
Setelah sempat pingsan selama 2 jam lamanya.Akhirnya mama Laura pun sudah mulai tersadar kembali. Suster yang menjaganya pun segera memanggil dokter Egi dokter yang saat ini menanganinya.
Sela beberapa menit dokter Egi pun tiba bersama suster yang menjaganya tadi.
"Nyonya...nyonya sudah sadar ?"
"Dimana saya ?"
"Anda sekarang berada dirumah sakit CM nyonya."
"Akhh !!" terdengar rintihan mama Laura menahan sakit.
"Nyonya, anda jangan banyak bergerak dahulu. Luka anda baru saja dijahit jadi anda harus istirahat dulu."
Terakhir kali yang ia ingat saat itu ia sedang pulang dari rumah sakit untuk mengambil hasil rekam medis Kenzi. Tiba-tiba dari arah depan ada 2 motor yang menghadangnya. Perampok itu mengambil tas dan ponselnya.
Karena ia mencoba melawan tanpa sengaja ia pun terkena tusukan dari senjata tajam milik salah satu perampok itu. Saat ia terluka para perampok itu pun berhasil kabur.
"Siapa yang sudah membawa saya kesini dok ? saya harus bertemu dengannya untuk berterima kasih."
"Tunggu sebentar saya akan panggilkan."
Lalu dokter Egi pun berjalan menuju resepsionis. Ia masih mengingat kata wanita tadi bahwa ia adalah karyawan baru rumah sakit ini.
"Mbak, bisa minta data karyawan baru yang masuk hari ini ? Posisinya sebagai dokter," tanya dokter Egi kepada petugas resepsionis.
"Tunggu sebentar ya dok."
Sela beberapa menit.
"Ini dok data karyawan yang baru masuk hari ini bernama dokter Luthfia Hana. Saat ini ia sedang berada diruangan kepala direktur rumah sakit," jelas petugas resepsionis.
"Oh..iya terima kasih mbak atas informasinya."
"Sama-sama dok."
Lalu ia buru-buru menuju ruangan kepala rumah sakit untuk menghampiri Hana. Sela beberapa menit ia berhasil membawa Hana keluar tentu saja dengan ijin kepala direktur.
Saat diluar ia bertemu dengan Johan. Johan pun terkejut dengan penampilan Hana yang ia lihat.
"Hana ! apa yang terjadi kenapa bajumu penuh dengan noda darah ?!" tanya Johan panik.
"Nanti saja aku jelaskan Jo, aku sedang terburu-buru.Dan kamu langsung masuk saja kedalam kepala direktur sudah menunggumu."
"Baiklah, tapi sebaiknya kau memakai ini saja," ucap Johan seraya memakaikan sweter miliknya untuk menutupi baju Hana yang terkena noda darah.
"Terima kasih Jo, aku akan segera menyusulmu nanti."
Hana pun meneruskan langkahnya kembali diikuti dokter Egi disampingnya.
"Saya sudah menghubungi keluarganya tadi, saat ini keluarganya sedang menuju kesini."
"Apa anda mengenalnya dok ?"
"Bagaimana tidak, ia adalah pengusaha terkaya dikota ini mantan putri Indonesia pula semua orang pasti mengenalnya."
"Oh, begitu saya beberapa tahun menetap di jawa sih dok jadi saya sama sekali tidak update," balas Hana seraya menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Baiklah, sampai sini saja ya. Saya masih banyak pasien lain kalau ada apa-apa tekan saja tombol darurat."
"Baik dok, saya mengerti."
__ADS_1
Dokter Egi pun berlalu untuk memeriksa pasiennya yang lain.
Kini ia berdiri diruangan khusus pasien VVIP. Ia baru menyadari kalau orang yang tadi pagi ia tolong bukanlah orang sembarangan. Hana tampak ragu untuk masuk, tapi akhirnya ia beranikan diri untuk masuk ke dalam.
