
Hari demi hari pun berlalu. Keadaan bu Hesti pun berangasur-angsur membaik. Kemarin selama ibunya sakit Hana ijin tidak masuk sekolah selama dua hari.Johan lah yang membantu mengijinkannya ke sekolah.
Selama Hana tidak sekolah, Johan selalu menyempatkan diri menjenguk ibu Hesti dan menemani Hana.Tak lupa juga Johan meminjamkan semua catatannya kepada Hana agar gadis itu tidak tertinggal mata pelajaran.
"Hana...setelah lulus kamu mau kuliah dimana?"tanya Johan saat mereka berdua sedang membaca buku diperpustakaan.
Ya selama ini Hana selalu menghindari Kenzi dengan menghabiskan waktu membaca diperpustakaan.Rasanya hati Hana tak sanggup jika harus berhadapan dengan lelaki yang sudah memporak-porandakan perasaannya itu. Dan Johan, pemuda manis itu selalu setia menemani kemana pun ia ingin pergi.
"Aku belum tau Jo, setelah lulus ini ibu mengajaku untuk pindah tempat buleku yang ada di Jawa.Mungkin aku akan pindah ke jawa dan kuliah disana " terang Hana .
"Wahh,,kebetulan sekali, aku juga pengen kuliah dijawa tepatnya di Universitas ternama yang ada di Jogja itu .Aku dengar lulusan disana keren-keren. Banyak dokter-dokter yang bekerja disini juga lulusan dari sana."
"Bagaimana kalau kita kuliah juga disana Han?"ajak Johan penuh semangat.
"Aku belum tahu Jo, aku bakal dapat beasiswa lagi gak disana. Kamu kan tau sendiri , aku bisa sekolah disini karena beasiswa ," balas Hana lesu.
Mana mungkin dirinya bisa kuliah di Universitas ternama itu meski dalam hati Hana sangat ingin bersekolah di fakultas kedokteran yang ada di jogja tersebut.
"Kamu bisa daftar jalur SNMPTN nanti, tinggal kirim aja data-data prestasimu nanti aku yang akan daftarin kesana. Nanti aku juga ikutan daftar siapa tahu kita beruntung ," tutur Johan lagi dengan tersenyum.
"Benarkahh ??"
Wajah Hana tampak berbinar mendengarnya. Apapun kesempatannya Hana tak akan pernah menyia-nyiakannya.
Saat Hana dan Johan akan kembali ke kelas, terlihat Kenzi sedang menunggunya didepan kelas. Hana sempat berhenti saat melihat ada Kenzi tapi kemudian ia acuhkan dan memilih berjalan kembali melewatinya.
"Han...bisa minta waktunya sebentar please?" pinta Kenzi memelas.
"Untuk apa ? bagiku tidak yang perlu dijelaskan lagi,semua sudah Ken ,mulai saat ini jangan hubungi aku lagi !," balas Hana ketus.
Tanpa menanti balasan dari Kenzi, Hana berlalu masuk ke dalam kelas.
"Han....Hana..Hana ..please?"mohon Kenzi.
Johan pun menahan Kenzi yang ingin mengejar masuk kedalam kelas.
"Udah Ken...kasih waktu Hana dulu, biarkan ia menenangkan hatinya dulu. Gue yakin dia bakalan dengerin loe suatu saat nanti ,"nasihat Johan.
"Oke...gue minta tolong sama loe tolong jagain Hana selama gue gak ada disampingnya, semua ini tidak seperti apa yang ia fikirkan ," pesan Kenzi.
"Hmm...baiklah, semampunya akan gue usahakan ," balas Johan.
Lalu Kenzi pun berlalu dari kelas XIIia1. Untuk saat ini mau tidak mau dirinya harus berdamai dengan Johan orang yang selama ini ia anggap rival dalam juara dan dalam merebutkan cintanya.
##
Tak terasa ujian kelulusan telah tiba. Semua murid tampak sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian yang sebentar lagi dimulai.Tapi itu tidak berlaku bagi Luna dan kawan-kawannya. Mereka malah asyik mengecat kuku-kuku mereka yang setiap minggu harus ganti-ganti warna catnya.
"Rencana loe berhasil Lun, akhirnya loe bisa memiliki Kenzi juga ," puji Clara kepada Luna.
