
Didepan kantor KBA Beauty terdengar suara riuh gaduh dari beberapa karyawan karena kehadiran seorang wanita cantik ditempat kerja mereka.
Beberapa karyawan pria bahkan meminta untuk mengabadikan wanita tersebut pada ponsel mereka.Wanita itu pun tersenyum ramah melayani beberapa karyawan wanita maupun pria yang ingin tanda tangan dan berfoto ria bersamanya.
"Itu beneran **** model brand Louis Vuitton asal Perancis itu ? ya ampun cantik bangett !!" pekik seorang karyawan wanita.
"Loh kok loe bisa tau sih ?" tanya temannya yang lain.
"Gue gitu loh, gue kan mengikuti laman Istagramnya."
"Asal kalian tau ya dia itu juga pernah jadi model Victoria Secret loh !!" seru wanita yang berambut kriting.
"Wow..keren !!! btewe kenapa ia menyambangi kantor kita ya ? apa ia akan jadi model baru produk kita nanti? pasti itu keren sekali !!" sahut wanita yang berkacamata.
"Ssttt !! diem loe pada dia mau lewat ya Tuhan gue merasa seperti secuil upil dan dia seperti sebongkah berlian berkilau !" gumam wanita yang berambut keriting.
"Itu sangat jelas !!" balas teman-temannya bebarengan.
Wanita berambut kriting pun memberengut sesaat dan kemudian menampilkan senyumnya kembali usai melihat wanita cantik yang ada dihadapannya.
Penampilan yang elegan, glamor dengan tubuhnya yang tinggi bak model dan jangan lupakan profesi wanita itu memang seorang model ternama, fur coat berwarna putih dengan satu kancing bagian atas yang menghiasi tubuh rampingnya. Sepatu bot warna hitam selutut membalut kaki jenjangnya. Rambutnya yang hitam panjang sedikit bergelombang ia biarkan jatuh terurai.
Dan kacamata dari merk ternama tak luput ia sematkan untuk menyempurnakan penampilannya hari ini. Bahkan semua mata tampak terhipnotis dengan kecantikan yang ia miliki.
"Maaf mas, ruangan Ceo dimana ya ?" tanyanya kepada resepsionis dengan sopan.
Sedangkan karyawan bagian resepsionis yang ditanya hanya terbengong-bengong ria.Bahkan sang OB yang sedang menuangkan tehnya pun tak sadar teh yang ia tuangkan sudah memenuhi cangkir dihadapannya bahkan sudah tumpah kemana-kemana.
Dan resepsionis wanita yang baru selesai mengangkat teleponnya pun terkejut bukan main oleh tingkah kedua laki-laki didekatnya.
"Kalian ! Oh ..Tuhan !" pekiknya membuyarkan lamunan para pria itu.
"Maafkan teman saya ya nona, maaf apa ada yang bisa kami bantu ?" tanya resepsionis wanita yang bernama Desi.
"Tidak mengapa, saya bisa memaklumi. Oh..iya saya ingin tahu ruangan Ceo disini dimana ya ?"
Sedangkan OB yang sedang menuangkan tehnya tadi kelabakan mencari lap karena teh yang ia tuang membanjiri meja dan lantai untung tidak sampai membasahi dokumen-dokumen penting, dan sang resepsionis pria merasa malu sendiri dengan wajah bod*hnya.
"Maksud anda ruangan bapak Kenzi ?"
"Iya benar."
"Apa anda sudah membuat janji dengan beliau nona ?" tanya Desi kembali.
"Sebenarnya belum, hanya saja saya ini temannya yang baru kembali dari France saya ingin memberinya kejutan," ucap si wanita model beralibi.
Walaupun sebagian memang benar ia ingin membuat kejutan untuk mantan tunangannya itu dengan kehadirannya langsung ke kantor tempat ia bekerja.
"Tunggu sebentar ya nona saya akan menghubungi sekretaris beliau terlebih dahulu."
__ADS_1
"Silahkan...,"ucapnya lembut.
Sang resepsionis pria pun masih terpana menatap wajah cantik dari wanita yang ada dihadapannya. Dan si resepsionis wanita hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan norak temannya itu.