Ia pun duduk di kursi samping dekat pasien. Mama Laura tampak membuka matanya saat merasakan ada seseorang duduk disampingnya.
"Akh,,maaf nyonya, sepertinya saya membangunkan anda."
"Tidak apa-apa, bukankah anda teman dokter Johan ?"
Hana hanya menatap bingung bagaimana nyonya ini bisa mengenal ia dan juga Johan ? batinnya.
"Bagaimana nyonya bisa mengenal kami ?" tanya Hana balik.
"Apakah anda lupa ? dokter Johan pernah menangani anak saya waktu operasi mata beberapa bulan lalu ?"
Hana mencoba mengingat-ngingat kembali.
"Dan sepertinya anda juga mengenal anak saya, karena terakhir kali saya melihat anak saya bertemu dengan anda dirumah sakit tempat anda bekerja."
"Maaf, nama anak nyonya siapa ?"tanya Hana pelan.
"Namanya Kenzi."
Hana pun tampak membungkam mulutnya yang hampir menganga karena terkejut.
"Anda pasti mengenalnya bukan ?"
Hana pun tampak mengatur ekpresinya kembali.
"Iya nyonya, saya dengan putra nyonya dulu memang pernah satu sekolah."
"Jangan panggil saya nyonya, seperti majikan anda saja. Panggil saja tante Laura," tutur mama Laura.
Mama Laura melihat penampilan Hana dari atas hingga ke bawah. Ia melihat penampilan Hana seperti dirinya dulu. Sederhana tapi berkharisma.
"Oh..iya nama anda siapa ?"
"Panggil saja Hana tante."
"Bajumu pasti terkena noda dariku ya Hana, maafkan tante. Nanti tante akan suruh seseorang untuk mengirimkan baju pengganti dengan yang baru."
"Tidak apa-apa tante tidak perlu repot-repot."
'Wanita muda ini sangat sopan, baik hati, lemah lembut dan pastinya tulus aku seperti melihat diriku ada pada dirinya di masa muda dulu '
"Apakah kamu sudah memiliki pasangan ?"
Hana pun terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang mama Laura ajukan kepada dirinya.
"Sebenarnya saya sudah bertunangan tante."
Mama Laura pun tampak menghela nafas pelan. Ia sedikit kecewa mendengar kejujuran Hana.
"Sayang sekali, sebenarnya tante sedang mencari calon istri untuk putraku itu, bertahun-tahun ia menyendiri karena tidak ada wanita yang menyukai pria buta seperti dirinya dulu."
Deg !! hati Hana pun terasa berdesir setelah mendengar tante Laura menyebut 'calon istri'.
"Bukankah kemarin aku melihat ia jalan semobil bersama seorang wanita ? Apakah tante Laura tidak mengetahuinya ?"
"Maaf tante bukankah dulu Kenzi akan menikah dengan Luna ?"tanya Hana pelan takut menyinggung.
__ADS_1
"Cckkk, wanita itu ! kamu tahu setelah mengetahui Kenzi kecelakaan hingga cacat dan hilang ingatan ia malah membatalkan pertunangannya dan lebih memilih karirnya sebagai model daripada mengurus calon suaminya, benar-benar calon istri yang buruk !" terang mama Laura dengan berapi-api.
"Aakkhh !!!"
"Tenang tante, luka anda masih baru sebaiknya anda harus banyak beristirahat dan juga jangan banyak bergerak dahulu."
Mama Laura pun mengangguk lemah menuruti saran wanita muda yang ada di sebelahnya itu.
" Hana, ah..lebih baik aku memanggilmu dokter karena kamu yang menolongku, aku sangat berhutang budi padamu dokter Hana, bagaimana aku harus membalasnya?"
"Tidak perlu tante ini sudah jadi tanggung jawab saya sebagai dokter untuk menolong yang membutuhkan."