"Iyalah....siapa dulu dong Luna gitu loh ," balas Luna dengan bangganya.
"Terus acara nikah loe sama Kenzi kapan ?" tanya Angel.
__ADS_1
"Setelah lulus ini mungkin ," jawab Luna agak ragu.
"What !! gila secepat itu ! "pekik Clara dan Angel bersamaan.
"Isshh...loe berdua yang gila ! pake teriak-teriak lagi deket gue, emang gue tuli apa !" kesal Luna.
"Hehee....sorry Lun , habis kita kaget. Gue pikir loe lebih mentingin karir loe. Sedangkan umur loe masih muda gini, loe yakin bakal jadi ibu rumah tangga setelah ini ??"tanya Clara lagi.
"Emm...sebenarnya gue juga bingung sih cuma, ini kesempatan gue buat miliki Kenzi, haduh..gue jadi galau nih pilih karir apa pujaan hati ya ?" balas Luna sedikit lebay.
Clara pun menepuk pundak Luna dengan pelan.
"Apapun pilihan loe pasti kita dukung Lun, ya gak Ngel ?" sambil meminta persetujuan Angel.
Angel pun menjawab dengan anggukan.
Ujian kelulusan selama empat haripun telah usai tinggal memenuhi tugas-tugas yang belum terpenuhi.Selama itu pula baik Hana maupun Kenzi tak pernah lagi bertatap muka setelah hari terakhir kali mereka bertemu sebelum ujian berlangsung.
"Hana...kamu habis ini ada acara tidak?" tanya Johan kepada Hana yang sedang merapikan alat tulisnya.
Kebetulan sekali mereka satu ruangan saat ujian karena nama abjad mereka berdekatan.
"Mungkin aku masih punya waktu sekitar satu jam Jo,kamu tau sendirikan ibuku masih kurang sehat. Aku tak bisa membiarkan ibu terlalu capek sendirian ," balas Hana menjelaskan.
"Oh...iya, tadinya aku ingin mengajakmu mencari buku di toko buku History langgananku ,"jujur Johan.
"Baik lah...satu jam mungkin cukup kan ?"tanya Hana lagi.
Tiba-tiba saat Hana akan beranjak pergi ponselnya berdering.
"Iya...hallo dengan saya sendiri ." jawab Hana.
"........."
"Apaaaa ??! "pekik Hana tertahan sambil membekam mulutnya sendiri.
Air mata pun tak dapat dibendung oleh Hana.Hana pun langsung beranjak dari tempatnya berdiri dan melupakan janjinya dengan Johan. Johan yang melihatnya pun ikutan panik dan mengikut langkah Hana dari belakang.
"Han...Hana tunggu sebentar ada apa ??"panggil Johan sambil meraih lengan Hana untuk menahannya.
"Ibuku Jo...ibuku. Ibuku ada dirumah sakit !" jawab Hana sambil terisak.
"Oke..kamu yang tenang ya, kita kerumah sakit bersama-sama," ajak Johan sambil membawa Hana keparkiran.
Dari kejauhan Kenzi melihat Johan menggandeng tangan Hana sambil menatap hampa.
"Hana....semua ini tidak seperti yang kamu fikirkan, aku pun juga merasa sakit disini. Aku dipaksa Han, andai kamu tau hatiku masih sama kamu. Dan sampai kapanpun wanita yang gue cintai itu ya cuma kamu !" gumam Kenzi seorang diri.
Motor Johan pun melaju agak cepat menembus padatnya jalanan karena memang siang itu bertepatan jam sekolah usai. Akhirnya mereka sampai setelah perjalanan yang memakan waktu 20 menit menuju rumah sakit dimana ibu Hana berada. Hana pun langsung bergegas mencari kamar ibunya ke meja resepsionis.
Setelah dapat segera Hana menuju ruangan itu.Dilihatnya bi Anis tetangganya yang tadi membawa ibunya ke rumah sakit sedang duduk diruang tunggu.
"Bi..bi Anis bagaimana kabar ibuku ?"tanya Hana panik.
__ADS_1
"Bibi juga belum tau Hana, dokter sedari tadi belum keluar ,"jawab bi Anis sedih.
"Bagaimana ceritanya bi ? Kenapa ibu bisa kolaps lagi seperti ini ?" tanya Hana beruntun.
