My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Teh yang memabukkan


__ADS_3

Sinar matahari yang menyilaukan mata membangunkan seorang wanita yang tengah tertidur pulas.Tercium aroma wangi semerbak dari Air Humadifier yang menenangkan jiwanya membuatnya enggan membuka kelopak matanya.


Ditariknya selimut yang tebal nan lembut itu menutupi hingga hampir keseluruh tubuhnya.Aroma Aqua yang menguar dari selimut itu membuatnya terhanyut dalam nuansa pantai yang indah hingga membuatnya tersenyum-senyum seorang diri.


Ehh ! tunggu dulu ini dimana?! Ini bukan kamarnya.Kamarnya tak senyaman ini.


Dipaksakannya ia membuka kedua kelopak mata upturned nya.Bulu matanya yang lentik alami mulai mengerjap-ngerjap indah.Matanya masih memerah menandakan ia belum sadar sepenuhnya.


Dipandanginya langit-langit ruangan itu yang berwarna biru langit. Benar saja ini bukan kamarnya,lalu ia sekarang ada dimana? Ia tampak berfikir keras.Mata upturned nya nampak menyapu ruangan itu sembari mencerna semuanya dalam fikirannya.Seketika ia mulai memgingat sesuatu.


'Akh ! kamar ini mengingatkan dirinya terbangun ditempat yang sama beberapa tahun lalu.Ia mulai meraba-meraba tubuhnya dengan panik. Akh..syukurlah pakaiannya masih utuh dan tentu saja..


Aa..apa ?!! Bagaimana mungkin..


Ia menyibakan selimutnya dengan panik hingga jatuh ke lantai.Ia menatap tak percaya pakaiannya sudah berganti dengan piyama model kimono bercorak flamingo. Piyama itu sangat pas ditubuh rampingnya yang tidak kurus dan juga tidak terlalu gemuk.


Seingatnya ia kemarin tertidur di bawah pohon flamboyan dekat danau.


Kini wanita berparas Tionghoa itu mulai mengingatnya.Pandangannya terakhir sebelum ia pingsan, ia masih bisa melihat samar bayangan seorang lelaki yang memanggil-manggil namanya.Hingga kesadarannya pun menghilang beserta suara-suara yang memanggilnya itu.


Pintu ruangan itu pun terbuka menampilkan sosok asing yang belum pernah sama sekali ia lihat.


"Kau sudah sadar dokter Hana ?"


Hana tampak mengerutkan alisnya bingung.Bagaimana orang itu bisa mengenalnya?


"Oh..maafkan aku,pantas saja kamu pasti bingung karena aku belum memperkenalkan diri.em..Perkenalkan namaku dokter Julia."ucapnya memperkenalkan diri.


"Hana..emm..bagaimana bisa anda mengenal saya?"


"Oh...itu karena aku temannya laki-laki yang sudah membawamu kesini."


"Maksud anda Kenzi?"


"Benar,aku adalah dokter pribadi keluarganya.Senang berkenalan denganmu.Ngomong-ngomong jangan terlalu formal begitu umur kita tak berbeda jauh kok," terangnya sambil tersenyum.


Hana masih menatap tak berkedip wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu,suamiku pasti marah kepadaku jika ada orang yang menatapku begitu."


"Anda..ah..maksudku kamu sudah menikah?" Hana menatap tak percaya kepada wanita cantik itu. Ia berfikir wanita itu pasti masih single seperti dirinya.Terlihat dari tubuhnya yang ramping bak model.


"Kau pasti terkejut, ya aku sudah menikah dan memiliki anak." ucapnya yang sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan kagum seperti itu.


Mendengar nama anak tiba-tiba Hana merasa sedih.Ia jadi teringat masa lalunya yang juga bermula dari tempat ini. Dan pernikahannya yang hancur dalam sekejap karena kehadiran wanita yang tak pernah ia duga sebelumnya.Melihat wajah Hana yang berubah sedih dokter Juli pun jadi merasa bersalah.


"Maafkan aku,aku tak bermaksud menyinggungmu.Sesuatu yang gagal itu jangan terlalu difikirkan bisa jadi Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang indah untukmu nanti."


Hana pun memandang wajah cantik dokter Juli.Dimatanya tersirat sebuah ketulusan.Setelah itu ia pun melengkungkan bibirnya untuk tersenyum.


"Tidak apa-apa dokter, terima kasih untuk semuanya."


"Sama-sama dokter Hana..oh..iya maafkan aku,aku tak bisa lama-lama menemanimu aku harus kembali lagi ke perusahaan Abraham."


"Anda bekerja disana?"


"Tentu saja kan tadi sudah ku bilang aku adalah dokter pribadinya keluarga Abraham," terangnya lagi sambil tersenyum.


"Oh...begitu ya,"


"Ah..baiklah aku pergi dulu ya,jangan lupa makan buburnya selagi masih hangat.Sebentar lagi maid keluarga besar akan kesini.Kalau ada apa2 segera telefon aku."


Hana pun menggangguk ringan.Matanya menatap semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap dan segelas air yang berada diatas nakas disamping ranjangnya.


