My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Terlanjur khilaf


__ADS_3

Paginya Johan pun terbangun dari tidurnya. Badannya terasa sangat lelah. Tunggu sebentar ! ia seperti merasakan ada sesuatu yang menempel erat pada tubuhnya. Dengan sekejap ia membuka mata dilihatnya seorang wanita berambut pirang tidur nyenyak sambil memeluk tubuhnya.


"Aarrrggh !!" teriak Johan memenuhi kamar tersebut.


Clara pun langsung terbangun karena terkejut.


"Clara !" Johan pun tak kalah terkejut kenapa ia bisa tidur berdua dengan wanita yang ada di masa lalunya itu.


"Apa..apa yang loe lakuin ?! Kenapa kita bisa seranjang begini ?! Ini dimana ?!" teriak Johan beruntun.


Melihat wanita itu seperti tanpa busana barulah ia menyadari bahwa dirinya juga tak mengenakan busana sehelai pun.


"Mana baju gue ?! mana berikan cepat !" teriak Johan lagi.


"Oh...Tuhan apa yang sudah gue lakuin ?! Kenapa gue bisa berakhir seranjang dengan wanita ini,bodoh !! bodoh kau Johan ! Hana maafin aku."


Mata Johan sudah berair. Ia sudah merasa mengkhianati cintanya kepada Hana. Bahkan kesalahannya kali ini lebih fatal. Dengan bibir gemetar ia meraih baju yang diberikan Clara dan memakainya langsung dalam selimut.


"Johan, loe yang tenang gue bisa jelasin."


"Enggak ! gue gak mau denger penjelasan loe ! Loe sengaja kan jebak gue biar gue bisa tidur sama loe,apa semalem loe sengaja masukin sesuatu ke minuman gue biar gue lakuinnya ?! jujur saja," teriak Johan kembali.


"Enggak Jo sumpah demi apapun, waktu gue baru ke club kemarin loe sudah tak sadarkan diri. Karena gue enggak tahu dimana rumah loe makanya loe gue bawa kesini," terang Clara berusaha jujur.


"Loe bohong !! gue tau siapa loe, dari dulu loe emang pengen ini kan sama gue ! gue tau loe cewek yang seperti itu makanya gue enggak pernah pengen balikan lagi sama loe !" bentak Johan geram.


Ya dulu saat tau fakta bahwa Clara wanita yang suka tidur dengan mantan-mantannya. Johan memilih memutuskan wanita itu. Meski beberapa kali wanita itu meminta maaf dan mengajaknya balikan.


Tapi sungguh ia merasa j***k dengan wanita seperti itu. Bahkan kehormatannya sudah hilang entah sejak kapan saat ia tanya pun wanita itu tidak tahu. Karena begitu banyak mantan-mantanya yang ia tiduri.


Itulah mengapa Johan jadi mantan terindah Clara.Karena Johan bukan tipikal orang yang menjalani cinta atas dasar nafsu. Ia lebih menjaga dan melindungi wanita yang ia cintai sepenuh hati. Karena itu Clara tak bisa melupakan Johan begitu saja.


"Mana kunci mobil gue !" bentaknya lagi.


"I..itu diatas nakas," jawab Clara terbata.


Ia takut barukali ini ia melihat Johan semarah itu. Muka memerah dengan mata yang melotot dan gaya bicara yang membentak-bentak menandakan bahwa lelaki itu murka terhadapnya.


Dengan cepat Johan meraih kunci mobil dan ponsel miliknya yang tergelatak diatas nakas. Dan menutup pintu apartemen Clara dengan membantingnya keras.


Clara pun jatuh terperosot ke lantai. Sungguh ini bukan akhir yang ia mau. Setelah bertahun-tahun lost contact dan tidak pernah berjumpa kembali kini mereka bertemu dalam keadaan yang absur, pasti lelaki itu semakin membencinya sekarang.


Clara menepuk keningnya pelan seperti mengingat sesuatu yang terlupakan.

