
Paginya Hana terbangun. Betapa terkejutnya Hana melihat dirinya dan Kenzi tanpa mengenakan busana hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Apa yang sudah semalam mereka lakukan ? Hana tak menyangka akan melakukannya bersama Kenzi. Yang ia ingat terakhir kali dirinya sedang berdansa bersama Kenzi.
Dengan segera Hana meraih gaun yang semalam ia kenakan.Tapi gaun itu telah sobek mana mungkin ia kenakan kembali. Dengan menahan perih yang berada di area bawah sana, Hana pun berjalan tertatih menuju lemari pakaian Kenzi .
Dilihatnya ada kaos dan celana training milik lelaki itu. Tanpa pikir panjang ia langsung kenakan. Yang Hana fikirkan hanya ia ingin segera pergi dari tempat itu. Dan tak lupa syal pun ia kenakan untuk menutup sisa-sisa hasil perbuatan Kenzi.
Untung pintunya semalam lupa tidak dikunci, jadi Hana bisa langsung keluar dari apartemen lelaki yang sudah merenggut kesuciannya. Sesampainya dibawah dihampirinya tukang ojek yang kebetulan ada disebrang.
"Bang...bisa antar saya ke alamat ini ," pinta Hana seraya menunjukan alamat yang ada diponselnya.
"Oh..bisa neng, tapi tempat itu lumayan jauh dari sini ," ujar bang ojek.
"Tidak apa-apa bang, berapa pun akan saya bayar tapi tolong segera bawa saya pergi ," pinta Hana tergesa-gesa karena tak ingin Kenzi mengetahuinya.
"Siapp neng !" balas bang ojek sambil melakukan hormat ke arah Hana.
Terlihat bang ojek mulai menyalakan mesin. Sudah menyetater sudah menyelah juga tapi mesinnya tak kunjung menyala. Setelah itu bang ojek terlihat memeriksa kendaraannya.
"Kenapa bang ?"tanya Hana panik.
"Haduhh...maaf ya neng ternyata bensin motor abang habis..hehee ," jawab bang ojek nyengir.
Abang ojek itupun nyengir menampakan barisan giginya yang sudah ompong.
(Oke mungkin abang ojeknya ngajak ngelawak cuma ini bukan waktunya bang !)gerutu Hana dalam hati.
"Eh...itu teman saya sudah datang neng !"
"Untung saja loe datang Jeki buruan gue minta tolong anterin neng nya ini ke rumahnya ya, motor gue belom makan..hehe ."
"Baru juga dateng masa narik lagi sih, yaudah atuh ayo teh mau dianter ke alamat mana?" tanya bang ojek yang lebih muda tersebut.
"Ke alamat ini bang ," jawab Hana seraya menyerahkan alamat yang tercatat diponselnya.
Saat Hana sudah naik dengan segera motor ojek itu melesat meninggal pangkalan ojek tersebut. Hana sudah jauh dijalan barulah Kenzi terbangun dari tidurnya.
Cahaya matahari tampak sudah tinggi terlihat dari celah jendela. Sesekali dirinya menguap menahan kantuk yang masih menyerang tapi saat dirinya mulai tersadar.
"Hana !" pekik Kenzi tertahan.
Dilihatnya ruangan itu sudah sepi hanya tertinggal gaun yang dikenakan Hana semalam. Ia tampak menatap sekeliling tempat itu terlihat berantakan sisa-sisa perbuatan dirinya dan Hana semalam. Dan juga noda darah di sprei yang sudah mengering.
(Dasar bodoh ! apa yang sudah kau lakukan Kenzi !) rutuknya dalam hati seraya memijat pelipisnya yang terasa pening.
Dirinya sudah merenggut masa depan wanita yang sangat ia cintai. Dan mungkin setelah ini Hana akan semakin membencinya.
"Hana...maafkan aku ," gumamnya lirih.
##
Sedangkan ditempat lain Hana yang baru sampai langsung buru-buru masuk kedalam rumah. Dengan tergesa-gesa diraihnya koper yang biasa ia bawa jika bepergian.
Dibukanya lemari dan dimasukannya seluruh pakaian yang ia punya kedalam koper tersebut. Dan tak lupa surat-surat penting yang akan ia bawa dan juga sebuah foto keluarga.
