
Jerat Cinta Tuan Muda
25
Rate 18
Oleh Sept
"Tanganku?" Tika malah balik bertanya. Gadis itu jadi salah tingkah. Mengapa Tuan mudanya itu meminta tangannya? Ah, Tika jadi berhalusinasi. Seperti di drama-drama Cina yang sering ia tonton. Si pria meminta si gadis mengulurkan tangan, kemudian mendapat kejutan. Barangkali Dewa mau memberikan dirinya sebuah cincin. Gadis itu malah tersenyum tak jelas seperti orang tak waras.
"Tik, TIKA!" sentak Dewa, membuat Tika langsung sadar dari lamunannya.
"Iya ... eh .... iya Tuan."
"Memikirkan apa kamu ini? Mana tanganmu!"
Dengan senang hati Tika mengulurkan tangannya. Bibir gadis tersebut meliuk-liuk menahan senyum yang memaksa muncul.
"Buang ini ke tempat sampah!"
Manik mata Tika langsung mau keluar, senyum sumringah hilang seketika. Saat menatap tisu kotor di telapak tangannya.
"Ish!" Tika mendesis dalam hati. Dewa rupanya menyuruhnya membuang tisu bekas pakai. Astaga, rasanya Tika ingin menjambak rambutnya sendiri saat itu juga. Bisa-bisanya ia memikirkan hal romantis dengan pria itu. Oh Tika, ia merasa sudah memiliki dan mengidap gejala kelainan.
Plung
Tika melempar gumpalan tisu yang ia remas dengan kesal. Mengapa mesti menyuruh dirinya? Buang sendiri kan bisa. Kalau begini kan ia sempat GR. Ah, Tika mendadak merasa sebal. Rupanya ia sudah mengharap sesuatu yang berlebihan.
Puk puk puk
Tika menepuk kedua pipinya, "Sadar Tika, woi!" gumam Tika sambil melangkah mendekati Dewa.
"Butuh apa lagi, Tuan?"
"Tidak ada."
Tika manggut-manggut, kini kedua orang itu sama-sama terdiam. Bingung juga mau bicara apa. Dewa juga sudah tidak ada bahan untuk mengerjai si Tika. Sedangkan gadis itu, mukanya masih ditekuk karena korban kebaperan.
***
Satu minggu kemudian.
Pagi ini Tika sudah mulai bekerja kembali, sudah siap dengan seragam kebesaran. Dan seperti biasa, saat berpapasan dengan Mbak Mar, wanita itu masih menatapnya dengan tatapan sinis.
"Pagi, Mbak Mar."
__ADS_1
Tika mencoba menyapa dengan senyum ramah. Tapi apa yang terjadi, Mbak Mar membalas sapaan itu dengan muka masam dan melengos. Seolah Tika adalah musuh abadinya. Tika sampai heran, sebenarnya ada apa dengan wanita itu? Mengapa terlihat begitu membencinya? Padahal Tika juga tidak merebut pacar Mbak Mar.
Tak mau ambil pusing, Tika pun memutuskan ke kamar Dewa. Melakukan rutinitas seperti biasana. Menyiapkan mandi Dewa dan sarapan setelah itu terapi lagi.
"Tuan," panggil Tika.
Tika langsung masuk kamar, karena pintunya tidak dikunci. Sepertinya Dewa sudah bangun dari tadi. Mata gadis itu memindai seluruh ruangan, mencari keberadaan Dewa.
"Tuan ... Tuan muda?"
"Hemm!"
Tika tersentak kaget saat Dewa ada di belakangnya.
"Tuan dari mana?"
"Dari sana," Dewa menatap ke luar pintu.
"Oh ... aku siapkan air mandinya," Tika mundur, ia akan menyiapkan keperluan mandi si Dewa. Tapi aneh, mengapa ia merasa canggung. Padahal juga biasanya biasa saja. Tika memukul kepalanya, sepertinya mulai error.
Sesaat kemudian, Tila muncul dengan kain handuk di tangan. "Airnya sudah siap Tuan."
"Hemm!"
Dewa langsung masuk dan mengunci pintu.
Klek
"Tika! Apa kamu tidak memeriksa, shampoonya habis!" teriak Dewa dari dalam.
"Wadoh!" batin Tika.
"Iya ... iya Tuan!" Tika setengah berlari menuju lemari warna coklat yang berdiri kokoh di dekat sana. Ia meraih salah satu botol shampoo anti ketombe. Sebuah shampoo merek brand ternama yang iklannya sering muncul di TV.
Tok tok tok
"Tuan, ini!"
Klek
"Masuk!" titah Dewa.
"Sial!" rutuk Tika dalam hati. Bukan cuma sekali ia membantu Dewa mandi. Tapi kenapa sekarang pikiran Tika seperti ini? Jadi keruh seperti genangan lumpur saat banjir surut.
Setelah menghela napas panjang, Tika melangkah dengan jantung yang deg degan.
__ADS_1
"Ini, Tuan!" Ia menunduk, tak berani menatap pemandangan di depannya.
"Terima kasih!" ucap Dewa sembari mengambil botol shampoo.
Sementara itu, Tika langsung berbalik, bulu kudunya berdiri. Gadis itu bergidik ngeri, merinding sendiri. Setelah keluar dari kamar mandi, Tika bersandar di dinding sembari memegang dadanya.
"Ya ampun, nggak beres ini!" gerutu Tika, setelah itu memegangi pipinya yang terasa panas.
Lama ia menunggu, hingga akhirnya Dewa memanggil namanya. Tika kembali masuk, membantu mengeringkan rambut pria tersebut.
"Aku tidak mau pakai baju itu, ambilkan yang lain yang lebih hangat."
"Baik, Tuan!"
Tika menuju lemari, mencari baju yang Dewa maksud.
"Apa ini, Tuan!"
"Hemm."
Tika menatap aneh, mau ke mana Tuan mudanya itu. Tumben pilih-pilih baju.
"Setelah ini, kamu ganti baju. Pakai pakaian hangat."
"Sekarang, Tuan?"
"Tidak! Tahun depan!"
Tika langsung mengatupkan bibir, hal itu tanpa sengaja tertangkap mata Dewa.
"Cepat! Aku tidak suka menunggu!"
"Iya, Tuan."
Setelah Dewa sudah siap dan rapi, gantian Tika yang berganti pakaian. Tika membuka lemari baju miliknya, ia menatap deretan gantungan baju yang sebagian masih ada plastiknya. Ya, beberapa baju masih rapi dalam bungkusnya. Ada yang ia beli secara online dan hadiah dari Nyonya Mira serta Nyonya besar.
Dua orang itu kadang membelikan Tika pakaian bila mereka berbelanja. Mungkin sebagai rasa terima kasih karena masih bertahan dengan Dewa. Mencari pengasuh untuk pria seperti Dewa tidaklah mudah.
Akhirnya pilihan Tika jatuh pada dress motif bunga-buga. Terlihat cantik, apalagi Tika mulai berani memoles bibirnya. Tapi, saat ia berkaca, tangannya meraih tisu dan mengusap warna merah merah itu.
"Tika! Apa yang kamu lakukan? Ini bukan kencan!" Ia bicara pada dirinya sendiri yang ia lihat lewat pantulan kaca.
***
"Tuan, kita mau ke mana?" tanya Tika saat melihat Dewa yang dibantu pak sopir naik ke dalam mobil.
__ADS_1
"Sudah, naik saja!"
Dari lantai atas, di balkon kamarnya. Mama Dewa menatap ke bawah, tepat ke arah Dewa yang akan masuk mobil, ia melihat dengan pandangan tak suka.