
Sudah terhitung seminggu dari terakhir kali mereka berjumpa, Hana tak menjumpai lelaki yang selalu memiliki kepercayaan tinggi itu.
Seolah lelaki itu benar-benar membuktikan ucapannya untuk menghilang dari kehidupan Hana. Hati Hana semakin risau, apakah ucapan Kenzi tempo hari hanya sebuah gertakan saja ataukah sungguhan?
Namun kenyataan setelah hari itu, ia tak pernah menjumpai lelaki itu dirumah sakit. Hanya Darren yang masih terlihat tinggal tempat itu ditemani oleh Sona. Karena seperti apa yang ia sudah dengar, pria bertato itu mengalami kelumpuhan otot syaraf akibat terkena racun yang mematikan.
Sudah 2 hari yang lalu ia sudah di perbolehkan pulang. Akan tetapi baru kali ini ia keluar dari rumah. Dan ia baru saja pulang dari apartemen Kenzi. Namun tak mendapati lelaki itu, dan lebih mengejutkan lagi apartemen lelaki itu sudah dijual.
Ia juga datang ke penjara untuk menyampaikan berita kematian Johan kepada Clara. Bagaimana pun wanita itu sempat dekat dengan Johan.
Bahkan seperti kata Johan yang terakhir, Clara sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan Hana sudah memaafkan wanita itu.
Wanita berambut pirang itu menangis sejadi-jadinya bahkan meraung memohon maaf kepada Johan. Hana tau jika wanita itu juga mencintai Johan. Karena cinta itu hak semua orang, ia tidak bisa melarangnya.
Dihempaskan tubuh lelahnya diatas sofa yang baru ia beli. Hana pun termenung, ia kembali terngiang-ngiang akan apa yang Kenzi ucapan saat pertemuan terakhir mereka beberapa hari yang lalu.
Mungkinkah lelaki maskulin itu benar-benar menjauhinya? Bahkan Hana sudah kehilangan kontaknya. Menghubungi Boby atau Marisa pun percuma, kedua temannya itu sudah menikah dan pindah ke kota lain sesuai tempat kerja Boby sekarang.
Kini ia benar-benar sendiri. Sahabat serta orang terdekatnya sudah tiada. Selama ini ia hanya bergantung dengan Johan dan Kenzi. Dan keduanya sudah meninggalkannya. Rasanya kali ini hidup Hana tak bergairah. Ia kehilangan semangat hidupnya yang dulu.
Tiba-tiba terdengar ada orang yang bertamu kerumahnya.
Ting tong !
Ting tong !
Wanita itu pun berjalan kearah daun pintu dan membukanya.
"Egi ! maaf maksud saya dokter Egi," ralat Hana kikuk.
Ia sedikit terkejut mendapati dokter berkacamata itu bertamu kerumahnya di siang hari. Bukankah ini masih jam kerja rumah sakit ?
"Panggil saja Egi kita sedang diluar waktu dinas jadi santai aja, apakah aku boleh masuk ?" tanya pria berkacamata itu.
"Oh...maaf silahkan masuk, maaf ya rumahku seadanya. Dan bangunannya memang sudah tua."
"Tidak masalah, tujuanku kesini bukan untuk menilai bagaimana rumahmu melainkan kesini untuk bertemu dengan pemiliknya bukan yang lain," jawab Egi spontan.
"Eh...maksudnya ?" tanya Hana tak mengerti arah bicara pria berkacamata itu.
"Akh...sory, maksud aku kesini ingin menyampaikan pesan dari profesor Thomas. Jika kamu berkenan, kamu boleh kembali bekerja di rumah sakit lagi. Karena keahlianmu sangat dibutuhkan oleh banyak orang Hana," ungkap Egi.
Hana pun tampak termenung. Ia kembali mengingat pesan terakhir Johan untuk dirinya. Agar ia meneruskan hidup dan kembali menolong orang yang membutuhkan. Namun ia masih ragu akan dirinya sendiri.
"Aku akan fikirkan lagi Egi, nanti setelah aku yakin aku akan menghubungimu. Sampaikan salamku untuk profesor Thomas, aku akan meminta maaf langsung kepada beliau nanti saat bertemu karena dulu sudah mangkir dalam tugas."
