My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Rahasia terpendam Johan


__ADS_3

Sudah sebulan lebih semenjak peristiwa yang sangat mengejutkan dirinya dengan tiba-tiba terbangun bersama Clara wanita dimasa lalunya itu.Ia tak pernah lagi menjumpai wanita itu.


Sungguh ia tak ingin melihatnya lagi muncul dihadapannya. Namun siapa sangka?bSiang ini Johan melihat wanita berambut pirang itu keluar dari sebuah ruangan disalah satu ruangan rumah sakit tempat ia bekerja.


Ia membaca lagi keterangan nama yang menempel disudut atas pintu ruangan tersebut.


"Dokter Anita Sp.OG ?? Apa yang dilakukannya kesini ?"


Johan menatap kepergian Clara yang sudah menghilang dibalik pintu lift. Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu dengan wanita itu.


Jantung Johan berdebar-debar ia takut apa yang sedang ia fikirkan terjadi. Untuk apalagi seorang wanita mendatangi dokter kandungan kalau bukan untuk memeriksa sesuatu yang berhubungan dengan kandungan atau kehamilan.


Johan masih diam mematung di tempatnya.Tangannya berkeringat dingin dan kepalanya mulai terasa sedikit pusing. Tiba-tiba ada sebuah tangan meraih jari-jemarinya dengan lembut.


"Jo, kamu sedang sakit ? wajahmu terlihat pucat dan telapak tanganmu juga sangat dingin ?" tanya Hana khawatir.


"Akh ! sepertinya aku sedang kurang enak badan saja Han, mungkin sedikit istirahat sebentar sudah pulih kembali."


"Benarkah ? tidak ada yang kamu sembunyikan dariku kan ?" tanya Hana lagi mencoba memastikan karena Hana merasa Johan seperti menyimpan sesuatu.


"Te...tentu saja tidak Hana !" ucapnya terbata dan berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Baiklah, aku akan antar keruanganmu. Siang ini kita tidak usah makan diluar ya ? aku akan memesan makanan untuk kita berdua."


"Tumben sekali ?"


"Aku hanya merasa hubungan kita akhir-akhir ini sedikit kurang romantis Jo, dan aku ingin memperbaikinya apa aku salah ?"


"Tidak, memang ini yang seharusnya sepasang kekasih lakukan," balas Jo dengan senyuman agar wanita itu tidak mencurigai kegundahan hatinya.


Wanita itu pun tampak tersenyum dengan tulus.Senyuman yang mampu menentramkan sekaligus memikat jiwa dan hati seorang Johan.


"Oh..Tuhan jika memang benar apa yang aku khawatirkan terjadi ? mungkinkah dapat kulihat kembali senyuman manis yang mendamaikan ini ?"


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan kerja Johan. Sebagai dokter spesialis baik Hana maupun Johan sudah memiliki ruangan periksa pasien masing-masing.


****


Siang ini Johan menerima sebuah pesan dari nomer yang tak dikenal. Isi pesan tersebut memintanya bertemu untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting. Si pengirim pesan mengancamnya akan memberitahukan rahasianya kepada tunangannya jika lelaki itu tak menuruti permintaannya untuk bertemu di sebuah cafe.


Dan akhirnya kini Johan sudah duduk seorang diri di sebuah cafe yang sudah disepakati. Sesekali ia melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia penasaran orang yang sudah memintanya bertemu itu siapa ? karena ia berani mengancam akan membongkar rahasianya jika tidak ia turuti. Tiba-tiba sebuah suara mengalihkan pandangannya.


"Johan," panggil wanita itu pelan.


"Clara ! apa yang loe lakuin disini ?!" tanya Johan berusaha mengontrol emosinya karena ini sedang di tempat umum.


"Gue pengen ngomong sesuatu."


Clara pun mulai duduk dihadapan Johan.


"Katakan apa yang ingin loe omongin ke gue ?!" sentak Johan tak sabar.


"Sebelumnya sorry, kalau gue sempat ngancem loe tadi soalnya gue enggak ada cara lain buat maksa lo kesini," maaf Clara kemudian seraya menyerahkan sebuah map berwarna merah.


"Apa ini ?!" tanya Johan tak mengerti.


"Loe buka saja dan loe akan tahu jawabannya."

__ADS_1


Johan pun mulai membuka map berwarna merah dan membaca isinya. Seketika matanya membola. Ia seorang dokter tentu saja ia tahu apa yang tertulis disana.


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin !" bantah Johan setelah membaca hasil pemeriksaan dokter tersebut.


