
Sang petugas keamanan pun mulai melanjutkan laporannya kembali dengan rasa percaya diri.
"Siang tadi saat tuan muda ingin keluar mengantar nyonya muda kerumah sakit, ada seorang wanita ingin bertemu dengan tuan. Namun belum sempat saya menjawab, saya tinggalkan wanita itu untuk membantu rekan saya. Tapi pas saya kembali, wanita itu sudah pergi," ungkap si petugas keamanan.
"Wanita ? siapa dia ?" tanya Kenzi sedikit tertarik.
"Katanya ia berasal dari Indonesia tuan muda."
"Apa ? Indonesia ?!"
"Katakanlah seperti apa rupanya ?!" desak Kenzi semakin penasaran.
Ketika mendengar nama Indonesia dalam benak Kenzi muncullah wajah Hana, wanita yang sangat ia rindukan.
"Ia memiliki wajah Tionghoa, berkulit putih rambut hitam panjang bergelombang. Ya wanita itu cantik tuan."
Bagaimana tersengat ubur-ubur, jantung Kenzi terpacu sangat kencang. Bahkan saat darahnya mengalir pun mampu ia rasakan.
"Apakah wajah wanita itu seperti ini ?" tanya Kenzi lagi memastikan sambil menyerahkan foto ukuran dompet yang selalu ia simpan meski zaman sudah berubah.
"Nah iya.. be..benar sekali tuan muda. Wajahnya secantik wanita ini."
"Jadi benar wanita itu Hana ?!" gumam Kenzi tanpa permisi berlari keluar rumah melewati petugas keamanan tersebut.
Sang petugas keamanan pun hanya menatap bingung kepergian tuan mudanya.
Sampainya ia diluar, hanya kegelapan malam yang ia dapat. Bahkan ia bagai orang kesetanan berlari hingga keluar pagar mansion keluarganya hanya untuk mencari keberadaan Hana.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Kenzi menghubungi seseorang melalui ponsel pintarnya.
"Halo...Alex tolong kamu cari keberadaan Hana di kota ini, disetiap bandara atau dimana pun. Aku tunggu hasilnya segera !" perintah Kenzi tak terbantah.
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, lelaki maskulin itu langsung mematikan sambungannya.
"Hana kamu dimana ?sudah sejauh ini, sudah dekat pula tapi mengapa kamu tak menghampiriku ? Tak mungkin kamu tak melihatku, pasti ada salah paham yang harus aku luruskan kepadamu," gumam Kenzi sambil menyeka keringat yang membanjiri wajahnya.
Lalu Kenzi berjalan kembali ke mansion keluarganya. Berjalan dengan pasti menuju kamarnya, lalu mengambil sebuah koper yang biasa ia pakai bepergian. Setelahnya memilih beberapa stel pakaian yang akan ia pergunakan.
💐
Tepat pukul 8 malam, pesawat yang Hana tumpangi landing di bandara Soekarno-Hatta. Setelah apa yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri siang tadi, tanpa berfikir panjang wanita itu langsung memesan tiket pesawat untuk kembali ke tanah air.
Ia merasa usahanya sia-sia. Seharusnya sudah lama ia harus melupakan laki-laki berdarah Korea itu. Karena sudah pasti laki-laki itu juga sudah melupakan dirinya dan masa lalu mereka.
Mencari penggantinya bukanlah suatu hal yang sulit bagi seorang Kenzi. Laki-laki itu pengusaha sukses, kaya, mapan serta rupawan wanita mana yang tidak akan terpana dengan pesona yang Kenzi miliki.
Setelah ia memutuskan naik taksi daring yang ia pesan, jalanan lumayan ramai dan macet.
Namun tak berlangsung lama, akhirnya mobil yang ia tumpangi mampu keluar dari lingkaran kemacetan dan mengantarnya pulang sampai rumah.
Perasaan tenang menyelimutinya, ia memandangi rumah yang baru ia tinggal beberapa hari. Dan ia titipkan kepada tetangganya bi Anis.
Rumah tua yang menyimpan sejuta kenangan dengan keluarganya yang telah lebih dulu berpulang. Meski Hana telah mendapatkan sebuah warisan rumah dari Johan, namun wanita itu lebih memilih tinggal dirumah lamanya.
Dan rumah warisan dari Johan ia putuskan untuk menyewakannya kepada orang lain. Dan sesekali ia sempatkan mengunjungi orang tua mantan tunangannya itu.
Malam pun semakin larut, Hana mulai mematikan lampu disamping ranjangnya. Dan mata upturnednya berusaha terpejam untuk tidur berharap hari esok lebih indah daripada hari-hari yang sudah ia lalui.
💐
Pagi pun menyapa. Perasaan Hana sudah lebih baik setidaknya ia akan menikmati sisa cuti tahunan yang tengah ia ambil dengan mengunjungi berbagai tempat yang mungkin menyimpan kenangan untuknya.
