My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Dealova


__ADS_3

⚠PLEASE ! JANGAN BOOMLIKE UNTUK SESAMA AUTHOR SALING MENGHARGAI. KALAU MEMANG TAK INGIN BACA LEBIH BAIK LIKE 1-2 BAB SAJA. KARENA BOOMLIKE ITU BISA MEMPENGARUHI PENILAIAN KARYA DARI SISTEM YANG MENYEBABKAN KARYA ITU KEHILANGAN HAK PROMOSI DARI NT. TERIMA KASIH.


(⚠️ part ini mengandung bawang harap siapkan tisu untuk menemani para readers membaca)


#Johan Pov


Tubuhku bergetar hebat saat dua benda mematikan itu menembus kulit dan dagingku. Rasanya sudah bukan sakit lagi tapi menyakitkan. Seperti inikah rasanya jika menyayat kulit tanpa suntikan anestesi ?


Haha....bod*h kau Johan ! sebagai dokter kenapa aku baru mengetahuinya sekarang. Itulah sebabnya, semua tindakan operasi membutuhkan suntikan anestesi.


Apakah setelah ini aku akan mati ? Apakah perasaan seperti ini yang orang-orang rasakan ketika mereka tengah menemui ajal ?


Aku merasa oksigen yang ku hirup mulai berkurang secara perlahan. Pandanganku mulai mengabur. Dan aku menatap wajah cantik wanitaku penuh dengan cucuran air mata.


Aku tak tega melihatnya terus menangis. Namun inilah aku, aku rela menjadikan tubuhku sebagai perisainya. Ia harus tetap bertahan hidup dan menjalani hidup bahagia bersama dengan orang yang ia cintai. Kehidupannya sudah penuh lika-liku, aku ingin melihatnya meneruskan hidupnya sesuai apa yang ia inginkan.


Namun lidahku terasa kelu. Nafasku sudah tersengal-sengal. Untuk mengatakan pesan terakhirku itu saja begitu terasa sulit.


'Tuhan...aku belum ingin mati sekarang, tolong beri hambamu ini kesempatan sebentar saja. Aku harus menyampaikan segala perasaanku kepadanya.'


Samar-samar ku dengar suara sirine polisi. Lalu pria tua bangka itu lari entah kemana aku tak peduli. Semoga saja Kenzi dan Darren berhasil merenggut nyawanya. Enak saja aku harus mati sendirian. Nyawa harus di balas dengan nyawa.


Yang terpenting saat ini Hana, wanita kutubku ini masih hidup. Meski aku harus menjadikan tubuhku sebagai perisai untuknya, aku tak menyesal. Bahkan jika ia meminta jantung dan bola mataku pun aku akan dengan senang hati menyerahkannya. Terdengar seperti bualan bukan ?


Sepertinya Tuhan mendengar doaku barusan. Entah kekuatan dari mana, mulutku yang tadinya terasa kelu mulai bisa mengeluarkan suara. Aku bersyukur ini lah kesempatanku.


"Hana."


Ku panggil namanya dengan lembut. Ia mendongakkan pandangannya kearahku dengan cucuran air mata yang begitu deras. Kedua tangannya memegang kain yang menyumbat lukaku.


"Hana, maafkan aku. Aku selama ini tak jujur padamu.... Aku sudah menghancurkan rancangan masa depan untuk bisa hidup bersamamu."


Aku berhenti sejenak, nafasku sudah mulai terasa berat dan tak beraturan. Bahkan kunang-kunang itu sudah menghinggapi pandanganku.


"Selama ini hanya salah faham, bayi yang Clara kandung bukanlah anaku. Ternyata selama ini ia telah menipuku dan sekarang ia sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya. Jadi maafkan aku."


Aku berhenti kembali. Karena nafasku sudah terasa sangat berat. Aku berusaha mengambil oksigen di sekitar semampuku. Ku lihat matanya semakin berair.