"Itu benar Jo, gue hamil dan terakhir kali gue lakuinnya kemarin cuma sama loe karena gue emang lagi tidak punya kekasih saat ini."


"Loe bohong kan ! loe sengaja njebak gue !" bantah Johan lagi.


"Tidak Jo ! demi Tuhan kalau loe enggak percaya lebih baik gue akan aborsi saja anak ini !" ancam Clara lagi.


"Jangan !"


Setelah terdiam cukup lama ia menarik nafasnya dengan berat dan menghembuskannya kasar.


"Jadi sudah berapa minggu usianya ?" tanya Johan mulai melunak.


Clara pun tersenyum senang akhirnya lelaki itu mau mendengarkannya.


"Usianya sudah 7 minggu. Soal itu gue tidak bohong Jo sumpah ! cuma loe laki-laki yang tidur sama gue terakhir kali karena seminggu sebelum itu gue udah putus sama cowok gue."


Johan pun terlihat memejamkan matanya. Ini sungguh pilihan yang berat. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan wanita itu menggugurkan bayi yang tidak berdosa sama sekali. Meski ia harus menanggung resikonya nanti tapi ia juga harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan sebelumnya. Ia bukanlah lelaki brengs*k seperti yang lain.


"Baik gue akan bertanggung jawab atas bayi itu, tapi maaf kalau untuk nikahin loe gue enggak bisa. Loe tahu sendiri gue sudah bertunangan."


Clara sedikit kecewa dengan jawaban Johan akan tetapi ia juga merasa senang karena Johan sudah menerima dan mengakui bahwa bayi dalam kandungannya adalah benar anak mereka.


Semenjak itu hubungan keduanya semakin membaik.Tak jarang Johan menemani Clara untuk memeriksakan kandungannya yang kini sudah menginjak 3 bulan. Meski belum terlihat membesar akan tetapi pengaruhnya sudah mulai terlihat.vTubuh Clara sudah terlihat mulai berisi.


Bahkan sudah memasuki 4 bulan pun Clara masih merasakan mual yang hebat. Johan tidak tega membiarkan wanita itu melaluinya seorang diri.


Ia hanya ingin mempertanggung jawabkan hasil perbuatannya sendiri. Karena kini anak dalam kandungan Clara merupakan darah dagingnya yang berarti tanggung jawabnya pula sebagai seorang ayah.


Saat Johan akan beranjak pergi, dengan cepat Clara meraih pergelangan tangannya.


"Jo please jangan pergi," pinta Clara sambil memelas.


"Clara ini sudah malam, besok gue harus kerja," tolak Johan halus.


"Gue....hummpt..hmmpt !" Clara tampak membungkam mulutnya dan berlari menuju westafel dan memuntahkan semua yang sedari tadi mengaduk-ngaduk isi perutnya.


Clara pun terduduk lemas di bawah westafel.Wajahnya tampak pucat berkeringat karena lelah.Johan tak tega membiarkannya, diangkatkan tubuh wanita hamil itu menuju ke ranjangnya.


Ranjang saksi percintaan panas mereka beberapa bulan lalu. Ia merutuki kebodohan yang sudah ia perbuat kenapa bisa ia melepas keperjakaannya dengan Clara sampai wanita itu kini tengah mengandung buah hasil percintaan mereka.


Menyesal pasti tapi mau bagaimana lagi. Ia bukan lelaki brengs*k. Baginya sebagai seorang dokter nyawa itu sangat berharga.


Dengan lemas Clara meraih telapak tangan Johan dan meletakan diatas perutnya yang tampak sudah menonjol itu.


"Begini lebih baik Jo.," senyum mengembang dari sudut bibirnya dan perlahan wanita itu mulai terlelap dalam tidurnya.


Ia masih lelaki normal. Melihat Clara tertidur dengan mini dressnya dengan perut yang sudah mulai membesar dan buah d*d* yang tampak menonjol keluar membuat birahinya seketika berdesir membuat sesuatu dibawah sana bergerak.


Si*l !!


Dilepaskannya genggeman wanita itu perlahan lalu diselimutinya sampai keleher. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Tempat pembawa sial baginya. Dan diraihnya kunci mobil diatas nakas dan menggesek kembali keycard untuk mengunci kembali pintu apartemen Clara.


Begitulah aktivitas Johan selama ini. Tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan Hana. Wanita berwajah oriental itu masih belum curiga karena ia menganggap kesibukan yang selalu Johan bilang kepadanya karena kesibukannya sebagai seorang dokter.

