My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Kedatangan Luna


__ADS_3

Malamnya Kenzi duduk termenung di balkon apartemennya. Fikirannya menerawang jauh. Baru kali ini perusahaannya menghadapi masalah langka seperti sekarang, dimana para agen dan konsumen serentak me- return semua produk kecantikan produksi perusahaannya.


Bahkan produk baru yang sebentar lagi akan launching pun terpaksa ditunda bahkan kemungkinan terancam gagal karena minimnya pemasaran akibat masalah yang perusahaannya hadapi saat ini.


Lelaki maskulin itu pun mengeluarkan sebatang sigaret dari sakunya. Ia bukanlah perokok berat hanya saja jika terjadi masalah seperti saat ini, ia terpaksa menghisap benda berasap itu untuk menghilangkan sedikit pening di kepalanya.


"Kamu merokok Ken ?" tanya Hansel yang sudah merubah aksen bicaranya saat mereka hanya berdua saja.


Sedangkan Darren entah pergi kemana. Mungkin lelaki macho itu sedang mengasah bakat ke-playboyannya kembali sembari berburu pengganti Magaret dan Paula dayang-dayangnya yang ada di Los Angeles.


"Sedikit, kenapa apa kamu tak menyukainya ?" tanya balik Kenzi.


"Eh...emm bukan begitu maksudku, hanya saja tidak biasanya aku melihat kamu merokok. Apa kamu sedang ada masalah ?" kata Hana hati-hati.


Nalurinya sebagai dokter menyadari perubahan sikap dari lelaki maskulin itu. Karena ia sedikit pernah mempelajari tentang psikilogis seseorang. Sebagai dokter ia harus mengetahui beberapa psikis dari pasiennya.


Lelaki maskulin itu pun menghisap kembali benda berasap yang terjepit diujung jemarinya, lalu menghembuskannya pelan melalui hidung serta meresapi aroma tembakau yang menguar dari benda tersebut.


"Perusahaanku sedang dalam masalah, entah karena apa tiba-tiba mereka me- return semua produk kecantikan produksi perusahaan kami."


Hana pun membungkam mulutnya karena terkejut


"Bagaimana mungkin ?" tanya Hana tak percaya.


"Aku juga tidak tahu, bahkan beberapa konsumen pun banyak yang membatalkan transaksi mereka padahal barangnya sudah masuk packing dan tinggal proses Quality control dari QA (Quality Assurance)," terang Kenzi.


"Aku tidak begitu paham sistemnya Ken, karena ini bukan bidangku. Tapi apakah kamu sudah menyelidiki penyebabnya ?"


"Itu dia , pihak General Manager QA (Quality Assurance) sedang meninjau langsung ke lapangan untuk mengetahui lebih jelas permasalahannya. Karena kejadian ini sangat langka dan terkesan seperti sabotase yang hanya bisa dilakukan oleh pihak yang sangat berpengaruh," tutur Kenzi lagi.


"Semoga saja berhasil, tapi apakah kamu sudah mencurigai seseorang ?"


Lelaki maskulin itu pun hanya menggelengkan kepala pelan. Lalu meletakan puntung benda berasap yang sudah habis ia hisap kedalam asbak kaca miliknya.


"Aku baru bergabung kedalam perusahaan papa jadi aku belum mengetahui pasti siapa saja rival bisnis dari papaku dan papa juga tak pernah menceritakan kolega-kolega bisnisnya yang berbahaya yang harus aku hindari," ucap Kenzi seraya mengambil penyemprot tanaman untuk menyemproti bunga-bunga peliharaannya yang ada di balkon apartemen miliknya itu.


"Aku yakin kamu bisa ! hanya saja pesanku jangan sampai karena sebuah masalah kau melampiaskan kesuatu hal yang bisa merusak dirimu sendiri, seperti ini ," tunjuknya kearah puntung yang tadi Kenzi buang.


Lelaki maskulin itu pun tersenyum. Hatinya menghangat mendengar perhatian dari wanita yang sangat ia cintai itu akan tetapi belum mampu ia gapai kembali.


