My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Undangan makan malam


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam Hana dan Johan sudah sampai dikediaman keluarga Abraham. Dari luar rumah itu tampak terlihat megah dan halamannya yang sangat luas serta lampu taman yang indah menghiasi dikegelapan malam.


Kedua pasangan kekasih itu pun turun dari mobil mereka. Saat ia akan memencet bel tiba-tiba pintu sudah terbuka menampakkan ibu-ibu paruh baya seperti asisten rumah tangga.


"Ini pasti dokter Johan dan dokter Hana ya ?"sapa bi Inem akrab.


"Iya bi apa tante Laura ada ? kami tadinya diundang kesini oleh beliau."


"Silahkan saja dok, nyonya dan yang lain sudah menunggu di dalam mangga ka lebet," ujar bi Inem mempersilahkan tamu majikannya masuk.


"Baik bi," balas Johan seraya mengikuti langkah wanita paruh baya itu membawa mereka masuk lebih dalam di rumah megah itu.


Setibanya mereka diruang makan itu tampak seluruh penghuni rumah sudah berkumpul terdengar dari suara senda gurau mereka memenuhi ruangan. Saat mereka berdua sudah tiba, semua pandangan beralih pada mereka.


"Punten nyonya, tamunya sudah datang."


"Terima kasih ya bi, mari dokter Johan dan dokter Hana silahkan duduk."


"Mangga dok silahkan duduk, saya pamit dulu ke belakang nyonya."


Mama Laura pun membalasnya dengan anggukan.


"Pa perkenalkan ini dokter Johan papa tau sendirikan ia yang kemarin membantu operasi mata Kenzi dan ini dokter Hana orang yang sudah menolong mama tempo hari."


"Selamat malam senang berjumpa lagi ya dokter Johan dan anda dokter Hana," sapa papa Kim seraya menjabat tangan keduanya.


"Malam juga om, terima kasih untuk undangan makan malamnya," balas Johan dengan tersenyum.


"Saya merasa sangat berhutang budi kepada kalian karena kalian sudah menolong orang-orang yang berarti dalam hidup saya, maaf saya tidak bisa memberi sesuatu untuk kalian maka istriku memilih untuk mengundang kalian kesini."


"Itu sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai dokter om, jadi om tidak perlu merasa berhutang budi begitu kepada kami," sahut Hana sopan.


"Baiklah, anggap saja ini silahturahmi kita. Oiya...ini perkenal gadis yang cantik ini bernama Sona ia anak dari rekan kerjaku yang ada di Korea."


Sona pun berdiri dan membungkukan badannya khas kebanyakan orang Korea saat memperkenalkan diri.


"Annyeonghaseyo, perkenalkan nama saya Han Sona senang berjumpa dengan kalian para dokter hebat." puji Sona senang.


"Ternyata ini wanita yang kulihat waktu itu," gumam Hana seraya memperhatikan Sona dari dekat.


"Apakah wanita ini mantan kekasih oppa Kenzi yang kemarin kak Kanza pernah ceritain itu ? ternyata memang cantik," gumam Sona dalam hati.


"Saya Johan dan wanita disamping saya ini Hana ia adalah calon istriku," ucap Johan dengan bangganya.


"Wow ! kalian pasangan serasi yang menakjubkan !" ungkap Sona tak bohong.


Mereka berdua pun hanya tersenyum dan wajah Hana pun tampak memerah karena malu. Kenapa pula Johan harus memperkenalkan dirinya sebagai calon istri dihadapan keluarga Kenzi.


"Jadi yang dokter Hana maksud sudah memiliki tunangan itu, orang itu adalah dokter Johan ?" tanya mama Laura menyakinkan.


"Benar tante," jawab Hana kikuk.


"Selamat ya buat kalian, jangan lupa undangannya ya."


Disaat mereka asyik bercengkrama datanglah Kenzi membawa hawa dingin yang mengelilinginya.Pasalnya sedari tadi ia sengaja tak langsung ikut bergabung ia ingin mendengar pembicaraan teman dan ortunya itu. Hatinya terasa gerah tiba-tiba mendengar dengan bangganya Johan memperkenalkan Hana sebagai calon istrinya dihadapan kedua orang tuanya.