__ADS_1


Padahal lelaki itu selama ini sudah sering mengunjungi Clara di apartemennya.


Keesokan harinya Hana dan Johan pulang bersama dan mampir ke sebuah Cafe tempat favorit mereka berdua untuk sekedar ngopi bersama.


Hubungan kedua kini agak dingin. Hana merasakan kini tingkah Johan sedikit agak berbeda dari biasanya.Bahkan saat bersamanya pun Johan lebih banyak memperhatikan ponselnya daripada berbicara dengannya.


Padahal Hana sudah membuat pilihan kemarin. Ia memutuskan untuk lebih memilih melanjutkan pertunangannya dengan lelaki yang ada didepannya ini. Ia akan menepis jauh-jauh perasaannya terhadap Kenzi. Dan ia akan belajar berteman dengan masa lalunya itu.


"Jo...," sapa Hana pelan karena sepertinya Johan sangat sibuk dengan ponselnya saat ini.


"Iya," balasnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Hana ia masih sibuk memperhatikan ponselnya.


"Jo, kamu berubah."


Ucapan singkat Hana mampu membuat Johan mengalihkan atensinya dari benda pipih yang ia genggam. Setelah membalas pesan terakhir dari seseorang, Johan pun menutup kembali ponselnya dan meletakan disamping minumannya yang sudah agak dingin.


"Maksudmu bagaimana? aku berubah ? tidak aku masih sama seperti Johan yang dulu."


"Tidak maksudku akhir-akhir ini kamu sering sibuk, tapi saat aku tanya dokter senior jadwalmu sedang tidak padat."


Deg !


Dada Johan berdebar-debar keras, ia sadar akhir-akhir ini ia sudah jarang memperhatikan wanita yang sudah menjadi tunangananya itu. Waktunya ia habiskan memperhatikan wanita yang lain sedang mengandung anaknya.


Kini perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Ia sudah banyak membohongi wanita lembut yang ada dihadapannya sekarang.Tapi bagaimana lagi ? Ia juga tidak bisa mengacuhkan begitu saja bayi yang sebentar lagi akan terlahir didunia dan memanggilnya 'ayah'. Diraihnya jemari Hana dan digenggamnya lembut.


"Maafkan aku, saudaraku sedang mengajakku berbisnis. Jadi saat ini kami fokus dengan bisnis kami itu. Aku harap kamu mengerti, ini demi masa depan kita Hana."


Kali ini Johan benar-benar mengutuk mulutnya sendiri yang berulang kali membohongi wanitanya itu.


"Oh..begitu, baiklah terus semangat ya tapi apa nanti malam kita bisa keluar bersama ? ini kan malam minggu," ucap Hana mengingatkan.


"Tentu saja, akh sebentar !" potong Johan sambil menerima sebuah panggilan dari ponselnya.


"Maafkan aku Hana sepertinya nanti malam kita tidak bisa dinner bersama mungkin lain waktu ?"


"Baiklah tidak masalah, apa ini ada hubungannya dengan bisnismu ?"


"Iya begitulah, aku harap kamu mengerti ini demi masa depan kita."


"Aku mengerti Jo jadi kamu tidak perlu merasa bersalah begitu."


"Baiklah aku harus pergi sekarang kamu pulang sendiri tidak apa-apa ?"


Hana pun mengangguk patuh. Ia kini jadi penasaran bisnis apa yang kini tengah lelaki itu jalani hingga mengabaikan dirinya seperti sekarang. Johan benar-benar sudah berubah. Perhatiannya kini sudah terbelah.


Kini ia mengaduk-ngaduk Vanila latte nya tanpa semangat. Bahkan lelaki itu juga sama sekali belum menyentuh minumannya yang sudah dingin. Kini ia meragu apakah pilihannya kali ini salah ? Ia pun menggeleng pelan.


Diraihnya ponsel yang sedari tadi ia acuhkan. Terdapat pesan dari Kenzi yang selalu menanyakan kabarnya.Sedangkan Johan, lelaki itu kini sangat jarang memberi perhatian padahal dulu itu kebiasaannya.


Johan akan selalu memberinya kabar kemanapun ia pergi dan selalu mengingatkannya untuk makan.


Ia memutuskan pulang naik taksi. Perasaannya sedang tidak enak. Ia ingin segera sampai rumah.


Tapi saat di lampu merah ia melihat disebrang sana orang yang sangat ia kenal keluar dari mobilnya dan memapah seorang wanita yang terlihat sedang mengandung dari perutnya yang membesar.


"Johan !" desisnya tertahan.

__ADS_1


__ADS_2