__ADS_1


"Haduh..mampus gue ! semalem gue lupa pake pengaman lagi bagaimana ini ?! mana persediaan gue habis dan apotik sangat jauh dari sini."


Lalu iya pun mulai beranjak tertatih menahan perih diarea intimnya. Ini bukan hal yang pertama akan tetapi bersama Johan kenapa rasanya seperti ini seperti baru pertama melakukannya.


Ia masih ingat bagaimana lelaki itu menghujaminya beberapa kali hingga mereka menghabiskan 3 putaran lamanya. Itu rekor terlama dalam perc*ntaannya diatas ranjang yang Clara lakukan dengan seorang pria.


"Sayang sekali loe bukan milik gue Jo, padahal gue akan berjanji kalau loe kembali sama gue, gue akan ninggalin kebiasaan buruk gue ini. Gue makin tersesat tanpa loe Jo !" Clara pun terisak menangis.


Ia menyesal dulu telah menipu lelaki itu. Ia berpura-pura jadi wanita yang baik didepannya tetapi jadi wanita malam dibelakangnya.


****


Didalam mobilnya Johan memegang kemudinya dengan bergetar. Ia tak yakin apakah ia semalam melakukannya atau tidak.


Tapi melihat mereka tanpa busana dan tanda merah keunguan di sekujur tubuh wanita itu sudah menegaskan bahwa mereka memang benar sudah melakukannya semalam.


"Bod*h !..bod*h ! bod*h loe Johan ! Kenapa ini bisa terjadi ? Bagaimana aku akan menjelaskannya kepada Hana ?"


Dilihat ponselnya terdapat dua puluh panggilan tak terjawab dari 'My Honey Hana' dan 10 pesan yang ada diaplikasi whattaps. Semua pesan itu berasal dari tunangan sekaligus kekasihnya Hana.


Johan menangis, jujur ia sangat takut kehilangan Hana. Wanita yang bertahun-tahun ia jaga. Kini tinggal selangkah lagi ia bisa memilikinya. Akan tetapi kini ia tak yakin akan apa yang semalam telah ia lakukan dengan wanita yang sangat ia hindari selama ini.


"Brengs*k !!! aarrrgghh !" teriak Johan frutasi.


Ia melajukan kemudinya dengan cepat menuju rumah Hana. Ia ingin menebus kesalahannya yang ia lakukan semalam karena telah meninggalkan wanita itu seorang diri di tengah jalan.


tok....tok...tok!!


tok...tok....tok!!


"Sebentar !" sahut Hana dari dalam.


Saat pintu rumah terbuka dengan cepat Johan berlari menghambur ke dalam pelukan Hana. Lalu Johan menangkup wajah Hana dengan perasaan khawatir.Sebenarnya bukan karena rasa khawatir lebih tepatnya perasaan bersalah kepada wanitanya itu.


"Kamu tidak apa-apa kan ? kamu baik-baik saja kan ? maafin aku Hana, maafin kebodohanku !" ucap Johan sambil terisak.


Lalu Johan memeluk Hana kembali dan mencium puncak kepala wanita itu penuh sayang.


"Ya Tuhan demi apapun aku tak ingin kehilangannya,tolong jangan pisahkan kami apapun yang terjadi nanti," gumam Johan dalam hati sambil terus memeluk Hana.


Sedari tadi Hana hanya diam. Ia sengaja membiarkan lelaki itu memeluknya sepuas yang lelaki itu mau. Hana berfikir mungkin karena rasa bersalahnya kemarin Johan berlaku seperti ini. Dan ia tahu kenapa lelaki itu mendiamkan dirinya seharian kemarin.


"Katakan sesuatu Hana, jangan diam saja seperti ini," ucap Johan lirih setengah berbisik.

__ADS_1


"Eng...Jo, tenang aku sudah memaafkanmu. Mana mungkin aku bisa marah kepadamu dalam waktu yang lama kau kan tahu bagaimana aku," seraya menyentuh dada bidang lelaki itu.


"Apa mungkin setelah kamu mengetahui fakta yang sebenarnya, kamu akan sudi memaafkan kesalahan fatal yang sudah aku lakukan kali ini Hana?" batin Johan dengan menatap lekat-lekat wanitanya dengan bercucuran air mata.