"Eheemm !!"


"Kenapa diam ? mari lanjutkan, " tegur Kenzi mempersilahkan.


"Hai...malam Ken !" sapa Johan mencoba memperlihatkan keakraban mereka sebagai teman.


"Malam juga, gue pikir kalian enggak bakal dateng karena kalian kan sibuk."

__ADS_1


Johan pun tersenyum.


"Kami memang dokter tapi bukan berarti kami tidak ada waktu untuk bersantai," ujarnya dengan masih tersenyum.


"Akh..ma sebentar aku ada telepon dari pusat aku akan pergi dulu, kalian nikmati saja ya hidangannya.Maaf tiba-tiba om ada urusan mendadak," pamitnya papa Kim kepada para tamunya.


"Baik om dengan senang hati," balas Johan dan anggukan oleh Hana.


"Hati-hati pa dijalan."


"Maaf ya, kalian lanjutkan saja makannya mari tambah lagi."


"Ken..jangan dilihat terus makanannya, kamu enggak bakal kenyang kalau cuma melihat," tegur mama Laura yang sebenarnya tahu arah pandang anaknya itu kemana.


Kenzi yang ditegur pun tampak mencebikan bibirnya.Dan mulai mengisi piringnya yang kosong dengan hindangan yang telah tersedia di depannya.


"Oh, iya maaf tante kak Kanzanya kemana ya ?" kali ini Hana mencoba mencairkan suasana ia tidak enak berdiam diri dihadapan mamanya Kenzi.


"Tadi katanya pergi dinner diluar dengan anak dan juga suaminya atau berkunjung kemana gitu tadi katanya tante lupa. Maklumlah sudah tua.."


Johan dan Hana pun hanya tersenyum.


"Oh, iya bukankah kalian dulu satu sekolah ? Apakah kalian menjalin hubungan semenjak sekolah ?" tanya Sona beruntun.


"Iya kami memang berteman sejak kami masih duduk di sekolah Menengah," jawab Hana jujur.


"Lalu apakah lelaki yang ada sampingku ini galak seperti ini sedari dulu ?"


Kenzi yang merasa ditunjuk pun melototkan matanya ke arah Sona. Berani-berani wanita itu mengatainya galak didepan teman dan juga mamanya.


"Maksudnya ?" tanya Johan dan Hana bersamaan.


"Ya dia selalu berbicara kasar kepadaku, menyuruhku ini dan itu. Aku seperti sekretaris rasa .....," ucapannya terpotong karena Kenzi memasukan sepotong paha ayam kedalam mulut Sona.


Kenzi pun terlihat menahan tawanya. Hana hanya menatap datar sepertinya Kenzi akrab dengan wanita cantik itu. Kenapa dalam hatinya sedikit ada rasa tidak rela ? Kini ia yang merasakan sedikit gerah. Sedangkan Johan memperhatikannya dari samping.


"Dokter Hana lebih mengenalku lebih dari siapapun,benarkan dok ?" tanya Kenzi mencoba mengalihkan pembicaraannya.


Hana yang ditunjuk pun hanya tersenyum kaku.


"Apa-apaan Kenzi ini jangan bilang kau akan membuka masa lalu kita dihadapan mereka!" batin Hana menjerit.


"Benarkah dok ? apa kalian pernah menjalin sebuah hubungan atau semacamnya gitu ?"


Kini Johan yang sedang minum pun tampak tersedak dengan minumannya sendiri.


"Uhuuk...uhuuk !"


"Hati-hati Jo kalau minum," tegur Hana pelan.


Mama Laura yang melihat adegan anaknya yang saling sindir menyindir pun sudah tidak tahan lagi.


"Akh, dokter maaf tiba-tiba kepalaku terasa pusing, aku harus kembali ke kamar untuk meminum obat,silahkan kalian nikmati waktu ngobrol kalian saja ya."


"Sona tolong antarkan ajumma ke kamar ya."


"Baik ajumma !" balas Sona penuh semangat.


Mereka pun pergi meninggalkan ruang makan, kini hanya tersisa mereka bertiga.


