
"Loh ini kan____"
"Apa loe mengenalnya Ken ?" tanya Darren heran dengan kesan Kenzi seperti mengenal bos burunonnya itu.
"Tidak terlalu, tapi gue memang pernah bertemu dengannya sekali," ungkap Kenzi jujur.
"G*la ! info sepenting ini loe simpen sendiri ya, wah ! loe parah gue nyampek nyariin itu manusia tengik ke lubang gorong-gorong. Loe malah udah bertemu dia duluan, teman terkut*k loe !" umpat Darren kesal.
"Lah mana gue tau burunon yang sedang loe buru itu seperti apa, baru sekarangkan loe ngasih taunya. Tau itu buronan loe udah gue iket dia," balas Kenzi tak kalah sengit.
"Katakan loe dimana bisa ketemu ini orang ?"
"Dia namanya Lee, kemarin ia datang bersama Luna di acara pernikahan Hana sama Johan. Gue juga enggak tahu hubungan mereka apa entah partner kerja atau sepasang kekasih," ungkap Kenzi memulai cerita.
"Pernikahan Hana dengan Johan ? Johan yang jadi rival loe dulu itu waktu SMA ?"
Lelaki maskulin itu pun mengangguk mantap. Ia tak menyangkal akan pernyataan Darren yang mengatakan kalau Johan adalah rivalnya. Memang kenyataannya begitu.
"Lalu dimana Johan ? Bukankah mereka sudah menikah ? Tapi gue enggak pernah melihat mereka bersama ?"
"Pernikahannya gagal dan loe enggak usah banyak nanya lagi deh, gue lagi panik ini ! Ini bukan waktunya ngedongeng !" sergah Kenzi menghentikan rasa kekepoan Darren.
Darren pun terkekeh.
"Habisnya loe cerita setengah-setengah gue kan jadi penasaran !" balas Darren.
"Udah mending loe pergi aja sana keburu mangsa loe kabur ya !" usir Kenzi galak.
"Oke, gue harus berangkat sekarang. Gue segera kirim anak buah gue buat bantuin loe nyari Hana, gue cabut dulu bye.." ucap Darren mengakhiri.
Kenzi pun mengikuti Darren beranjak pergi dari belakang. Saat ia akan melajukan kemudinya kembali, tiba-tiba benda pintar persegi miliknya bergetar.
Derrtt ...
Derrtt...
"Hallo , ada apa pa ?"
"Kamu segera ke restauran Taewon yang ada di jalan Pattimura Ken, ada info penting disini mengenai Hana, cepat !" ucap suara yang ada di sebrang.
"Kenzi segera kesana pa, tungguin Kenzi."
Panggilan pun di akhiri sepihak oleh papa Kim. Kenzi pun langsung berputar arah dan melajukan kendaraan roda empatnya secepat mungkin agar segera sampai di tempat tersebut.
Saat sudah sampai didepan restauran tersebut, ia mendapati papanya sudah menunggu kedatangannya.
"Dimana Hana pa?" tanya Kenzi agak panik.
"Hana tidak ada di tempat, tapi kamu harus melihat rekaman cctv ini. Anak buah papa yang sudah berhasil mendapatkan rekaman seluruh cctv daerah sini," ucap papa Kim seraya menyerahkan cctv dalam tabletnya.
Saat Kenzi sudah melihat rekaman cctv itu, ia terperanjat bukan main wanitanya dibawa seseorang yang ia kenal.
"Brengs*k ! apa maksudnya lelaki itu menculik Hana ? Ada urusan apa Hana dengannya pula ?" umpat Kenzi begitu mengetahui lelaki bermasker itu telah memasukan Hana ke dalam mobilnya.
Tidak salah lagi. Ia begitu mengenal sorot mata elang itu. Orang yang sama yang sedang Darren dan anak buahnya buru.
"Ada apa Ken ? apa kamu mengenal lelaki itu ?"
"Iya pa Kenzi harus menemui Darren, Kenzi pergi dulu pa terima kasih bantuannya."
Papa Kim pun mengangguk dan ia juga harus segera melaporkan hal ini ke polisi.
Sambil mengemudi, Kenzi meraih benda pintar persegi miliknya lalu menekan tombol hijau pada nomor ponsel sahabatnya itu.
"Hallo Darr, gue minta shareloc lokasi loe segera. Ini penting !"
__ADS_1
"Ngapain loe kesini ? Disini berbahaya. Kita lagi menghadapi penjahat kelas kakap bukan kelas paud !" balas Darren dari sebrang.
