My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Bertemu Pria Asing


__ADS_3

*Rumah Sakit


Kini Clara sudah kembali ke rumah sakit. Dilihatnya lelaki manis itu masih duduk diruang tunggu dengan ponsel berada dalam genggamannya.


"Bagaimana keadaan Raider Jo ?, ini gue bawakan makanan buat loe, loe pasti belum makan kan?" tanya Clara seraya menyerahkan sekantong makanan yang ia beli di KFD.


Johan tak bergeming. Dilihatnya kantong yang Clara bawa untuknya. Lalu ia tepis dengan kasar.


"Jo ! apa-apaan ini ? Kenapa loe menepisnya ?" tanya Clara terkejut akan tindakan Johan yang tiba-tiba.


"Seharusnya gue yang nanya ? loe beli makanan gini doang sampai berjam-jam dimana ?! loe enggak lihat Raider sedang berjuang didalam sana ?! Loe ibunya bukan sih ?! " bentak Johan dengan geram.


"Aa..ku...aku ."


"Sekarang ikut gue !" Johan pun menarik lengan Clara dengan kasar membawanya keluar menuju parkiran.


Sampainya mereka di luar gedung rumah sakit tepatnya di sebuah taman, Johan menghempas cekalannya tangannya dari Clara dengan kasar.


"Ouwh ! sakit Jo kenapa loe kasar sama gue ?" protes Clara tak terima.


Johan pun mendengus kesal. Ia sudah tak mampu lagi menahan emosinya yang sudah bergejolak.


"Loe minum ya ? jawab gue Clara !" bentak Johan penuh amarah.


"Ma...maaf cuma sedikit tadi, tadi enggak sengaja ketemu temen terus kita ngobrol sebentar deh."


"Bagus ya loe ! anak loe lagi nahan sakit sendirian loe malah enak-enak minum diluar sana !"


"Jo..gue bisa jelasin, gue enggak bisa nolak ajakan temen jadi__" kilah Clara.


"Terserah loe dah, sekarang gue tanya. Raider sebenarnya anak siapa ? jawab gue Clara !" bentak Johan geram.


Clara pun tampak terhenyak. Apa maksudnya Johan menanyakan hal itu ? Bukannya Raider itu anak hasil hubungan tak sengaja mereka berdua ? Bukankah itu sudah jelas.


"Jawab Clara !" bentak Johan kembali.


"Je..jelas anak kita lah, jelas-jelas kita udah melakukannya. Apa loe melupakan hal itu ?"


"Hei ! gue enggak bodoh ya ! kalau Raider itu anak gue kenapa darah kita bisa tidak cocok ?! kasih tau gue siapa ayah kandung Raider !" sentak Johan dengan raut wajah memerah menahan emosi.


Mata wanita berambut pirang itu pun melotot sempurna. Bagaimana mungkin ? Bukankah jelas-jelas mereka dulu sudah melakukannya tanpa memakai pengaman ? Clara pun kembali teringat akan ucapan Luna tadi saat di cafe.


Tidak mungkin Raider anak lelaki itu. Lelaki yang sudah ia pacari selama 2 tahun dan akhirnya kandas di tengah jalan karena lelaki itu sudah dijodohkan dengan wanita lain oleh keluarganya. Sudah tak terhitung berapa kali ia sering melakukannya bersama lelaki itu. Rasanya ia tak terima jika benar-benar Raider darah dagingnya bersama lelaki blasteran itu.


"Katakan Clara ! Dengan siapa saja loe tidur sebelum sama gue ?! kita tak punya waktu untuk berdebat Raider sedang membutuhkan darah ayahnya. Kalau loe pengen Raider selamat cepat cari lelaki itu !" bentak Johan.


Lalu lelaki manis itu pun hengkang dari hadapan wanita berambut pirang yang masih diam mematung di tempat.


Pandangan Clara pias. Buliran bening mulai membasahi wajahnya. Ia masih tak percaya. Bagaimana ini bisa terjadi ? Dulu selama melakukannya bersama lelaki blasteran itu ia tak pernah seceroboh ini.