"Baiklah, kami sangat berharap kamu mau kembali bekerja dirumah sakit. Karena kami semua merindukanmu Han,( terutama aku )" lanjutnya dalam hati.
Sebenarnya dokter Egi sudah memendam lama perasaannya kepada Hana sedari awal mereka berjumpa. Dihari dimana kala itu Hana mulai di mutasikan ke rumah sakit tempat ia bekerja.
Akan tetapi harapannya pupus sudah saat mengetahui wanita pujaan hatinya sudah memiliki kekasih. Bahkan mereka sudah bertunangan.
__ADS_1
Dan lelaki itu pula rekan sesama dokter di rumah sakit tempat mereka bekerja. Mengharuskan dirinya mundur secara teratur.
Namun kini peluang ada didepan matanya, membuat rasa yang sempat ia kubur dalam-dalam kembali mencuat kepermukaan.
Pria berkacamata itu memang termasuk orang yang pemalu. Selama ini ia tak pernah berani mengungkap perasaannya terhadap lawan jenis. Padahal wajahnya lumayan tampan.
"Hmm.. Hana, aku turut berduka cita atas kepergian dokter Johan. Bagaimana pun kami sempat berteman baik dan sesekali bertegur sapa. Ia orang yang baik." tutur Egi dengan hati-hati.
Sebisa mungkin ia menata ucapannya dengan baik agar tak menyakiti atau menyinggung hati wanita itu. Bagaimana pun ini masih dalam suasana berkabung.
"Kamu benar, dia laki-laki terbaik yang pernah aku temui," balas Hana dengan tanpa sadar meneteskan air mata di hadapan pria berkacamata itu.
"Oh..maafkan aku, apakah kamu masih bebas jam kerja ? maksudku bukankah ini masih masuk jam kerja kenapa kamu bisa keluar ?" tanya Hana mengalihkan topik pembicaraan.
Pria berkacamata itu memaklumi perasaan Hana. Mungkin ia akan memulainya secara perlahan. Rasanya ini akan lebih sulit daripada saat ia mengikuti program Koas untuk mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi) .
"Aku tadi sudah dapat dispensasi untuk menyampaikan pesan langsung dari profesor Thomas untukkmu, apa kamu sedang ada urusan ?" tanya balik Egi.
"Rencananya aku akan berkunjung ke orang tua Johan. Sudah lama aku tidak kesana."
"Oh..apa boleh aku antar ?" tawar Egi.
"Tidak, terima kasih Egi. Aku sudah pesan ojek," tolak Hana dengan halus.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke rumah sakit. Hati-hati dijalan, aku harap kamu mengambil tawaran profesor Thomas jangan sampai kamu sia-siakan Han," ingat Egi lagi
"Tentu saja, aku akan segera memikirkannya. Terima.kasih kunjungannya."
Sela beberapa menit setelah kepergian Egi, ojek yang sudah ia pesan pun datang. Langsung Hana bergegas mengambil sligbag dan mengunci rumah.
Setelah menempuh jarak kurang lebih 30 menit akhirnya ia sampai di kediaman rumah orang tua Johan.
Dilihatnya rumah itu tampak sepi, ia meragu jika mama Cintya mamanya Johan ada dirumah. Tapi ada 1 mobil yang terparkir di halaman rumah mantan calon mertuanya itu.
Itu tandanya salah satu dari orang tua Johan sedang berada dirumah. Tanpa ragu ia mulai menekan bel yang terpajang didepan gerbang bercat hitam itu.
Lalu datanglah seorang perempuan paruh baya yang lari tergopoh-gopoh setelah melihat keberadaan Hana di luar gerbang rumahnya.
"Hana...Hana ! Ini kamu nak ? mama kangen banget sama kamu ? apakabarmu ? Maaf mama tak sempat menjengukmu, mama...mama..masih shock atas kepergian Johan," ucap mama Cintya sambil bercucuran air mata.
Mata wanita paruh baya itu terlihat sembab seperti sudah berhari-hari menangis. Pasti perasaan ibu mana yang tak sakit ditinggal pergi anak semata wayangnya.
"Mama...mama mari kita masuk ke dalam ma, kita ngobrolnya didalam saja," ajak Hana.
Mama Cintya pun mengangguk patuh dan mulai tertatih untuk masuk kerumahnya dengan dipapah oleh Hana. Wanita paruh baya itu kini terlihat rapuh tak bersemangat. Karena Hana sendiri juga sama merasakannya.