Hana pun memandangi foto tersebut lekat-lekat.
"Ayah, kakak dan ibu maafkan Hana yang tidak bisa jaga diri. Hana sudah kehilangan kehormatan Hana dikota ini, Hana harus segera pergi ibu.Tolong maafkan Hana ," gumam Hana dengan sesegukan.
Lalu dimasukannya foto tersebut kedalam koper.
Saat Hana akan bersiap pergi.Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di halaman rumahnya. Sela beberapa saat terdengar seseorang memanggil namanya.
"Assalamualaikum...Hana, kamu ada dirumah?" tanya Johan.
"Wa'allaikumsalam Jo, masuk saja ," sahut Hana dari dalam.
Saat Johan masuk kedalam, dirinya pun terkejut. Hana terlihat tampak rapi dan ditangannya terlihat menyeret sebuah koper.
__ADS_1
"Hana..kamu mau kemana?" tanya Johan penasaran.
"Aku akan pergi Jo, aku tidak bisa berlama-lama disini."
"Tapi Ijazah kita belum keluar Han, nanti bagaimana nanti kalau kamu butuh?" tanya Johan peduli.
"Aku bisa minta tolong tidak Jo, nanti saat ijazah keluar aku akan mengambilnya sendiri. Dan tolong jangan beritahu Kenzi kalau aku sudah pergi dari kota ini Jo. Aku mohon..," pinta Hana memelas.
"Baiklah...sekarang kamu akan kemana biar aku antar ?"
"Tolong antarkan aku ke terminal saja Jo. Kalau naik kereta terlalu lama harus booking dulu ," tutur Hana pelan.
"Baiklah...segera kemasi barangmu aku akan antar ke terminal."
Meski dalam benak Johan banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan tapi ia urungkan. Kenapa tiba-tiba sekali Hana ingin pergi ? Kemana pula semalam sehabis acara prom night usai dirinya tak menjumpai keberadaan Hana dan Kenzi.
Tapi Johan mencoba berfikir positif mungkin Hana sudah pulang dahulu. Yasudahlah dirinya tak ingin ambil pusing. Mungkin Hana sudah merasa tertekan tinggal dikota ini sendirian.
Sampainya mereka berdua di terminal. Segera Hana membeli tiket dengan arah tujuan Jakarta-Jawa Timur. Bertepatan sekali dengan bis yang sebentar lagi akan berangkat jadi Hana tidak perlu menunggu terlalu lama.
"Jo...aku minta maaf sudah merepotkan dirimu selama ini,terima kasih untuk segalanya ya. Maaf juga aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, aku tahu kamu pasti ingin bertanya banyak kepadaku tapi ini bukan saatnya. Sekali lagi terimakasih ya Jo. Aku harap kita masih bisa berjumpa dilain kesempatan ," pamit Hana.
"Tidak apa-apa Hana aku bisa mengerti, kamu adalah teman terbaikku. Terima kasih juga sudah mau menjadi temanku selama ini ," balas Johan seraya menepuk bahu Hana pelan.
"Dan nanti kabari saja alamatmu yang ada disana karena nanti aku ada rencana mau kuliah di jawa barangkali kita bisa ketemu kembali ," lanjutnya.
"Baik Jo nanti aku kabari kalau sudah tiba disana,sekarang aku harus pamit..selamat tinggal Johan ," ucap Hana mengusai pertemuan terakhirnya dengan Johan.
Sebelum sempat Hana berbalik. Johan sudah menahan lengan Hana dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku harap masih ada kesempatan kita untuk bertemu kembali lagi Hana, dan aku berharap pula saat waktunya kita berjumpa status kita berubah tidak lagi menjadi seorang teman ," bisik Johan tepat ditelinga Hana.
Hana masih tak mengerti maksut dari arah bicara Johan.Tetapi dirinya tetap mengiyakan saja.
"Baiklah Jo...maaf ya waktuku sudah habis sebentar lagi bis ku akan berangkat ," ucap Hana pelan.
"Aku tau kau wanita yang kuat Hana, jangan menyerah tetap semangat yaa..kalau ada apa-apa kabari saja, aku ada waktu 24 jam untuk mendengarkannya," canda Johan.
