My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Debaran Tak Biasa


__ADS_3

Kini Kenzi dan Hana sudah sampai di bandara. Mereka berdua langsung menuju Arrival lobby untuk menjemput teman Kenzi yang baru pulang dari Los Angeles itu.


"Siapa nama temanmu yang datang Ken?" tanya Hana sambil menatap Kenzi yang masih sibuk menyapu sekeliling mencari keberadaan orang yang ia cari.


"Nanti kamu juga akan tahu,dia sahabatku."


"Ahh..itu dia !" pekik Kenzi seraya menunjuk kearah yang ia maksud.


Hana pun hanya menautkan kedua alisnya sambil menatap kearah yang Kenzi tunjuk. Ia tak mengenali siapa gerangan laki-laki yang berjalan angkuh dari jauh dengan kacamata hitam yang bertengger manis disudut matanya. Serta rahangnya yang ditumbuhi bulu hitam nan halus menambah kesan macho pada lelaki itu.


"Hi...good afternoon mister Abraham," sapa lelaki dengan logat bahasa inggrisnya.


"Gaya loe ya ! gue bukan enggak bisa bahasa inggris but good afternoon too ,gimana kabar loe ?"


"I'm fine...and you ?"


"Udeh loe Darr jangan ngomong pakai bahasa sok inggris terus ini bukan di Los Angeles tapi Indonesia jadi gunakan bahasa yang sesuai," cerocos Kenzi kesal karena temannya itu sok-sokan.


Pemuda macho itu hanya nyengir. Lalu pandangannya jatuh kepada pria kecil yang ada disamping Kenzi. Pria kecil itu tampak fokus memperhatikannya dengan seksama.


"Who is he Ken?"


Kenzi pun menyikut lengan Hana yang masih menatap temannya tanpa berkedip.


"Dia temen gue,namanya Hansel," balas Kenzi sambil memperkenalkan Hana ke temannya itu.


"Oh..Gue Darren salam kenal ya," ucapnya seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Hana pun menerima uluran pemuda macho itu.


"Gu..gue Hansel salam kenal juga," balas Hana dengan suara bassnya.


Deg!


Deg!


"Eh kenapa ini ? kenapa jantung gue tiba-tiba berdebar-debar nggak jelas gini ? dan lagi tangannya terlalu mulus untuk ukuran seorang laki-laki."


Kenzi pun memandang tak suka akan perilaku temannya yang begitu lama menggenggam telapak tangan Hana. Apa lelaki itu menyadari siapa Hansel?


"Ehem...loe bikin para cewek-cewek yang disana pada mandang aneh ke arah kita tau nggak !" sela Kenzi seraya melepas genggaman Darren dari Hana.


"Memangnya kenapa?" tanya Darren cuek.


"Mereka pikir kita ini kumpulan gay !"


"Sembarang! gue masih normal kali !" balas Darren sewot.


"Habis loe pegang tangan Hansel lama banget, kayak ketemu cewek cantik aja."


Darren pun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pasalnya ia merasakan hal aneh saat berjabat tangan dengan pria kecil yang ada dihadapannya saat ini.


Apakah ini karena efek dia terlalu sering gonta ganti pacar hingga ia tak bisa merasakan getaran lagi pada mahkluk sejenis hawa? Ini tidak mungkin. Ia yakin ia masih normal. Mana mungkin hatinya bergetar hanya gara-gara sentuhan pria kecil itu?


"Ternyata dia Darren teman sekolah Kenzi yang menyebalkan itu, pantas saja aku tak merasa asing meski penampilannya berubah sedikit lebih macho," gumam Hana dalam hati.


"Sudahlah...ayo kita pulang saja gue lelah ini," tukas Darren menyudahi.

__ADS_1


Kini mereka bertiga pun sudah didalam mobil sport hitam milik Kenzi. Hari sudah masuk malam jalanan tampak ramai oleh kendaraan umum maupun pribadi. yang berlomba-lomba menguasai jalan.


"Ini hari apa sih jalanan ramai banget," gerutu Kenzi kesal karena sedari tadi mobilnya berjalan lambat seperti siput.


