My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Apakah ada aku dihatimu?


__ADS_3

Sepulangnya Johan kemarin dari rumah Kenzi, ia langsung mengantarkan Hana pulang menuju rumahnya. Lelaki itu memilih menginap untuk menunggui wanitanya hingga ia tersadar dipagi harinya.


Hana sudah bangun dan terlihat duduk bersandar pada ranjangnya. Akan tetapi ia merasakan pusing yang teramat sangat di kepalanya.Semalam ia sudah tak sadarkan diri. Terakhir yang ia ingat saat mereka berdebat perihal minuman dengan Kenzi.


"Jo...eng..kamu masih disini ?" tanya Hana dengan suara paraunya.


"Minumlah ini, ini bisa mengurangi sakit kepalamu." titah Johan dengan datar.


Hana pun menurutin perintah Johan dan meminum ramuan jahe hangat itu hingga tandas dan benar. Pusing di kepalanya berangsur-angsur menghilang.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dirumah, aku akan mengijinkanmu untuk tidak masuk ke kepala rumah sakit."


Hana pun mengangguk pelan.


"Dan aku sudah memasak sarapan untukmu jangan lupa dimakan," pesan Johan kemudian.


"Terima kasih, lalu kenapa dengan mukamu Jo ? kenapa bisa lebam begitu ?" tanya Hana seraya ingin menyentuh wajah Johan yang terlihat hijau keunguan akan tetapi lelaki itu menghindar.


"Akh, ini hanya kepentok pintu semalam, tidak apa-apa tidak perlu khawatir."


Belum sempat Hana menyahuti Johan sudah beranjak untuk pergi.


"Aku akan pergi hati-hati saja di rumah," ucapnya dingin.


Lalu tanpa melakukan perpisahan seperti biasanya lelaki itu berlalu meninggalkan rumah Hana. Jika biasanya sebelum pergi ia akan mencium dahi Hana kali ini tidak ia lakukan dan lelaki itu juga tak menengok lagi ke belakang.


"Ada apa sebenarnya ? kenapa pagi ini Johan terlihat berbeda dari biasanya ?" gumam Hana lirih.


Sungguh ia tidak ingat sama sekali dengan semua yang sudah terjadi kemarin malam. Sepertinya kemarin Johan sudah menjaganya semalaman terbukti tadi ia lihat dari kantung mata lelaki manis itu yang agak menghitam.


Hana juga masih penasaran apa benar wajah Johan lebam akibat benturan ? Rasanya kalau pun benar terbentur tidak mungkin bisa separah itu. Masa iya Johan berantem ?


Seumur-umur selama mengenal lelaki itu, Hana tak pernah melihat lelaki itu bertengkar dengan orang lain adu mulut atau sebagainya.


Rasanya itu bukan tipikal seorang Johan. Johan selalu berkepala dingin dalam menyelesaikan setiap masalah yang ia hadapi. Tidak pernah ia menggunakan fisik sekalipun.


Hana pun beranjak dari atas ranjangnya menuju meja makan. Disana sudah terhidang makanan yang tadi sudah Johan masakan untuknya. Hana pun tersenyum. Johan memang laki-laki sekaligus calon suami idaman.


Jujur ia pun mulai terlena dengan semua perlakuan manis dari lelaki yang juga menyandang sebagai sahabatnya itu. Akan tetapi bayangan Kenzi tiba-tiba melintas. Kenangan akan masa lalu yang sudah ia lewati pun kembali terbayang, masa-masa ia melepaskan kegadisannya dengan lelaki itu hingga ia kehilangan buah hatinya yang belum sempat menyapanya kedunia.


Rasanya itu sulit. Hatinya masih ada nama Kenzi. Laki-laki yang narsis sok kecakepan dan merasa paling populer di sekolah. Ya...hatinya sudah terperangkap oleh penjara hati lelaki itu. Hana jadi merasa bersalah terhadap Johan. Padahal lelaki itu sudah sangat baik kepadanya.


Setelah Hana selesai memakan satu potong sandwich buatan Johan ia memutuskan untuk merapikan tanaman bunga mawar yang ada di halaman rumahnya.