"Ini menyangkut Hana, mereka sudah menculik Hana !"
"Hah ! apa hubungan Hana sama pria bermata sipit itu ?"
"Gue enggak tahu, makanya gue juga pengen kesana," balas Kenzi.
"Oke, gue kirim sekarang."
Tut.. tut ..tut !
Lokasi pun sudah di kirimkan oleh Darren, ternyata lelaki maskulin itu mengenali tempat yang Darren kirimkan. Tempat itu memang didaerah terpencil. Lalu dengan cekatan Kenzi menarik persneling dan menambah kecepatannya.
Butuh waktu hampir 1 jam dari pusat kota. Dan akhirnya ia sampai di daerah terpencil itu. Dengan segera ia menghampiri Darren yang sedang mondar-mandir terlihat sehabis menelepon seseorang.
"Bagaimana Darr, orang itu ke tangkap ?" tanya Kenzi yang bisa menangkap wajah gelisah dari sahabatnya itu.
"Brengs*k ! gue kecolongan. Ternyata mereka semua sudah pergi meninggalkan tempat ini. Paviliun itu kosong dan tidak ada petunjuk apapun, lalu bagaimana dengan Hana loe ?" tanya Darren balik.
"Loe harus lihat rekaman ini." Lalu Kenzi menyerahkan tablet miliknya kearah lelaki macho itu.
Mata Darren pun membulat setelah melihat dengan jelas Hana yang di masukan oleh beberapa orang ke dalam mobil.
"Jadi Hana diculik beneran ?"
Pletak !
"Ouw sakit ngap ! loe kira-kira dong kalau mau jitak kepala gue yang berharga ini !"
"Habis loe pikir gue lagi bercanda apa pakai nanya diculik beneran, kalau enggak beneran gue enggak bakal kelimpungan mencarinya !" sungut Kenzi kesal.
Darren pun hanya membalas nyengir sambil masih mengusap-ngusap kepalanya yang terasa panas akibat terkena jitakan temannya itu. Ia pun kembali fokus memperhatikan video rekaman cctv yang belum usai itu.
"Ini kan orang yang gue cari ?! Kenapa ia menculik Hana ?Ada hubungan apa dirinya dengan Hana ?" gumam Darren.
"Berarti kita memburu orang yang sama Darr, gue minta bantuan loe. Kita harus segera menyelamatkan Hana gue," pinta Kenzi.
"Eh, tunggu sebentar loe bilang tadi Lee ini datang ke nikahan Johan sama Luna kan ? Coba loe hubungin cewek uler itu, bisa jadi itu cewek ikut terlibat," usul Darren.
"Cewek uler ?"
"Eh, udah lah itu enggak penting, buruan hubungi itu cewek sebelum kita kehilangan jejak mereka !" titah Darren.
"Berani-berani ya loe merintah gue, bukannya dulu loe suka memuja-muja si Luna sebagai dewi fortuna loe," cibir Kenzi.
"Itu dulu sekarang enggak, gue kenal banget dunia malam itu cewek selama di Los Angeles jadi gue dah ilfeel sama dia."
"Oh.."
Lelaki maskulin itu pun tampak menggeser-geser benda pintarnya lalu mendial nomor wanita model itu.
"S*al nomornya tidak aktif, coba gue telepon orang rumah," gumam Kenzi.
Setelah beberapa saat dicoba ternyata hasilnya sama saja.
"S*al nomor telepon rumahnya juga sudah berganti, kita harus bagaimana ?"
"Kita fikirkan nanti, yang penting saat ini kita harus pergi dari tempat ini," Usul Darren.
"Baiklah, tujuan kita selanjutnya kemana ?"
"Anak buah gue sedang melacak kepergian pria mata sipit dan anak buahnya itu, kemungkinan mereka sudah pergi meninggalkan negara ini," ucap Darren berspekulasi.
"Gue ikut loe berburu Darr, gue harus menemukan Hana dan menyelamatkannya."
__ADS_1
Darren pun terlihat melempar sesuatu kearah Kenzi. Dengan sigap lelaki maskulin itu menangkap benda tersebut.
"Loe butuh senjata untuk berburu bro, dan itu gue pinjemin loe senjata kesayangan gue," ucap lelaki macho dengan bangganya.
"G*la ! ini kan jenis Desert Eagle gimana loe bisa dapetinnya ?" tanya Kenzi takjub.
