
Diruangan yang agak redup, Hana pun terkesiap. Wanita itu hampir melupakan bahwa sudah hampir seminggu ia terkurung di dalam sebuah ruangan seperti bekas sebuah istana kuno sebuah kekaisaran.
Mata upturned miliknya mengerjap-ngerjapkan indah. Seolah ia baru saja tersadar dari pingsan, kepalanya berdenyut nyeri karena masih merasakan pusing.
Wanita itu baru menyadari, bahwa tamparan Lee tadi sudah membuatnya pingsan. Untung bagian tubuhnya masih tetap utuh, terlihat dari gaun yang ia kenakan masih terbalut indah di tubuh rampingnya.
Sayang tangan dan kakinya terikat temali. Ia sulit untuk menggerakan tubuhnya.
'Oh...Tuhan bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini ? Cepat atau lambat Lee pasti akan menghabisi nyawaku,' ratap Hana dalam hati.
Dan benar saja ia mendengar suara Lee sedang berargumen bersama seorang pria terdengar dari suaranya. Dan terdengar lelaki bermata sipit memanggil orang tersebut dengan panggilan ayah.
"Ayah ! apa yang akan ayah lakukan? Lee tidak setuju jika ayah akan menjadikan Hana umpan ayah untuk memancing mereka !" sentak Lee dengan wajah memerah menahan amarah.
"Kau bod*h apa bagaimana ?! Apa bedanya dengan dirimu yang menyekapnya bahkan sekarang kau mengikatnya seperti seorang tawanan, hah !" bentak ayah Donny Tan.
"Karena ia menolak untuk berciuman denganku ayah," jawab Lee lesu.
"Dasar bucin bod*h ! cinta hanya akan membuatmu lemah. Sudah lupakan saja perasaanmu itu. Pertahanan pintu barat sudah di taklukan musuh. Ayah tak menyangka mereka mempunyai nyali sebesar itu untuk menyerang markas kita," umpat Donny Tan lagi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan ayah? " tanya Lee bimbang.
"Lebih baik kau halau mereka, ulur waktu dan alihkan perhatian mereka agar tak segera menemukan wanitamu ini. Ayah akan membawanya ke tempat yang jauh lewat pintu belakang ! Kalau bisa habisi keturunan Abraham itu ! " titah Donny Tan dengan tegas.
"Baik ayah !"
Di tempat lain
"Apa rencana loe selanjutnya Ken ?" tanya Johan sambil menatap sekeliling dengan waspada.
Anak buah Darren yang ditugaskan untuk mengawal mereka sudah gugur sebagian bahkan hampir seluruhnya. Kini tersisa tinggal 10 orang bersama Kenzi dan Johan. Memang secara teori mereka akan kalah jumlah akan tetapi, berkat kepiawaian anak buah Darren sudah hampir setengah dari 200 pengawal yang diperkirakan sudah berhasil mereka lumpuhkan. Meski mereka harus kehilangan beberapa rekan seperjuangan mereka.
"Gue rasa lorong depan adalah jalan menuju tempat dimana Hana disekap, karena terlihat begitu banyak pengawal yang berjaga disana," gumam Kenzi lirih.
Tiba-tiba Johan berteriak dengan keras sambil mendorong tubuh Kenzi mundur bahkan hingga terjatuh.
"Awas !"
Door !
Door !
Door !
Johan pun berhasil melubangi kepala pengawal yang mengarahkan tembakannya kepada mereka dari arah belakang. Untung saja Johan menyadarinya, hingga peluru itu meleset dan melubangi tembok yang ada disampingnya dimana tadi Kenzi tengah berdiri.
"Sepertinya mereka mengincar loe ! Karena gue lihat dari beberapa mereka mengarahkan moncong senjata mereka tepat ke arah loe Ken! Loe harus hati-hati," ucap Johan mengingatkan.
