My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Mencari Pelampiasan


__ADS_3

Johan memukul stang kemudinya dengan keras. Ia tak percaya jika mereka melakukannya didepan matanya langsung meski mereka saat ini tak menyadari akan keberadaannya.


Lalu Johan pun memutar kemudinya berlawanan arah dan melajukan mobilnya dengan cepat. Ia butuh sesuatu yang bisa mendinginkan suasana hatinya yang panas dan nyeri yang begitu dalam di ulu hatinya.


Kini tibalah ia disebuah club malam. Saat ia masuk terdengar bunyi musik yang menghentak-hentak keras. Dan terlihat beberapa penari sexy meliuk-liukan badannya dengan indah.


Ia ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dihampirinya mejabar yang dekat dengannya. Dan terlihat seorang bartender menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan ?"


"Berikan gue segelas minuman...."


"Minuman disini banyak tuan dari yang berakohol rendah sampai yang memabukan pun juga ada,bjadi mau pesan yang mana?"


Johan tampak berfikir sebentar, ia mencoba mengingat-ingat sebuah nama minuman.


"Berikan aku segelas champagne ."


"Baik tunggu sebentar."


Sela beberapa menit bartender tersebut membawa minuman sejenis 'wine' dan menuangkannya dalam gelas.


"Ini pesanannya tuan, selamat menikmati."


Johan pun membalasnya dengan anggukan. Sedikit agak ragu ia menimang-nimang sebentar. Apakah ia yakin ingin meminumnya atau tidak ? Akan tetapi mengingat barusan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya yakin bahwa ia harus meminum minuman dalam gelas tersebut.


Minuman asal Perancis tersebut masih berbuih dengan perlahan ia menikmati minuman yang biasa hanya ia lihat saat diacara pertemuan-pertemuan yang ia datangi. Ini baru pertama ia mencicipinya.


Rasa toasty dan buttery yang khas dengan perisa buah sitrus yang sedikit agak hangat memenuhi kerongkongannya.


"Ternyata rasanya tidak buruk juga," batinnya.


Lalu ia memanggil bartender tersebut untuk mengisi gelasnya yang sudah kosong kembali.


"Berikan aku segelas lagi,"pinta Johan.


Sepertinya ia meminum sedikit tidak apa-apa. Lagian minuman ini sepertinya tidak memabukan kecuali diminum dalam kadar yang berlebihan.


****


Kenzi pun melepas pagutannya karena melihat Hana seperti kekurangan asupan oksigen. Mereka pun saling berebut oksigen satu sama lain. Dan kemudian wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Kamu kenapa Han ?"


"Diam kau !" jawab Hana ketus.


"Hei..kenapa ?"


"Aku malu..," balas Hana lirih.


Kenzi pun tampak menahan tawanya yang hampir terlepas. Kenapa wanita berwajah oriental itu terlihat 'cute' seperti anak gadis yang baru jatuh cinta.


Dengan masih menutupi separuh wajahnya,Hana pun memukul bahu Kenzi dengan keras.


"Arrghh !" Kenzi merintih menahan rasa panas akibat pukulan wanita disampingnya itu.


"Ini bukan yang pertama untuk kita, jadi kenapa kamu malu ? asal kamu tahu rasanya masih sama seperti dulu manis."


Kini Hana memukul kembali bahu Kenzi lebih keras.


"Arrghh !! kenapa sekarang pukulanmu sakit sekali," protesnya seraya mengusap-usap bekas pukulan Hana yang terasa panas.


"Your's crazy Ken !"

__ADS_1


"Tapi kamu juga menikmatinya kan ?"goda Kenzi lagi.


"Hentikan ! atau aku keluar dari mobilmu ini !" ancam Hana


"Oke...oke, tapi buka saja tanganmu kenapa kamu menutupinya begitu ? dimobil ini hanya ada kita berdua kok."


"Justru itu bodoh ! aku malu jika harus mengakui perasaanku sendiri sedangkan tubuhku tak bisa menolak akan sentuhanmu."


Perasaan sebal kepada lelaki itu kembali muncul.Dengan perlahan Hana mulai menurunkan kedua tangannya.Tampak semburat merah merona menghiasi wajah ayunya.


