My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Kehilangan


__ADS_3

Malam itu Kenzi nekat pulang mengendarai motornya seorang diri dalam keadaan mabuk. Ditengah jalan tak sedikit mobil maupun motor yang membunyikan klaksonnya sambil mengumpat-ngumpat kearah Kenzi yang mengendarai motor secara ugal-ugalan.


Tetapi dirinya tak menghiraukan umpat-umpatan itu pendengarannya seakan tuli. Kepalanya mulai terasa berat.Pandangannya mengabur .Tiba-tiba dari arah depan melaju sebuah mobil yang kecepatannya sama kencangnya dengan motor Kenzi.


Ckiiittt!


Braakkkk!


Kecelakaan pun tidak terelakan. Kenzi pingsan ditempat sedangkan pengendara mobil tersebut juga sama tak sadarkan diri seperti Kenzi. Lalu oleh para warga pun para korban kecelakaan tersebut segera dilarikan kerumah sakit terdekat untuk dilakukan pertolongan pertama.


Disaat bersamaan terjadilah sesuatu dengan Hana.Hana sudah merasakan firasat yang kurang baik. Saat dirinya ingin keluar dari kamar mandi tanpa sengaja kakinya terpeleset karena lantai kamar mandi yang terasa licin. Dan pinggulnya mendarat dengan keras jatuh ke lantai.


"Akkhhh !"


Saat ini Hana sedang dirumah seorang diri karena memang seluruh penghuni rumah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pak Sugeng sedang bertugas dibalai desa, buleknya sedang ikut penyuluhan posyandu sedangkan Wika dan Wawan pergi main ke tempat temannya.


"Ya Allah...kenapa sakit banget !" keluh Hana tertahan.


Dengan tertatih Hana mencoba untuk bangkit sambil menahan sakit diarea pinggulnya. Dan saat dirinya berdiri terlihat darah yang mengalir dari sela-sela kedua kakinya.


"Ya Allah...apa ini ?!" pekik Hana panik.


Pikir Hana mungkin saat ini dirinya sedang haid.Dengan segera ia bersihkan diri dan memakai pembalut untuk menghentikan pendarahannya. Hana baru menyadari sudah sebulan lebih dirinya tidak mengalami menstruasi seperti biasanya semenjak one night stand yang ia lakukan bersama Kenzi.


Hana kawatir jika pendarahan ini bukanlah pendarahan haid biasa karena datang secara tiba-tiba dan disertai sakit saat dirinya terjatuh dikamar mandi tadi.


Akhirnya Hana pergi ke puskesmas kecamatan untuk memeriksakan diri. Hana takut terjadi sesuatu dengan dirinya. Setelah mengantri hampir satu jam kini tibalah giliran dirinya masuk untuk memeriksakan diri.


"Selamat siang silahkan duduk,maaf dengan mbak siapa ya?" tanya dokter Rosa terlihat dari name tag yang ia kenakan.


"Saya Hana Dok."


"Oh..iya dengan mbak Hana ya, kalau boleh tahu ada keluhan apa ya mbak ?"


"Begini dok...saya tadi terjatuh dikamar mandi lalu pinggang dan perut saya rasanya melilit dan keluar darah haid yang banyak saya takut kenapa-kenapa dok jadi saya coba periksa kesini."


"Baik...saya periksa dulu ya mbak Hana.Tolong mbaknya rebahan dulu disitu ya ," tunjuknya kearah brakar pasien.


Setelah dokter Rosa periksa menurut keluhan yang Hana rasakan dokter tersebut terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


"Maaf memang kapan terakhir kali mbak Hana haid ?"


Hana bingung dirinya juga melupakan masa terakhir dirinya mengalami haid tapi Hana berusaha berkata jujur.


"Seingat saya...bulan kemarin dok, bulan ini saya belum mengalami haid."


Dokter Rosa terlihat mengangguk-ngangukan kepala lagi.


"Memangnya kenapa ya dok ?"tanya Hana penasaran.


Dokter Rosa terlihat menghela nafasnya perlahan.


"Maaf....berdasarkan hasil pemeriksaan saya pendarahan yang mbak Hana alami saat ini bukan lah pendarahan haid, maaf apa sebelumnya mbak Hana pernah melakukan hubungan suami istri ?"


Hana terhenyak ditempatnya. Pikirannya terpecah belah. Apakah yang ia takutkan benar-benar terjadi ? Hana masih diam tak menyahuti tanya dokter tersebut.


"Maaf ya mbak Hana bukan maksud saya menyinggung, tapi sekiranya mbak ingin jujur ke saya yo gak papa saya bakal tutup mulut. Ini hanya rahasia kita berdua antara dokter dan pasien..oke?" kata dokter Rosa mencoba menenangkan pasien belianya yang terlihat shock.


"Se..se..sebenarnya tepat sebulan yang lalu kami tidak sengaja melakukannya dok, saya dalam pengaruh obat perangsang," terang Hana dengan isak tangis.


"Baik...jadi saya bisa menyimpulkan kalau pendarahan yang mbak alami sekarang bukanlah darah haid melainkan darah keguguran."