"Sabar bro,loe lupa kalau ini malem minggu! Ketauan kan loe Jones yaa," ledek Darren disertai gelak tawa.


"Ngasal loe! gue sibuk kali loe tau sendiri sekarang gue menjabat Ceo diperusahaan bokap gue," sahut Kenzi dengan muka memerah karena malu.


"Ah..iya benar,sory ya gue enggak bisa nemenin loe waktu pengobatan loe terakhir. Gue lagi bener-bener tidak bisa ninggalin bisnis bokap gue yang ada di LA."


"Gak apa-apa nyantai aja,lagian gaya loe bisnis apaan emang?"


"Ada deh yang pasti bisnis diruang bawah tanah," jawab Darren santai.


"Oh..gue tau loe penggali gorong-gorong ya pantes saja kerja loe dibawah tanah !" canda Kenzi terkekeh.


"Dasar teman lacnut loe! masa teman loe yang cakep kayak bambang Keanu Reeves ini dibilang pekerja gorong-gorong! kampret loe !" sahut Darren kesal sambil menoyor kepala Kenzi pelan.


"Hei..gue lagi nyetir dodol !"


"Loe pikir gue jenang dari Garut !" sahut Darren sewot.


Kenzi lupa bahwa teman sekaligus sahabatnya yang satu ini gampang sekali ngambek dan tersulut emosi.


"Oh..ya ngomong-ngomong temen loe siapa tadi namanya Ransel ya?" tanya Darren memastikan.


"Sembarang ganti nama orang Hansel bro!"


"Oh..iya Hansel kenapa tuh anak diem aja ya?Eh..Hansel ngobrol dong jangan diem bae ngopi napa ngopi," ajak Darren kepada Hana yang sedari tadi diam menyimak obrolan para laki-laki yang tidak ia mengerti.


Sedangkan Hana hanya tersenyum kikuk sambil sesekali membenarkan letak kacamatanya yang kurang pas pada bingkainya.


"Gue nyimak aja, karena gue kurang paham pembicaraan kalian," tutur Hana kalem menampilkan senyum simpul yang membuat kumis tipisnya ikut ketarik.


Deg !


"Asem! gue masih normalkan ? masa jantung gue berdebar-debar lagi melihat senyum pria kecil ini. Duh gawat ini..gawat ada yang tidak beres sama diri gue !"


Darren pun seketika mincep. Ia menyadari seperti ada yang salah pada dirinya. Ini sudah kedua kalinya ia merasa jantungnya berdebar saat berhadapan dengan si pria kecil.


"Hei..loe kenapa jadi pucet gitu? habis lihat setan apa," celutuk Kenzi saat menyadari temannya yang cerewet itu tiba-tiba diam begitu saja.


"Eh..enggak gue pulang ke apartemen loe aja ya?please."


"Heh ? Kenapa? enggak ah. Ogah gue tidur bareng loe yang tukang ngorok plus ileran lagi," tolak Kenzi mentah-mentah.


"Waduh..gawat ini bagaimana kalau Darren sampai tahu kalau Hansel itu sebenarnya cewek ? gue harus cari cara ini."


"Apartemen gue lagi direnovasi, kecuali loe mau anter gue ke mansion bokap gue yang ada didekat puncak," ucap Darren sambil menaik turunkan alisnya.


"S*al ! tau gitu gue nyesel udah jemput loe. Mending loe macet-macet sendiri aja tadi biar jadi gelandangan," gerutu Kenzi kesal.


Darren pun terkekeh. Memang benar apartemennya saat ini sedang berada dalam renovasi sedang Mansion milik keluarganya sangatlah jauh dari ibukota.Tentu itu akan lebih memakan waktu lama sedangkan apartemen Kenzi tempat paling terdekat dari jarak mereka saat ini. Ia juga tak ingin terjebak macet terlalu lama. Karena ia sedang merasakan Jet lag akibat perjalanan yang lumayan jauh.


Akhirnya mereka sampai juga di pelataran apartemen Kenzi. Seperti biasa ia akan menyerahkan kunci mobilnya kepada security untuk memarkirkan mobilnya di garansi apartemennya.


