My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Mutasi


__ADS_3

Semenjak kepulangan Kenzi beberapa minggu lalu, hidup Hana berubah menjadi hampa. Kini ia terlihat kurang bersemangat seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


Dibalik jas kebesarannya ia tampak menggenggam sapu tangan milik Kenzi dulu yang kini sering ia bawa kemana-mana.


"Tuhan apa yang sedang aku fikirkan sekarang, sebentar lagi aku akan menjadi istri Johan akan tetapi hati dan fikiranku memikirkan orang lain di masa laluku ?" gumam Hana seraya memijit pelipisnya yang terasa pening.


Tidak bisa ia pungkiri perasaannya kepada Kenzi kini mencuat kembali ke permukaan disaat hubungannya bersama Johan tinggal selangkah lagi. Ia tidak mungkin bisa membatalkannya begitu saja. Itu pasti akan memberi luka kepada dua keluarga yang sebentar lagi akan menyatu.


Hatinya gelisah tak menentu.Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


Tok...tok...tok.


"Masuk," balas Hana dari dalam.


"Akh..Dokter Akira ada perlu apa tumben dokter tiba-tiba datang ke ruangan saya tidak seperti biasanya ?"tanya Hana karena saat ini mendapati dokter dari divisi lain mendatangi ruangannya.


Dokter Akira adalah dokter ahli spesialis anak dan kandungan yang bekerja di rumah sakit dimana Hana juga bekerja.


"Maaf..mengganggu waktu istirahatnya sebentar ya dokter Hana, saya hanya menyampaikan pesan dari dokter Agus bahwa anda diminta segera menghadap ke ruangan Direktur utama."


"Apa saya melakukan sebuah kesalahan ? tumben sekali pak Direktur memanggil seperti sekarang."


"Saya juga kurang paham dok, lebih baik anda segera bergegas ke ruangan beliau karena beliau sudah menunggu disana bersama dokter Johan."


"Johan ?"


(Apa yang terjadi kenapa aku dan Johan dipanggil ke ruangan pak Direktur bersamaan ya ?)


"Baiklah dokter Hana saya harus pamit dulu karena ada pasien yang menunggu ingin diperiksa," pamit dokter Akira.


"Akh...iya terima kasih ya dokter Akira sudah susah payah menghampiri saya."


"Tidak apa dokter Hana tadi sekalian saya ingin ke ruang poli untuk mengambil dokumen yang tertinggal ya sudah dok permisi."


"Silahkan."


Hana pun mulai beranjak keluar ruangannya menuju ruangan kepala Direktur utama rumah sakit itu. Hatinya berdebar-debar takut nanti akan terjadi sesuatu hal kepadanya dan juga Johan.


Karena biasanya kalau kepala direktur sudah angkat bicara berarti memang ada hal penting yang akan beliau bicarakan.


Kini ia sudah tiba didepan pintu ruangan kepala direktur tersebut.Ia masih mengatur nafas dan detak jantungnya yang semakin kencang. Menarik nafas dalam lalu menghembuskananya dan melakukannya sampai beberapa kali.


Setelah dirasa tenang ia pun mencoba mendorong pintu tersebut tapi tak kunjung terbuka.


(Apa pintunya dikunci dari dalam ya ?)


Setelah ia perhatikan pintunya dengan seksama ternyata cara membukanya bukan didorong melainkan digeser.


"Astagfirulloh !! kenapa aku menjadi bod*h sekali karena gugup, padahal jelas-jelas ada keterangannya digeser," gumam Hana seraya menepuk dahinya pelan.


Pintu ruangan itu ia buka.Terlihat ruangan yang luas itu hanya ada kepala direktur dan juga Johan.

__ADS_1


Hana pun memandang Johan meminta penjelasan namun tampaknya Johan pun tidak mengetahui apapun sama seperti dirinya.Terlihat ia hanya mengangkat bahunya tanda sama-sama tak mengerti.


"Permisi...bapak memanggil saya?"


"Ya silahkan masuk dokter Hana kita langsung mulai saja ya karena kebetulan dokter Johan juga sudah ada disini jadi saya mulai saja sekarang."


Johan dan Hana pun mendengarkan dengan seksama apa yang akan kepala direktur itu jelaskan nanti.


"Begini...saya tadi baru saja memperoleh informasi dari pihak kampus kalian dulu bahwa ada rumah sakit di Jakarta yang sedang membutuhkan dua dokter spesialis."


"Dan mereka meminta kami untuk memutasikan pekerjaan kalian ke Jakarta, bukankah kalian berdua berasal dari Jakarta dulu ?"


"Benar pak direktur..."jawab Johan menggantung.


Sebenarnya ia ingin menanyakan sesuatu hal tapi ia urungkan.


"Bagaimana apa kalian setuju?"


(Pindah ke Jakarta itu artinya aku akan bertemu dengan Kenzi lagi?) gumam Hana dalam hati.


"Bagaimana denganmu Hana ? kalau kamu setuju aku juga akan menyetujuinya?" tanya Johan kepada Hana yang terlihat sedang melamun.


"Akh..iya bagaimana ya, baiklah pak saya setuju."


"Saya juga setuju pak direktur, kebetulan sekali saya sudah lama belum berkunjung ke rumah orang tua saya pak disana."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih untuk semua distribusi dan pengabdian dokter Hana dan juga dokter Johan selama berada dirumah sakit saya ini.Saya sangat bangga kepada dokter yang berprestasi seperti kalian."


"Saya sangat suka dengan jawaban anda dokter Hana,oh...iya saya dengar kalian sudah bertunangan ya ?"


"Ii..iya pak direktur," kali ini Johan yang menanggapi.


