
2 tahun kemudian....
Hana tengah duduk di meja kebesarannya dan bersibaku dengan tumpukan dokumen berisi tentang hasil laboraturium para pasiennya.
Wanita berwajah oriental itu terlihat cantik saat berwajah serius dengan kacamata mines yang bertengger di pangkal hidungnya.
Ia tak menyadari ada seseorang laki-laki tengah memperhatikan setiap inci gerakannya sambil bertopang dagu di depannya.
Laki-laki itu tersenyum entah mengapa melihat wajah serius seorang wanita bernamaLuthfia Hana membuatnya gemas sendiri.
Serius aja cantik apalagi jika tersenyum. Pantas saja para pasiennya rela mengantri berjam-jam untuk bisa diperiksa oleh wanita itu.
Bahkan ia harus menunggu paling akhir untuk bisa duduk atau pun sekedar mengobrol berdua dengannya.
"Ehem...serius amat bu dokter," sapaannya membuat Hana mengalihkan atensi dari dokumennya.
"Oh...dokter Egi, silahkan masuk dok. Maaf apa dokter sudah terlalu lama menunggu saya ?"
"Saya akan selalu setia menunggu dokter Hana sampai kapanpun," jawabnya dengan menampilkan senyum menawannya.
Hana hanya tersenyum simpul. Ia sudah hafal dengan tabiat dokter sejawatnya itu. Setiap hari dokter tampan berkaca mata itu akan selalu menghampirinya jika jadwal praktiknya sudah usai.
"Apa nanti malam kita bisa makan malam bersama kebetulan saya punya referensi restoran Korea yang baru bukan," tawar dokter Egi sambil membetulkan letak kacamatanya.
Dokter berkacamata itu tahu banyak tentang wanita dihadapannya saat ini, ia sangat menyukai menu makanan asal negeri Ginseng tersebut.
Selalu saja begitu. Dokter berkaca mata itu selalu terang-terangan jika ingin mengajaknya berkencan bersama. Bukan tanpa alasan, ia tak ingin menolaknya akan tetapi jika obrolan mereka sudah menjurus ke soal hati. Ia tak ingin terlalu memberi harapan kepada pria berkacamata itu.
"Baiklah, saya akan usahakan ya dokter. Nanti Dokter Egi bisa menghubungi saya," jawab Hana.
Dokter Egi pun membalikkan badan sambil berteriak tertahan. "Yes !"
Dengan cepat pria berkacamata itu mengubah ekpresinya kembali seperti semula. Ia tak ingin wanita dihadapannya menyadari rasa kebahagiaan yang membuncah dalan dirinya.
Sedangkan Hana, wanita berwajah oriental itu berusaha menahan tawanya akan tingkah kekanakan dokter sejawatnya itu.
"Kalau begitu nanti malam saya jemputnya dokter Hana ya?"
"Terserah dokter Egi saja."
Sudah 2 tahun berlalu semenjak kejadian yang menimpanya beberapa tahun silam. Hubungan kedua dokter itu pun menjadi dekat.
Bahkan dokter berkacamata itu sudah beberapa kali mencoba menyatakan perasaannya kepada Hana. Akan tetapi, wanita itu selalu menolak dengan alasan belum ingin menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis kembali.
Mengingat kegagalan hubungan percintaannya di masa lalu, mengukir rasa trauma yang mendalam dilubukvhatinya.
Sepertinya kali ini ia akan melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
Terlihat malam ini dokter Egi terlihat tampan dengan style casualnya. Atasan kaos berbalut jaket bomber berwarna abu-abu dengan bawahan berwarna putih dipadu dengan sepatu kets.
Penampilannya terlihat berbeda dan jauh lebih muda seperti anak kuliahan dibanding umurnya yang sebentar lagi akan menginjak kepala 3.
Pria itu terlihat menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.
"Hai...ini untukmu," ucap Egi seraya menyerahkan sebuah karangan bunga mawar berwarna pink.
Hana tersenyum sambil meraih karangan bunga untukknya dari genggaman Egi.
__ADS_1
"Terima kasih dokter Egi, tumben anda tidak pakai kacamata?" balas Hana.
"Oh...aku pakai softlens, ini kan diluar jam kerja jadi lebih baik panggil aku kamu saja ya biar kelihatan akrab. Bagaimana ?"
"Hem, baiklah. Apa kita akan berangkat sekarang ?" tanya Hana kemudian.
"Oh..iya tentu saja." balas Egi seraya membukakan pintu untuk wanita pujaan hatinya.
Mobil sedan berwarna hitam itu pun melesat membelah ramainya jalanan ibukota.