Terlihat sang resepsionis wanita mulai menekan nomer extension yang dituju yang menempel di meja kerjanya dan menelepon seseorang yang sedang berada disaluran ditempat lain.
Wanita yang mengenakan fur coat bak sosialita itu mendudukan tubuh rampingnya pada kursi tunggu tak jauh dari meja resepsionis. Dari sini ia masih bisa mendengar kasak kusuk dari beberapa karyawan yang masih betah memandanginya.
"Ternyata ia mencari ruangan bos ! apa mungkin ia adalah kekasih bos kita ?"
"Ssst ! jngan berisik ! loe bisa kena potong gaji kalau bikin gosip yang enggak-enggak emang mau ?!" tegur teman prianya.
"Hehe..enggak, tapi kalau pun benar mereka pacaran mereka cocok kok. Bos kita kan cakep dan nona itu cantik mereka benar-benar pasangan serasi ! Oh..Tuhan !" pekik wanita yang berponi.
Wanita model itu pun hanya menyunggingkan senyum singkat mendengar obrolan para karyawan itu.Tentu saja Kenzi dan dirinya dulu adalah pasangan yang serasi. Dan orang yang berhak menjadi pasangan Kenzi itu cuma dia tidak untuk orang lain termasuk Hana si wanita cupu dimasa lalunya.
"Semoga saja benar, biar bos kita itu enggak uring-uringan melulu ya !" sahut karyawan pria yang berambut klimis.
"Iya kasian sekali yang jadi sekretaris dan asistennya sekarang untung saja nona Sona dipindahkan ke divisi lain kalau tidak gue tak rela wanita pujaan gue disuruh-suruh bos."
"Ssst !! loe berisik nanti ada yang denger bod*h !"
"Tidak ada bos atau sekretarisnya ini tenang saja."
"Iya padahal kukira Han Sona itu adalah kekasih bos aku dengar mereka juga tinggal serumah," sahut wanita yang berkacamata.
"Ii..itu ada ketua kita harus kabur !!" pekik pria berambut klimis.
Segerombolan karyawan yang tadinya sedang asyik bergosip ria seketika membubarkan diri setelah melihat ketua divisi mereka menatap kearah mereka dengan pandangan horor seraya berkacak pinggang dari arah yang berseberangan.
Lalu sang ketua divisi tersebut berjalan pelan kearah si wanita model.
"Permisi nona apa ada yang bisa saya bantu ? sepertinya nona sedang menunggu seseorang ?" sapa si ketua divisi bernama Heru.
Ia terlihat menyugar anak rambutnya yang sedikit panjang kebelakang sambil menantikan jawaban dari bidadari dihadapannya. Ciri khas rambutnya yang panjang sampai ke telinga dan gayanya yang sering menyugar rambut kebelakang membuatnya mendapat julukan 'Si iklan shampo' seperti yang ada diiklan-iklan shampo di televisi.
Si wanita model pun mengalihkan atensinya dari ponsel yang sedari tadi ia mainkan dan tersenyum ramah ke arah si empunya suara.
"Benar, saya ingin bertemu dengan Kenzi maksud saya pak Kenzi."
Ketua divisi Heru pun terpana dengan senyuman manis si wanita model tersebut.
"Oh...Tuhan, apakah ia jodoh yang kau kirimkan untuk mendampingiku? cantik sekali, " batinnya kagum.
Lalu dalam sekejap ia merubah sikapnya yang hampir terlihat bod*h dihadapan si wanita model. Tak bisa ia pungkiri sebagai lelaki normal ia tertarik dengan wanita yang menyerupai bak bidadari tersesat itu.
Diusianya yang sudah menginjak 45 tahun ia masih betah menyandang gelar lajang. Bahkan anak buahnya sendiri menjulukinya 'si bujang lapuk'. Sungguh ngenes bukan ?
Ia sudah lelah dengan berbagai teror yang menanyakan kepada dirinya 'kapan nikah?'..'kapan nikah?' Mungkin ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya untuk merubah status lajang yang selama ini ia sandang, pikirnya.
