
tok...tok...tok!
"Assalamualaikum bu., "sapa Hana dari luar.
"Wa'allaikumsalam, tunggu sebentar nak ," sahut ibu Hesti dari dalam rumah.
Setelah menunggu beberapa menit pintu bercat putih itu akhirnya terbuka menampakan wajah terkejut ibunya.
"Astagfirulloh...ya Allah Hana, kamu kenapa nak? kakimu kenapa?" tanya bu Hesti panik melihat kaki Hana yang diperban.
"Ibu...jangan panik, Hana enggak papa kok. Ini hanya luka kecil. Tadi Hana naik sepedanya kurang hati-hati jadi nabrak deh , "ucap Hana menenangkan kekawatiran Ibunya.
Dengan pelan bu Hesti membimbing Hana untuk masuk ke dalam rumah.Kemudian duduk di kursi sofa yang lumayan sudah tua.Ya keluarga Hana tak mempunyai barang mewah,rumahnya hanya berisi barang-barang bekas pemberian majikan ibunya dulu.
Dulu sekali ibu Hana bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga yang kaya dan baik hati.Karena keterbatasan fisik yang mulai rapuh,ibu Hesti memilih berhenti dari pekerjaan yang sudah 15 tahun ia geluti.Bu Hesti memandang kasian dengan anak semata wayangnya itu.
"Lalu tadi siapa yang mengantarkanmu pulang?Kenapa tidak disuruh masuk saja?padahal ibu ingin mengucapkan terima kasih ," tanya bu Hesti bertubi.
Hana pun hanya meringis melihat ke kwatiran ibunya.
"Maaf bu tadi teman sekolah yang mengantar, mereka buru-buru mungkin lain kali baru bisa mampir kesini ," jawab Hana sedikit menutupi kenyataan.
Karena tak mungkin Hana berkata jujur siapa orang yang menabrak sekaligus menolongnya. Bisa-bisa ibunya memarahi Kenzi nanti saat mereka bertemu kembali.
"Yaudah...tidak apa-apa yang penting keadaanmu tidak terlalu parah nak."
"Iya bu...oiya..ini minyak gosok titipan ibu ,"sambung Hana sambil mengulurkan tangan memberikan bingkisan yang sedari tadi Hana genggam ke arah ibunya.
"Terima kasih nak, padahal dirimu sedang begini tapi kau masih saja memikirkan ibu ,"sahut bu Hesti.
"Tidak apa-apa bu,sudah seharusnya kewajiban Hana menjaga ibu,"balas Hana.
Bu Hesti sangat bersyukur mempunyai putri yang begitu sayang dan berbakti kepadanya.Malam itu bu Hesti memutuskan tidur di kamar Hana takut bila Hana membutuhkan pertolongannya.
...∝∝∝∝∝∝∝...
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Kenzi sudah berada di depan rumah Hana. Dengan lantang Kenzi mengucapkan salam mirip tukang kurir pengantar paket.
"Permisi ! Assalamualaikum.,"seru Kenzi lantang.
Mungkin jika saja Kenzi mengucap kata 'paket' orang-orang sekitar mengira Kenzi beneran seorang kurir.
"Wa'allaikumsalam..sebentar ," sahut ibu Hana dari dalam.
Saat keluar ibu Hesti mengernyitkan dahinya tanda tidak mengenal orang yang sedang berdiri didepan pagar rumahnya.
"Maaf..siapa ya?" tanya bu Hesti ingin tahu.
"Saya teman Hana tante, kemarin saya sudah berjanji untuk menjemput Hana sekolah ," jelas Kenzi dengan tenang.
Bu Hesti melihat seragam anak laki-laki itu sama seperti putrinya.
"Oh...silahkan masuk, Hana sedang bersiap-siap di dalam mungkin sebentar lagi selesai ."
"Baik tante...,"sahut Kenzi patuh.
Kenzi pun perlahan masuk ke dalam rumah Hana yang sederhana tapi tampak asri dari luar karena banyak tanaman herbal, bunga dan sebagainya. Rumah itu terlihat sederhana dengan cat putih yang mulai menguning.
Terlihat di sudut ruang tamu terpampang jelas berbagai piala yang menghiasi dalam lemari kaca tersebut. Kenzi semakin dibuat kagum dengan seorang Hana.Ternyata Hana termasuk siswi berprestasi.
