My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Benda Keramat


__ADS_3

Malam ini mereka bertiga berkumpul di ruangan santai di apartemen Kenzi. Darren dan Kenzi sedang asyik mabar di ponsel mereka masing-masing. Sedangkan Hana,wanita yang tengah menutupi jati dirinya itu hanya menonton layar televisi. Sesekali ia mengganti channel dengan acara kesukaannya.


"Hei...loe kan cowok kenapa acara yang loe tonton masak-masakan sih?" celutuk Darren tanpa mengalihkan atensinya dari mini layar yang ia genggam.


"Eh..itu anu..memangnya kenapa?acara ini buat cowok juga bisa kok.Tuh lihat pesertanya aja ada cowoknya juga yang keren tuh juga ada," balas Hana dengan suara bassnya sambil menunjuk kearah acara yang dipandu oleh Chef Arjuna atau biasanya dipanggil Chef Juna itu.


Darren pun hanya menoleh sebentar. Memang benar yang diucapkan pria kecil itu. Ajang kompetensi masak memasak itu kini sudah diikuti oleh para kaum pria.Bahkan seperti yang Hansel bilang bahwa ada salah satu peserta pria yang terlihat tampan seperti model. Eh..tunggu sebentar kenapa ia jadi ngikuti ucapan si Hansel ya?Asemm.


Kini ia semakin takut jika dirinya benar-benar tak normal. Lebih baik ia kembali fokus ke permainannya yang sebentar lagi finish . Kali ini ia tak boleh kalah dari cowok Indo-Korea yang selalu unggul darinya sedari dulu itu.


"Akhh ! s*al kenapa gue kalah lagi !" teriak Darren kesal.


"Makanya kalau main itu fokus jangan koment sana sini, jadi kalah kan loe," sela Kenzi disertai gelak tawa.


"Ini gara-gara si pria kecil itu fokus gue jadi terpecah.S*alan !"


Darren pun mendengus kesal. Lama tak bermain dengan Kenzi ia harap bisa mengalahkan lelaki berdarah campuran itu. Nyatanya lelaki Indo-Korea itu selalu lebih unggul darinya. Sudah 3 kali putaran ia selalu kalah gara-gara si pria kecil. Seketika image macho dan maskulin mereka sebagai pemimpin hilang entah kemana. Sikap kedua lelaki itu berubah 270° seperti saat mereka masih SMA.


Ini semua karena si pria kecil itu menurut Darren. Sedari tadi ia perhatikan pria kecil itu tampak aneh. Acara yang ia tonton semuanya seperti tontonan kaum hawa. Hingga akhirnya ia tak kuasa untuk tak bertanya yang membuat fokusnya hilang dan mengakibatkan kekalahan berpihak padanya.


"Udah ah gue ngantuk mau tidur," ucap Darren seraya pergi meninggalkan Kenzi dan Hana.


Kini di ruangan itu hanya mereka berdua. Sedari awal Darren datang mereka belum punya kesempatan untuk berbicara satu sama lain.


"Emm..Han,maaf ya kalau kamu ke ganggu ? aku enggak yangka aja Darren bakal ikut nginep disini bersama kita. Maaf kalau kamu kurang nyaman," cicit Kenzi sedikit merasa tidak enak hati.


"Enggak apa-apa Ken, mau gimana lagi. Sudah malam ayo kita tidur," ajaknya sambil berlalu.


Hana tak ingin ambil pusing, ia hanya ingin menikmati peran yang tengah ia perankan sebagai Hansel. Dan orang-orang hanya akan mengenal dirinya sebagai Hansel si pria kecil nan cupu bukan Hana si wanita malang yang gagal menikah.


Kini langkahnya berhenti diambang pintu. Sejenak ia berfikir bagaimana bisa ia tidur dengan 2 laki-laki dalam satu ruangan? Tidur satu ruangan dengan Kenzi saja sudah membuat matanya susah terpejam. Meski tempat tidur mereka terpisah, Hana berada diranjang sedangkan lelaki maskulin itu tidur di sofa. Dan kini dia harus berhadapan dengan 2 laki-laki sekaligus.


"Ada apa?" tanya Kenzi heran.


Seolah mengerti apa yang tengah wanita itu fikirkan. Ia pun memilih untuk mengalah.


