
Diruang tunggu terlihat Hana duduk dengan gelisah.Sesekali posisinya berubah-ubah kadang duduk kadang berdiri, kadang juga jongkok dan tak ketinggalan menggigit ujung kuku-kukunya.
Itu kebiasaan Hana saat dalam keadaan panik. Johan yang baru masuk dari arah pintu masuk pun berjalan setengah berlari sambil menenteng 2 botol minuman dingin yang tadi dia beli di cafetaria rumah sakit.
"Minum ini Hana..sedari tadi kamu kan belum minum ," tanpa sadar Johan sudah merubah aksen bicaranya.
Terbiasa berbicara dengan Hana membuatnya tanpa sadar mengikuti cara bicara gadis itu.
"Terima kasih Johan,vmaaf aku merepotkanmu lagi",balas Hana tanpa semangat.
"Sama-sama Han, aku gak merasa kerepotan kok.Kamu yang sabar aja ya ibumu pasti baik-baik saja," ucao Johan menenangkan Hana yang terlihat panik.
"Ibu sebelumnya tidak seperti ini Jo, apa ibu selama ini menyimpan sakitnya diam-diam? aku yang setiap hari disampingnya aja tidak tahu apa-apa. Aku sebagai anak tidak berguna. Aku sudah kehilangan ayah dan kakaku, aku tak ingin kehilangan ibu juga ,' lirih Hana sambil terisak.
"Hana...kamu yang sabar doakan saja semoga ibumu cepat siuman, malam nanti aku akan menemanimu menunggui ibumu.Tapi sekarang aku harus pulang.
Aku harus minta ijin ke mama dulu ya. Kamu tunggu aja aku disini kalau ada apa-apa segera hubungi aku",pesan Johan sebelum beranjak pergi.
"Baiklah...kamu hati-hati ya dijalan ya Johan ," pesan Hana balik.
"Sekarang kamu masuk saja Han,btemani ibu siapa tahu ibumu sudah siuman ," titah Johan lagi.
"Baik lah..."
Hana pun mulai beranjak masuk ke dalam ruangan UGD. Sedangkan Johan menunggu Hana masuk kedalam ruangan terlebih dahulu. Setelah terlihat Hana masuk barulah ia beranjak pergi untuk pulang.
Hari sudah semakin sore, udara semakin dingin. Hana pun merapikan selimut yang menutupi tubuh ibunya.Tiba-tiba dokter yang tadi menangani ibunya menghampiri.
"Dengan keluarga ibu Hesti ?"tanya dokter muda tersebut.
"Iya dok, saya anak beliau ," jawab Hana.
"Baik..mari ikut ke ruangan saya,"bajak dokter Revan dokter muda yang menangani ibu Hana.
"Baik dok ,"balas Hana patuh.
Lalu Hana pun berjalan mengikuti kemana dokter itu menuntunnya.Dokter itu diperkirakan berumur sekitar 28 tahun.10 tahun lebih tua dari Hana.Tapi wajahnya masih muda terlihat matang dan berkharisma.
__ADS_1
"Dengan saudara?"tanya dokter Revan menggantung.
"Hana dok ," sahut Hana cepat.
"Baik dengan mbak Hana ya, maaf seperti nya saya harus memberi kabar yang kurang baik tentang ibu anda ,"cakap dokter Revan memulai.
"Apapun akan saya dengar dan renungkan dok ," sahut Hana lagi cepat.
"Ibu anda mengalami serangan jantung stadium awal ,apakah ibu anda suka mengalami sesak nafas dan batuk-batuk ?" tanya dokter Revan.
"Sesak nafas sih saya jarang melihat dok kalau batuk-batuk iya, memangnya kenapa dok ?"tanya Hana balik.
"Sesak nafas dan batuk-batuk itu merupakan gejala awal penderita serangan jantung ," jelas dokter Revan lagi.
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok ?"tanya Hana kemudian.
"Usahakan ibu Hesti jangan sampai terlalu lelah,jangan telat minum obatnya dan lakukan kontrol secara berkala minimal sebulan sekali ya dan lagi resepnya ini bisa ditebus di apotik mana pun ," ucapnya seraya menyerahkan selembar kertas berisi resep obat yang harus ditebus Hana.
"Terima kasih dok, kalau begitu saya pamit dulu kasian ibu saya sendirian diruangannya ," ucap Hana menyudahi.
Kali ini nada bicaranya tidak dibuat formal karena tahu Hana masih seorang pelajar.
"Ayah dan kakak saya sudah tiada, baiklah dok saya pamit dulu ," jawab Hana jujur.
