My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
EXPART5 (NYIDAM)


__ADS_3

Setelah kemarin membuat heboh seisi mansion, kini kak Kanza bersyukur bisa melahirkan anaknya dengan lancar dan sehat. Anak kedua kak Kanza kali ini berjenis kelamin laki-laki.


Tak berselang lama Kenzi dan Hana pun datang membawa sebuket bunga dan sekotak kue untuk kak Kanza.


"Terima kasih Ken," ucap kak Kelvin yang menerima buket bunga beserta bingkisan kue tersebut.


"Mamang...mamang Kenzi akhirnya datang juga, lihat Keisha sekarang punya adik tampan," sela keponakannya Keisha yang kini sudah berumur 6 tahun.


"Keisha cantik, tolong dong panggil paman uncle Kenzi saja ya?"


"Nggak mau! sekali mamang ya tetap mamang! titik!" keukeh Keisha.


"Kak kenapa sih bocil satu ini susah banget di bilangin, kan nggak keren banget masa Kenzi di panggil mamang sih?" sungut Kenzi kesal kearah kakaknya Kanza.


"Haha...mamang itu sama saja dengan paman Kenz, Keisha juga biasa manggil adik mas Kelvin dengan sebutan mamang," balas Kanza sambil terkekeh.


"Huh..panggilan yang tidak keren," gerutu Kenzi pelan.


Lalu Kenzi beranjak menujuk box bayi yang ada disamping kakaknya.


"Hai..tampan, nanti kalau kamu sudah besar panggil paman Uncle handsome ya. Jangan seperti kakakmu Keisha," ucap Kenzi bermonolog dengan keponakan bayinya.


Sedangkan Kanza dan Hana hanya terkikik geli melihat interaksi Kenzi dengan keponakan bayinya.


Tak berlangsung lama datanglah mama Laura beserta papa Kim membawa sebuah bingkisan besar.


"Hai...anak-anak mama dan cucu-cucu oma, waktunya makan siang nih!" serunya seraya membuka bingkisan yang ia bawa.


"Mama..mama bawa apa?" tanya Kenzi sambil mengajak Hana mendekat.


"Ini mama bawa sup bayam merah dan sup iga kesukaanmu sama Kanza Ken, dan untuk Hana kamu harus makan banyak ya."


Setelah sempat heboh karena anaknya Kanza melahirkan, kini kebahagian muncul kembali mendengar mantunya juga tengah berbadan dua.


Wanita paruh baya itu jadi lebih protektif kepada mantunya itu, sampai-sampai ia sendiri rela bersibaku dengan alat dapur untuk memasakkan Kanza beserta mantunya Hana.


Hmmp! hmmp!


Huek! Huek !


"Ken! kamu kenapa Ken?"


"Kenzi pusing ma sama mual lihat masakan mama!"


"Apa? memang ada apa dengan masakan mama? Perasaan masakan mama biasa saja kok."


Huek! huek !


"Singkirkan ma! singkirkan! sup bayam merah itu terlihat menjijikan untuk Kenzi!" rengek Kenzi seperti anak kecil.


"Astaga Kenzi! ini kan makanan bagus untuk kesehatan kalian. Kamu jaga Kenzi ya Han, mama akan panggilkan dokter kesini."


"Baik ma."


Tak berselang lama mama Laura pun datang bersama seorang dokter yang umurnya sekitar 40an. Lalu dengan sikap dokter itu memeriksa denyut nadi serta jantung dan area perut Kenzi dengan stetoskop.


"Sepertinya semua baik-baik saja, apa tuan ini mempunyai riwayat alergi dan sebagainya?" tanya dokter yang bername tag Irwan.


"Tidak dok," jawab mama Laura tegas.


Memang sedari kecil Kenzi tak memiliki alergi apapun.


Huek ! Huek !


"Parfummu bikin aku mual dok, tolong jangan dekat-dekat !"


"Kenzi!" tegur Hana. Sedangkan mama Laura merasa malu akan ucapan anaknya yang tidak sopan itu.


"Aku memang mual love, perutku ini rasanya seperti di kocok terus. Hidungku sensitif sekali," keluh Kenzi dengan muka memerah menahan gejolak dalam dirinya.


"Maaf, apakah nyonya ini istrinya tuan ini?" sela sang dokter.


"Iya dok, benar saya istrinya Kenzi."


"Maaf, jika pertanyaan saya sedikit lancang. Apakah nyonya saat ini tengah mengandung?"


"Iya dok benar sekali, bagaimana dokter bisa tahu?" tanya mama Laura ikut penasaran.


"Berarti benar dugaan saya, tuan ini bukannya sakit melainkan terkena sindrom couvade. Kondisi ini dianggap sebagai bentuk kehamilan simpatik ketika suami mengalami gejala kehamilan seperti yang dirasakan istri tanpa benar-benar hamil," jelas dokter Irwan.


"Bagaimana dokter bisa tahu ?" tanya Hana karena dokter yang mama Laura panggil adalah dokter umum bukan dokter kandungan.