Rasanya tidak nyaman jika harus berdiam diri sedangkan dirinya tidak sedang sakit. Ia ingin mencari kesibukan untuk melupakan sejenak fikirannya yang mulai terkontaminasi karena ada dua laki-laki dalam hidupnya saat ini.


****


Dikantor


"Pffft !! boss ada apa dengan wajahmu ? Sepertinya kadar ketampanannya sedikit menurun,"ejek Boby sambil menahan tawanya agar tidak meledak.

__ADS_1


Bagaimana tidak ? jika setiap hari ia selalu melihat wajah bossnya selalu tampak putih mulus seperti porselen kini wajah mulus itu terlihat lebam ungu kebiruan disana sini.


"Diem loe !" balas Kenzi ketus.


"Apa boss habis terlibat tawuran dengan anak SMA ?" tanyanya lagi saat mendekat.


Kenzi pun menoyor kepala Boby dengan sedikit keras.


"Heh ! gue bayar loe bukan buat komentarin penampilan gue hari ini ya ? atau gue potong gaji loe bulan ini mau ?!"ancam Kenzi.


"Haduh...jangan dong boss, jangan iya gue enggak akan nanya lagi soal wajah boss tapi sebagai teman dan sekretaris loe, gue juga ingin tahu penyebabnya jadi ceritakan saja."


"Gue berantem sama Johan," jawab Kenzi singkat.


"Whatt ?! kenapa kalian bisa berantem ?"pekik Boby terkejut.


"You know it! jadi gak usah tanya lagi !" jawab Kenzi ketus.


" Ini soal Hana ?! selama ini kalian terlihat baik-baik saja gue lihat."


"Sudah gue bilang jangan tanya lagi, mending loe bikinin gue coffe latte deh. Gue masih sibuk buat tanda tangan semua berkas-berkas ini !" perintah Kenzi sambil menunjukan berkas-berkas yang menumpuk yang harus ia tanda tangani.


"Iya..ya boss, sorry..iya gue bikinin kopi."


Boby pun berlalu meninggalkan ruangan Kenzi menuju pantry untuk membuat secangkir kopi untuk boss nya yang galak itu.


Sambil membenarkan letak kacamatanya yang ia rasa kurang pas ia mulai memikirkan boss sekaligus temannya itu.


"Baru kali ini mereka bertengkar seperti itu, gue sudah lama mengenal mereka. Gue jadi bingung harus pilih sahabat gue apa boss gue ?" gumamnya sambil terus berjalan.


Rasanya pusing jika harus memikirkan hidup orang lain. Hidup dia sendiri aja belum tentu benar. Ia masih harus memperjuangkan hati Marisa lagi usai ditolak oleh calon mertuanya. Setelah ayahnya mengalami kebangkrutan, ia harus bangkit kembali meski harus bekerja dengan orang lain.


Dan kebetulan sekali bossnya itu teman masa SMA nya dulu. Kenzi orang yang baik. Ia mau menampung dirinya yang masih minim ilmu ini. Kebanyakan ceo pasti akan lebih mencari pegawai yang berpengalaman daripada dirinya yang harusnya berstatus magang kini langsung diangkat karyawan oleh Kenzi.


****


Seharian ini tidak ada chat atau pun telepon dari Johan. Hana jadi gelisah ini bukan Johan yang ia kenal. Ada apa gerangan dengan lelaki itu. Apakah sudah terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui ?


Beberapa kali ia mengecek ponselnya dan menaruhnya di nakas, mengecek lagi dan menaruhnya lagi. Karena perasaan gelisah yang tak kunjung usai menanti kabar dari tunangannya itu, akhirnya Hana putuskan untuk mendatangi rumah orang tua Johan.


Pasti ia ada dirumah melihat sekarang sudah jam pulang dan kata temannya Johan sudah lebih dulu pulang. Apakah sedang terjadi sesuatu dengan lelaki itu ? Hana sangat khawatir. Ini bukan Johan yang ia kenal mengabaikannya seharian. Johan yang ia kenal selalu mengabarinya setiap waktu, apa saja yang ia kerjakan tanpa diminta sekali pun.