Setelah memikirkannya semalam, Hana memutuskan untuk melupakan masa lalunya. Melupakan semua perasaannya.
Namun saat ini ia hanya ingin mengunjungi tempat persinggahan terakhir sahabat sekaligus mantan tunangannya. Karena semalam ia bermimpi bertemu dengan Johan. Mimpi yang sangat jarang ia alami.
Setelah membuat sarapan ala dirinya, nasi goreng dengan telur ceplok. Kini ia telah bersiap menanti taksi daring yang ia pesan.
Taksi pun datang, dengan segera ia memasuki taksi tersebut.
"Ke pemakaman kebun duren kan neng ?" tanya sang sopir memecah kesunyian.
"Iya pak." balas Hana.
__ADS_1
Mobil pun melaju cepat membelah keramaian menuju sebuah pemakaman umum. Tak berselang lama mobil yang ia tumpangi berhenti di sisi jalan.
Sebelum memasuki area pemakaman, Hana membeli sebuah karangan bunga dan sekantong bunga untuk ditaburkan diatas makam Johan.
"Jo.... aku datang," sapa Hana pelan.
Hening tak ada jawaban. Hanya terdengar suara angin berhembus damai membelai wajahnya.
Wajahnya memerah. Buliran air asin tampak menitik dari kedua sudut matanya.
"Maaf, sampai saat ini aku belum bisa penuhi permintaan terakhirmu untuk kembali kepada Kenzi Jo." nadanya berhentik berganti dengan isak tangis.
"Saat ini Kenzi sudah menikah, bahkan kemarin aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ia sedang memapah seorang wanita cantik yang tengah hamil."
Hening, namun tiba-tiba Hana merasakan sebuah pusaran angin membelai wajahnya kembali dengan lembut. Seolah ia merasakan kehadiran Johan disisinya.
"Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri Jo, dulu aku yang mengusirnya dari hidupku namun kini aku menginginkannya kembali. Dulu aku sudah berulang kali menolaknya rasanya begitu memalukan jika kini aku memintanya kembali iya kan Jo ?" gumam Hana sambil terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
"Aku harap kamu tenang disana ya Jo, aku dan mama Cintya sudah mengiklaskanmu. Aku akan menjaga mama dan papa seperti orang tuaku sendiri. Jadi kamu tidak perlu khawatir disana, beristirahatlah dengan damai aku merindukanmu." ungkap Hana lagi menyudahi.
Selesai ia menyuarakan isi hatinya didepan batu nisan mantan tunangannya, Hana memilih beranjak pergi karena panas matahari mulai terik.
Namun langkahnya mematung kala ia berbalik mendapatkan sosok yang baru saja ia bicarakan.
"Kenzi !" pekiknya tertahan.
Hatinya bergemuruh. Rasanya ia ingin menghampiri dan memeluk lelaki itu. Namun bayangan perempuan yang bersama lelaki itu kemarin melenyapkan angannya saat itu juga.
Setelah Kenzi menerima kabar dari Alex bahwa Hana sudah kembali ke Indonesia malam itu juga ia memutuskan terbang ke tanah air menggunakan jet pribadi milik keluarganya.
"Hai ! apakabar ?" tanya lelaki maskulin.
Hana bergeming hanya air mata yang menjadi jawaban sapaan itu.
"Hana, sepertinya ada sesuatu yang ingin aku jelaskan," ungkap Kenzi lagi.
Hana tak mengindahkan ucapan Kenzi, wanita berwajah oriental itu berusaha berlalu melewati lelaki itu.
Ia tak ingin terbuai kembali. Hatinya memutuskan sudah mantap ingin move on dari bayangan masa lalunya bersama Kenzi.
Tangisnya pun pecah dalam pelukan Kenzi. Jujur ia pun sama merindukan laki-laki berdarah Korea itu.
Namun kesadaran mengembalikan kewarasannya. Ini tidak benar, ia tak ingin disebut pelakor oleh orang lain.
"Lepaskan Kenzi, lepaskan !"
"Tidak, tidak akan pernah ku lepaskan kembali !" balas Kenzi tegas.
Lalu Hana pun mendorong sedikit lebih keras dada bidang lelaki itu, namun usahanya sia-sia. Tenaganya bukanlah lawan dari lelaki itu.
"Ken, aku tak ingin orang salah paham dengan kita. Aku tak ingin disebut pelakor oleh orang lain Ken, please lepasin," pinta Hana dengan memohon.
Kenzi pun tampak tercenung akan pernyataan Hana, sepertinya wanita itu benar-benar salah paham terhadap dirinya.
"Siapa yang berani mengatakanmu pelakor ?hem," tanya Kenzi lembut.
