
Sore harinya sepulang kerja, Kenzi mampir ke rumah Hana dengan membawa setangkai bunga mawar berwarna pink. Entah perasaannya selalu bahagia jika sesuatu itu berhubungan dengan Hana, wanita berwajah oriental yang namanya sudah terpatri permanen di lubuk hatinya yang terdalam.
Luthfia Hana nama yang selalu tak pernah jenuh ia selipkan di setiap doa yang sudah ia panjatkan. Wanita sederhana yang sudah mampu merubah penilaian dalam dirinya. Memberikan warna terindah dalam hari-harinya.
Wanita yang pernah mencintainya dengan tulus tanpa peduli siapa dirinya ? siapa keluarganya ? Bahkan wanita itu begitu sangat polos, sederhana, anggun dan dewasa.
Rasanya ingin sekali wanita unik itu ia culik dan membungkusnya, lalu ia taruh diatas ranjangnya sebagai teman tidur. Tapi mau bagaimana lagi ? wanita itu belum siap menjalin cinta dengannya kembali.
Belum masalah pernikahannya dengan Luna yang sebentar lagi dan berbagai masalah perusahaannya. Isi kepalanya terasa mau pecah. Tapi bertemu dengan Hana adalah moodbooster terbaik baginya. Ia mampu melupakan segala permasalahan yang sudah membelit fikirannya.
Dengan langkah santai ia berjalan menuju pintu rumah Hana. Sambil sesekali bersiul gembira.
Tok !
Tok !
Tok !
"Permisi...Han apa kamu ada dirumah ?"
Tapi tak terdengar suara sahutan dari dalam. Semua tampak hening seperti tidak ada penghuninya.
"Kemana ya Hana ? Kenapa rumahnya tampak sepi sekali ?"
"Permisi Han ? apa kamu ada di dalam ?"
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali menandakan tidak adanya mahkluk hidup yang menghuni rumah itu.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Kenzi pun meraih benda pintar persegi miliknya dari dalam saku jas yang masih ia kenakan. Dan mulai mencari kontak wanita tersebut.
'Calling My Ice Girl '
'Nomer yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan area cobalah untuk beberapa saat lagi '
Tut... tut ... tut !
Terdengar jawaban dari operator di seberang sana.
"Ada apa ini ? Kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Tidak biasanya nomor Hana tidak aktif, dan apa tadi operator bilang di luar jangkuan ?"
Perasaan lelaki maskulin itu semakin tidak menentu setelah memanggil nomor Hana untuk yang terakhir kalinya. Dan masih sama panggilan darinya di jawab oleh operator.
Dengan tergesa-gesa lelaki maskulin itu memasuki mobilnya kembali. Rencananya usai pulang kerja ia akan menjemput Hana dan berangkat bersama menuju mansion utama orang tuanya. Untuk menjelaskan perihal Hana yang menyamar menjadi laki-laki.
"Apa mungkin Hana sudah sampai di mansion papa ya ?" tanyanya dalam hati.
Dengan terus berusaha berfikir positif, lelaki maskulin itu mulai menarik persneling dan menambah kecepatan kemudinya.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke mansion keluarganya. Akhirnya ia sampai, dengan agak terburu-buru ia memarkir kendaraan roda empatnya dengan asal tidak seperti biasanya.
Lalu lelaki maskulin itu berlari menuju pintu utama dan langsung membukanya begitu saja tanpa permisi. Jantungnya semakin berdebar-debar tak menentu, karena tak mendapati sneaker atau flatshoes yang biasanya wanita itu kenakan.
"Mama...Papa...kak Kanza !" teriak Kenzi seraya terus melangkah memasuki mansion keluarganya yang luas.
__ADS_1
"Ada apa Kenzi ? kenapa kamu berteriak-teriak di dalam rumah ? Kamu pikir ini di hutan," sahut Kanza yang baru keluar dari kamar Keshia.
"Kak...Mama sama papa dimana ? apa Hana ada disini kak ? Tadi pagi kita sudah berjanji untuk berangkat kesini untuk menjelaskan tentang masalah kemarin," kata Kenzi panik.
Kak Kanza yang sudah mengetahui tentang masalah Hana yang menyamar sebagai laki-laki dan membuat mamanya hampir pingsan karena terkejut.