"Gadis es ku sekarang menjelma menjadi wanita anggun. Semakin dewasa kamu semakin cantik, aku selalu menyukai wajahmu yang merona karena malu seperti ini."


Kenzi masih memperhatikan wajah ayu Hana yang tertunduk malu.Tiba-tiba salah satu tangan Hana menutupi penglihatannya.


"Stop it Ken ! aku turun nih," ancam Hana kembali.


"Okay..okay, you winn ! Apa kamu sudah makan?"


Hana tampak menggelengkan kepalanya pelan.


"Baiklah, kali ini aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf atas kelancanganku tadi, bagaimana ?"


"Whatever !"


Kenzi pun mulai melajukan mobilnya kembali menuju sebuah restauran Korea tempat favorit mereka dulu.Kali ini ia akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengingatkan wanita disampingnya ini.


Bahwa meski ia pernah amnesia akan tetapi ia tak pernah melupakan kenangan-kenangan manis mereka dulu.


"Ken, aku minta kamu jaga batasanmu, kamu tahu sendirikan sekarang aku sudah bertunangan. Aku tak ingin menyakiti hati yang lain."


Dengan berat hati ia mengiyakan permintaan mantan terindahnya itu.


"Baiklah, aku janji tak akan mengulanginya lagi."


"Kecuali jika kamu menginginkannya kembali."


Hana pun memukul pergelangan tangan Kenzi dengan reflek.


"Itu tidak mungkin !"


"Hei ! hati-hati aku sedang menyetir Hana."


"Akh...maafkan aku."


Mobil Kenzi pun melaju membelah dikegelapan malam ibukota. Hubungan mereka yang awalnya canggung kini berubah sedikit mencair. Kenzi menyadari posisinya sekarang.


Ia tak bisa memaksakan wanita itu untuk kembali kepadanya. Seperti yang ia janjikan kepada wanita itu tempo hari, bahwa ia ingin mendampingi wanita itu sebagai sahabat sampai ia menemukan lelaki yang tepat.


"Tapi jika cecunguk itu sampai berani menyakiti hati Hana kembali, jangan salahkan kalau gue akan maju untuk merebut Hana dari loe Johan, lihat saja nanti !" kecamnya dalam hati sambil terus menyetir.


****


Di Club


Akibat sakit hati yang ia rasakan saat ini, Johan tak menyadari bahwa ia sudah terlalu mabuk karena banyak minum.


Terdengar segerombolan wanita yang baru datang.Hingga salah satunya berhenti karena merasa melihat orang yang sangat ia kenal.


"Kalian duluan saja ya, nanti gue nyusul !" teriaknya kearah teman-temannya yang berjalan lebih dulu di sela-sela musik yang menggema keras.


Dengan hati-hati ia berjalan mendekati orang yang sudah terkapar tak sadarkan diri dimejanya.


Diangkatnya wajah lelaki itu dengan hati-hati.

__ADS_1


"Johan !!" pekiknya tertahan.


Wanita itu sangat mengenal siapa Johan. Ia bingung kenapa lelaki ini bisa ada ditempat seperti ini. Karena ia tahu lelaki itu bukanlah pecinta club seperti dirinya.Ia tak pernah melihat lelaki itu merasa putus asa seperti ini sebelumnya.


"Apa loe mengenalnya Clara ?" tanya seorang bartender yang melayani Johan tadi.


"Tentu saja ia adalah teman sekolah gue !"


"Dan juga mantan terindahku." sambung Clara dalam hati.


Ya wanita itu adalah Clara. Clara adalah teman Luna.Mereka dulu sempat berpacaran saat awal-awal mereka duduk di bangku sekolah menengah. Ia tak mengerti kenapa seorang Johan yang ia kenal alim bisa datang ke tempat seperti ini.


"Apa yang sudah loe lalui Jo sampai-sampai loe harus minum seperti ini, gue tahu loe bukan peminum seperti yang lain,"gumamnya Clara lirih.


"Untung loe ada disini Clara, lelaki ini sudah setengah jam yang lalu terkapar disini sendirian."