"Thank bro ! gue rasa juga begitu tapi untuk saat ini keselamatan Hana lebih penting," balas Kenzi setelah menerima uluran tangan Johan.
Untuk saat ini mereka harus bekerja sama untuk bertahan hidup dan membebaskan Hana. Dan melupakan persaingan yang tengah terjadi diantara mereka.
__ADS_1
Dan memang benar. Sebagian para pengawal itu sudah di instruksi untuk lebih mengarahkan bidikan mereka kearah Kenzi. Sesuai instruksi Donny Tan ayah Lee, ia ingin melenyapkan penerus sekaligus pewaris utama dari keluarga Abraham. Orang yang sangat ia benci. Dengan melenyapkan putra satu-satunya keluarga mereka pasti akan membuat keutuhan keluarga mereka goyah dan hancur. Itulah yang Donny Tan inginkan selama ini.
Saat mereka akan menuju lorong selanjutnya, tiba-tiba datanglah Lee beserta rombongannya.
"Lee." pekik Kenzi terkejut.
"Akhirnya kita bertemu lagi tuan Abraham, ternyata kau masih mengingat namaku dengan baik," balas Lee dengan senyum meremehkan.
Cih !
"To the point saja ! Kau sembunyikan dimana Hana ?"
"Apa urusannya denganmu ? apakah kau mencintainya? Bukankah calon suaminya adalah dia ?" tunjuk Lee kearah Johan.
"Ternyata seorang pewaris keluarga Abraham yang terkenal itu mengemis cinta kepada wanita yang sudah memiliki tunangan? menyedihkan !" pancing Lee.
Tentu saja lelaki bermata sipit itu mengetahui semuanya. Karena dirinya juga termasuk dalang dari hancurnya kedua lelaki yang ada dihadapannya saat ini.
Kenzi pun menggeram. Ia mengetatkan rahangnya membuat giginya bergemerutuk saling beradu.
"Bod*h ! apa bedanya dengan loe yang menculik Hana! Bukankah sama saja loe itu pengemis!" bentak Kenzi.
Lee hanya menyeringai penuh arti. Menikmati raut amarah lelaki maskulin itu yang sudah tersulut oleh emosi.
Jika Kenzi menghadapi lawannya dengan emosi berbeda dengan Johan. Ia menganalisa lelaki bermata sipit itu beserta anak buahnya. Ia tidak boleh lengah dan ikut terbawa emosi.
"Ken, loe harus hati-hati. Mereka menyelipkan sebilah belati yang sudah dilumuri dengan racun disaku dekat sepatu. Di sini yang di incar itu loe, jadi loe jangan pancing amarah mereka," tegur Johan dengan lirih.
"Gue nggak peduli ! gue gedek banget pengen nyolok tu mata orang. Melek nggak merem juga kgak, ngeselin nggak sih !" gerutu Kenzi.
Kenzi pun mengangguk mengerti.
"Mungkin dari sini kita harus berpisah, gue dan anak buah Darren bertahan untuk melawan Lee dan anak buahnya. Sementera loe cepat cari Hana dan bawa dia ke luar dari sini. Kita akan bertemu di Menara sana !" bisik Kenzi.
"Baik, gue mengerti. Loe harus hati-hati ya. Mereka itu licik, loe nggak boleh mati disini," pesan Johan sebelum berlalu.
"Loe juga jaga diri baik-baik," balas Kenzi.
Meski sedari dulu mereka rival dalam mencintai 1 wanita dalam hidup mereka, akan tetapi rasa pertemanan membuat mereka saling peduli.
Lalu Johan pun menepuk pelan bahu Kenzi sebagai tanda perpisahan. Dengan hati-hati, lelaki manis itu mundur secara perlahan.
"Kami sudah terikat sedari kecil. Bagaimana pun Hana itu miliku. Dan aku tak sabar untuk mencicipi manis tubuhnya yang menggiurkan itu, setelah tadi ku rasakan manis bibirnya yang semanis buah anggur," ungkap Lee dengan santai sambil terkekeh.