__ADS_1


Pantas saja ia tak bisa mendeteksi penyakit Kenzi, ternyata ini bukan bidangnya. Wanita itu fikir Kenzi hanya merasakan mual akibat telat makan seperti yang dokter katakan waktu di rumah sakit di pulau Jeju.


"Setahun yang lalu saya juga merasakan seperti itu ketika istri saya tengah mengandung putra kami yang kedua."


"Jadi bagaimana ini dok? apakah keadaan ini akan sembuh?"


"Tuan Kenzi yang sabar ya, kemungkinan tuan akan terus mengalami kondisi ini sampai trisemester awal hingga trisemester kedua pada kehamilan nyonya."


"Jadi sampai berapa lama saya akan begini terus dok?" tanya Kenzi.


"Kemungkinan sampai 3-5 bulan tuan, tuan yang sabar saja ya. Nanti juga hilang dengan sendirinya kok. Ya sudah saya berikan resep untuk mengurangi mualnya saja."


"What ??!!" pekik Kenzi.


"Saya permisi dulu." ucap sang dokter sambil berlalu.


"Terima kasih dok."


"Mama! rasanya nggak enak!" keluh Kenzi sambil merengek seperti anak kecil.


"Huss! ini juga demi buah hatimu yang ada di rahim Hana Ken. Kamu harus sabar dan jangan banyak mengeluh."


"Tapi ini benar-benar nggak enak ma, Kenzi jadi benci semua masakan kesukaan Kenzi..huhu."


Astaga! Kenzi terlihat lucu saat manja seperti itu.


"Kamu yang sabar Ken meski papa dan kak Kelvin tak pernah mengalaminya, setidaknya kamu bisa merasakan kesulitan apa yang wanita hamil rasakan," ucap papa Kim memberi semangat.


"Ini lebih menyiksa daripada harus memakan baby octopus mentah pah," gerutu Kenzi saat mengingat makanan kesukaannya. Namun ia lebih suka di masak daripada memakannya hidup-hidup.


Hmmp!


Hmmp!


Huek !


Huek !


Kenzi pun memuntahkan kembali isi perutnya ke wastafel yang berada di dekatnya.


"Kenzi, coba minum sup bayam ini. Ini bisa bikin.perutmu hangat nak," bujuk mama Laura.


"Nggak ma, yang ada Kenzi malah..hmmp...hmmp"


"Aku pengen semur jengkol sama sambal petei love," balas Kenzi lemas.


Tiba-tiba saja ia memikirkan masakan yang ada di warteg-warteg itu. Masakan yang seumur hidup Kenzi belum pernah ia makan.


"Apa ?!!"


💕


Keadaan kehamilan simpatik Kenzi terus berlanjut. Kini kehamilan Hana sudah menginjak 5 bulan. Namun belum ada tanda-tanda akan berhenti morning sickness yang Kenzi alami.


Sedangkan Hana, wanita yang dulunya bertubuh ramping itu kini berwajah chubby. Tubuhnya semakin berisi seiring berjalannya usia kandungannya. Karena ia sama sekali tak mengalami mual atau lemas. Justru yang ia rasakan malah sebaliknya.


Pagi hari Kenzi dan Hana sedang duduk di balkon kamarnya. Kebetulan di Indonesia sedang musim mangga, sedangkan di taman belakang rumah Kenzi di penuhi pohon buah-buahan terutama mangga.


"Ken! lihat buah di sana sudah masak, tolong petikin dong. Ini demi anak kita please," pinta Hana sedikit memohon.


"Tapi love, aku tidak bisa memanjat jadi bagaimana dong? aku panggilin mang Budi saja ya buat ngambilin mangganya?" tawar Kenzi.


"Big no Ken ! anak kita pengennya kamu yang manjat langsung, kamu mau nanti anak kita jadi ileran?" pinta Hana dengan manja.


Semenjak hamil sikap Hana begitu manja ke suaminya mungkin ini karena faktor kehamilannya.


"Nggak atuh love, ya sudah sebentar ya. Aku panggilin asisten tukang panjat dulu," kata Kenzi menenangkan istrinya.


"Tukang panjat?" tanya Hana heran.


Sedangkan Kenzi hanya menanggapi dengan cengiran. Jemarinya tampak lihai mengutak atik ponsel pintar miliknya dan langsung melakukan panggilan kepada seseorang.


"Hallo ! Darr..loe kesini cepat, gue ada perlu sama loe buruan!" pinta Kenzi ke Darren.


Tut !


"Tenang saja love sebentar lagi asisten tukang panjat datang."


Tak berlangsung lama Darren pun datang dengan raut wajah kusutnya.


"Kenapa lagi anak mami?!" sewot Darren yang baru datang.

__ADS_1


"Cckk.. gue mau loe pinjemin pundak loe buat naik ke atas pohon mangga itu," cengir Kenzi.


