
Plok ! plok ! plok !
Terdengar tepuk tangan membuat kedua orang yang masih melepas rindu mengalihkan atensi mereka.
"Sudah kangen-kangenannya? Ternyata kalian ini terlibat cinta segita yang membosankan ya! Kalian tau ? kisah kalian ini mengingatkanku kepada pria brengs*k bernama Kim Abraham yang berani merebut dan menjauhkan Laura dariku !" celoteh orang itu.
Kedua orang itu tak bergeming. Mereka masih menyimak dan berusaha menyusun puzle-puzle yang selama ini membingungkan.
"Siapa kau sebenarnya ? Dan apa maumu, hah !" gertak Johan sambil menodongkan pistolnya kearah lelaki paruh baya itu.
"Cckk ! sebenarnya kau bukan mangsaku, mangsaku sebenarnya adalah anak dari Kim s*alan itu ! Tapi apa boleh buat domba sudah masuk ke dalam perangkap, jadi harus tetap aku eksekusi !" ucap mister Donny Tan dengan senyum menyeringai.
"Jangan mendekat ! atau aku akan menembak anda mister kalau sampai anda berani mendekat !" gertak Johan kembali.
Tangan lelaki manis itu terlihat bergetar seperti tengah menahan ketakutan. Lelaki manis itu baru menyadari ternyata ia sudah melupakan sesuatu, ia tidak sempat mengisi amunisinya. Mungkin amunisi dalam pistol yg ia genggam kini tinggal 1 peluru saja yang tersisa. Keringat tampak mengucur deras dari dahinya. Bagaimana pun ia harus melindungi Hana, dan wanita itu harus tetap hidup.
Tanpa memperdulikan ancaman Johan, lelaki paruh baya itu tampak memajukan langkahnya. Baginya Johan itu hanya nyamuk yang harus ditepuk lalu mati begitu saja. Ia tak gentar dengan ancaman anak bau kencur itu.
Johan pun mempererat genggaman pistol dengan kedua tangannya. Sedangkan Hana, wanita lembut itu bersembunyi di belakang Johan sambil terus terisak karena ketakutan.
"Jangan takut Han, aku akan melindungimu. Tetaplah di belakangku !" ucap Johan mencoba menetralkan kecemasan yang wanita itu rasakan.
Dengan samar Hana pun mengangguk. Johan pun mulai memfokuskan bidikan kearah sasaran lalu menarik pelatuknya.
Door !
Peluru itu ternyata lolos ! Pria paruh baya itu ternyata mampu menghindar dengan cepat saat menyadari pemuda dihadapannya akan menarik pelatuknya.
Saat Johan akan menembakan pistolnya kembali, dan benar saja pistol itu sudah kosong tak berpeluru. Membuat pria paruh baya itu terkekeh.
"Dasar bod*h ! sebelum berperang kau harus mengisi amunisimu terlebih dahulu dasar bocah ! Cinta memang membuat orang bod*h dan tak berguna !" ejek mister Donny Tan sambil menyesap tembakau yang ia bakar.
__ADS_1
Hana pun semakin ketakutan, mungkin ini akhir dari segala kisah hidupnya. Dengan segala keberanian ia memajukan diri ke arah pria paruh baya itu.
"Aku saja yang anda bunuh, biarkanlah ia bebas. Dia tidak ada hubungannya dengan Kenzi. Karena sebenarnya akulah wanita yang telah Kenzi cintai !" teriak Hana dengan tubuh bergetar.
"Hana kamu apa-apan ! Tidak biarkan aku saja yang mati ! Jadi bebaskan dia !" sergah Johan.
"Baik-baiklah, lebih baik kalian berdua mati saja di tanganku !" teriak mister Donny Tan sambil menarik pelatuk pistol miliknya.
Wanita berwajah oriental itu memejamkan mata upturnednya dengan air mata yang mengucur deras dari kedua sisi. Ia sudah pasrah dan menyerah akan hidup yang sudah ia jalani selama ini. Mungkin dengan begini, ia bisa mengakhiri kes*alan-kes*alan yang telah ia lalui dalam hidupnya.
Lagian di dunia yang fana ini tidak ada lagi hal yang membuatnya untuk bertahan. Untuk cinta, ia takut berharap dan berakhir kecewa untuk yang ke 3 kalinya. Jadi biarlah ia pergi dengan membawa kesedihan yang belum sempat ia suarakan.
Door !
Door !
Suara dari tembakan itu membuat tubuh wanita itu mengejang. Ini seperti bunuh diri. Ia sudah siap dengan segala rasa sakit yang harus ia rasakan jika peluru itu tak berhasil membuat merenggang nyawanya saat ini juga.