"Baiklah..kamu tidur di sofa saja ya?biar aku tidur di bawah enggak apa-apa," ucap Kenzi memberi solusi.


"Tapi...beneran enggak apa-apa?bukankah kamu tidak pernah tidur di lantai?"


"Ha..ha..kenapa enggak?"

__ADS_1


Hana hanya menatap heran. Orang kaya seperti Kenzi mana bisa tidur dilantai hanya beralaskan karpet yang keras. Bahkan kasur yang ada diatas ranjang milik lelaki itu saja mampu membuatnya ketagihan untuk ditiduri.


"Biar aku saja,kamu kan enggak___," ucapannya terpotong oleh telunjuk Kenzi yang menempel dibibirnya.


"Sssst...tidak ada penolakan, aku laki-laki ladies is my first priority ,"ucapnya membuat bungkam Hana.


"It's okay...," balasnya final.


Hana pun menurut, lalu ia mengambil 2 bantal dan selimut untuk dirinya dan Kenzi. Sedangkan Kenzi ,lelaki itu sedang asyik dengan ponselnya dan sesekali membidikan kameranya kearah Darren yang tengah tertidur pulas.


"Apa yang kamu lakukan Ken?"


"Ssst ! aku sedang merekam laki-laki kebo ini, lihat saja tidurnya sudah seperti mesin diesel buat giling tepung."


Hana pun hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Kenzi. Beberapa hari hidup bersama lelaki itu banyak hal yang baru ia ketahui. Dari mulai Kenzi yang gemar merawat bunga, dan lelaki itu bukanlah seorang perokok meski ia peminum. Tapi selama ia disini ia tak pernah melihat lelaki itu meneguk minuman memabukan itu lagi bahkan ia tak melihat lagi barang sebotol pun di minibar milik lelaki itu.


Tanpa ia sadari Kenzi sudah menyingkirkan semua botol-botol itu semenjak dirinya mengalami insiden salah minum dan berakhir mabuk. Untung tidak terjadi apa-apa dengan dirinya dan lelaki maskulin itu.


Waktu itu ia sangat begitu malu karena ia baru mengetahui bahwa lemari besi yang ia sangka kulkas karena ada pengatur suhunya itu ternyata adalah sebuah dispenser air minum. Karena ia sedang menghindari minum air dingin akibat amandel yang ia derita.


Sedangkan Kenzi, lelaki itu sudah hilang kewibawaannya sebagai Ceo. Ia tengah asyik merekam dan membidik temannya yang masih tertidur pulas.


Pasti besok temannya itu syok setengah mati dengan videonya sendiri. Apalagi para wanitanua jika tahu pasti lari ngibrit dibuatnya. Salahnya lelaki macho itu sudah mengambil tempat tidur nyaman milik Hana. Dengan percaya dirinya tidur hanya menggunakan kolor dan singlet yang menampilkan bulu-bulu halus pada ketiaknya. Belum suara dengkurannya yang menyamai mesin diesel dan kuah dimulutnya yang sudah menjalar kemana-mana membasahi bantal miliknya.


Lalu ia menutupi badan teman terkutuknya itu dengan selimut. Ia tak ingin Hana tercemari fikirannya melihat pemandangan yang menjijikan itu. Dan juga ia tak rela jika Hana melihat tubuh L-Men milik temannya meski ia akui itu lebih bagus daripada miliknya.


Malam sudah semakin larut. Ternyata benar apa yang sudah diucapkan Hana. Dirinya tidak bisa tidur dilantai dengan hanya beralaskan karpet. Kalau tidur di sofa itu masih lebih baik karena sofa miliknya didesain khusus sesuai keinginannya.


"S*al ! mana dengkuran si kebo makin keras lagi !" umpatnya lirih.


Ia pun membalikan badan menghadap Hana yang sudah terlelap. Dengan hati-hati ia membenarkan selimut wanita itu.


"Selamat tidur my sweety," ungkapnya disertai senyuman termanis miliknya dan tentu saja dengan suara yang lirih hampir tak terdengar.


##


Paginya Darren terbangun karena merasakan ingin buang air kecil. Ia pun beranjak dari ranjang nyaman milik sahabatnya itu. Lalu ia langsung menuju ke arah toilet yang terletak dekat dengan kamar mandi yang sengaja didesain secara terpisah.


