My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Yang Terdalam


__ADS_3

"Hallo Hana.?..maafkan aku, nanti aku tidak bisa pulang bersamamu, aku lupa aku ada jadwal operasi dengan pasien baruku yang datang dari kota jakarta,mungkin lain kali aku akan mengajakmu makan direstoran jepang langgananku bagaimana ?" kata Johan ke Hana melalui saluran telepon.


"Ohh...tidak mengapa Jo, aku bisa mengerti aku harap kau bekerja dengan sungguh-sungguh ya, selamat bekerja ya pak dokter ," ucap Hana menyemangati.


Dari seberang sana terlihat Johan mengulas senyuman termanisnya meski Hana tak mungkin melihatnya. Ia bahagia wanita yang akan menjadi istrinya nanti begitu perhatian dan selalu mendukungnya. Johan merasa beruntung sebentar lagi dirinya akan memiliki Hana seutuhnya cinta dalam hatinya sedari dulu.


"Terima kasih Hana, aku merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu pak dokter," balas Hana lagi sambil tersenyum.


Setelah saluran telepon itu ia matikan. Hana pun mulai membereskan meja kerjanya dan merapikan ruangannya. Hubungannya dengan Johan semakin dekat bahkan kini mereka berani mengucapkan rindu satu sama lain.


Ya hubungan yang berawal dari persahabatan itu tak akan mudah menjalin asmara seperti kebanyakan orang yang langsung menyatakan cintanya. Hana butuh waktu membiasakan diri dengan segala sikap manis layaknya seorang kekasih dari Johan terhadap dirinya. Karena memang dulu mereka terbiasa bersama tapi hanya sebagai teman. Kini Hana akan belajar mencintai lelaki itu seperti halnya lelaki itu mencintainya.


"Johan pasti belum makan aku akan membelikannya sesuatu, kira-kira apa ya? ah..iya nasi rawon saja itukan makanan kesukaanya juga," gumamnya sambil berjalan menuju basemant lantai satu.


Tidak ada salahnya jika sekali-kali dirinya memberi perhatian lebih kepada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Setidaknya dari sekarang ia mulai belajar menjadi seorang istri yang baik.


"Kenapa hatiku jadi berdebar-debar begini ya ? apakah aku sudah mulai jatuh cinta dengan Johan ? Tapi seperti ada hal lain yang membuat hatiku ini tiba-tiba berdebar, tapi apa ?"gumam Hana lagi.


Lalu Hana pun mulai masuk kedalan lift yang akan membawanya menuju lantai satu. Sela beberapa menit lift itu pun berhenti karena sudah sampai kelantai yang ia tuju. Pintu lift pun terbuka dan Hana pun segera keluar sambil mengecek pesan yang ada diponselnya.


Disaat bersamaan mama Laura mendorong kursi roda Kenzi dan masuk kedalam lift. Hana pun mendongakan kepalanya dan tanpa sengaja melihat kearah lift yang hampir menutup.


Nafas Hana tercekat ponsel yang ia genggam pun jatuh terurai. Matanya tak kuasa menahan air mata yang akhir-akhir ini jarang ia tumpahkan. Ia melihat Kenzi yang terduduk di kursi roda dengan pandangan mata kosong melihat kearahnya sedangkan disampingnya berdiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sisa-sisa kecantikannya di masa muda.Itu bukan Luna, apakah dia mama Kenzi ? tanyanya dalam hati.


"Ya Allah...apa aku sedang bermimpi ? Itu Kenzi kan kenapa ia tak mengenaliku?Kenapa Kenzi bisa ada disini ? Ini bukan mimpi kan ?"gumam Hana tertahan.


Jantungnya berdebar-debar kuat tak seperti saat dirinya berada didekat Johan. Hana masih terpaku terdiam ditempatnya. Jujur dari hatinya terdalam ia merindukan lelaki itu. Lelaki yang pernah memberi warna dihidupnya. Lelaki yang memberi kenangan termanis dihidupnya meski lelaki itu pula yang merenggut masa depannya hingga dirinya mengandung dan keguguran.