"Hei...kenapa kau masih menangis ? kau seperti anak gadis yang tidak dibelikan permen oleh ibunya," hibur Hana seraya menghapus air mata Johan dengan sebelah tangannya.


Hana tak mengerti baru kali ini ia melihat lelaki manis itu seperti takut akan kehilangan dirinya. Padahal ia sudah memaafkannya jauh sebelum Johan meminta maaf kepadanya seperti sekarang. Hana bisa memahami sikap Johan yang cemburu terhadap dirinya dan Kenzi.


"A...aaku mengkhawatirkan dirimu, aku takut kamu marah dan pergi meninggalkanku Hana. Kamu tahu aku sangat mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri." ucap Johan dengan bibir yang bergetar.


Hana pun menanggapinya dengan tersenyum. Ia tau betapa lelaki ini sangat mencintainya, ia mampu melihat ketulusan lelaki itu dari pancaran sinar matanya yang menyiratkan kekhawatiran.


"Kamu tahu Jo, aku dan Kenzi hanya sebuah kisah masa lalu. Hubungan kita saat ini tak lebih dari sekedar teman. Kamu tahu sendiri gimana aku Jo, aku tak bisa membenci seseorang tanpa sebab dan kemarin ia menawarkan pertemanan kepadaku, ya..aku terima karena tidak ada salahnya kan berteman dengan masa lalu ?"


"Yang salah itu aku Han, aku yang tak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Hingga melakukan hal terbod*h dalam hidupku, aku sudah mengkhianati ikatan cinta kita."


"Apapun yang terjadi nanti tolong jangan pernah tinggalkan aku Hana, aku mohon ?" pinta Johan dengan menggenggam kedua tangan Hana dan menampakan wajahnya yang memelas.


"Aku akan berusaha tapi tergantung masalah apa yang akan kita hadapi nanti, tunggu sebentar kau seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Apa itu benar ?" tanya Hana menyelidik.


"Tii...ti..tidak, aku tak menyembunyikan apapun sungguh," jawab Johan gelapan.


"Lalu semalam kamu tidur dimana ? aku telepon rumah kata mama kamu tidak pulang semalaman ?"


Jantung Johan rasanya sudah mau lepas. Ia bingung harus menjawabnya bagaimana. Ia harus memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat dan masuk akal.


"Aa...ku...aku ketiduran dimobil, ya semalam aku ketiduran di mobil aku mencarimu sampai berputar-putar tapi tidak ketemu. Karena lelah akhirnya aku tertidur," alibi Johan.


"Kenapa mulut ini jadi fasih sekali untuk berbohong, ya Tuhan semoga Hana tidak curiga dan bertanya yang hal aneh-aneh," doanya dalam hati.


"Oh...begitu, kemarin aku bertemu Boby dan Kenzi. Dan mereka memberikan tumpangan kepadaku," tentu saja Hana tak akan mengatakan yang sebenarnya. Ia tak ingin Johan berfikir yang tidak-tidak meski kenyataan memang iya.


"Kamu sudah makan ? ayo masuk kamu tampak berantakan sekali. Kamu harus mandi dan berganti pakaian," tuntun Hana membawa Johan masuk.


"Baiklah, apapun perintahmu akan aku lakukan."


Hana pun menahan senyumnya geli.


"Aku bukan memerintah aku hanya meminta."


Hana pun tampak mengambil satu stel pakaian pria yang merupakan milik Johan yang terbawa ke dalam kopernya saat pindahan dulu lalu memberikannya kepada Johan.


Ia terus menatap kepergian Johan yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Johan terlihat aneh sekali, ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu tapi apa ? dan bau badannya tercium berbeda seperti bau parfum lain apa mungkin Johan ganti parfum ya ?" batin Hana sambil terus menatap pintu kamar mandinya.


Lalu ia tepiskan fikiran aneh yang menghinggapi kepalanya dan pergi menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


__ADS_2