu tergantung syarat dari orang tua si Jansen,"
kata ibu menenangkanku.
Aku mengangguk dan pamit ke kamar. Aku rasa sidang tertutup ini sudah selesai. Intinya semua ini salahku karena aku ngebet sama Jansen.
__ADS_1
"Yu, Ingat, jangan ulangi yang tadi malam. Jangan sekali-kali tidur sama Jansen sebelum resmi. Walaupun hanya tidur biasa!" Tatapan mata tajam disertai dengan telunjuk yang mengacung menandakan ketegasan.
"Iya Bu."