"Hati-hati ya Hana..," lambai Johan kearah Hana yang sudah duduk didalam bus dekat jendela.
"Aku harap suatu saat nanti dirimu bisa membuka pintu hatimu untukku Hana ," gumam Johan lirih.
Bus pun terlihat mulai melaju meninggalkan terminal tersebut. Setelah bus Hana terlihat menjauh barulah Johan menyalakan motornya dan bergegas untuk pulang kerumahnya.
Bus yang ditumpangi Hana pun sudah melaju jauh memasuki jalan tol. Hari ini bukanlah tanggal merah jadi jalan tol terlihat lenggang hanya beberapa bus dan kendaraan pribadi yang terlihat mengisi jalanan tersebut.
Dari jendela tampak terlihat langit yang mulai gelap.Seluruh penghuni bus nampak mulai mengantuk.Sang sopir pun mulai menyalakan musik menambah suasana semakin syahdu membuat seluruh penumpang terlelap kealam mimpi mereka masing-masing kecuali Hana.
Fikiran Hana melayang kemana-kemana mengingat apa saja yang sudah ia alami termasuk yang semalam ia lakukan bersama Kenzi. Hatinya kecewa kenapa Kenzi melakukannya disaat dirinya tak sadar ? apa Kenzi dalam keadaan yang sama seperti dirinya? Air matanya pun tak mampu lagi ia bendung. Di dalam bus yang gelap tak akan ada yang memperhatikan dirinya.Hana pun menangis tertahan dalam diam.
Dinginnya angin malam ini
Menyapa tubuhku
Namun tidak dapat dinginkan panasnya
Hatiku ini
Terasa terhempasnya kelakian ku ini
Dengan sikapmu
Apakah karena aku
Insan kekurangan
Mudahnya kau mainkan
__ADS_1
Oh mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih
Yang memutih
Menjadi permadani
Seperti pinta
Yang kau ucap
Dalam janji cinta
Juga mustahil bagiku
Menggapai bintang dilangit
Siapalah diriku
Hanya insan biasa
Semua itu
Sungguh aku
Tiada mampu
Salah aku juga
Karena jatuh cinta
Insan seperti dirimu seanggun bidadari
Seharusnya aku
Cerminkan diriku
Sebelum tirai hati
Aku buka
Untuk mencintaimu
Lirik yang terdengar dari speaker bus itu sangat mewakili perasaan hati Hana saat ini. Air matanya terus mengalir hingga dirinya tanpa sadar sudah terlelap kealam mimpi membawa semua rasa yang membelenggu hatinya.
##
Sore itu Kenzi mendatangi rumah Hana.Tapi dari luar rumah itu tampak sepi tak berpenghuni.
"Assalamualaikum...Han...Hana kamu ada dirumah Han ??" sapa Kenzi sambil mengetuk pintu rumah Hana.
Tapi hanya kesunyian yang Kenzi dapat. Sudah 15 menit dirinya berdiri di depan pintu rumah gadis itu tapi tak kunjung ada seseorang yang membukakan pintu.
"Nyari mbak Hana ya mas ?" tanya ibu-ibu dari arah belakang.
"Eh..iya bu. Hananya kemana ya bu?"
"Tadi saya lihat mbak Hananya bawa sebuah koper terus pergi naik motor sama anak muda," tutur Ibu bertubuh tambun tersebut.
"Kalau boleh tahu, Hananya pergi kemana ya bu?" tanya Kenzi lagi.
"Wahh...kalau itu saya kurang tahu mas, saya cuma lihat mbak Hana tadi bawa koper, coba mas telepon saja ," saran ibu tersebut.
"Baik bu ,terima kasih."
"Sama-sama mas ," seru ibu tersebut dan berlalu dari rumah Hana.
__ADS_1
"Hana...kamu dimana ?? tolong maafin aku Han ," gumam Kenzi lirih.
Rintik hujan pun tampak turun tapi tak Kenzi hiraukan.Kenzi masih terdiam ditempatnya membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Dirinya terlambat. Hana sudah pergi jauh meninggalkan segala kenangannya bersama dirinya.