"Hatimu tulus sekali, andai saja kamu bisa jadi mantuku dok."
Hati Hana berdesir. Ia bingung harus mengekpresikannya bagaimana. Senang atau sedih kah ? Wanita paruh baya yang ada di hadapannya kini adalah ibu dari lelaki yang pernah ia cintai. Ia tahu maksud dari perkataan nyonya Laura kepadanya itu apa. Akh..andaikan saja waktu bisa diputar kembali. Ia tak akan menyiksa perasaannya sendiri selama ini.
"Akh, maaf nyonya saya harus segera kembali, hari ini hari pertama saya kerja di rumah sakit ini. Nanti saya akan sempatkan diri untuk menjenguk nyonya kembali."
"Sudah ku bilang jangan panggil aku nyonya dokter Hana," tegur mama Laura lirih.
"Maafkan saya tante, saya belum terbiasa."
"Tidak mengapa, nanti juga terbiasa."
"Maaf ya tante, saya harus segera pergi. Permisi ," pamit wanita berwajah oriental itu.
"Silahkan dokter dan sekali lagi terima kasih."
Hana pun meninggalkan mama Laura seorang diri di ruangannya. Mau bagaimana lagi ia sedang tidak dalam waktu senggang untuk menunggui wanita tersebut.
Disaat bersamaan ia melihat Kenzi dan seorang wanita cantik yang sama yang tempo hari ia lihat baru keluar dari pintu lift dan berjalan menuju kearahnya.
"Kenzi !! aku harus sembunyi ini tapi dimana ?!"
Ia tampak menatap sekeliling mencari tempat untuk bersembunyi. Akhirnya sebuah senyuman terbit dari kedua bibir tipisnya.
Hana pun memilih sembunyi dari lelaki itu dengan masuk ke salah satu ruangan terdekat dengannya.Hatinya belum siap untuk bertemu kembali dengan lelaki yang akhir-akhir ini berhasil menyita hati dan fikirannya. Apalagi saat ini lelaki itu sedang bersama kekasihnya.
Hana fikir wanita yang selalu bersama Kenzi saat ini adalah kekasihnya.Terdengar langkah kaki yang mulai mendekat. Hana pun mengintip mereka dari celah pintu ruangan itu.
"Boss..tunggu boss, kenapa jalanmu cepat sekali !" keluh Sona sambil mengikuti langkah Kenzi dari belakang.
"Bukan gue yang jalannya cepat tapi karena kaki loe aja yang pendek makanya lama jalannya !"
Sona pun tampak mencebikan bibirnya sambil komat-kamit seperti biasa saat mendengar mulut pedas lelaki itu terus menghinanya. Sesekali ia merintih menahan perih dikakinya akibat terjatuh karena mengejar langkah Kenzi yang terlalu cepat mendahuluinya.
"Ya sudah. Sini gue gendong aja loe, daripada loe bawel minta ditungguin terus !" tawar Kenzi dengan jutek.
Mata Sona pun tampak berbinar senang.
"Ouuchh so sweet..mister Jutek meski kamu jutek tapi hatimu ternyata baik penuh dengan perhatian,saranghae mister."
"Hei malah bengong ! buruan !" sentak Kenzi melihat Sona yang senyum-senyum sendiri.
"Iya...iya bawel sih."
"Loe yang bawel !" semprot Kenzi tak suka ia dikatain bawel. Sona pun langsung mincep dibuatnya.
Mereka pun langsung pergi dari tempat itu dimana Hana sedari tadi menyaksikan drama singkat mereka.Air mata tak mampu lagi ia bendung. Setelah ia rasa Kenzi sudah menjauh ia pun keluar dari ruangan itu.
Untung saja ruangan itu seperti sebuah perpustakaan karena banyak buku yang berjajar rapi didalamnya.
__ADS_1
Ia harus bergegas pergi dari tempat itu sebelum lelaki yang ia hindari itu melihat atau memergokinya.