__ADS_1
"Kebetulan sekali saya juga ingin keruangan bapak Kenzi, mungkin bisa saya antar ?" tawarnya dengan senyum termanis sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Oh..God! kenapa gue harus ketemu dengan bandot tua seperti dia sih. Menggelikan !!" ungkap si wanita model dalam hati dengan tatapan sedikit memandang jij*k kearah lelaki lajang yang ada dihadapannya itu.
Ia sudah bisa menebak jika lelaki yang ada dihadapannya saat ini pasti masih melajang.Instingnya yang kuat selalu mengenali seperti apa lawan bicaranya.
"Baiklah, maaf merepotkan anda."
"Tentu saja tidak nona, mari saya antar," ucapnya seraya membungkuk badan memperlakukan si wanita model bak tuan putri.
Mereka pun berjalan beriringan menuju lift khusus CEO dan petinggi lainnya.Tidak mungkin ia membawa wanita cantik yang ada disampingnya saat ini menaiki lift khusus karyawan yang selalu penuh dan berdesakan.
Lalu ia memencet angka 15 yang berarti lantai dimana ruangan CEO berada. Masih dengan senyum yang mengembang ia beranikan diri membuka suara.
"Emm...nona, emm, begini apa boleh saya meminta nomer anda ?" tanyanya malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa lagi yang diinginkan bandot tua ini ! menyebalkan."
Dan si wanita model tersenyum devil. Ia mempunyai sebuah ide.Rasanya ia ingin memberi pelajaran kepada bandot tua tersebut karena berani menggoda wanita elit seperti dirinya.
Apa kata dunia jika tahu dirinya digoda oleh laki-laki yang tidak sebanding dengannya itu sungguh tidak elit. Ia hanya berminat dengan selevel Ceo dan konglomerat lainnya.
Apalagi laki-laki disampingnya kini hanyalah karyawan biasa. Baginya lelaki itu hanya kuman yang harus dibasmi.
"Baiklah catat saja."
Lalu dengan tergesa-gesa lelaki itu mengambil ponsel dalam saku jasnya dan mulai mengetik apa yang sudah wanita model itu ucapkan. Ia seperti menemukan harta karun. Senyum terus mengembang menghiasi wajahnya yang sedikit keriput karena usia.
"Nah..sudah sampai, terima kasih nona. Jika memerlukan sesuatu bisa panggil saya. Nama saya Heru," ucapnya memperkenalkan diri.
"Loh...bapak tidak ikut kedalam ?" tanya Luna basa-basi.
"Ah ternyata saya melupakan sesuatu, saya harus kembali lagi," bohongnya karena sebenarnya ia tidak ada keperluan apa-apa dengan bos mudanya itu.
"Oh, kalau begitu terima kasih ya pak."
"Sama-sama nona dengan senang hati," balas ketua divisi menampilkan deretan giginya yang mulai menguning efek merokok dan minum kopi.
Si wanita model pun hanya meringis dibuatnya, lalu ia pun melangkahkan kaki keluar lift dengan agak tergesa-gesa. Sungguh ia ingin cepat-cepat keluar dari lift yang berisikan ia dan lelaki yang mengantarnya tadi.
Baginya lelaki itu tak beda jauh dengan lelaki hidung belang yang sering ia temui. Mereka hanya menatap kagum akan kecantikan dan bentuk tubuhnya.
Bahkan saat didalam lift tadi lelaki yang ia sebut 'bandot tua' itu terang-terangan melirik kearah dad*nya yang sedikit terbuka. Karna didalam fur coat nya yang ia kenakan hanya memakai kamisol yang tak mampu menyembunyikan ukuran aset berharganya itu.
Kini ia berdiri di sebuah ruangan yang bertuliskan 'CEO Room' yang menempel pada pintu yang terbuat dari kayu jati tersebut.
Lalu didorongnya pintu tersebut, dan semua yang ada dalam ruangan itu pun menatapnya dengan pandangan antara bertanya 'siapa?' dan terkejut secara bersamaan termasuk lelaki yang ia ingin temui.
"Kenzi !"
__ADS_1