"Rahasia, sudah gue bilang bisnis bokap gue itu buka kaleng-kaleng. Makanya gue bisa dapetin barang langka ini," tutur Darren pongah.
"Gue percaya, ayo kita mulai berburu."
Desert Eagle merupakan senjata buatan Israel yang sudah mendunia efek mematikannya. Jika lazimnya pistol lain hanya seperti menusuk saja, Desert Eagle mampu membuat obyeknya tertusuk dan meledak. Daya hancurnya memang gila dengan sematan peluru 325 gram-nya.
Di apartemen Clara
Setelah keadaan bayi Raider sudah membaik, Johan dan Clara memutuskan membawa pulang bayi Raider ke apartemen Clara. Beruntung saat itu Johan menemukan seorang pendonor yang bersedia mendonorkan darahnya saat itu juga. Jadi nyawa bayi Raider bisa terselamatkan.
Sedangkan Clara sudah pasrah, temannya Luna tak bisa membantunya karena wanita model tersebut dengan ada red carpet di Perancis.
Terlihat Johan meletakkan sebuah amplop coklat diatas nakas.
"Ini nafkah dari gue yang terakhir, gue harap loe segera mencari ayah dari Raider," kata Johan dingin.
Wanita berambut pirang itu pun terdengar terisak. Ia masih tidak percaya jika bayi yang sudah ia lahirkan bukan darah dagingnya bersama Johan melainkan bersama pria lain.
"Jo, gue mohon. Ini pasti ada kesalahan, jelas-jelas kita melakukannya waktu itu tanpa pengaman. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ?" ucap Clara parau sambil terus terisak.
Wanita berambut pirang itu belum siap jika harus kehilangan lelaki manis yang sangat bertanggung jawab itu.
"Kesalahan kata loe ?! jelas-jelas buktinya sudah ada. Bagaimana bisa loe bilang itu kesalahan? Apa loe meragukan hasil test DNA rumah sakit ?! Bahkan mereka sampai melakukannya 2 kali !" geram Johan akan penyangkalan yang Clara lontarkan.
"Selama ini loe dah bohongi gue dan semua orang, loe udah fitnah gue, loe udah hancurin hidup dan masa depan gue. Masih baik selama ini gue mau merawat kalian ! Seharusnya gue bisa saja ceblosin loe ke sel tahanan dengan pasal penipuan dan pencemaran nama baik Clara, mengingat loe masih punya bayi gue enggak tega lakuinnya."
Emosi Johan sudah tidak terkendali. Jika wanita dihadapannya saat ini seorang pria sudah bisa dipastikan ia akan menghabisinya saat ini juga.
Wanita berambut pirang itu tak berkutik. Ia tak mampu menyangkal lagi. Dengan adanya hasil lab DNA itu sudah cukup menjadikan bukti kuat bahwa Raider Effendy tidak menuruni 1 sel pun darah dari Johan Effendy.
"Setelah ini gue harap loe bisa menjadi ibu yang baik bagi Raider, kasian ia masih kecil butuh kehangatan dari seorang ibu."
"Dan jangan lupa hangatkan susunya terlebih dahulu jika ia tak ingin meny*s* dari loe, periksa suhunya jika ia demam dan jangan menyelimutinya jika panasnya tinggi. Dan gue harap loe segera menemukan ayah kandungnya," imbuh Johan lagi.
Wanita berambut pirang itu bertambah sesegukan, air matanya tumpah mendengar penuturan dari lelaki yang selama ini sudah menjadi ayah sementara bagi bayinya.
"Gue pergi, jaga diri loe baik-baik," pamit Johan datar lalu beranjak pergi dari apartemen milik Clara.
Clara hanya bisa memandang sendu kepergian lelaki manis yang sudah mengisi hari-harinya akhir-akhir ini. Rasanya ia masih tak rela untuk berpisah.
"Terima kasih Jo, dan maafkan atas segala kesalahan gue," gumam Clara pada diri sendiri dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
Saat di jalan, tiba-tiba Johan menerima sebuah panggilan dari seseorang.
"Sona ? tumben ia menelefon gue malam-malam begini ?" gumam Johan lirih.
Lalu ia menggeser tombol hijau pada layar pintarnya untuk menjawab panggilan wanita korea itu.
"Hallo ?"
Hai kak..
Jangan bosan ya sama ceritaku yang tak tentu arah ini.. hehe. 😂😂
Jangan lupa dukungannya juga ya..
Terima kasih..
Saranghae.. 😘
__ADS_1