Hana pun memberanikan diri menatap mata elang yang selalu mengintimidasinya itu. Lalu netra mata mereka tampak bersitubruk dan saling mengunci satu sama lain.
"Bukankah kamu sudah menikah, lalu istrimu tengah hamil besar. Kenapa kamu malah kesini menemuiku ? Itu jahat Ken!" Hana pun mengemukakan pernyataan hasil pemikirannya bertubi-tubi.
Namun justru tanggapan lain yang ia terima dari lelaki itu. Wajah lelaki itu tampak menggembung seperti menahan sebuah tawa, namun sedetik kemudian tawa laki-laki itu meledak.
"Haha...jadi..jadi kemarin kamu melihatku bersama wanita hamil tersebut ?"
Dengan polos Hana hanya mengangguk mengiyakan.
"Apa kamu tak mengenali siapa wanita hamil itu?" tanya Kenzi lagi.
Hana pun hanya menggeleng pelan. Karena ia benar-benar tidak bisa mengingat siapa wanita tersebut.
"Dia kakakku, kak Kanza bagaimana mungkin kamu bisa melupakannya?"
"Heh ! apa ? jadi...jadi," ucap Hana terputus-putus karena shock setelah mengetahui kebenarannya.
__ADS_1
"Iya kamu pasti sudah mendengar pengakuanku saat di acara talkshow tersebut, aku memang belum bisa move dari cinta pertamaku."
Setelah mendengar kenyataan dari bibir si empunya langsung membuatnya lega, ternyata kesimpulan yang ia bikin selama ini salah. Namun sedetik kemudian hatinya berdebar kembali lebih kuat seolah menanti sesuatu yang memutuskan masa depannya.
"Aku tidak bisa move on dari cinta pertamaku yaitu KAMU !"
Tiba-tiba waktu terasa berhenti berputar, hanya terdengar suara detak jantung keduanya. Bahkan Hana mampu merasakan ribuan kupu-kupu menggelitiki perutnya.
...Saat Jauh Darimu...
...Terlintas Tanya Dalam Anganku...
...Benarkah Di Benakmu...
...Hanyalah Diriku Yg Bertahta...
...Akankah Ini Selamanya...
...Saat Ku Di Dekatmu...
...Bisik Hati Kecilku Bertanya...
...Benarkah Yang Kau Rasa...
...Hanyalah Diriku Yg Kau Puja...
...Akankah Ini Selamanya...
...Ataukah Hanya Semata...
...R: Tlah Kuberi Segalanya...
...Cinta Yg Tanpa Akhir...
...Yg Hanya Tercipta Untukmu...
...Mestinya Semua Ini...
...Jadi Awal Yg Indah Bagiku...
"Aku kesini hanya untuk memintamu kembali padaku lagi. Jika kali ini kamu menolak, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu Hana," ucap Kenzi dengan wajah serius.
"Jadi maukah kau menikah denganku Luthfia Hana ?"
Hana tampak termenung. Permintaan laki-laki yang ada dihadapannya saat ini terlalu mendadak namun begitu ia nantikan. Setelah ia melalui perdebatan hati yang panjang.
Kini ia ingin mengikuti apa yang hatinya mau. Karena ia sudah lelah. Ia ingin bahagia dan menghabiskan sisa hidupnya bersama laki-laki yang ia cintai dan bisa menerima kekurangan dirinya apa adanya.
"Iya, aku mau," jawab Hana dengan lirih sedikit malu-malu.
Tanpa menunggu lagi, Kenzi langsung memeluk Hana kembali dan membawa tubuh wanita itu berputar.
...Tlah Kuberi Segalanya...
...Cinta Yg Tanpa Akhir...
...Yg Hanya Tercipta Untukmu...
...Mestinya Semua Ini...
...Jadi Awal Yg Indah Bagiku...
Samar-samar Hana melihat bayangan sosok Johan berdiri dibawah pohon tak jauh darinya. Sosok itu tersenyum manis sambil mengangguk meski wajahnya memucat.
Hana pun membalas senyuman sosok itu, lalu sosok itu menghilang terbawa angin. Hana senang ia bisa menepati permintaan Johan yang terakhir kalinya.
"My Ice Girl Saranghae !!!" teriak Kenzi dengan lantang.
Hana hanya tersenyum. Wajahnya tentu sudah merona. Ia masih mampu mengingat 'gadis es' adalah sebutan Kenzi untuk dirinya saat mereka masih berpacaran dahulu.
Setelah melalui masalah hidup yang begitu pelik. Cobaan demi cobaan datang menggoda hati mereka. Namun jika takdir sudah berkehendak, lantas siapa yang mampu menghentikannya ?
..._THE END_...
__ADS_1
Nb : Itu lirik diatas judulnya 'Awal Yang Indah' dari Tere.