Raut wajah Kenzi mulai memerah menahan amarah yang siap untuk meledak. Rasanya ia ingin menghajar wajah lelaki sipit yang menyebalkankan itu.
"Brengs*k ! langkahin dulu mayat gue !" teriak Kenzi.
Kenzi dan anak buah Darren pun maju untuk memulai menyerang begitu pula Lee dan anak buahnya. Ini kesempatan Johan meloloskan diri untuk mencari keberadaan Hana.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Hosh!
Hosh!
Hosh!
Derap langkah Johan menggema memenuhi lorong itu. Nafasnya memburu bersama detak jantungnya yang berdebar-debar. Dan ditangannya menggenggam sebuah pistol yang ia todongkan ke segala arah.
Lorong itu tampak mirip labirin yang terdiri banyak pintu yang menghubungkan ruang satu dengan ruang lain. Ia hampir putus asa setelah beberapa kali mencoba membuka setiap pintu tapi tak menemukan Hana.
Tiba -tiba jantungnya berdebar kuat ia merasakan sesuatu seperti Hana berada didekatnya. Kini ia berdiri sebuah ruangan berpintu kayu dengan palang besi.
Dengan hati-hati ia membuka pintu berpalang besi itu, dan benar terlihat seorang wanita tengah duduk terikat dengan mulut yang tersumpal kain. Tapi lelaki manis itu merasa aneh.
Netra hitamnya menyapu sekeliling tapi tak menemukan 1 penjaga pun yang menjaga wanita itu.
'Ini aneh, apakah ini sebuah jebakan ?' gumamnya dalam hati.
Ia harus bergegas, ini kesempatannya untuk melepaskan temali yang menjerat wanita yang ia cintai itu.
Dilepaskan semua tali yang menjerat tubuh gadis itu. Dan juga kain yang telah menyumpal mulutnya.
"Johan !"
Wanita berwajah oriental itu langsung menubrukan tubuhnya ke dalam pelukan Johan. Tubuhnya bergetar hebat menahan tangis. Air matanya tak hentinya mengalir deras.
Johan pun memeluk tubuh mantan tunangan dengan erat seakan rindu yang menggerogoti hatinya selama ini begitu mendalam. Ia menangkap raut ketakutan dari wajah wanita itu dan respon tubuhnya yang bergetar hebat.
"Johan, ini kamu beneran Johan ? atau hanya halusinaku semata," ucap Hana dengan isak tangisnya
"Ini aku Johan. Sudah jangan menangis, aku akan selalu ada untukmu Han jangan takut," hibur Johan menenangkan.
"Aku fikir kita tidak akan bertemu kembali Jo, maafkan aku. Aa...aku selama ini telah membohongimu__" ungkap Hana dengan gemetar.
"Sssttt ! ini bukan salahmu melainkan salahku Han. Maafkan aku pula," balas Johan lembut sambil menempelkan telunjuknya didepan bibir tipis Hana.
Plok ! plok ! plok !
Terdengar seseorang tengah bertepuk tangan menuju ke ruangan dimana Johan dan Hana berada.
Kira-kira siapa yang datang ya ? Dan bagaimana kelanjutannya apakah Johan berhasil membawa Hana kabur dan pulang ke negara asal mereka?
Hai para reader trcinta..🥰
Terima kasih sudah setia mendukung karya receh dari author amatir ini.🤗
Dengan berat hati, mungkin kisah mereka akan segera berakhir. Tinggal beberapa episode lg.😟
Jujur saja author sebenarnya gk bisa bkin cerita yg pnjang. Karena otak author suka buntu alhasil ceritanya suka gk nyambung.😅
Dan ini jg udah banyak ide cerita yang mengantri.
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus ya, semoga author yg imut ini makin semangat..hhee
Saranghae 😘😘