__ADS_1
Tidak seperti para siswi lain,mereka hanya fokus ke fashion, kecantikan dan kemewahan barang branded yang mereka miliki. Hana berbeda bahkan sangat jauh berbeda membuat rasa penasaran Kenzi semakin ingin mengenalnya.
" Nak Hana, itu sudah ditunggu teman sekolahmu,katanya ingin berangkat sekolah bareng ,"terdengar suara bu Hesti memanggil Hana dari luar.
"Sebentar lagi Hana siap bu ," sahut Hana dari dalam kamar.
Hana tak berfikir bahwa Kenzi beneran menjemputnya untuk berangkat bersama. Bahkan sepagi ini. Hana kira kemarin hanya bualan dari seorang Kenzi tapi ternyata Kenzi menepatinya.
"Itu sudah nunggu dari tadi, Han itu beneran cuma temen. Temen apa temen ??" goda bu Hesti sambil berbisik.
"Ibu...apaan sih, iya dia cuma teman Hana tidak lebih.Itu dia teman Hana yang kemarin udah nolongin Hana waktu kecelakaan," jelas Hana lagi.
"Oh...ternyata dia orangnya, sudah cakep ,manis, baik hati pula ibu harus berterima kasih kepadanya ," gumam bu Hesti.
Saat sampai di ruang tamu Hana memergoki Kenzi yang tampak asyik memandang foto-foto masa kecil Hana sambil tersenyum.
"Ehem...," terdengar suara deheman dari Hana.
"Eh...loe maksud aku, kamu sudah siap Han?"tanya Kenzi gelapan seperti maling yang sedang terciduk sama tuan rumahnya.
"Sudah..langsung aja ya, takut kesiangan ."
"Siap..!.maaf tante saya langsung berangkat aja takut kesiangan ," pamit Kenzi mengulang ucapan Hana.
"Iya gak papa, oh..iya kemarin kamu ya nak yang udah nolong Hana? terimakasih ya, tante gak tau kalau gak ada kamu Hana gimana."
"Eh...emm..anu iya tante sama-sama, sudah seharusnya sesama manusia saling menolong ,"balas Kenzi kikuk
' Orang yang sudah menabrak anak tante sebenarnya saya ,maaf 'ucap Kenzi dalam hati.
"Tante titip Hana ya, oiya...namamu siapa nak?" tanya ibu Hesti.
"Kenzi tante , " balas Kenzi lembut.
"Yaudah...Assalamualaikum,"sambung Hana lagi.
"Wa'allaikumsalam...hati2nya ya nak," titah ibu Hesti.
Sepanjang perjalanan baik Hana dan Kenzi tak mengeluarkan suara. Mereka sama-sama canggung dengan situasi yang seperti ini.
"Han..pegangan nanti kamu jatuh," tegur Kenzi.
"Baik...,"balas Hana singkat.
Hana pun berpegangan pada handel jok belakang motor mirip seperti membonceng tukang ojek. Mana bisa Hana harus berpegangan pada pinggang Kenzi itu sama aja memeluk pria itu. Mau ditaruh dimana mukanya? Sudah dibonceng aja malunya naik ke ubun-ubun. Bagaimana nanti respon anak-anak kalau tau idola mereka membonceng dirinya?Bisa-bisa dirinya ditenggelamkan di danau dekat sekolah oleh mereka membayangkan saja bikin bulu kuduk merinding.
"Kenapa Han..?"tanya Kenzi penasaran.Karena sedari tadi Kenzi mengawasi Hana dari kaca spion. Kenzi tampak senyam senyum mengikuti ekpresi Hana yang berubah-ubah. Lucu dan menggemaskan.
"Ehh..enggak kok,enggak papa," mana mungkin Hana jujur dengan fikirannya.
Perjalanan memakan waktu 15 menit lebih cepat dari biasa Hana berangkat naik angkot.Sampainya di sekolah Hana turun dekat parkiran dan Kenzi pun mulai memarkir motornya.
"Tunggu sebentar ya Han ," titah Kenzi.
"Baik ,"balas Hana datar.
Hanapun masih berdiri tak jauh dari pintu parkiran.Terlihat beberapa siswi memandang kearahnya sambil berbisik-bisik.
"Heh...lihat itu siapa?! "pekik seorang siswi.
__ADS_1
"Siapa cewek itu ya..beruntung banget bisa dibonceng ka Kenzi?" tanya siswi yang lain.