"Cih! kenapa harus gue, mending minta tolong sopir apa tukang kebun loe aja. Ogah gue!" tolak Darren.


Ini pembalasan gue karena loe udah recokin bulan madu gue kemarin.hehe


"Ayolah, ini urgen demi anak bini gue. Loe mau anak gue ileran kayak loe!"


"Dih! biarin aja kali. Itu artinya itu anak gue bukan loe!" ucap Darren asal.


Pletak !


"Loe kalau ngomong saring dulu napa! Hana kan gituannya cuma sama gue! Gimana kalau orang lain denger bisa salah paham."


"Hehe, sorry."


"Yaudah buruan!"


Darren pun mulai menunduk, lalu Kenzi mulai menaiki pundak Darren.


"Darr, ini aman kan gue injek?"


"Aman! gue sudah di nyatakan bebas dari racun s*alan itu. Yaudah buruan lompat ke pohon mangganya. Cepat!"


"Tapi gue bingung lompatnya gimana? tidak ada ranting yang bisa gue injek!"


"Udah nemplok aja ke pohonnya napa, astaga!" pekik Darren kesal.


Tiba-tiba ada sebuah suara yang sangat terdengar sama dan sangat halus.


Brutt!


Lalu Darren mencium sesuatu yang sangat menusuk hidungnya.


"Ken! bau apa ini? astaga gue pengen muntah. Kayak bau bangkai, loe nyium nggak?"


"Nggak kok," tentu saja Kenzi yang berada diatas tak mencium apapun.


"Baunya dari atas! s*alan jangan bilang loe buang gas diatas gue!" teriak Darren.


"Hehe..iya," balas Kenzi disertai nyengir.


"G*la! buruan turun, perut gue mual rasanya!" ronta Darren.


Huek!


Huek!


Setelah itu Darren muntah tak terkendali. Ia baru mengetahui fakta bahwa sahabatannya itu baru saja makan masakan jengkol dan petei yang terkenal makanan wangi seantero jagad bumi.


Melihat Darren muntah, Kenzi pun ikutan muntah. Jadilah kedua sahabat itu muntah berjamaah. Hana hanya geleng-geleng kepala memandangi kedua laki-laki yang selalu bertingkah kekanakan jika sudah bertemu itu.


💕


Minggu bertambah minggu dan bulan pun juga ikut bertambah. Kini usia kandungan Hana sudah memasuki 39 week. Itu artinya kelahiran bayi Kenzi dan Hana sudah semakin dekat.


Pagi hari Hana ingin menuju ke suatu tempat. Karena sudah sangat lama ia tak pernah mengunjungi tempat tersebut. Ia sangat merindukan seseorang yang pernah singgah dihatinya.


Wanita yang tengah hamil tua itu meminta sahabat suaminya untuk mengantarnya. Bagaimana pun mereka pernah berteman, jadi antara Hana dan Darren sudah seperti sahabat pula.


"Johan, maaf ya sudah lama aku dan Kenzi tak pernah menjengukmu."


"Kau tahu? aku tak menyangka akhirnya bisa menikah dengan Kenzi. Apalagi sekarang aku sudah mengandung buah hati kami. Rasanya semua ini seperti mimpi Jo," lirih Hana disertai isak tangis.


Darren pun mengusap bahu wanita itu berusaha untuk menenangkan.


"Kamu tidak perlu khawatir disana, aku sudah bahagia disini Jo. Karena sebentar lagi aku akan melahirkan anak pertama kami. Lain waktu aku akan mengunjungimu bersama Kenzi dan anak kami ya."


"Sudah siang Han, lebih baik kita pulang. Gue bakal di jadiin perkedel sama suami loe jika bininya nanti kenapa-kenapa."


Hana hanya tersenyum mendengar ucapan sahabat suaminya itu. Semenjak hamil Kenzi memang lebih posesif. Lelaki maskulin itu hanya mengijinkan istrinya keluar rumah jika Darren yang mengantar. Seperti sekarang disaat ia sedang sibuk dengan pekerjaan yang terbengkalai beberapa bulan lalu akibat sindrom couvade yang ia alami.


"Yasudah, kita pulang sekarang." ajak Hana mengakhiri.


Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Hana merasakan kontraksi yang sangat menekan pada area perut bagian bawah.


"Han, loe kenapa? Jangan bilang loe mau lahiran sekarang!" kata Darren yang mulai panik.


"Iya, tolong anterin aku Darr..anter aku ke rumah sakit sekarang!" balas Hana terbata.


Wanita itu berusaha mengatur pernafasan dan mulai beradaptasi dengan rasa sakit yang kini datang beraturan.

__ADS_1


Darren yang diberi mandat seperti itu mulai panik. Dengan cekatan ia mulai membopong tubuh Hana yang tak ramping lagi itu. Memasukannya ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Lalu Darren membawa istri sahabatnya itu dengan tangan gemetar. Ia berusaha menghubungi Kenzi yang kini tengah melakukan rapat komite Dewan petinggi perusahaan.


__ADS_2