Tak butuh waktu cukup lama. Mobil sedan itu kini telah terparkir cantik di sebuah rumah makan Instagramble dengan mengusung tema khas negeri Ginseng.
Rumah makan itu benar-benar menampilkan nuansa Korea yang begitu kental. Setiap pengunjung disana diwajibkan mengenakan pakaian adat negara Korea yaitu 'Hanbok'.
Hanbok pada umumnya berwarna cerah, dengan garis sederhana serta tidak memiliki saku. Sedangkan Hanbok saat ini mengacu pada gaya pakaian Dinasti Joseon.
Masyarakat Korea sendiri sudah melestarikan budaya pakaian adat Hanbok sejak zaman Dinasti Joseon berdiri. Kala itu masyarakat zaman Dinasti Joseon menggunakan Hanbok untuk pakaian sehari-hari dengan ciri khas bawahan rok yang melebar guna mempermudahkan untuk beraktivitas.
Saat ini Hana terlihat sangat cantik mengenakan Hanbok dengan Chimai ( rok panjang ) berwarna merah muda atau pink kesukaannya. Dipadu dengan Jeogori (atasan berbentuk rompi tapi memiliki lengan panjang dengan sepasang tali dan kancing ) berwarna putih dengan tali berwarna hitam.
Wanita berwajah oriental itu terlihat cantik natural saat mengenakan pakaian adat negeri ginseng tersebut meski ia tak memiliki garis keturunan Korea tapi wajah Tionghoanya sangat serasi dengan apa yang ia kenakan saat ini.
Rambut panjangnya ia ikat sederhana dengan membentuk sebuah konde. Gaya khas wanita sederhana era Dinasti Joseon. Ia terlihat seperti putri kerajaan yang tersesat di masa depan.
Saat ia berjalan, tak sedikit pasang mata memperhatikan gerakannya. Tak hayal karena Hana sangat cocok dengan apa yang ia kenakan. Membuat beberapa pasang mata yang ia lewati berbisik lirih sambil menatap kagum kearahnya.
Tak sampai disitu, Dokter Egi pun menatap kagum tanpa berkedip kearah wanita berbalut Hanbok warna merah muda kesukaan wanita tersebut.
"Beautyful." gumam dokter Egi lirih.
"Kamu cantik Hana, kamu seperti gadis Korea sungguhan," ungkap dokter Egi jujur.
Hati Hana sedikit tercubit. Kata 'gadis' yang baru saja ia dengar sedikit mengusik suasana hatinya. Entah kenapa fikirannya kembali ke masa lalu. Tiba-tiba ia teringat satu nama yang sudah 2 tahun belakangan ini menghilang dari kehidupannya.
Namun ia pernah suatu kali mendengar nama pria yang pernah singgah dihatinya itu sesekali menghiasi layar televisi tanah air.
Pria itu kini menjelma menjadi pengusaha sukses dari Negeri Ginseng. Dengan senyum yang mengembang yang ia tampilkan didepan kamera menandakan betapa ia bangga akan kesuksesan yang telah ia raih.
Hana pun tersadar dari lamunan sesaatnya saat mendengar dokter Egi memanggil namanya.
"Hana...heii? hello...? you're okay ?"
"Oh..I'm sorry, aku hanya mengingat sesuatu. Ayo kita segera pesan makanan," ajak Hana mengalihkan.
Tak berselang lama hidangan khas negeri ginseng pun tersaji dihadapan mereka.
Hana pun mengambil sumpit dan mulai mengambil sepotong kimbap untuk mengisi piring kosongnya. Namun bukan perasaan lapar yang tengah ia rasakan, melainkan perasaan rindu.
Rindu terhadap orang yang begitu sangat menyukai makanan yang tengah ia tatap diatas piring.
"Hei...makanan itu tak akan bisa membuatmu kenyang jika hanya menatapnya begitu saja," sela dokter Egi membuyarkan lamunan Hana.
"Eh..iya ini aku makan," balas Hana dengan kikuk.
"Kamu kenapa ? semenjak tadi ku perhatikan banyak sekali melamun. Apakah ada masalah yang begitu membebanimu? Coba ceritalah, barangkali aku bisa membantu," bujuk dokter Egi dengan berbicara lembut.
__ADS_1
"Ah...tidak ada, semuanya baik-baik jangan khawatir."
"Kamu sudah cantik hari ini janganlah bersedih okay ? Asal kamu tahu, kamu seperti putri kerajaan zaman Dinasti Joseon, lihatlah semua orang menatap kearahmu," ucap dokter Egi sedikit berbisik.