"Kakak sedari tadi tidak melihat Hana Ken ? Memangnya kenapa ? Bukannya ia masih di apartemenmu ?" tanya kak Kanza balik.
Lelaki maskulin itu hanya menggeleng cepat.
"Tidak kak, Kenzi sudah mengantarnya pulang tadi pagi. Tapi saat tadi Kenzi kesana, rumahnya tampak kosong tak berpenghuni bahkan nomor selulernya juga tidak aktif," ungkap Kenzi dengan sedikit bergetar.
Lalu datanglah mama Laura dan papa Kim dari arah belakang. Sepertinya mereka sedang bersantai di taman belakang mansion.
"Ada apa Ken ? Kenapa kamu terlihat panik sekali ?" tanya mama Laura.
"Hana ma, apa Hana tadi sudah kesini ?"
"Dokter Hana ? kami rasa dokter Hana belum kesini memangnya kenapa ? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya ?" tanya papa Kim.
"Itu dia pa, tadi pagi Kenzi sudah mengantarnya pulang dan barusan Kenzi kesana tidak ada orang dirumahnya bahkan nomor selulernya pun tidak aktif."
"Bagaimana mungkin ? kamu jangan berakting lagi Kenzi ! Kamu mau bikin mama jantungan lagi terus meninggal ?" seru mama Laura kesal.
"Mama...Kenzi serius mama, kalau Hana tidak ada disini lalu dimana ?"
"Kamu yang tenang Kenzi, mungkin Hana sedang keluar belanja atau membeli makanan," sahut kak Kanza mencoba menenangkan.
Seketika keadaan yang tadinya biasa saja, semua berubah menjadi panik. Terutama mama Laura. Wanita paruh baya itu sudah menganggap Hana sebagai anaknya sendiri, terlepas wanita itu adalah orang yang sudah menyelamatkannya saat insiden penusukan yang ia alami hampir setahun yang lalu.
Ia menyesal sudah bertindak jahat dengan memisahkan hubungan Kenzi dan Hana dulu. Bahkan kini ia diam-diam mendambakan dokter cantik itu untuk menjadi menantunya. Ia ingin melindungi wanita malang itu, dengan kekuasaan keluarganya tentu saja tidak akan ada lagi orang yang akan berani cemooh atau bertindak tidak baik kepada wanita itu.
Sisi hatinya sebagai seorang ibu tersentuh bahkan merasa tercubit. Mengetahui perjalanan hidup dokter Hana sejauh ini tidaklah mudah. Ia benar-benar ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu. Dengan menerima Hana sebagai anggota baru di keluarga Abraham. Tapi niat ini belum sempat ia utarakan kepada sang suami. Ia masih memendamnya dalam angan-angan.
"Ken coba kamu cari ke teman-temannya, barangkali dokter Hana main ke salah satu temannya," ujar mama Laura.
"Ma Hana itu orangnya pendiam. Ia tidak banyak dekat dengan teman sebayanya. Saat ini orang terdekatnya cuma Kenzi."
Semuanya pun tampak merenung menelaah ucapan Kenzi. Jika wanita itu tidak ada di sekitar sini lalu dimana ?
"Coba kamu cari lagi Ken ke semua tempat yang mungkin dokter Hana singgahi, ini belum 24 jam kita tidak bisa melaporkan orang hilang kepada polisi," ucap papa Kim memberikan pendapat.
"Kalau begitu Kenzi harus menemui seorang teman pa, Kenzi akan meminta bantuannya," pamit Kenzi lalu segera melenggang pergi dari mansion milik keluarganya.
Jantung Kenzi berdebar-debar lebih cepat dari sebelumnya. Firasatnya semakin tidak baik.
"Hana kamu dimana ? please jangan bikin aku panik dan mikir yang enggak-enggak. Firasatku berkata kamu sedang dalam bahaya, jika itu benar tunggu aku Han. Aku akan segera menolongmu. Please bertahan lah !" guman Kenzi dalam hati.
Tak terasa buliran air asin keluar dari kedua sudut matanya. Lelaki maskulin itu merasa takut jika Hana jauh meninggalkannya kembali. Lelaki yang selalu tampak sempurna dari luar itu kini terlihat lemah dan payah ketika dihadapkan dengan kehilangan atas orang-orang terdekatnya.