Aku merindu, ku yakin kau tau


Tanpa batas waktu, aku terpaku


Aku meminta walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Aku merindukanmu

__ADS_1


Aku merindukanmu


Sampai sebuah suara panggilan membuyarkan lamunannya.


"Dok...dokter Hana, maaf ponsel anda terjatuh dok,"


sapa seorang perawat seraya menyerahkan ponsel milik Hana yang sudah ia pungut.


"Eh...iya sus, terima kasih ya sus," balas Hana saat sudah tersadar dari lamunannya.


"Sama-sama dok."


Lalu suster itu pun berjalan kembali menuju meja perawat dimana ia sedang berjaga.


Hana memandangi ponselnya sesaat dan kembali memandangi lift yang sudah terbuka. Dalam hati ingin sekali dirinya mengejar orang tadi hanya untuk memastikan apakah benar tadi Kenzi ? Karena barusan lelaki itu tak mengenalinya. Tidak mungkin lelaki itu melupakannya begitu saja.Tapi Hana juga meragu takut salah jika dirinya gegabah.


Diurungkan niatnya itu lalu ia pun berjalan keluar rumah sakit menuju kedai depan rumah sakit tempat yang biasa ia makan siang bersama Johan. Lalu terlihat Hana memesan makanan untuk Johan. Setelah pesanannya selesai segera Hana titipkan ke satpam rumah sakit untuk membawakannya ke ruangan Johan.


Tak lupa pula ia memberi tips kepada satpam tersebut sebagai tanda ucapan terima kasih.


Sebenarnya niatnya tadi ingin langsung ia yang membawakan makanan itu untuk Johan tetapi ia urungkan mengingat barusan hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah pertemuan yang tak disengaja antara dirinya dan lelaki masa lalu yang masih menempati diruang hatinya itu.


Hana pun memutuskan untuk kembali pulang ke apartemennya.Setelah Hana mendapat pekerjaan tetap dikota itu dirinya memutuskan untuk membeli sebuah apartemen sederhana yang nyaman untuk ia tinggali.


Dipandanginya kotak berwarna biru berbentuk hati itu lalu dibukanya tutup kotak tersebut. Seakan membuka semua memori yang telah lama ia kubur dalam-dalam tentang benda yang ia temukan itu.


Tanpa terasa kristal bening pun jatuh membasahi kedua pipinya.Lalu diraihnya benda berbentuk kain berwarna biru dan terdapat nama sang pemilik yang sengaja dijahit dengan bordiran tertulis sebuah nama "KENZI" disudut kain itu.


Benda tersebut seakan jadi sebuah kunci yang mampu membuka seluruh kenangan yang Hana miliki bersama sang pemiliknya.


"Ken...aku masih menyimpannya, katamu ini kenang-kenangan untukku maka dari itu aku sengaja menyimpannya,"gumam Hana disela-sela tangisnya.


Hana bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta seperti wanita yang lain. Hatinya terlanjur mengukir satu nama yang bahkan sampai sekarang nama itu yang mendominasi isi hati dan fikirannya.


Sedangkan perasaaan sayangnya ke Johan masih sama rasa sayang sebagai sahabat atau teman bukan rasa sayang yang mendalam seperti rasa sayang yang ia miliki untuk Kenzi.


"Ken...sampai saat ini kau masih jadi yang terdalam dihatiku, andai waktu bisa diputar kembali mungkin aku akan menerima tawaranmu dulu.Tapi bagaimana dengan keluargamu?"


"Kenapa pula kau harus hadir disaat hatiku akan dimiliki orang lain?" tangis Hana tertahan.


Dipeluknya erat-erat sapu tangan biru itu dalan dekapannya. Besok Hana harus memastikannya sendiri semoga apa yang lihat tadi itu bukan hanya sebuah mimpi.