Setelah ia rasa cukup, ia mulai membersihkan pusaka miliknya itu. Lalu menuju wastafel untuk membersihkan wajahnya. Karena matanya sangatlah masih terasa berat untuk dibuka,ia pun meraba-raba mencari knop kran air untuk diputar. Setelah dirasa tak ada, ia baru sadar jika kran air tersebut memakai sensor otomatis. Ia pun hanya menepuk dahinya pelan.


"Ya..ampun gue lupa lagi di apartemennya sultan," gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Darren pun membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran lalu mengambil sabun cuci muka milik Kenzi. Tidak ada salahnya mengambil sedikit pastilah tidak ketahuan. Karena ia sangat malas untuk membongkar-bongkar barang bawaannya dalam koper.


Lalu masih dengan mata terpejam karena menikmati sensasi air dingin di pagi hari, tangan kanannya meraba-raba handuk kecil yang kemarin ia sempat gantungkan ditempat itu. Saat ia rasa dapat, lalu ia tarik dan langsung memakainya untuk mengelap wajahnya yang basah tanpa ia sadari benda apa yang sudah ia gunakan.


"Aahhh....segarnya..memang tidak ada air segar selain di negara sendiri ya," ocehnya seraya ingin menggantungkan barang yang ia sangka handuk itu.


Setelah semua nyawanya sudah terkumpul baru ia menyadari benda yang ia gunakan untuk mengelap wajah handsome nya tadi bukanlah sebuah handuk melainkan benda segitiga berwarna merah muda dengan renda-renda mengeliinginya. Reflek ia berteriak dan melempar benda keramat itu.


"Aarrrgggh !" teriaknya menggelegar.


Hana yang masih tertidur pulas pun sampai terperajat kaget hingga dirinya terjatuh dan menimpa tubuh kekar lelaki yang ada dibawahnya. Membuat empunya melenguh karena menahan sakit akibat tindihan Hana diatas tubuhnya.


"Ma..maafkan aku!" seru Hana panik.


Ini kedua kali dirinya terbangun dalam dekapan lelaki itu. Tentu saja wajahnya memanas karena malu.


Lelaki maskulin itu hanya mengangguk lemah karena masih belum sadar sepenuhnya. Lalu dengan tertatih ia hampiri sumber suara yang sudah membuatnya terbangun secara paksa.


"Apa-apan sih loe Ndro masih pagi buta gini teriak-teriak enggak jelas banget, loe mau para tetangga ngira gue merk*sa elo ya," gerutu Kenzi dongkol.


"Loe yang apa-apaan gila ! Gue tau loe jomblo akut tapi enggak gitu juga kali harus nyimpen barang gituan," seru Darren seraya menunjuk kearah benda berwarna merah muda yang tergeletak tak berdaya dilantai.


Kenzi pun mulai menyipitkan mata, ia merasa tak memiliki benda yang berwarna merah muda seperti yang Darren maksud. Lalu ia raih benda itu dan mulai menelitinya.


"Inikan _____"


"I..itu punya gue !" seru Hana seraya merebut benda keramat miliknya dari genggaman Kenzi.


Wajahnya sudah sangat memerah sampai ke kedua telinganya karena malu benda miliknya dipegang-pegang oleh para lelaki itu. Dengan panik ia sembunyikan benda keramat miliknya ke dalam saku celananya.


Sedangkan Darren yang mendengarnya hanya membeo tak percaya. Menyadari kesalahannya Hana buru-buru meralat kembali ucapannya.


"Ma..maksud gue, punya cewek gue kemarin ia sempat menginap disini dan tertinggal," ungkap Hana beralibi.


"Oh." hanya itu yang terdengar dari mulut Darren.


Seketika lelaki macho itu pun bergidik ngeri. Ia masih tak percaya dan tak menyangka pria kecil itu ternyata lebih berbahaya daripada dugaannya. Karena ia sendiri pernah melihat dan bahkan meraba benda keramat milik Magaret dan Paula dulu tapi tak sampai menyimpannya seperti si pria kecil lakukan.


Maaf jika ada salah kata dalam segi penulisan seperti typo dan kawan-kawan ya maklum masih belajar. 🤭


Selamat membaca😘

__ADS_1


__ADS_2