Bayi yang selama ini ia sangka hasil perbuatan tak sengaja dirinya bersama Johan, ternyata bukanlah anak dari lelaki manis itu melainkan dengan mantan kekasihnya. Mungkinkah saat itu dirinya sudah mengandung sebelum melakukannya bersama Johan ? Ini sungguh diluar dugaannya.


Lalu wanita berambut pirang itu meraih benda pipih persegi yang ada didalam tasnya. Dan ia mulai mencari kontak seseorang lalu menekan icon berwarna hijau pada benda pipih miliknya.

__ADS_1


"Halo...Lun, gue butuh bantuan loe segera. Ini menyangkut anak gue. Anak gue sedang kritis," ucap Clara dengan suara isakan tangis.


##


*Di apartemen


Paginya Hana dan Darren sudah bersiap dengan bawaan mereka. Koper dan ransel sudah berjajar rapi didepan pintu.


"Sebelum ke kantor, gue akan antar kalian berdua dulu," tawar Kenzi sambil mencomot 1 sandwich buatan Hana dan menggigitnya.


"Enggak usah Ken, nanti kamu bakal telat ke kantornya ? Bukankah di kantormu sedang bermasalah ?" tolak Hana dengan halus.


"Memang benar sih, cuma bagaimana kalian akan pulang ?" tanya Kenzi sambil menatap kearah kedua orang yang ada dihadapannya.


Setelah kejadian kemarin dengan ajaibnya Darren berubah jadi orang yang pendiam. Lelaki macho itu tidak seheboh biasanya. Biasanya ia akan sangat antusias sekali jika akan menjalani sebuah aktivitas meski aktivitas yang ia lakukan terlihat tidaklah berguna. Ia akan bermain keluar entah kemana dan pasti pulang dengan keadaan mabuk.


"Ehem, mending loe anter Hana aja Ken. Arah tujuan kita jauh dan berbeda. Gue bisa pulang sendiri naik taksi," usul Darren.


"Tapi disini tidak ada taksi, loe yakin mau balik pakai ojek ? kalau tukang ojek mah ada," jelas Kenzi.


Glek !


Mana mungkin Darren yang mengecap dirinya tampan, macho dan cool ini naik ojek ? Semenjak lulus sekolah ia tak pernah menaiki transportasi beroda dua itu. Belum bawaannya yang ia bawa lumayan banyak.


"Huh ! menyebalkan kenapa di daerah elit begini tidak ada taksi ?" gerutu Darren setengah berbisik.


"Itu sih derita loe ! gue mau ke bawah dulu buat manasin mobil gue, Han kamu siap-siap ya ," pamit Kenzi


"Aku akan mencarikanmu taksi online Darr, tenang saja," kali ini Hana menyahuti.


"Sudah, sebentar lagi menuju kesini Darren kamu siap-siap saja," ucap Hana lagi sambil tersenyum.


"S*al ! jantung gue bisa berdebar-debar lagi. Kenapa gadis cupu itu pula sekarang bisa menjadi cantik sih ?"


"Ah...iya anu, ma..makasih ya."


"Han..," panggil Darren lagi.


"Iya..kenapa ?" sahut Hana pelan dengan suara lembut khas wanitanya.


"S*al ! kenapa ia harus mengeluarkan suara selembut itu ? gue jadi mikir yang tidak-tidak ini."


"Ah..anu, gue minta maaf ya selama ini kalau sikap gue kurang baik ke loe," sesal Darren.


"Lelaki slengekan ini ternyata bisa minta maaf juga ya, mungkin aku harus menerima maafnya," gumam Hana dalam hati.


"Tidak apa-apa, adakalanya setiap orang itu akan berubah seiring berjalannya waktu," balas Hana dengan tersenyum lagi.


"Hei ! berhentilah tersenyum sama gue, bisa-bisa gue masuk rumah sakit karena diabetes ini !" teriak Darren di hati.