"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf kepadaku Jo, kamu tau sendiri kan ? aku mengenalmu seperti kamu mengenalku. Aku percaya kamu bukan lelaki seperti itu, dan aku tak bisa membenci orang terlalu lama. Itu jauh menyiksa diri daripada terus-terusan menyimpan rasa benci dalam hati lebih baik memaafkan," ungkapnya padaku.


Aku tersenyum. Aku selalu puas dengan jawaban dari wanita jenius yang ada dihadapanku saat ini.


"Terima kasih. Kalau boleh jujur aku ingin menjadi angin agar bisa selalu menemanimu kemana pun kau pergi, dan aku ingin menjadi mimpi indah disetiap tidur malammu," gurauku kepadanya.


Mendengar gurauanku itu ia justru semakin menangis. Wajahnya sudah sangat memerah. Bahkan air matanya pun tak kunjung habis. Apa aku salah berucap ?


"Jangan bod*h, kamu nggak boleh jadi apapun ! Kamu hanya boleh jadi Johan seperti yang Johan yang aku kenal selama ini. Dan senyummu itu aku menyukainya, jadi jangan pernah berhenti tersenyum !" ungkapnya lagi dengan cucuran air mata yang mengalir deras.


Aku pun terkekeh pelan. Mendengar ucapannya yang terdengar kesal dari suaranya itu membuatku senang. Mengingatkan saat kami tengah bercanda dan tertawa bersama seperti dulu.


Aku melihatnya menangis sambil menahan hawa dingin di sekitar tempat kami berdiri. Entah ini hanya perasaanku saja atau apa aku tak mengerti. Seluruh tubuhku seperti di selimuti oleh hawa dingin yang menusuk kulit.

__ADS_1


Dengan susah payah aku lepaskan jaket penuh noda merah yang melekat pada tubuhku untuk menutupi bahunya yang terbuka. Ia pun terkesiap dengan perlakuanku.


"Disini begitu dingin kenapa kau malah memakai baju seperti ini ?" tanyaku lemah.


"Ini permintaan Lee, aku tak bisa menolaknya karna aku takut tak bisa bertemu denganmu kembali," ucapnya sedih.


"Brengs*k !" Tak ku sangka disaat sekarat pun aku masih bisa mengumpat.


"Dia hanya lelaki mesum yang terobsesi padamu. Sekarang kamu jangan takut kami datang menolongmu, Kenzi sekarang sedang melawan Lee dan anak buahnya. Kamu nggak usah takut. Sekarang kamu sudah aman...uhuk. uhuk.!" Nafasku tercekat, aku seperti kehilangan oksigen.


"Jo..Jo..bertahanlah, sebentar lagi bantuan akan datang. Jangan pergi Jo aku mohon," pintanya dengan uraian air mata saat melihatku memejamkan mata sejenak. Karena rasanya begitu perih.


Aku pun membuka mataku kembali dan mengulas senyum manis semampuku. Karena sepertinya kakiku sudah tak mampu menahan beban tubuhku. Sebisa mungkin aku bertahan untuk bisa mendengar suaranya untuk terakhir kalinya.


"Hei...aku masih disini masih bersamamu." ucapku.


"Hana bisa kah kau berjanji ? Kau harus hidup normal dan bahagia. Jangan menyamar menjadi orang lain lagi tetaplah menjadi dirimu sendiri." Aku berhenti berucap lagi karena pandanganku sudah hampir menggelap. Hanya samar-samar yang mampu ku lihat.


"Dan kembalilah kepada Kenzi, ia begitu sangat mencintaimu. Bahkan beberapa kali ia memintamu untuk kembali kan ? aku akan merasa bahagia jika kau juga bahagia...uhuk..uhuk. !"


Nafasku kembali tercekat. Rasanya begitu sakit, sesak dan berat menghimpit bersamaan dalam rongga pernafasan dan tenggorokanku.


Ku lihat ia tertegun mendengar ucapanku. Karena selama ini ia berfikir aku tak mengetahui apa-apa tentang hubungannya bersama Kenzi.


"Hana.. sepertinya aku tak sanggup lagi. Bolehkah aku menc*ummu untuk yang terakhir kalinya ?"