"Benarkah ? Apakah aku tak cocok memakai Hanbok ini ?" tanya Hana sedikit mengurangi rasa percaya dirinya.
"Tidak, kamu sangat cantik."
Seketika rona memerah tercetak jelas dikedua sisi wajahnya.
"Hana, malam ini ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ku utarakan kepadamu."
Jantung Hana kembali berdebar-debar. Apakah ia akan melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya ?
"Katakanlah," balas wanita itu gugup.
Dokter Egi pun menghirup nafas dan menghembuskannya pelan. Pria yang terlihat tampan tanpa kacamata keseharian itu mulai meraih jemari Hana dan menggenggamnya.
"Dengan sepenuh hati aku Egi Ardianto memintamu Luthfia Hana untuk menjadi pasangan hidupku, jadi maukah kau menikah denganku ?" ungkapnya tulus seraya menyerahkan sekotak berwarna pink berisi sebuah cincin berlian.
Hana pun terpaku. Ia bingung harus menjawab apa lagi kepada pria yang tak pernah bosan menyuarakan isi hatinya itu kepada dirinya.
Hampir seperkian detik wanita berwajah oriental itu terdiam. Ia harus menyiapkan matang-matang jawaban yang sekiranya tidak akan menyinggung perasaan pria dihadapannya saat ini.
Karena memang ia tak mempunyai rasa apapun terhadap pria itu. Selain tak lebih dari rasa pertemanan sesama rekan dokter.
Sedangkan pria tampan itu hanya menatap penuh harap kearahnya. Ia sudah memikirkan matang-matang sehari semalam.
Jika lamarannya kali ini ditolak kembali oleh wanita itu, ia bertekat untuk berhenti mengejarnya. Ia akan menerima apapun segala keputusan wanita lembut yang sudah meluluhkan hatinya yang sempat beku.
Dengan berat hati Hana mulai melepas genggamannya dari tangan pria tampan itu. Hatinya merasa tak kuasa melihat tatapan penuh harap dari pria yang beberapa tahun belakangan ini menemani hari-harinya. Tapi ia harus jujur terhadap perasaannya sendiri.
"Maafkan aku Egi, jujur kamu pria yang sangat baik bahkan kelewat baik. Akan sangat tak pantas untuk bersanding dengan wanita yang kurang sempurna seperti diriku ini."
Dokter Egi pun terlihat memejamkan kedua matanya. Kali ini ia sudah pasrah jika ditolak kembali oleh wanita yang terlihat cantik berbalut dengan hanbok berwarna merah muda dan putih itu.
"Masih banyak wanita baik diluaran sana yang bisa menjadi pendamping hidupmu, aku takut kamu akan mendapatkan kes*alan seperti orang-orang yang pernah ada di masa laluku," ungkapnya miris.
Dokter Egi pun berusaha tersenyum manis untuk menutupi luka akan kesekian kalinya mendapat penolakan dari wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Oke, aku mengerti. Aku bisa menerimanya. Mungkin kita belum berjodoh. Jadi lupakan saja ungkapanku tadi ya, ayo buruan kita makan aku sudah sangat lapar!"
Serunya seraya mengambil beberapa potong makanan dan mulai memakannya dengan rakus. Seolah pria itu benar-benar merasa kelaparan seperti apa yang barusan ia ucapkan.
Hana dapat menangkap nada kecewa dari pria yang berusaha bersikap biasa saja dihadapannya. Meski ia masih asyik menyantap makanan sambil sesekali tersenyum kearahnya.
Tak berlangsung lama acara makan malam itu pun usai lebih cepat dari biasanya. Dokter Egi pun mengantar Hana pulang kerumahnya.
Setelah mengucapkan selamat malam, pria tampan itu berlalu begitu saja tanpa sebuah candaan yang biasa ia lontarkan kepada Hana.
Sedangkan Hana hanya menatap punggung sedan warna hitam itu dengan lesu. Semoga keputusannya kali ini tidak merenggangkan pertemanan mereka.
Bagaimanapun ia tak ingin memberi harapan lebih kepada rekan kerjanya itu. Karena jauh di lubuk hatinya terdalam masih mengukir sebuah nama. Nama yang selalu tersimpan rapi direlung hati terdalam.
Hai kak readers !
*Mohon m**aaf karena absen lama dari dunia NT karena adanya kesibukan di realife*.
Terima kasih yang masih setia dan menanti kisah receh author amatir ini. 😂😂
__ADS_1
Sekedar info, kisah ini akan segera berakhir jadi mohon dukungannya ya..
Saranghae_