' Ayah, ibu, kak Citra. Maafkan Hana, Hana sudah lelah dengan segala kehidupan ini. Hana sudah tak mampu menahan kesedihan seorang diri. Jadi biarkan Hana menyusul kalian di surga. Karena ini mungkin sudah jadi suratan takdir Hana untuk sampai disini saja,' gumamku dalam hati.
Aku mendengar jelas suara tembakan itu begitu memekakkan telinga. Bahkan tubuhku pun merespon terkejut hingga mengejang. Aku sudah membayangkan bagaimana sakitnya jika peluru itu menembus jantung atau otakku ? Aku yang ditakdirkan untuk menyelamatkan banyak orang, kini aku harus mengakhiri semuanya.
Tapi Tunggu !
Kenapa aku tak merasakan apa pun. Apakah rasanya mati seperti ini ? Jika benar, seharusnya aku lakukan sedari dulu saja. Jadi aku tak perlu melewati fase sakit dan memalukan dalam hidupku seperti kemarin.
Apakah sekarang aku sudah berada di surga? Jika benar aku akan menyapa ayah dan ibu beserta kak Citra.
Aku mencoba membuka mataku sedikit demi sedikit. Aku fikir, aku terjebak antara hidup dan mati seperti halnya ketindihan. Ternyata mataku ini masih bisa ku buka dengan lebar. Dan aku pun membeku melihat pemandangan di hadapanku saat ini !
Johan !!
__ADS_1
Lelaki manis itu hanya tersenyum. Senyum termanis yang biasanya ia berikan kepadaku. Jujur sedari dulu aku sangat menyukai senyum manis miliknya.
Ingatanku akan segala kenangan yang pernah kita lewatin bersama langsung berputar-putar cepat dalam otakku. Seperti melihat kilas balik masa lalu kita dulu.
Aku masih bisa mengingat. Waktu di perpustakaan sekolah dulu. Lelaki ini tak gentar mendekatiku, aku tahu dia adalah kapten futsal sekolah kami. Aku fikir ia sama seperti laki-laki lainnya, ternyata ia mendekatiku hanya untuk menawarkan sebuah pertemanan.
Semenjak itu hubungan kami jadi lebih baik. Bahkan saat-saat aku berada dititik terendah dalam hidupku pun, laki-laki ini yang selalu ada untukku.
Meminjamkan bahunya untukku. Menjadi orang tua asuh saat aku tak memiliki keluarga lagi di dunia ini.
Hingga kami melewati kisah ini bersama. Menghabiskan waktu bersama. Aku tak menyangka ternyata hatiku merasakan takut akan kehilangannya. Mungkin jika saja jika aku tak terjebak dengan kisah masa lalu, aku bisa membuka hatiku untuk lelaki lain.
Hingga suatu ketika, dengan tiba-tiba lelaki yang menjadi sahabatku ini melamarku. Perempuan mana yang tidak terkejut ? Aku pun sama terkejut. Dan akhirnya aku menerimanya. Mungkin dengan ini aku bisa melupakan masa laluku dengan Kenzi.
Aku tak boleh terus berlarut-larut dengan harapan yang tak pasti. Jujur hanya laki-laki manis ini yang terdalam dihatiku. Entah mengapa aku baru menyadarinya sekarang.
"Johan," panggilku lirih.
Aku melihatnya masih tersenyum manis. Seakan sesuatu yang menembus tubuhnya itu tidak berarti apapun.
"Johan, apa ini sakit ?"
Ia pun hanya membalas dengan menggeleng pelan dengan masih tersenyum. Wajahnya semakin memucat. Cairan kental berwarna merah segar tak hentinya mengalir. Dengan gemetar, jemariku meraba area yang mengeluarkan cairan merah kental itu. Ia pun meringis tertahan.
Aku merobek gaun bawahku yang menjuntai ke bawah untuk membalut luka itu. Oh...Tuhan ini tidak mungkin terjadi ini ! Ini mimpi kan ? Ini mimpi kan ?!
Bagaimana pun Johan hanya manusia biasa. Ia tidak mungkin bisa bertahan lama dengan 2 peluru senjata api bersarang ditubuhnya. Menembus organ vital miliknya, hingga cairan darah itu mengalir bagaikan air kran.
Jantungku tak hentinya berdebar hebat, seluruh tubuhku terasa melunak dan gemetaran. Bahkan air mataku pun tak mampu ku bendung lagi. Aku pun tak peduli, sekarang gaun yang ku kenakan sudah berbaur dengan cairan merah kental yang berbaur anyir. Dibenakku hanya satu, aku tak ingin kehilangan Johan lelaki manis yang sudah memberi warna dihidupku.
#Pov End
__ADS_1