Setelah turun dari taksi online yang ia naiki, Hana berdiri menatap pagar gerbang warna hitam yang ada didepannya. Ia agak meragu untuk masuk. Tapi lengannya menuntun untuk memencet bel.


ting...tong..ting...tong !


Sela beberapa menit gerbang terbuka menampakan mama Cyntia yang kaget mendapati calon menantunya main kerumah malam-malam begini.


"Hana ! kenapa tidak bilang-bilang akan main kesini sayang? kan bisa minta tolong Johan untuk menjemput."


Hana pun mencium tangan calon mertuanya itu dan menyambungnya dengan cipika cipiki.

__ADS_1


"Maaf, apa Johannya ada ma ?


"Ada kok, apa Johan tak mengabarimu nak?"vtanya mama Cyntia dengan lembut.


"Hana juga tidak tahu ma, seharian ini Johan tidak mengabari Hana."


"Kamu jangan sedih ya, ayo masuk saja mama akan jewer anak itu kalau sampai ia macem-macem. Kamu tenang saja ya sayang," ucap mama Cyntia menenangkan.


Hana pun mengangguk patuh.


Mama Cyntia sudah sangat sayang dan menganggap Hana sebagai anaknya sendiri. Karena Johan anak tunggal ia dulu sangat berharap bisa mempunyai anak perempuan tapi ia dinyatakan tidak bisa memiliki keturunan lagi akibat cacat rahim yang ia derita selepas melahirkan Johan dahulu.


Saat mereka masuk Johan sudah keluar lebih dulu.


"Ma...kami mau keluar dulu."


"Dasar anak nakal ! kenapa kamu tidak jemput calon istrimu untuk kesini masa wanita yang harus menghampirimu ?"


"Hehe..maaf ma tadi Johan masih ada kerjaan, ini juga kita mau dinner diluar. Iya kan Han ?"


Hana pun menatap bingung. Tapi ia iyakan juga.Kebetulan ia juga ingin berbicara empat mata dengan lelaki itu.


"Kami pamit ma."


"Hati-hati ya jangan ngebut !" teriak mama Cyntia saat mobil Johan sudah membelok di perempatan.


Suasana mobil pun mendadak hening. Hanya terdengar suara deru nafas dari keduanya.


"Johan..," sapa Hana lebih dulu.


"Iya.," balas Johan tanpa menoleh.


"Ada apa denganmu ? seharian ini kamu tak mengabariku bahkan chatku pun tidak kamu baca, sebenarnya ada apa ?" tanya Hana sambil memandang lekat-lekat lelaki yang sudah menjaganya bertahun-tahun ini.


"Aku sibuk !" jawab Johan dingin.


"Hanya itu ? tapi ini bukan seperti Johan yang aku kenal selama ini."


Johan pun mendadak menepikan mobilnya.


"Sekarang aku tanya balik kamu Han."


"Selama ini apakah ada aku dihatimu? jawab Han," tanya Johan dengan menatap intens Hana dari dekat ia ingin melihat kejujuran dari mata wanita itu.


Hana tak langsung menjawab. Ia bimbang harus jujur atau tidak. Jika tidak ia akan membohongi perasaannya sendiri, jika ia jujur ia akan kehilangan semua yang ia miliki saat ini.


Hana pun melepar pandangannya kearah lain. Dan Johan pun mengerti itu artinya apa. Tanpa Hana menjawab pun ia sudah tahu jawabannya sendiri.


"Baiklah, lebih baik kamu keluar Hana," perintah Johan dingin.


"Apa kamu serius Jo ? kenapa?" tanya Hana tak mengerti.

__ADS_1


"Tanya hatimu sendiri kenapa ? kamu lebih tahu jawabannya daripada aku."


Akhirnya Hana pun keluar dari mobil Johan. Lalu Johan pun mulai menyalakan mesin mobilnya kembali dan pergi meninggalkan Hana sendirian di pinggir jalan raya itu.


__ADS_2