"Maaf ya jika saya menanyakan hal diluar tema, jadi kapan kalian akan meresmikannya ?"tanya kepala direktur seperti sedang mengintrogasi pasangan yang terciduk.


"Kami masih mencari waktunya yang tepat pak direktur untuk menyesuaikan dengan jadwal kami yang padat," jawab Johan tenang.


"Oh...oke kalau begitu nanti bapak tunggu undangannya ya,oh..iya ada pertanyaan lagi kah ?"


"Kira-kira pemutasian kita berdua kapan ya pak ?" tanya Hana.


"Sekitar seminggu lagi, dokter Hana dan dokter Johan tenang saja. Jadwal kedepannya baik dokter Hana maupun dokter Johan sudah saya siapkan penggantinya, jadi kalian tidak perlu khawatir."


"Dan mengenai surat-surat kepindahan kalian sudah diurus oleh pihak rumah sakit dengan tempat kerja baru kalian, jadi kalian tinggal membawa barang bawaan saja kesana anggap saja seperti pulang kampung..he..he," jelas kepala direktur diselingi candaannya.


"Gimana ? sudah jelas apa ada pertanyaan lagi ?"


"Tidak pak direktur."


"Ya sudah dokter Hana dan dokter Johan sudah bisa kembali keruangan kalian."


"Baik pak direktur kami pamit undur diri terima kasih."

__ADS_1


Setelah mereka keluar ruangan. Johan pun tampak menggengam tangan Hana lembut.


"Welcome home honey ! sebentar lagi kita akan bisa mengunjungi orang tuaku yang ada dijakarta !" ucap Johan dengan senyum termanisnya.


Hana hanya menanggapinya dengan senyuman termanisnya pula.


(Sebenarnya ada yang aku takutkan Jo, aku takut jika suatu saat hatiku berpaling darimu itu saja)


##


Hari keberangkatan Hana dan Johan menuju Ibu kota telah tiba. Keluarga bulek dan pak leknya tampak ikut mengantar keberangkatan mereka berdua di bandara.


Setelah Hana memberi tahu buleknya beberapa hari yang lalu, sehari sebelum keberangkatan Hana bulek beserta keluarganya datang lebih awal dan menginap di apartemen Hana.


Tiga puluh menit lagi pesawat yang akan ditumpangi Johan dan Hana sebentar lagi akan take off.


"Hana bulek pesan disana nanti hati-hati yo nduk, kalau ada apa-apa segera hubungi bulek sama pak lek.Tapi kalau mau disana kamu juga bisa hubungi budhemu, bulek sudah telepon mereka kemarin."


"Matur suwun bulek pak lek juga sudah menjadi wali Hana selama ini, sudah mau menampung Hana yang yatim piatu ini, sudah repot-repot mengurus Hana pula sampai Hana seperti sekarang, Hana tak akan lupa jasa bulek begitu juga pak lek, dan Hana tak akan lupa pesan bulek ini, insyaallah..Hana janji ," balas Hana seraya menggenggam tangan buleknya dengan erat.


Air mata pun tak mampu lagi mereka bendung bagaimana pun mereka sudah seperti keluarga kandung Hana sesungguhnya.


"Dan untuk nak Johan, bulek minta tolong untuk jaga Hana selama disana karena Hana sudah tidak ada keluarga lagi yang menjaganya jadi bulek minta tolong jagalah Hana."


"Tentu bulek dengan sepenuh hati Johan akan menjaga dan mendampingi Hana kemana pun ia pergi."


Setelah itu mereka tampak memeluk Johan dan Hana bergantian. Buleknya lah yang paling tidak rela melepas kepergian Hana terlihat dari air matanya yang mengucur deras membasahi kedua pipinya.


Akhirnya pesawat yang ditumpangi Hana beserta Johan pun lepas landas meninggalkan bandara Internasional Adi Sumarmo solo.


Perjalanan dari bandara Adi Sumarmo solo menuju bandara Soekarno Hatta memakan waktu kurang lebih 1 jam lebih lima belas menit. Begitu turun dari pesawat Hana mengalami jet lag karena sudah terlalu lama tidak melakukan bepergian keluar daerah.


"Hana...kita pulang kerumah mama saja ya ? kamu lagi jet lag gini aku enggak bisa ninggalin kamu sendirian."


Hana pun hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Yang Hana rasakan saat ini hanya lemas mungkin akibat kelelahan karena sehari sebelum keberangkatannya ia harus melakukan serangkaian operasi pasien yang cukup sulit yang menghabiskan waktu hampir 10 jam lamanya.


Johan memanggil taksi untuk mempercepat waktu. Ia ingin segera sampai rumah karena merasa kasian dengan Hana yang sedang kelelahan.


Saat dalam perjalanan taksi yang mereka tumpangi berdua berhenti karena adanya lampu merah.Bersamaan dengan itu sebuah mobil mewah juga berhenti tepat disamping mobil taksi itu.


Dari dalam Hana tampak menyipitkan kedua matanya dengan apa yang ia lihat.Sepertinya ia mengenal si pengemudi mobil itu.Tidak salah lagi.


(Bukankah itu Kenzi ? ia sedang bersama seorang wanita? apa dia kekasihnya sekarang ?" )gumam Hana lirih.


Untung Johan sedang menelepon mamanya jadi ia tidak memperhatikan apa yang sedang Hana lihat barusan.


Ya Hana melihat Kenzi sedang berdua dengan seorang wanita yang cantik. Mereka tampak terlihat akrab dan bersenda gurau bersama.


Hati Hana mencelos. Mungkin memang mereka sudah tidak ditakdirkan kembali. Mungkin Hana harus mengubur kembali perasaannya yang sempat mencuat untuk lelaki masa lalunya itu.

__ADS_1


__ADS_2