##

__ADS_1


Siang tadi Johan mendapat telepon dari dokter seniornya bahwa ada pasien yang datang dari kota jakarta yang akan menjadi pasien pertama Johan. Kali ini Johan akan melakukan operasi pertamanya dipandu dengan dokter senior yang selama ini membimbingnya.


Usai menelepon Hana tadi dirinya pun langsung dipanggil oleh dokter senior keruangannya untuk metting sebelum menjalani operasi yang sudah dijadwalkan dua jam kedepan.


"Selamat sore dokter Agus."


"Selamat sore juga dokter Johan, silahkan duduk."


"Yak..langsung saja ya dokter Johan, kali ini kita kedatangan pasien dari luar kota tepatnya dari jakarta.Pasien kita kali ini sudah mengalami kebutaan selama kurang lebih hampir enam tahun lamanya."


"Menurut riwayat yang saya baca, beliau sudah melakukan pengobatan ke Singapura hingga Korea tetapi belum ada yang cocok dengan pendonornya.Kebetulan sekali dari pihak rumah sakit kita mendapat pendonor yang baru saja meninggal. Sebelum meninggal sang pendonor tersebut sudah berwasiat untuk mendonorkan matanya bagi yang membutuhkan. Oleh karena itu kemarin dari pihak penanggung jawab sudah menghubungi pihak keluarga dan mereka menyambutnya dengan antusias."


"Maaf, boleh saya tahu sang pasien mengalami kebutaan karena apa ya dok?" tanya Johan ingin tahu.


"Pasien mengalami kebutaan akibat kecelakaan yang ia alami sekitar enam tahun yang lalu. Dan matanya kemasukan pecahan kaca yang menyebabkan fungsi retinanya rusak dan mengalami kebutaan, bagaimana sudah jelas dokter Johan?" papar dokter senior Agus.


"Baik, dokter Agus terima kasih atas penjelasannya."


"Sama-sama dokter Johan, saya harap operasi pertama anda nanti dapat berjalan dengan lancar karena ini menyangkut masa depan dan karir anda dikemudian hari."


"Terima kasih dokter, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Mohon bimbingannya dan dukungannya."


"Tentu saja...mari kita bertempur sampai titik darah penghabisan ,"canda dokter Agus.


Kedua dokter senior dan junior itu pun berjalan beriringan menuju ruang operasi. Disana sudah ada pasien yang sudah menunggu kehadiran mereka.


Saat Johan mulai mendekat dengan pasiennya, betapa terkejutnya ia dengan pasien yang ada dihadapannya saat ini. Pisau yang akan ia gunakan untuk memulai operasi pun terjatuh ke lantai.


"Dok...dokter Johan ada apa ? apa kau mengenalnya?" tanya dokter Agus setelah melihat reaksi dokter Johan yang sepertinya terkejut.


"Ahh..iya dok ia adalah teman sekolah saya waktu dijakarta."


"Oh...begitu, yasudah segera ambil tindakan waktu kita tidak banyak dok."


"Baik dok...maaf saya hanya agak terkejut tadi."


"Tidak apa-apa, tetap fokus saja."


"Sus...tolong ambilkan pisau steril lagi yang baru ya," pinta Johan ke suster yang mendampinginya.


Sela beberapa menit suster itu pun datang membawa alat yang ia pesan tadi.


Setelah itu terlihat dokter Johan memulai operasinya dengan serius. Meski dalam benaknya banyak pertanyaan tentang pasien yang ia tangani kali ini.Karena ia begitu mengenalnya. Pasalnya pasien kali ini adalah Kenzi orang yang pernah ada dalam hidup calon istrinya Hana.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi ? setahu Johan Kenzi mungkin saat ini sudah menikah dan punya anak dengan Luna tapi ia tak menemui keberadaan wanita itu didekat suaminya. Namun Johan memilih bersikap profesional dan segera menyelesaikan tugasnya.Operasi yang memakan waktu hampir dua jam itu pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan.


__ADS_2