"By the way ,loe tinggal dimana Hans ?" tanya Darren penasaran karena pria kecil itu masih saja betah mengikuti mereka berdua.

__ADS_1


"Dia tinggal sama gue kenapa?" balas Kenzi datar.


"Jadi loe berdua tinggal disini?"


"Iya..memangnya kenapa ? cowokan biasa tidur se-apartemen kayak loe enggak pernah aja," jawab Kenzi santai.


"Mampus ! gue takut gue beneran enggak normal kalau lama -lama deket sama pria kecil ini. Mana renovasi baru beres 2 minggu lagi terpaksa ini."


"Loe kenapa diam aja mblo , buruan angkut koper loe itu. Gue enggak sudi bawanya."


"Biar gue bantu," sela Hana yang sedari tadi diam.


"Ngapain Hans__" ucapannya terpotong karena Hana memlototinya.


"Oke ..thank ya."


Darren pun membawa koper miliknya yang satu beserta sebuah bagpack. Dan satunya lagi Hana yang bawa sedangkan Kenzi memilih melenggang pergi mendahului mereka.


Saat Hana mulai mengangkat koper yang ingin ia bawa, ia merasa kesulitan karena koper itu terasa sangat berat.Tubuh kecil wanitanya tak mampu mengangkat beban yang sebenarnya tidak terlalu berat untuk ukuran seorang laki-laki.


Darren memperhatikan pria kecil itu. Lengannya yang kecil tak bertenaga,bahkan otot-otot pria itu tak nampak sama sekali membuatnya terlihat seperti lelaki yang payah. Hana pun memaksakan untuk mengangkat koper tanpa roda itu yang justru membuatnya terjungkal ke belakang dan dengan sigap Darren menangkap tubuh lemah pria kecil itu.


Tiba-tiba waktu seakan berhenti berdetak. Hanya terdengar bunyi degupan jantung dari lelaki yang tiba-tiba merasakan debaran yang dasyat saat bersentuhan kembali dengan si pria kecil.


Sedangkan Hana hanya menatap biasa saja. Karena memang ia tak merasakan apa-apa terhadap Darren. Ia tahu betul siapa lelaki itu meski Darren tampan, tapi ia tak semudah itu tertarik mengingat perlakuan lelaki itu terhadapnya dimasa lalu sangatlah mines.


"Hei..kalian apa-apaan ini ?!" sentak Kenzi yang merasa tak suka akan kedekatan mereka.


"Sorry," ucap Hana membuyarkan keheningan diantara mereka.


"Eh..eh..iya," balas Darren speechless.


"Loe enggak papa Hans?loe masih sakit biar gue aja yang bawa," tawar Kenzi beralibi.


Mana mungkin ia membiarkan wanitanya memikul beban berat seorang diri.Itu tidak akan pernah ia biarkan.


"Buset ! koper loe berat amat isinya apaan?! "


Sedangkan yang ditanya hanya nyengir. Menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Itu peralatan ngegym gue, biasa barbel and friend."


"Sinting loe ! jauh-jauh bawa gituan. Gue juga punya kali !"


"Itu special dan kesayangan gue, gue enggak tega ninggalin mereka disana," ujar Darren sambil terkekeh.


"Terserah loe lah !" balas Kenzi gondok.


Mereka bertiga pun mulai berjalan kearah elevator yang ada di sudut lobby. Sedangkan Darren masih memikirkan tentang jantungnya yang tiba-tiba berdebar-debar saat berada didekat si pria kecil.


"S*al kenapa jantung gue bisa berdebar-debar lagi? perasaan gue kemarin masih asyik icik-icik ehem sama si Magaret dan Paula, gue juga masih nafsu kok sama buah melon kembar milik mereka tapi kenapa sekarang jadi sar ser gini deket sama si pria kecil itu," monolognya dalam hati.


"Gue harus jaga jarak sama si pria kecil itu, ini sangat membahayakan kejantanan milik gue bisa-bisa hancur dunia perplayboyan gue nanti ," gumamnya lirih lalu menyusul Kenzi dan temannya yang sudah jauh didepan.


Selamat membaca ya readers 😘😘


Maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


__ADS_2