"Ini tidak sering, barusan cuma habis dua batang," balasnya sambil nyengir.


"Kamu tenang saja aku bukan perokok berat. Dan masalah ini juga sudah aku minta bantuan kak Kelvin untuk menyelidikinya, dan mereka sudah melakukan spionase awal secara rahasia," imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Siapa kak Kelvin?"


"Kak Kelvin itu kaka iparku, ia bekerja di BIN (Badan Intelijen Negara). Ia sudah berjanji dan menyanggupi untuk membantuku mengatasi masalah ini jadi kamu tidak perlu khawatir ,"ungkap Kenzi menenangkan wanita yang menampakan raut kecemasan terlihat dari sorot matanya.


"Oh...syukurlah,maafkan aku tidak bisa berbuat lebih untuk membantumu Ken."


"Tak mengapa, cukup perhatianmu saja mampu menenangkanku," sahut Kenzi sambil menatap kearah Hana dengan intens.


Wanita tulen berwajah oriental itu pun mengalihkan pandangannya kearah lain seraya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka agar tak canggung. Sudah bisa dipastikan bahwa kini mungkin wajahnya sudah memerah seperti buah strawberry.


"Bunganya cantik ya?" seru Hana mencoba mencairkan suasana hatinya yang gugup.


"Secantik yang bertanya tentunya bahkan ia lebih cantik dari semua bunga-bunga disini ," balas Kenzi masih dengan tatapan intensnya.


Ia sangat merasa senang dan puas melihat wajah wanita esnya yang tengah memerah ,ini jadi moodbooster tersendiri baginya disaat berbagai masalah telah menyita fikirannya akhir-akhir ini.


Entah dorongan dari mana tiba-tiba lelaki maskulin itu memajukan wajahnya mendekati wajah Hansel, sedangkan Hansel wanita tulen yang sedang menyamar itu pun hanya memejamkan kedua matanya. Ia tak kuasa dipandang oleh lelaki maskulin itu.


Saat jarak pandang mereka sudah terkikis bahkan Hana mampu mencium aroma mint dari nafas lelaki itu serta aroma aqua yang menguar dari tubuhnya terasa menusuk indra penciumannya. Dan sentuhan lelaki itu pada tengkuk nya, membuat nafasnya tercekat.


Ting .... tong


Ting .... tong


Ting .... tong


"Biar aku saja, kamu tunggu saja disini."


Padahal wanita berwajah oriental itu hanya ingin menghindar dari lelaki dihadapannya yang berhasil membuat detak jantungnya menderu tak beraturan.


"Baiklah..."


Hana sebagai Hansel pun mulai melangkah menuju ruangan depan untuk membukakan pintu. Siapa gerangan yang sudah bertamu di malam hari begini ? Sedangkan Darren tak mungkin, lelaki itu sudah memegang sendiri keycard apartemen milik Kenzi. Itu artinya lelaki itu bebas keluar masuk kapan saja ke apartemen ini. Lalu ia pun melihat dari layar intercom yang baru beberapa hari diganti karena yang lama sudah rusak.


Apa ?! Luna ? Ada apa gerangan wanita itu datang kesini ?jantung Hana berdetak cepat sekali. Dengan keberanian penuh yang ia kumpulkan ia mulai membukakan pintu.


"Hai sayaang....ehh..," sapanya menggantung.


Wanita berpostur model itu pun memicingkan matanya menatap pria kecil yang ada dihadapannya saat ini. Sedangkan Hansel hanya menunduk tak berani membalas tatapan dari mata wanita model tersebut.


'Apa pria ini yang Lee maksud itu?apa benar ia gadis cupu itu ? dari segi fisik pria kecil ini memang mencurigakan. Kulitnya mulus tak ada benjolan otot sama sekali yang biasanya seorang cowok miliki ' batinnya.


"Oh...sorry loe siapa?" tanya Luna cuek.

__ADS_1


"Gu...gu..guee temen Kenzi ," jawab Hansel gugup karena tatapan Luna seperti penyidik yang tengah mengintrogasinya.