"Masa ceweknya ka Kenzi ? Gak mungkin kok biasa banget ya..?cakepan juga kak Luna kemana-mana ," sahut siswi yang rambutnya bergelombang.
Sayup-sayup Hana mendengarkan obrolan mereka tentang dirinya.Tuh kan apa yang barusan Hana fikirkan terjadi juga.Tapi tadi siapa..Luna?Siapa ya dia? Bukankah Kenzi masih jomblo. Apa Luna itu kekasihnya ? Mampus deh.
Dari dekat terlihat Kenzi berlari sambil membawa kruk untuk Hana.
"Han..pakai ini, gue pinjam di UKS tadi jadi selama loe belum bisa jalan pakai saja ya ,"perintah Kenzi.
"Iya terima kasih Ken, maaf udah repotin kamu," balas Hana.
"Harusnya gue yang minta maaf karna udah bikin loe jadi gini.Tapi..yaudah aja jangan dibahas lagi buruan kita ke kelas ,"ajak Kenzi.
"Emm...Ken kamu duluan aja, aku malu dilihatin anak-anak ," ungkap Hana jujur dia merasa risih sedari tadi anak-anak melihat kearah dirinya dan Kenzi.
Saat Kenzi melihat sekeliling benar saja pandangan mereka seperti fokus ke dirinya dan Hana.
"Emm..baiklah, tapi lebih baik loe duluan Hana dan gue dibelakang loe aja gimana?" tawar Kenzi.
"Terserah...,"jujur Hana hanya ingin segera beranjak dari tempat itu. Mata-mata itu terasa bagai menelanjangi dirinya.
Saat sudah sampai kelas, Kenzi menghampiri Hana dan berpesan.
"Han ..jangan lupa, nanti pulang sekolah bareng sama gue ya?"pinta Kenzi.
"Iya..." sungguh Hana ingin melempas sepatu miliknya dan melemparkan ke arah Kenzi agar lelaki itu cepat pergi dari hadapannya.
Sampai duduk dibangkunya pun, semua teman sekelasnya tampak melihat kearahnya termasuk Marisa dan Boby. Kedua orang itu tampak terlihat bodoh melihat kearah Hana tanpa berkedip.
"Sa..kenapa?"tanya Hana penasaran.
"Eh...loe Han sumpah loe harus jelasin sesuatu sama gue kalau gak, bisa mati penasaran entar gue Han ," cerocos Marisa.
"Jelasin untuk apa?"tanya Hana bingung.
"Kenapa loe bisa bareng Kenzi ? kenapa..apa loe berpacaran sama dia?"tanya Marisa tertahan.
"Enggak...aku gak punya hubungan sama dia, dia hanya ingin bertanggung jawab aja ," jawab Hana jujur
.
"Whatt ??!" pekik Marisa membuat seluruh temannya berpaling kearahnya
"Sssttt...berisik loe sa, itu mulut udah kayak toak aja !" gerutu Boby kesal karena Marisa berteriak tepat ditelingannya.
"Hehe...sorry, maksut gue tanggung jawab apa? jangan bilang loe uda 'begituan' sama dia Han ?" ucap Marisa tanpa berfikir.
Hana dan Boby pun hanya bisa menepuk dahi mereka mendengar pemikiran temannya yang absur.
"Bukan....jangan sembarangan aku tak punya hubungan apa-apa dengan Kenzi !"
"Kamu tak lihat kakiku gimana?" sambung Hana lagi sambil menunjuk kearah kakinya.
"Astaga..!! sorry sumpah gue baru sadar Han," sesal Marisa yang baru menyadari kaki Hana yang terluka padahal sudah terlihat Hana berjalan menggunakan kruk.
"Gimana ceritanya??" tanya Marisa lirih agar tak didengar oleh teman sekelasnya.
"Nanti aja aku ceritainnya, tuh bel udah bunyi lebih baik kita siapin aja bukunya ,"titah Hana.
__ADS_1
Marisa pun mengikuti titah teman sebangkunya tersebut. Berkat menjalin pertemanan dengan Hana membawa dampak positif pula pada dirinya. Marisa yang dulunya malas kini menjadi rajin karena malu dengan Hana.
Hana memang disiplin di sekolah maupun dirumah.Baginya ilmu itu mahal.Prinsipnya kita harus menghargai perjuangan para pahlawan tanpa tanda jasa.Tanpa mereka kita bukanlah apa-apa.