
"Hah...hah...gu..guee mau sammpai !"pekik Luna tertahan.
"Tunggu babe...aku juga bentar lagi !" ucap laki-laki mongol itu dengan parau seraya mempercepat permainannya agar mereka sama-sama mencapai klimak.
"Aaaakkkhh !" terdengar suara ******* yang panjang dari keduanya.
Wanita model itu pun langsung jatuh tergolek lemas diatas tubuh lelaki bertato kapak itu. Keringat pun membanjiri tubuh keduanya terlihat menegaskan bahwa permainan mereka tadi sangatlah panas dan menggairahkan.
Kini wanita itu berpindah tidur disamping lelaki mongol itu.
"Kamu selalu bisa bikin aku puas babe."
"Tentu saja itu keahlian gue, lalu rencana loe selanjutnya apa?" tanyanya sambil menatap mata elang lelaki itu dari samping.
"Waktu gue enggak banyak, gue harus kembali ke Beijing tapi gue tak bisa pergi begitu saja tanpa membawa apa yang gue cari."
"Gue sudah lakuin bagian gue ya sekarang ini bagian loe, mata-mata loe kan banyak kenapa loe enggak sebarin mereka buat nyari cewek itu?"
Lelaki mongol itu pun menoleh menatap wanita yang baru ia kenal beberapa bulan lalu. Seraya memainkan bukitnya yang selalu tampak menantang membuat si empunya melenguh menimbulkan suara ******* yang menggoda.
"Hei...hentikan Lee kenapa loe selalu suka memainkannya ?!"
"Karena aku menyukainya," jawabnya santai.
"Semua laki-laki memang sama saja pembual," ucapnya sambil berdecih.
Lelaki bermata elang itu pun hanya terkekeh. Hubungan yang terjalin antara mereka hanyalah atas dasar rasa saling ingin memuaskan satu sama lain. Tidak ada rasa cinta diantara mereka. Mereka mempunyai tujuan masing-masing. Tujuan mereka sama oleh karena itu mereka saling bekerja sama.
Kala itu Luna dan Lee bertemu saat mereka tengah mengikuti acara Paris Fashion Week yang diadakan disalah satu kota yang dijuluki dengan City of Love itu beberapa bulan lalu. Saat itu Luna yang memang tengah berperan sebagai model dan Lee adalah sponsor dari acara itu. Mereka pun saling berkenalan dan akhirnya hubungan mereka sampai seperti saat sekarang.
##
Sudah hampir seminggu terlewatkan semenjak kejadian batalnya pernikahan Hana dengan Johan dan kabar menghilangnya Hana pun mulai merebak luas ke seluruh kota.
Baik Hana maupun Johan sudah tidak terlihat bekerja kembali di rumah sakit. Johan memutuskan cuti untuk beberapa pekan ke depan demi mencari keberadaan wanitanya.
__ADS_1
Setelah apa yang ia lakukan masih pantaskah ia memanggil Hana dengan sebutan wanitanya? Rasanya itu sangat tidak pantas. Karena penyebab batalnya acara pernikahannya dengan Hana dan menyebabkan wanita itu menghilang tanpa jejak. Semua itu akibat kesalahannya sendiri. Kini ia hanya bisa merutuki kebodohannya yang tak bisa menetapi janji kepada wanita yang ia cintai itu.
"Apa yang sudah ku lakukan? bod*h...bod*h Johan kenapa kau hancurkan masa depanmu sendiri !" umpat Johan pada diri sendiri.
Ia mulai lelah mencari keberadaan Hana. Hampir setiap hari ia menyambangi rumah lama Hana, barang kali wanita itu kembali lagi tapi ternyata ia tak menemukan apa-apa. Rumah itu tampak kosong seperti sudah lama ditinggal pergi oleh pemiliknya.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, semenjak kejadian dirumah sakit itu ia tak berjumpa dengan Kenzi kembali. Ia ingin menanyakan sesuatu kepada lelaki itu,barang kali ia mengetahui keberadaan wanita yang membuatnya kelimpungan setengah mati mencarinya.Meski ia tahu konsekuensinya seperti apa jika berhadapan kembali dengan lelaki blasteran indo-korea itu.
Ia ingin bertemu dengan wanitanya dan meminta maaf yang sedalam-dalamnya. Apapun keputusan wanita itu ia akan terima dengan lapang dada. Karena orang tuanya juga telah mengusirnya dari rumah karena dianggap sudah merusak nama baik keluarga Effendy.
Kini ia tengah berada dirumahnya sendiri. Rumah idaman yang ia beli untuk dirinya dan Hana yang rencananya akan ia tempati setelah menikah. Ia sengaja tak membicarakan kepada wanita itu karena semata-mata ingin memberinya kejutan. Kini semua itu hanyalah tinggal angan.
Setelah cukup lama bergelut dengan fikirannya sendiri,ia memutuskan untuk beranjak dari tempat yang ia duduki dan meraih jaket bomber beserta kunci mobilnya yang berada diatas nakas.
"Mau kemana Jo?"