"Akh...kalau begitu tolong bantu gue Rik bawa ia ke mobil gue,gue akan mengantarnya pulang." pintanya kepada bartender yang bernama Erik itu.


"Tentu saja, tapi tunggu sebentar gue selesain dulu kerjaan gue masih ada 5 pesanan lagi."


Clara pun mengangguk mengiyakan.Untung saja ia melihatnya kalau tidak bagaimana nasib lelaki ini.Karena disini banyak para wanita-wanita hidung belang yang membutuhkan belaian laki-laki apalagi laki-laki itu setampan dan semanis Johan.


"Sudah selesai, ayo gue bantu !"


Clara dan Erik pun memapah Johan disisi kanan kirinya. Lelaki itu tampak sedikit sadar dan mulai meracau tak jelas.


"Hei ! kalian mau bawa gue kemana ?! kalau kalian mau ambil saja uang gue!gue tak peduli !" racau Johan dalam mabuknya.


Setelah selesai memasangkan seatbelt pada Johan,Clara pun mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Thank ya Rik ! gue enggak tahu kalau gak ada loe gimana."


"Sama-sama Clara, kalau gitu gue balik kerja lagi."


Clara pun hanya mengancungkan jempolnya. Mobil merah itu melaju meninggalkan area parkir club yang terlihat semakin ramai karena pengunjung lebih suka menghabiskan malam mereka saat orang-orang sedang tertidur.


Saat ditengah jalan ia bingung harus mengantar Johan kemana karena ia memang tak mengetahui alamat rumah baru lelaki itu.


"Jo...jo..katakan dimana alamat rumahmu ?"


"Eng...ngapain loe mau kerumah gue, rumah itu buat calon istri gue ! tapi sekarang ia malah pergi bersama mantan kekasihnya," racau Johan disela-sela mabuknya.


Kini Clara mengetahui kenapa lelaki ini bisa seperti ini.Ternyata ia diselingkuhi oleh calon istrinya. Apa calon istri ?! pekik Clara dalam hati.


Sayang sekali kini lelaki itu sudah memiliki calon istri.Kira-kira wanita mana yang telah beruntung mendapatkan cinta dan hati lelaki ini, tanyanya dalam hati.


Rasanya percuma menanyai orang mabuk seperti tadi lalu ia putuskan untuk membawanya pulang ke apartemennya saja. Dengan bantuan penghuni lain yang kebetulan melihatnya, akhirnya ia tiba didalam apartemennya.


Ia baringkan Johan diatas ranjangnya. Dan mulai melepas sepatu lelaki itu dengan hati-hati. Lalu saat ia akan melepaskan jas lelaki itu tiba-tiba Johan menariknya kedalam pelukan lelaki itu.


"Kamu mau kemana ? setelah kau berc*uman dengannya kamu biarkan aku patah hati seperti ini.Kamu tahu Hana betapa aku sangat mencintaimu,"


"Hana ?"gumam Clara lirih.


Apa Hana yang Johan maksud itu Hana yang sama dulu juga menjadi saingannya disekolah. Apakah wanita itu calon istri Johan ? Saat ia masih sibuk dengan isi fikirannya tiba-tiba saja Johan meraup bibirnya kasar.


Saat c*uman kasar Johan terlepas Clara mencoba menyadarkan lelaki itu kembali. Bagaimana pun ia masih punya hati untuk merusak hubungan orang lain karena ia tak ingin jadi orang ketiga.


"Jo..sadar Jo ! Ini gue Clara !" ucap Clara sambil menepuk-nepuk pipi Johan sedikit keras agar lelaki itu sadar.


Tapi sepertinya percuma. Lelaki itu sudah dibawah kendali alkohol. Ia kembali menc*um bibirnya dengan rakus dan mulai merobek baju Clara yang memang sudah setengah terbuka dan bahannya yang terbuat dari brukat membuat Johan dengan mudah melucutinya.


Clara tak bisa menghindar ia tak bisa lepas dari cengkraman lelaki itu. Akhirnya ia mengikuti saja apa yang lelaki itu mau. Ini bukanlah hal yang pertama baginya jadi tidaklah sulit. Karena dalam hatinya terdalam juga menginginkan sentuhan lelaki ini.

__ADS_1


__ADS_2