"Bibi juga tidak tahu Han, saat bibi ingin memberi kue ke ibumu. Ibumu sudah jatuh tak sadarkan diri dekat meja telepon ," ungkap bi Anis jujur.
Setelah itu terdengar pintu ICU terbuka dan keluar lah dokter Revan yang selama in menangani ibu Hana.
"Dok...dokter bagaimana keadaan ibu saya dok ??!" tanya Hana panik karena tidak melihat senyum dari dokter muda tersebut.
"Maafkan saya ya dek, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan sudah berkendak lain. Adek yang tabah ya, saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ," tutur dokter Revan penuh sesal.
Seketika dunia Hana terasa runtuh. Hidupnya seakan terhempas jauh pandangannya pun mulai menggelap hanya terdengar samar-samar suara memanggilnya lalu menghilang.
Johan yang sedari tadi memanggil-manggil nama Hana pun panik, lalu dokter Revan menyarankan untuk dibawa keruangannya saja. Sedangkan bi Anis pulang ke rumah mempersiapkan segala keperluannya dan memberi kabar kepada para tetangga.
Hana tampak terbangun disebuah tempat yang luas disana tampak serba putih. Lalu ia melihat sosok yang sangat ia kenal yaitu ibunya sedang duduk di kursi taman.
"Kemarilah nak ,"panggil sosok itu.
Hana pun mulai mendekat. Dipandanginya sosok pucat pasi itu dengan seksama.
"Ibu..benarkah ini kamu ibu ?" tanya Hana dengan mata berkaca-kaca.
"Benar nak, maafkan ibu. Ibu tak bisa menemanimu lagi. Ibu harus menyusul ayah dan kakakmu Citra ," ucap sosok itu sedih.
"Tapi kenapa secepat ini bu ? Bahkan Hana pun belum lulus sekolah. Ibu janji bakal menemani Hana sampai sukses," tanya Hana dengan air mata terus menderai yang membasahi kulit putihnya.
"Mungkin ini sudah takdir Ilahi ibu tidak bisa menolak.Hana...kamu tidak perlu kawatir lagi ibu sudah tidak merasakan sakit lagi disini, pesan ibu berhati-hatilah dalam bertindak, rajinlah menabung, dan jangan sampai telat makan ,"titah sosok itu.
"Ibu...ibu Hana tidak sanggup ibu ,"isak Hana pilu.
"Hana waktu ibu tidak banyak lagi, setelah ini pergilah ke alamat bulek mu yang ada di jawa. Bulekmu orang yang baik hidupmu akan lebih baik disana ," pesan sosok bu Hesti sebelum kabut datang dan membawa bayangannya pergi.
"Ibu...ibu...Ibu jangan pergiiii !! " pekik Hana dengan tiba-tiba terbangun.
Dilihatnya ruangan ini masih dirumah sakit. Nafas gadis itu tampak tersengal-sengal. Keringat bercucuran membasahi wajah cantiknya. Johan yang sedang diluar pun langsung masuk ke dalam ruangan setelah mendengar teriakan Hana dari dalam.
"Han...Hana kamu sudah sadar, syukurlah ," tenang Johan.
"Ibu Jo...ibu sudah tidak ada..hiks...hikss ," Hana tak mampu lagi membendung air matanya.
"Kamu yang sabar aja ya Hana."
Hati Johan ikut tersayat melihat wanita yang ia kasihi menangis pilu seperti itu.Tak sanggup hanya melihat diraihnya bahu Hana kepelukannya untuk mencoba menenangkannya.
Hana pun membalas pelukan Johan dengan erat sambil terus menangis. Sungguh kali ini dunianya serasa runtuh, ia butuh seseorang untuk menguatkan hatinya.
Dokter Revan yang memperhatikan mereka dari arah pintu pun tampak ikut menitikan air mata. Dokter itu merasa kasihan ke gadis malang itu. Diumurnya yang masih sangat muda harus hidup sebatang kara.
Dokter Revan yakin bahwa Hana adalah adik dari pasiennya Citra yang dulu sempat mencuri hatinya.Pasien yang selalu tersenyum sampai dipenghujung usianya. Pasien yang selalu menanyakan banyak hal kepadanya.
Sedangkan kakak Hana selain meninggal karena Leukimia yang dideritanya disebabkan pula karena adanya gagal jantung.
__ADS_1