Kenzi menjalankan kemudinya dengan sedikit ugal-ugalan. Ia hampir menyerempet sepeda motor yang tanpa rambu-rambu melintas di depan kemudinya. Fikirannya sedang tidak jernih. Yang ada di fikirannya saat ini hanya ia ingin bertemu dengan Darren. Ia berharap temannya yang slengekan itu bisa membantunya mencari keberadaan Hana si wanita esnya.
Saat ia sampai di gedung apartemen milik Darren, kebetulan sekali lelaki macho yang menyandang teman sekaligus sahabatnya itu sudah berpakaian rapi ala intel seperti ingin bepergian.
__ADS_1
"Mau kemana loe Darr ?" tanya Kenzi tiba-tiba.
"Eh... buset ! gue kira loe setan tiba-tiba nongol gitu aja disini. Soalnya gue enggak denger suara mobil loe ya," sahut Darren terkejut.
"Itu karena loe pakai earphone !" ketus Kenzi.
"Eh...iya lupa gue kan lagi musikan ya," balas Darren dengan cengengesan seraya melepas earphone yang ia kenakan lalu menyimpan pada tempatnya.
"Katakan ada perlu apa loe tiba-tiba kesini ? Orang sibuk seperti loe mana mungkin mendatangi teman bujang seperti gue," tanya Darren sambil membanggakan status dirinya yang masih membujang.
"Gue butuh bantuan loe untuk mencari Hana."
Mendengar namanya saja membuatnya jantung lelaki macho itu bergetar-getar.
"S*al ! padahal orangnya enggak ada denger namanya doang langsung bergetar gini. Bener-bener jantung gue mulai tidak sehat apa gara-gara gue kebanyakan minum ya?" monolognya dalam hati.
"Darr...woi ! malah melamun lagi !" sentak Kenzi membuyarkan lamunan sahabatnya.
"Eh..iya Hana ya ? memangnya ada apa dengannya ? Sepertinya terlihat panik saat ini."
"Gue memang panik ! Hana tidak bisa gue hubungi sedari tadi bahkan chat yang gue kirim sedari siang hanya centang satu. Gue khawatir ia kenapa-kenapa, jadi gue mohon bantuan loe ?"
"Duh...gimana ya ? sebenarnya gue lagi ada kerjaan sekarang. Loe lihat kan gue pengen pergi ?"
"Memang loe pengen pergi kemana ?" tanya Kenzi penasaran.
Lelaki macho itu pun menyugar rambutnya ke belakang meski anak rambutnya tidak sepanjang iklan-iklan yang ada di tivi.
"Loe masih inget cerita gue kemarin, anak buah gue sudah menemukan jejak persembunyian komplotan penipu bokap gue. Gue enggak bisa kehilangan mereka lagi, mereka itu sangat licik dan licin seperti belut. Kali ini gue harus menemukannya dan menangkap mereka hidup-hidup," ungkap Darren dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Lalu bagaimana dengan gue ?" tanya Kenzi tampak memelas.
Lelaki macho itu pun tampak berfikir sejenak.
"Lebih baik gini saja, gue akan kirim anak buah gue buat bantuin loe mencari Hana. Kalau urusan gue sudah beres gue baru bantuin loe gimana ?" tawar Darren.
"Oke boleh, memangnya loe mau pergi kemana ?"
"Ke daerah XXX , daerah situ seperti daerah mati. Hanya beberapa rumah dan paviliun yang ada," sahut Darren seraya memasukan sebuah koper besar miliknya kedalam bagasi mobil.
"Apa loe sudah tahu orangnya ?"
"Sudah dari anak buah gue yang berhasil menyusup diantara mereka, ia mendapatkannya dari anak buah lelaki itu. Lalu mengirimkannya ke gue, ini lihat saja," balas Darren sambil menyerahkan ponsel miliknya.
"Loh ! ini kan___ "
Hai kak para pembaca setiaku..
Terima kasih banyak ya masih mendukung karya author yang receh ini.
Jangan lupa tinggalkan like dan koment kalau suka.
Saranghae semuanya..😘😘
__ADS_1