Sebuah suara wanita menghentikan langkahnya. Lalu ia menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
"Bukan urusan loe ! mending loe urus saja bayinya gue enggak mau ia kenapa-kenapa," balasnya ketus lalu mulai melangkahkan kaki kembali menuju pintu keluar.
Wanita itu pun hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ini lah akibatnya jika ia terlalu memaksakan kehendak. Ia sudah berhasil merebut raga atas lelaki yang ia cintai akan tetapi tidak dengan hati dan perasaannya.
Meski lelaki manis itu selalu bersikap acuh dan ketus akan tetapi sesungguhnya ia selalu memperhatikan dirinya. Dan tentu saja ia memberikan perhatian lebih kepada anaknya. Setidaknya anaknya terlahir tidak tanpa ayah seperti apa yang ia khawatirkan sebelumnya.
##
Ditengah jalan Johan tampak memukul-mukul stang mobilnya menahan kesal. Ia sedikit menyesal membawa wanita yang sudah menghancurkan masa depannya bersama wanita yang ia cintai ke dalam rumah yang seharusnya hanya untuk Hana dan dirinya.
Ia benci tapi ia juga tak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia terlalu lemah terhadap wanita apalagi wanita itu tengah memiliki anak dari dirinya. Akan tetapi jika melihat wajah wanita itu kembali, rasa benci itu tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Karena wanita itu pula lah ia diusir oleh keluarganya sendiri dan kini juga ia kehilangan wanitanya.
Kini lelaki manis itu sudah berada di pelataran apartemen Kenzi. Kali ini ia siap jika lelaki itu ingin membunuhnya asal ia bisa bertemu kembali dengan Hana. Entahlah ia merasa yakin jika Kenzi mengetahui keberadaan Hana. Karena wanita itu tidak memiliki saudara lagi dikota ini selain teman-teman sekolahnya. Dan orang terdekat wanita itu saat ini hanyalah Kenzi.
Ia mulai memasuki elevator yang akan mengantarkannya ke apartemen lelaki blasteran Indo -Korea itu setelah ia bertanya-tanya kepada satpam yang bertugas menjaga keamanan.
Ting!
__ADS_1
Pintu elevator pun terbuka menampilkan sebuah pintu kokoh yang merupakan pintu apartemen satu-satunya yang ada di lantai tersebut. Jantungnya pun berdetak cepat seiring langkahnya yang tampak bergetar. Ia sudah siap menghadapi kemarahan Kenzi kembali asal ia dapat mengetahui keberadaan Hana dari lelaki itu.
Setelah ia berdiri didepan pintu tersebut dengan sedikit ragu ia mulai memencet bel yang terpajang cantik dihadapannya.
Ting.. tong..
Ting....tong..
Sela beberapa menit pintu nan kokoh itu pun terbuka menampilkan seorang pria berbadan kecil.
"Maaf...cari sia_"
Ucapan Hana menggantung begitu saja karena ia terkejut bukan main mendapati laki-laki yang sangat ingin ia hindari saat ini tiba-tiba berdiri dihadapannya.Bagaimana mungkin lelaki itu bisa tahu alamat apartemen Kenzi ? Bukankah Kenzi bilang tidak ada yang mengetahui alamat apartemennya selain keluarganya sendiri?
Belum sempat Johan menjawab Hana sudah menutup pintunya kembali. Wanita berparas oriental itu masih menetralkan kembali jantungnya yang berdetak cepat karena panik. Ia takut lelaki manis itu bisa mengenalinya. Lalu ia raba-raba wajahnya mencoba memastikan penyamaran yang tengah ia jalani.
"Gawat ! kacamataku !"
Dengan terburu-buru ia masuk ke dalam kamar untuk mencari keberadaan kacamatanya. Sedangkan Johan hanya menautkan kedua alisnya bingung. Bukankah ini apartemennya Kenzi ? Kenapa bukan lelaki itu yang membukanya ? Dan pria kecil yang ia temui tadi juga tampak aneh menutup pintu tanpa menyelesaikan ucapannya begitu saja. Mungkin itu saudaranya pikirnya. Ia tak ingin ambil pusing.
Kini mereka berdua sudah duduk diruang tamu apartemen Kenzi. Keheningan tampak menyelimuti keduanya. Hana takut jika penyamarannya terbongkar karena sedari tadi lelaki manis itu tampak memperhatikannya.
Sedangkan Johan tampak bingung. Pria kecil yang ada dihadapannya saat ini terus saja menundukan kepala. Bahkan saat mereka berbicara pun pria kecil itu terus saja menunduk tanpa menatap sedikit pun kearahnya. Bukankah itu terlihat tidak sopan?berbicara tanpa menatap lawan bicara kita.
"Loe kenapa nunduk terus?" tanya Johan penasaran.
"Gu..gu..gue sakit mata iya gue sakit mata makanya loe jangan lihat-lihat gue terus," balas Hana dengan suara bass yang diberat-beratkan.
"Oh."
Tiba-tiba ada suara yang mengisyaratkan akan ketidak senangannya dengan kehadiran lelaki manis itu.
"Ngapain loe kesini ?!"
Selamat membaca readers
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya..
Terima kasih..