"Temen Kenzi ? darimana ? gue kenal semua teman Kenzi tapi baru kali ini gue bertemu sama loe ?" tunjuk Luna seraya mengintari pria kecil itu.


Hansel pun bergetar, bahkan dahinya pun berkeringat karena gugup. Ia takut penyamarannya terbongkar, karena sepertinya wanita yang ada dihadapannya saat ini tidak mudah untuk dikibuli.


"Dia teman gue kenapa ?!" sela Kenzi dari dalam. Karena ia curiga Hansel sedari tadi tak kembali lagi ,lalu ia bergegas untuk menyusul pria jadi-jadian itu.


"Huft...hampir saja selamat-selamat ," lirih Hansel seraya mengelus-ngelus dadanya yang rata.


Wanita model itu pun langsung merubah sikapnya seanggun mungkin dihadapan Kenzi. Pria maskulin pujaan hatinya. Obsesinya untuk memiliki lelaki itu kembali mencuat melihat penampilan Kenzi yang tampak lebih berkharisma , matang diusianya yang sudah dewasa.


"Katakan ada perlu apa loe datang kesini ?!" tanya Kenzi ketus.


"Ihh...Ken kok kamu jutek gitu sih sama gue, gue kesini tentu saja pengen ngobrolin tentang pernikahan kita."


"Apa loe gila ?! gue enggak pernah menyetujui rencana loe itu. Kenapa loe masih bersikeras ?! loe lupa dulu siapa yang sudah duluan batalin semuanya dan elo.. ," tunjuk Kenzi tepat dihadapan wajah Luna.


"Elo...memilih karir loe disaat gue terjatuh tak berdaya ! loe pikir gue lupa ! gue bukan laki-laki sebodoh itu !" pekik Kenzi dengan emosi.


Rahang Luna pun mengeras, kedua tangannya pun mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.


'S*al loe Ken ! gue udah bicara baik-baik tapi loe malah bangunin rubah ekor sembilan dalam diri gue ! '


"Terserah loe ya! tapi gue rasa loe enggak punya pilihan lain lagi. Gue tau perusahaan loe sedang mengalami problem jika loe terima tawaran gue ini, gue jamin media papi gue bisa bantu loe buat lurusin semuanya ," ujar Luna seraya tersenyum licik.


Kenzi pun terperajat. Bagaimana bisa wanita itu mengetahui masalah perusahaannya dengan cepat ? Bahkan masalah ini belum sampai naik ke media sama sekali.


"Gue enggak butuh bantuan kalian !" balas Kenzi dingin.


"Sekarang aja loe bilang enggak butuh, kita lihat saja nanti bagaimana ke depannya. Gue enggak mau tahu pernikahan kita akan diadakan sebulan dari sekarang," ucap Luna seraya beranjak dari apartemen miliknya.


"S*al ! br*ngs*k ! kenapa jadi serumit ini. Atau jangan-jangan ini termasuk ulah wanita ular itu ? Akh...s*al !..s*al !" pekik Kenzi kesal.


Ia merasa tersudut. Jika menuduh wanita itu ia tak mempunyai bukti apa-apa sedangkan kakak iparnya belum memberi kabar sama sekali.


"Br*ngs*k !" teriak Kenzi seraya mengempalkan telapak tangannya dan mengarahkan tinju itu ke arah tembok dihadapannya hingga darah mengucur dari sela-sela jemarinya.


Hana yang tak mengerti dunia bisnis pun juga bingung harus berbuat apa? lalu ia raih bahu bidang lelaki maskulin itu dan membawanya ke dalam pelukan. Itulah biasanya yang ia lakukan untuk menenangkan para pasien-pasien yang terguncang karena kehilangan salah satu anggota keluarganya.


"Tenang masih ada aku disini, aku akan berusaha membantumu Ken," lirih Hana menenangkan seraya mengelus-elus rambut belakang lelaki itu.


Kenzi pun mendongakan pandangannya tepat di manik mata upturned itu. Hatinya berdesir merasakan damai dalam pelukan wanitanya. