
Hari ini Kenzi berangkat ke kantor dengan perasaan bahagia. Sesekali ia bersiul riang menunjukan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Bagaimana tidak ? hubungannya dengan Hana sudah lebih baik meski statusnya saat ini hanya sebatas teman.Teman rasa pacar lebih tepatnya.
Ia terkekeh sendiri mengingat bagaimana ia berhasil mencuri c*uman dari wanita es itu. Bahkan wanita itu sendiri tidak marah sama sekali. Itu sudah lebih menegaskan bahwa Hana masih mempunyai perasaan terhadapnya.
Lalu diraihnya gitar kesayangannya yang selalu menemaninya sedari ia masih duduk di bangku sekolah menengah dulu. Pada leher gitar itu bertuliskan sebuah nama "KenNa" yang berarti sebuah singkatan dari Kenzi dan Hana.
Selain sudah mengukir nama wanita itu dalam lubuk hatinya, ia ukir pula nama mereka berdua pada gitar kesayangannya itu. Mungkin jika memang takdir tidak berkehendak mereka untuk bersatu kembali,setidaknya ada kisah indah yang akan ia ceritakan kepada anak cucunya suatu saat nanti. Angan Kenzi dalam fikirannya.
Masih dengan bersiul-siul riang Kenzi menghampiri meja makan yang sudah berisi mama Laura, Sona dan juga kak Kanza beserta anaknya Keshia.
"Oppa ! tumben bawa gitar mau ngamen di kantor ya?" tanya Sona asal.
Mama Laura dan kak Kanza menahan tawa mereka yang ingin meledak.
"Sembarangan ! masa gue ngamen di kantor gue sendiri enggak lucu !" balas Kenzi.
"Terus, mau ngamen dimana? Sona ikut dong !"
" Heh ! loe anak kecil enggak usah pengen tahu urusan orang dewasa deh !"
"Ih...oppa ! Sona juga sudah dewasa kali lihat nih Sona juga punya ini," tunjuknya kearah sesuatu yang menggelembung di balik blousenya.
Mama Laura dan Kak Kanza pun tak bisa lagi menahan tawanya hingga mereka akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Heh...bocil ! punyamu itu masih kecil badanmu juga tipis kayak triplek gue kagak nafs* sama badan loe yang flat itu," caci Kenzi tanpa hati.
"Yeyy ! asal oppa tahu ya ini badan impian para girlband di Korea. Mereka rela sedot lemak tiap minggu biar punya badan seperti Sona ya," balas Sona dengan menggebu-gebu.
"Ohh...ya? sayangnya ini di Indonesia bukan di Korea weew !!" cibir Kenzi sambil menjulurkan lidahnya kearah Sona.
"Iih..oppa nyebelin !!" seru Sona bersungut-sungut.
"Yaudah ma, Kenzi berangkat dulu ya!" pamitnya sambil mencomot sebuah sandwich dan memakannya sambil berjalan.
"Hati-hati ya nak !" teriak mama Laura kearah Kenzi yang sudah menghilang di balik pintu.
"Anak itu kenapa sih ma ? kayaknya lagi happy banget gitu ?"
"Mama juga enggak tahu Kan, kayaknya sedang jatuh cinta apa gimana."
"Oh iya Sona soal ucapan Kenzi tadi jangan diambil hati ya? Ia hanya bercanda. Kamu terlihat cantik kok." hibur mama Laura yang melihat Sona seperti terpengaruh ucapan Kenzi.
Gadis itu sedari tadi memegang-megang benda kenyal miliknya yang ukurannya pas ditangan mungilnya.
Karena merasa ditegur, Sona pun menurunkan tangannya dengan malu-malu.
"Iya Sona, kamu cantik kok eonni aja iri sama body kamu yang mirip girlband yang ada disana(Korea)," sahut kak Kanza menimpali.
Gadis itu tadinya sedikit murung, tapi dalam sekejap berubah riang kembali dengan tersenyum malu karena pujian dari kak Kanza.
"Kamsahamnida ajumma eonni !" ucap Sona sambil tersenyum menampilkan deretan gigi kelincinya.
__ADS_1
"Ya sudah....Sona nanti kamu berangkat bareng Kanza ya, kebetulan hari ini Kanza akan melakukan audit bulanan."
"Iya Sona, eonni juga pengen tahu kinerja Kenzi selama satu bulan ini. Mana sekarang harus nyari model untuk new product yang launching bulan depan lagi pusing aku ma," seru Kanza sambil menekan-nekan pelipisnya mengisyaratkan bahwa ia memang pusing.
"Baik ajumma, maaf eonni ini seharusnya jadi tugas Sona sebagai ketua divisi pemasaran.Tapi memang saat ini kami belum menemukan model yang pas yang sesuai new product kita " jelas Sona.
Mama Laura pun tampak meneliti penampilan Sona dari atas hingga bawah. Rasanya ia mempunyai sebuah ide yang cemerlang.
"Aa ha !! mama have a good idea! mama yakin kamu pasti menyukainya Kanza!" pekik mama Laura tertahan.
Sona hanya melongo tak mengerti. Melihat mama Laura memandangi penampilannya ia jadi ngerasa salting. Apakah penampilannya aneh?Ia berdiri menelisik penampilannya dari atas sampai bawah di lemari kaca dekat tempat ia duduk. Rasanya tidak ada yang aneh.
Kini mama Laura terlihat berbisik-bisik dengan kak Kanza dan sesekali memandang kearahnya dibalas kak Kanza dengan anggukan. Senyum pun mengembang dari keduanya.
****
Di kantor
"Pagi bos ! sepertinya hari ini bos sedang berbahagia?" sapa Boby dengan senyum lebar. Karena ia yakin hati bosnya sedang berbunga-bunga usai bertemu dengan mantan terindah kemarin.
"Loe tau aja Bob, karena gue lagi seneng ada bonus buat loe nanti."
"Waw...bonus? mau..mau dong bos ! lalu gitar ini buat apa bos? apa bos ingin konser di kantor seperti dulu?" tanya Boby sambil nyengir.
Kenzi pun menoyor kepala Boby pelan.
"Sembarangan! jangan loe ungkit-ungkit lagi masa itu Bob atau gue tarik lagi bonus loe dan gue potong lagi gaji loe bulan depan ?" ancam Kenzi kemudian.
Kenzi mengingat sewaktu awal-awal masuk kantor. Ia memperkenalkan diri dengan bernyanyi saat acara aniversarry perusahaan saat itu Boby sudah masuk perusahaan sebagai karyawan magang.
"Ehh...eh...jangan atuh bos, Boby kan cuma bercanda.Lalu bagaimana dengan bonusnya bos ?"
"Bonus mah ada gampang, loe tinggal turutin aja perintah gue. Asal loe tahu setiap bonus itu tidak ada yang gratis ya !"
Glek !
Boby terasa susah sekali menelan salivanya sendiri.Kali ini tugas apa yang akan diberikan bos labilnya itu.Apa akan memintanya mengelap semua koleksi sepatu brandednya ? meloundry semua jas-jas mahalnya ? atau membelikan gel rambutnya yang cepat habis itu. Semua itu sudah pernah ia lakoni.
"Sini...gue kasih tau loe !" titah Kenzi tenang.
Boby pun mulai mendekat. Perasaannya sudah enggak enak. Apakah kali ini ia menerima tugas yang super aneh lagi dari bos nya yang labil?
Kenzi pun terlihat berbisik kearah telingan Boby. Dan sekretarisnya itu terlihat memperhatikan dengan seksama. Belum selesai bosnya berbicara mata Boby melotot dan berteriak.
"Whatt ?!"
Kenzi pun menoyor lagi kepala Boby sedikit agak keras.
"Hei ! ini di kantor loe bisa enggak ngomong di pelanin,gue sumpel mulut loe pake sepatu gue mau?" tegur Kenzi dengan nada mengancam.
"Udah, pokoknya gue enggak mau tahu. Loe harus siapin sekarang lalu kita langsung cabut kesana.paham ?!"
__ADS_1
"Pa, paham bos," balas Boby patuh.
Kenzi menaruh gitarnya diatas sofa yang ada diruangannya, lalu ia pun duduk di kursi kebesarannya dan mulai memilah-milah dokumen yang akan ia tanda tangani.
Sementara hari ini ada audit yang dilakukan oleh kakaknya, ia gunakan waktu untuk sejenak bermain. Ia tak ingin ambil pusing masalah kantor, ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang dan santai. Selama perusahaan belum mengalami krisis itu artinya perusahaan masih dalam keadaan stabil.
Ia mulai menyusun rencana sesuatu yang mungkin akan menggemparkan bagi orang lain. Boby yang terlihat makin sibuk. Ia terlihat menelepon sana sini disela dirinya mengerjakan tugas kantor yang menumpuk.
"Kali ini apa yang akan bos labil itu lakukan, masa gue disuruh nyari tukang speaker terus tukang jualan gulali dan kembang gula belum tukang balon. Apa ia mau jualan ke rumah sakit ?" gerutu Boby pelan seraya memandangi pintu ruangan bosnya itu.
Setelah semua permintaan absur bos labilnya terpenuhi, barulah ia melapor ke ruanganya. Saat ia masuk terlihat Kenzi sedang bernyanyi dengan penuh penghayatan.
Bawalah aku ke dalam mimpimu
Aku takkan kecewa kamu
Walau pun itu semua hanyalah
Sebatas mimpi
Jadikan aku
Kekasih hatimu
Aku menginginkan kamu
Sungguh-sungguh merasa ku jatuh cinta
Padamu dirimu...
Boby pun membungkam mulutnya agar tawanya tak meledak saat itu juga. Usai Kenzi bernyanyi dengan segera Boby merubah sikapnya. Meski sesekali ia menengok ke belakang untuk membuang tawanya tanpa suara. Sungguh perutnya terasa sakit akibat menahan tawa.
"Boby !! dari tadi loe disitu ? kenapa enggak ketok pintu dulu !" ucap Kenzi kesal bercampur malu.
Bagaimana tidak? ia bernyanyi sendirian dengan penuh penghayatan seperti orang gila. Dan asistennya yang semprul itu masuk tanpa permisi. Bisa jatuh wibawanya sebagai CEO KBA Beauty Corp.Tapi untung saja itu Boby bukan klien atau petinggi yang lain.
"Maaf bos, tadi gue udah ketok pintu bos tapi bos seperti masih asyik konser solo," balas Boby nyengir.
"Diem loe ! ini tuh latihan."
"Memangnya apa yang akan bos lakuin? Jadi bener bos mau konser di rumah sakit tempat Hana bekerja?"
"Ssstt !! loe jangan keras-keras napa, hari ini ada audit dari kakak gue. Gue males aja pasti lama dan bosenin mending kita kabur aja.Toh kalau ada masalah juga nanti kakak gue yang handle," tutur Kenzi setengah berbisik.
Boby pun tampak geleng-geleng kepala. Bosnya yang satu ini memang gendeng jadi Ceo malah kaburan seperti ini. Tapi bagaimanapun ia sebagai asisten sekaligus sekretaris harus menuruti perintahnya.
"Jadi bagaimana apa sudah beres?" tanya Kenzi memastikan tugas yang ia berikan kepada Boby.
"Beres bos, kita tinggal meluncur kesana," balas Boby dengan senyum yang mengembang.
"Oke..lets Go !!"
__ADS_1
Kenzi pun mulai meninggalkan ruangannya dengan diikuti Boby di belakangnya.Tak lupa gitar kesayangan ia bawa pula.
Ya meski Kenzi sekarang sudah menjadi Ceo tapi bukan berarti semua menjadi tanggung jawab Kenzi sepenuhnya. Masih ada kak Kanza yang mengback-up dan mengontrol pekerjaan Kenzi dari rumah karena ada beberapa yang belum bisa Kenzi kuasai. Kini terlihat mobil Kenzi meninggalkan area kantor menuju rumah sakit tempat Hana bekerja.