"Iya mbak...maaf sekali saya harus memberitahu mbak karena berdasarkan hasil pemeriksaan fisik anda terlihat seperti tanda-tanda orang yang sedang mengandung, perut mbak bagian bawah terasa sedikit mengeras."


"Usianya masih sangat muda ya mbak trisemester pertama memang sangat rentan keguguran seperti yang mbak Hana alami sekarang," terang dokter Rosa dengan sabar.


Hana masih diam tak percaya dengan semua penjelasan dokter Rosa. Apa dirinya sedang mengandung ? Dan sekarang dirinya mengalami keguguran. Segala bayangan masa lalu tentang dirinya dan Kenzi pun tiba-tiba muncul memenuhi fikirannya.


Air matanya tak mampu ia bendung lagi.


"Mbak Hana yang sabar ya, musibah memang bisa datang kapan saja. Saya janji masalah ini tidak akan bocor kemana-kemana saya menghargai privasi pasien saya."


"Ini saya resepkan obat untuk pereda nyeri yang mbak rasakan saat ini dan ini obat untuk membersihkan sisa-sisa keguguran, mohon nanti diminum yang teratur ya mbak. Jika ada keluhan apa-apa segera hubungi saya ," tutur dokter Rosa seraya menyerahkan kartu nama miliknya ke Hana.


Dokter Rosa merasa kasian dengan Hana, Hana terlihat seusia dengan putrinya jadi dirinya merasa tersentuh untuk membantu gadis-gadis yang sudah terlanjur terlibat dalam suatu masalah seperti Hana.Dokter Rosa tahu Hana bukanlah gadis malam yang sering ia temui untuk meminta dirinya menggugurkan kandungan tapi ia tolak karena dirinya bukanlah dokter aborsi.


"Baik dok....saya pamit dulu terima kasih."


"Sami-sami mbak Hana kalau ada apa-apa hubungi saya, mbak bisa konsul nanti ke saya gratis."

__ADS_1


"Baik dok terima kasih."


"Ealah....nduk..nduk tragis temen nasibmu, padahal awakmu ayu ibu ngerti awakmu kui dudu bocah nakal koyo sing biasa nekani ibu" (Ealah...nak..nak tragis banget nasibmu,padahal dirimu cantik ibu ngerti dirimu bukanlah anak nakal seperti yang biasa datengi ibu)gumam dokter Rosa saat Hana sudah keluar ruangannya.


Hana pun pulang naik ojek. Sampai rumah disambut dengan bulek Hana yang terlihat kawatir.


"Nduk...kamu dari mana saja nduk ? kok gak ada kabar bulek cari-cari tadi pas pulang lah kok gak ada orang dirumah?" tanya bulek Harti panik.


"Hana habis dari puskesmas bulek."


"Loh...kenapa kok gak ngabari bulek ? kan bisa minta anter bulek. Memang Hana sakit apa?"


Hana tak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada bulek. Sudah pasti buleknya akan kecewa dan itu bisa membuat nama keluarga ini tercemarkan.Hana tak ingin jadi masalah. Keluarga ini sudah bahagia Hana tak ingin merusaknya dengan kabar akan kehamilannya.


"Biasa bulek meriang sama masuk angin setiap Hana mau haid ," jawab Hana sedikit berbohong.


"Oalah....tahu gitu minta tolong bulek aja, kan bisa bulek kerokin entar terus minum iku tolak angin lak langsung plongg."


"Hehe...Hana gak biasa dikerokin bulek gak tahan sakitnya," balas Hana meringis.


"Yasudah...nduk Hana istirahat aja ya dikamar gak usah bantu-bantu dulu nanti waktu makan bulek panggilin apa bulek antar nanti ke kamar ."


"Duh....repotin bulek, gampang nanti kalau lapar Hana ambil sendiri ," tolak Hana halus.


"Oh...yowes nak ngunu (yaudah kalau gitu), kalau ada apa-apa kabari bulek yo nduk jangan bikin bulek kawatir ae."


"Nuwun sewu ya bulek."


"Yowes gak apa-apa...buruan masuk kamar istirahat."


"Nggih...bulek."


Hana pun berlalu dari hadapan buleknya menuju kamar. Sampainya didalam kamar Hana langsung menangis tertahan.


(Ya Tuhan...keluarga ini sudah sangat baik sama Hana, sungguh Hana tak ingin mencoreng nama baik keluarga ini. Semoga mereka gak tahu tentang kehamilanku ini)


Hana tak menyangka jika dirinya sedang hamil selama ini. Dirinya hanya merasakan sering buang air kecil setiap malamnya. Bahkan tubuhnya merasa lelah akhir-akhir ini. Ia tak menyangka ada kehidupan lain didalam rahimnya.


"Maafkan mama ya sayang, mama belum bisa menjagamu dengan baik ," gumam Hana terisak sambil mengelus-ngelus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Bagaimana pun itu darah daging dirinya dengan Kenzi orang yang ia cintai. Hana tak bisa pungkiri dirinya membenci sekaligus mencintai Kenzi lelaki yang telah mengkhianati dan menodainya tetapi lelaki itu juga yang telah mengambil seluruh hatinya.


__ADS_2