Wanita berparas Tionghoa itu mengangguk tanda menyetujui permintaan terakhirku. Ini terdengar konyol, disaat maut sedang mengelilingiku. Aku malah meminta c*uman darinya.


Kami berdua pun saling menutup mata dan merasakan benda kenyal milik kami saling bersentuhan. Ia masih terdiam, dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki kul*mat sedikit bibir tipisnya. Dan ku resapi rasa chery dari bibir ranumnya. Rasanya masih sama manis.


Aku ingin menjadi


Mimpi indah dalam tidurmu


Aku ingin menjadi sesuatu


Yang mungkin bisa kau rindu


Karena langkah merapuh tanpa dirimu


Oh, karena hati t'lah letih


Aku ingin menjadi sesuatu


Yang s'lalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu


Bahwa ku selalu memujamu


Tanpamu, sepinya waktu merantai hati

__ADS_1


Oh, bayangmu seakan-akan


Meski aku pernah kecewa padamu Han, karena kenyataan dahulu kamu pernah tidur bersama Kenzi. Tapi itu tak menyurutkan rasa suka dan cintaku padamu. Karena dulu kalian dijebak dan akhir-akhir ini baru ku ketahui bahwa dalang dibalik insiden yang menimpamu kala itu adalah Luna. Aku bisa memakluminya.


Lalu ku lepas pagutan antara kami. Ia masih menangis. Aku merasa menjadi lelaki tak berguna karena membuatnya menangis. Ku raih tengkuknya dan menangkupkan tanganku di wajahnya. Aku pandangi ia sekali lagi sebelum kabut hitam s*alan ini benar-benar menghalangi pandanganku.


"Hana aku mencintaimu dari dahulu, sekarang, esok dan seterusnya. Berjanjilah untuk meneruskan hidupmu demi aku atau demi keluargamu. Kembalilah menolong orang yang membutuhkan. Bangkitlah menjadi Luthfia Hana yang bersemangat seperti dulu. Aku....uhuk..uhuk !" ucapanku terputus karena ada sesuatu yang menghimpit pita suaraku.


"Jo...Jo..bertahanlah ! aku....aku juga mencintaimu Jo kumohon bertahanlah !" teriaknya parau.


Aku tersenyum mendengar pengakuannya. Wanita kutubku ini benar-benar sulit untuk membuatnya mengakui perasaannya sedari dulu. Bahkan harus menunggu tubuhku sekarat dahulu baru ia mau mengakuinya. Dasar wanita kutub!


Kali ini nafasku benar-benar tercekat. Aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan lemah aku raih tubuhnya dalam pelukanku. Aku mendekap erat tubuhnya untuk yang terakhir kalinya.


S*al ! hawa dingin ini sudah memasuki otakku. Aku sudah tak mampu merasakan apa-apa lagi. Bahkan kabut hitam itu juga sudah menghalangi pandanganku.


Tuhan apakah ini akhir segalanya dari hidupku ? Miris sekali. Aku harus mati disaat aku belum menikah dan memiliki anak bersama wanita yang aku cintai.


Tapi setidaknya saat ini aku berada dalam dekapan hangatnya. Mendengar pengakuan cintanya untuk yang terakhir kali.


Selamat tinggal wanita kutub, selamat tinggal sahabat sehidup sematiku. Semoga di akhirat nanti kita masih bisa berjumpa. I Love You Forever_


Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang


Tanpa dirimu aku merasa hilang


Dan sepi


Dan sepi


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela


Kau selalu ada.....


#PovEnd


Jujur author nulis ini sambil nangis. Karena sebenarnya tokoh favorit author itu Johan 😭😭


Johan itu sosok hayalan idaman author yg tdak ada didunia nyata,😭😭


Tapi kembali lagi ke skenario awal, maka dengan berat hati dan terpaksa author harus mengeleminasi Johan.


huhuuu 😭😭


Terima kasih atas dukungan dari teman-teman semuanya ya..


Saranghae..😘😘

__ADS_1


__ADS_2