"Oh..ya silahkan ," balas sang dokter.
"Kasian gadis muda itu, dia harus merawat ibunya yang sakit seorang diri. Tapi wajahnya sepertinya tak asing aku pernah mengenalnya dimana ya?" gumam dokter Revan sambil mencoba mengingat-ngingat kembali.
Sampai di ruangan ibunya, Hana pun duduk dikursi disamping brakar tempat tidur ibunya.Tiba-tiba ibunya tersadar dan memanggil-manggil nama anaknya.
"Nak ...nak Hana ," panggil bu Hesti lirih.
"Alhamdulillah...ibu..ibu sudah sadar !" pekik Hana senang. Ibu Hesti hanya menanggapinya dengan tersenyum karena sekujur tubuhnya masih terasa lemas.
"Ibu Hana akan panggilkan dokter bu."
"Tunggu sebentar Hana, ibu ingin bicara denganmu ini serius ," ucap bu Hesti pelan dan terbata-bata.
__ADS_1
"Kemari lah nak mendekat ke ibu ," pinta bu Hesti lagi sambil membelai lembut rambut panjang Hana dengan penuh kasih sayang.
"Apa yang akan ibu bicarakan?"tanya Hana penasaran.
"Mungkin kita harus pindah tempat ke tempat bulekmu yang ada dijawa, kita harus memulai hidup baru disana ,"terang bu Hesti pelan.
"Memangnya kenapa bu ? kita selama ini bahagia disini. Banyak kenangan kita disini dengan almarhum ayah dan kak Citra.Tolong jelaskan ke Hana apa alasannya bu?"pinta Hana bingung.
"Kamu ingat majikan ibu dulu ? nyonya Renata Alexandria. Hari ini beliau menghampiri ibu, dan meminta ibu dan kamu untuk meninggalkan kota ini," ucap bu Hesti terjeda.
"Karena kata beliau kamu penghalang kebahagian anaknya. Hana...ibu minta tinggalkan Kenzi. Lelaki itu sudah bertunangan dengan wanita lain. Sebaiknya kita jangan berurusan lagi dengan keluarganya atau dengan siapapun. Mereka semua orang berkuasa sedangkan kita hanya orang biasa. Ibu takut terjadi sesuatu padamu ," terang bu Hesti kawatir.
"Ibu..bagaimana ibu bisa tahu?!" tanya Hana terkejut.Dirinya tak menyangka ibunya sudah terlebih dahulu mengetahuinya.
"Nyonya Renata yang memberi tahu ibu dan anaknya Luna yang telah bertunangan dengan Kenzi,ibu mohon lepaskan Kenzi Hana.Ibu hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa karena harus berurusan dengan keluarga seperti mereka..uhuukk....uhuuk ,"ucap bu Hesti pelan dan akhirnya mengeluarkan batuk yang sedari tadi dia tahan.
"Ibu..ibu minum dulu ibu ," ucap Hana sambil meminumkan air dengan sedotan ke ibunya.
Setelah ibunya terlihat tenang barulah Hana menjawab ajakan ibunya tadi.
"Baiklah ibu..jika itu memang pilihan terbaik untuk kita.Hana akan jalani. Hana juga tak ingin ibu merasa terbebani disini. Ibu tahu alamat bulek yang di jawa?" tanya Hana lembut.
"Tau...tepatnya kota xxxx, ds.xxxxx.No telepon bulekmu ada dibuku telepon ibu coba nanti cari saja Han ," titah bu Hesti.
"Baiklah...sekarang Hana harus memanggil dokter karena ibu sudah sadar."
Ibu Hesti hanya membalasnya dengan anggukan karena merasa kelelahan akibat terlalu dipaksakan untuk berbicara. Saat Hana keluar sudah ada Johan yang sedang duduk didepan ruangan ibunya.
Sebenarnya Johan sedari tadi sudah sampai, tapi saat akan masuk terdengar Hana dan ibunya sedang berbicara serius. Maka ditunda lah niatnya itu dan mendengarkan obrolan mereka dari depan pintu.
"Johan...kapan datangnya? kenapa tidak langsung masuk saja ,"seru Hana.
"Aku baru saja kok Han, oh..iya bagaimana dengan ibumu ?"tanya balik Johan mengalihkan.
"Alhamdulillah..ibuku sudah sadar dan ini aku ingin memanggil dokter dulu, yasudah ya..," sahut Hana menyudahi.
Hana pun bergegas keruangan dokter muda yang tadi sempat Hana temui diruangannya. Sedangkan Johan memilih duduk kembali sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1