"Sepertinya kita harus pindah tempat untuk mengobrol-ngobrol santai," ajak Kenzi. Pasangan itu pun berjalan mengikuti langkah Kenzi dari belakang.


"Bi..tolong bereskan meja ini ya."

__ADS_1


"Baik mas Kenzi."


****


Kini mereka ada di minibar keluarga Kenzi. Disana tersedia berbagai minuman berakohol dari yang rendah sampai yang sangat memabukan pun ada.


Sebenarnya minibar itu hanya untuk menjamu tamu-tamu papanya atau saudaranya yang berasal dari Korea. Karena kebanyakan orang dari sana itu suka meminum.


"Kalian ingin minum apa ?"


Hana tampak menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak minum," sahut Johan.


Disana tampak sudah ada dessert seperti cake yang tersaji cantik di atas meja bar yang ada dihadapan mereka berdua.


"Itu dessert terenak dikota ini kalian nikmati saja ya."


Terlihat Kenzi mengambil sebotol minuman beralkohol ringan. Dan ia ikut bergabung dan duduk dihadapan Hana.


"Kau ingin minum ?" kali ini ia bertanya kepada Hana.


Hana pun hanya menggeleng.


"Atau kau saja ? kau kan pacarnya atau lebih tepatnya calon suaminya setidaknya kau harus minum untuk merayakan hari jadi kalian," tunjuknya kepada Johan.


Johan hanya menggeleng.


"Sudah aku bilang aku tidak minum !" sentak Johan dengan nada sedikit meninggi.


Dengan cepat Hana merebut gelas yang akan Kenzi berikan ke Johan.


"Biar aku saja."


Dengan sekali teguk Hana menghabiskan minuman dalam gelas itu hingga tandas.


"Hana, kamu kan anti alkohol !" cegah Johan akan tetapi sudah terlambat Hana terlanjur meminumnya.


Lalu Kenzi mengisi gelasnya kembali hingga penuh.Tiba-tiba pandangan Hana mengabur dan ia jatuh pingsan.


"Hana...Hana, bangun Hana !" Johan merasa khawatir jika sesuatu terjadi terhadap Hana.


"Tenang saja ia hanya pingsan, mari kita teruskan," ajak Kenzi lagi seraya meminum kembali minuman dalam gelasnya hingga tandas.


Dan Kenzi mengisi kembali minumannya dan mengulurkannya ke Johan kembali. Tapi Johan hanya diam tak menanggapi. Hingga di minuman terakhir dari botol yang Kenzi genggam barulah Johan tidak bisa diam, Ia tepis tangan Kenzi dengan kasar hingga gelas itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.


"Apa-apan loe Jo!"


"Loe yang apa-apaan ! kenapa loe paksa dia minum ? Loe tau sendiri dia enggak pernah minum minuman beginian !" bentak Johan geram.


"Kenapa apa gue salah ? gue cuma pengen ngajak kalian bersenang-senang saja," jawab Kenzi santai.


"Brengs*k loe !" bersamaan itu Johan memukul wajah Kenzi dengan keras. Ia tidak peduli jika lelaki itu emnesia kembali.


Dan Kenzi pun juga tidak tinggal diam. Ia membalas Johan dengan pukul yang sama tepat diwajah lelaki itu.


Saat mereka sibuk saling pukul memukul, Hana meracau dalam pingsannya.


"Ken...Kenzi ..Ken..Kenzi..eng."


Akhirnya mereka pun mengurai satu sama lain. Dan Johan membenarkan kemejanya yang kancingnya terlepas. Kini wajah mereka berdua tampak babak belur. Ini pertama kali mereka berkelahi hanya karena seorang wanita diumur mereka yang tidak muda lagi.


Tanpa permisi Johan memangku Hana keluar menuju mobilnya untuk pulang.

__ADS_1


"Ciih !" Kenzi pun berdecih seraya mengelap ujung bibirnya yang terasa asin karena darah.


Bagaimana pun ia ingin menunjukan ke Johan bahwa Hana masih mencintainya, terbukti disaat tak sadar pun namanya lah yang wanita itu sebut-sebut.


__ADS_2