"Johan Hana...Johan," ratap wanita paruh baya itu. Wajahnya tampak berkerut seperti sudah jarang di rawat.
"Ma..mama Cintya yang tenang, kita harus berusaha iklas ma biar Johan juga tenang melepas kita di dunia ini. Mama nggak mau kan Johan merasa sedih melihat kita terus menangisinya ?"
Mama Cintya pun menggeleng.
__ADS_1
"Mama menyesal Hana sudah mengusirnya bahkan mencoretnya dari KK (Kartu Keluarga) kami, karena Johan sudah menghancurkan acara pernikahan kalian dan membuat kami malu, maafkan mama Hana," sesal mama Cintya.
"Ma..semua sudah berlalu tidak perlu di sesali. Sekarang kita hanya perlu mengiklaskan supaya Johan bisa pergi dengan tenang."
"Kamu benar Hana, meratapi terus menerus tidak akan bisa mengembalikan waktu. Terima kasih sayang, setidaknya ada kamu disini mama merasa lebih tenang," balas mama Cintya.
Memang mama Cintya sangat menyayangi Hana seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Bahkan ia rela mengusir anak kandungnya sendiri saat tahu Johan sudah mengkhianati Hana.
"Oh..iya, kebetulan kamu kesini. Mama ingin menyampaikan sesuatu untukmu Hana," ucap mama Cintya dengan serius.
" Apa itu ma ?" tanya Hana penasaran.
Lalu terdengar suara bell pintu berbunyi.
"Nah itu dia sudah datang," sambut mama Cintya dengan antusias sambil menjemput tamunya diluar.
Sela beberapa menit mama Cintya datang bersama seorang pria berumur sekitar 35 tahunan memakai jas formal dan sebuah tas koper seukuran dokumen ditangannya.
Hana hanya memandang tak mengerti.
"Selamat siang, dengan nona Luthfia Hana kah? " tanya pria berambut klimis itu menyakinkan.
"Benar saya Luthfia Hana."
"Begini pertama-tama perkenalkan nama saya Putra, saya dari badan Notaris ingin menyampaikan suatu hal penting kepada anda mengenai ahli waris," terang pria bernama Putra itu.
"Ahli waris? Bukankah warisan keluarga saya sudah selesai diurus, sisanya sudah saya sumbangkan ke yang membutuhkan," balas Hana tak mengerti.
"Maaf ini bukan tentang keluarga anda, melainkan warisan ini berasal dari almarhum tunangan anda bapak Johan."
"Johan ?"
"Baik langsung saja, sebelum beliau memutuskan untuk pergi beliau meminta saya untuk mengatur hak waris atas barang-barang serta harta yang beliau miliki," ucapannya terjeda untuk menarik nafas.
"Berikut warisannya berupa harta benda sebuah rumah berlantai 2 di kawasan GrandPerum, mobil Alphard, sebuah tempat usaha cafe beliau yang ada di 2 tempat, beserta tabungan sebesar 300 juta diatas namakan kepada anda nona Luthfia Hana, jadi mohon tanda tangani diatas materai ini sebagai bukti serah terima," terang pegawai notaris itu.
Hana pun reflek langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan tanda tak percaya. Matanya tak sanggup menahan lelehan air bening itu. Pandangannya beralih ke mama Cintya dan dibalas anggukan oleh wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya.
Hana masih tak percaya Johan sudah meninggalkan harta warisan yang begitu banyak untuknya. Ini seperti mimpi untuk Hana.
"Jo...bagaimana bisa kamu sudah mempersiapkan segalanya untukku ? Apakah kala itu kamu memang sudah berniat untuk meninggalkan aku beserta keluargamu sendiri? Jika sedari awal tujuanmu itu, aku tak akan pernah mengijinkanmu untuk menyusulku."
Bonus pict dokter Egi.
(maaf dok aku pinjam fotonya sebentar, karena wajah tampanmu menyebar luas didunia maya dan internet ππ)
Jangan lupa tinggalkan dukungannya dengan cara like, koment, Gift dan vote (jika berkenan) βΊοΈ
Terima kasih kepada readers yang masih setia mendukung karya receh author amatir iniπ€
__ADS_1
Saranghae_ππ