Tiba-tiba datanglah Kenzi yang baru saja selesai memanaskan mobilnya.


"Playboy model seperti dirinya mana mungkin berubah Han, motto dia sedari dulu kan 'No women no happy' kalau enggak 'No drink no life' ," sahut Kenzi dengan raut mengejek.

__ADS_1


"Kampr*t loe ! gue akan tobat kalau gue udah nemu wanita yang bisa berhentiin gue dari kebiasaan gue itu ya," balas Darren dengan kesal.


"Oh..ya gue kagak peduli tuh, gue cabut dulu. Ayo Han aku akan mengantarmu."


Mereka berdua pun keluar dengan membawa barang Hana yang tak seberapa.


Darren pun memberengutkan wajahnya kesal sambil menirukan gaya bicara Kenzi ke Hana yang dibuat selembut mungkin.


Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah lama Hana.


"Nanti kalau ada apa-apa segera kabari aku ya."


"Pasti, terima kasih buat semuanya Ken. Maaf aku sudah merepotkanmu selama ini."


"Tak mengapa, kita masih sahabatan kan atau lebih ?" canda Kenzi.


Seketika raut wajah Hana merona saat mengingat mereka tengah berpagutan satu sama lain. Itu sungguh sangat memalukan. Mulutnya berkata tidak akan tetapi tubuhnya tak bisa menolak akan sentuhan yang lelaki maskulin itu berikan.


"Sudahlah jangan menggodaku terus, ini sudah siang. kau seorang Ceo, harusnya kamu memberikan contoh yang baik ke karyawan mu."


Kenzi pun tersenyum senang melihat raut wajah Hana yang merona karena malu.


"Baiklah aku segera pergi, hati-hati dirumah ya," pamit Kenzi kemudian.


Hana pun hanya mengangguk. Seketika ia teringat dengan surat kaleng yang kemarin ia terima beserta bingkisan merah itu. Selepas Kenzi pergi, ia segera membereskan barangnya dan membersihkan diri.


Kini wanita berwajah oriental itu sudah sampai di sebuah restoran bergaya Chinese. Restoran itu bernama 'Taewon'. Dengan langkah meragu ia mulai membuka pintu.


"Huānyíng," (selamat datang )sapa seorang pelayan.


"Maaf, apa nona bernama nona Hana ?" tanya pelayan itu lagi.


"Iya benar, saya ingin bertemu dengan seseorang."


"Anda sudah ditunggu oleh tuan nona, mari saya antar ke privatroom yang sudah dipesan khusus oleh tuan untuk bertemu anda," ajak si pelayan untuk masuk de dalam restoran yang lebih dalam.


"Tuan ? Siapa yang di maksud dengan tuan oleh pelayan ini ? Ia terdengar seperti seorang bos besar. Aku semakin penasaran siapa gerangan orang yang ada di masalaluku itu ?" gumam Hana dalam hati.


"Ah..baik."


Hana pun mengekori dari belakang pelayan itu. Kini sampailah ia di privatroom. Ruangan itu hanya di sewa oleh orang-orang penting. Terlihat tidak sembarangan orang bisa masuk ke area situ yang berada di lantai 3 restoran.


"Silahkan masuk nona, anda sudah ditunggu oleh tuan. Saya pamit dulu," ujar pelayan tersebut.


Saat wanita berwajah oriental itu mulai menggeser pintu yang terbuat dari kayu jati itu, ia nampak menautkan kedua alisnya melihat seorang laki-laki tengah berdiri menatap kearah keluar jendela membelakanginya.


"Siapa dia ? aku tak pernah melihatnya,"gumam Hana lirih.


Tentu saja kehadirannya terasa oleh lelaki itu dan mampu mengalihkan atensinya dari memandangi jalanan yang ramai.


"Hai, apa kabar my Queen....Hana ?"


Terima kasih atas semua dukungannya ya..

__ADS_1


Salam Semangatt 💪💪


__ADS_2