Terdengar pintu yang sudah tertutup.Dan kini ia kembali seorang diri didalam ruangan itu.Ruangan ini sangat nyaman sekali sampai-sampai ia enggan untuk beranjak dari kasur yang sangat empuk yang kini ia duduki.


Rasa haus dan lapar mulai menyergapnya. Ia baru mengingat terakhir ia makan adalah kemarin pagi sebelum akad dimulai.Ah..kata akad mengingatkannya kembali akan kegagalan dalam hidupnya.Ternyata semesta alam belum menghendakinya untuk berbahagia saat ini.


Tak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihannya,lalu diraihnya semangkuk bubur dan mulai disantapnya dengan lahap hingga tandas tak tersisa begitu pula air yang terisi segelas penuh itu. Rasa lapar yang mendera seketika sirna tergantikan rasa nyaman yang memenuhi rongga lambungnya.


Wanita berdarah Tionghoa itu pun mulai beranjak dari ruangan tidurnya.Ia ingin melihat-lihat area luar dari apartemen lelaki itu.


Meski dulu ia pernah memasukinya,akan tetapi ia tak pernah memperhatikannya sama sekali.Ternyata ruangan itu sangat luas.Dan ia sangat menyukai dekorasi dari ruangan yang didominasi warna navy dan putih itu.


Disebelah kanannya terdapat pintu berkaca yang menghubungkannya dengan balkon luar.Ia mulai berjalan menuju balkon itu.Ternyata balkon itu terhubung pula dengan balkon kamar yang tadi ia tempatinya.Disisi bagian pojok terdapat beberapa tanaman bunga.Salah satunya bunga mawar warna pink. Harumnya semerbak memenuhi indera penciumannya.

__ADS_1


Ia tak menyangka lelaki yang selalu menyombongkan diri itu itu mempunyai sisi lain yang sangat jarang kebanyakan laki-laki lain lakukan.Ia menanam berbagai tanaman hias yang sepertinya mahal seperti anggrek hitam papua,Anggrek Shenzhen Nongke dan Juliet Rose.


Hana menatap tak percaya bagaimana bisa tanaman langka-langka ini bisa tumbuh subur di balkon apartemen lelaki ini.Setahunya mereka hanya bisa tumbuh dilingkungan habitatnya saja.Oleh karena itu pula harga tanamannya pun tidak main-main.


Mungkin ia harus merelakan gajinya selama setengah tahun lebih untuk bisa membeli bunga-bunga itu.Tapi tentu saja itu tak akan mungkin terjadi.


Setelah lumayan lama memperhatikan bunga-bunga nan mahal itu,tiba-tiba ia merasakan haus kembali.Ia berjalan masuk menuju patry yang letaknya bersebelahan dengan minibar yang tempatnya terhubung dengan ruangan masak itu.


Ruangan itu tampak bersih dan rapi.Ia sudah bisa menebak mana mungkin lelaki itu bisa memasak melihat meja dan perabotan dapurnya tampak bersih mengkilap seperti baru.Lalu ia mencoba mencari gelas yang berada di rak berkaca itu.


Berbagai perabotan mahal pun terlihat mengisi lemari kaca tersebut.Terlihat berbagai gelas dari berbagai ukuran bergelantungan indah di dalam lemari itu.


"Sayang banget jarang digunain ya." gumamnya dengan diri sendiri.


Dengan perlahan-lahan ia ambil gelas yang menggelantung rapi itu.Ia mulai mengubek-ngubek disetiap kitchenset itu mencari sesuatu yang sedari tadi ia inginkan.


"Yah enggak ada,lalu dimana dong Kenzi meletakkan galonnya.Mau minum saja susah sekali mana tenggorokanku sudah kering lagi." gumamnya kesal karena tak menemukan wadah air yang biasa ia gunakan.


"Astaga! aku baru ingat mereka kan orang kaya!mana ada barang seperti itu." pekiknya tertahan.


Rasanya menjadi orang kaya sangatlah memusingkan.Ia semakin pusing karena tak menemukan barang yang ia cari.Lalu ia mulai menatap sekeliling mencari wadah minum apapun yang berisi air.Tiba-tiba matanya berbinar senang menatap sebotol minuman berwarna merah.


"Itu sepertinya teh,biarlah tak ada air teh pun jadi."gumamnya lagi seraya meraih botol minuman teh itu.


Minuman itu sudah tinggal setengah lagi.Tanpa pikir panjang ia menuangkannya ke dalam gelas kosongnya.


Menghirup sebentar aroma minumannya.


"Baunya sih tidak seperti teh,seperti ada aroma creme kita lihat saja permisa rasanya seperti apa ya?" ucapnya bermonolog sendiri menirukan dialog host makanan yang sering ia tonton.


Diminumnya minuman yang ia sangka teh itu.


"Hem..rasanya manis,ada rasa creme dan coklat aku pikir ini teh warnanya sama tapi rasanya berbeda."


Ia mulai menuangkan minumannya kembali.


"Hei..kenapa gelasku ada dua?perasaan yang ku ambil hanya satu." gerutu Hana disela-sela minumnya.

__ADS_1


Ia terus meminum minuman itu sampai habis.Karena menurutnya minuman rasa coklat itu sangat enak mampu merilekskan fikirannya yang dipenuhi beban tanpa ia tahu efek dari minuman itu apa.


__ADS_2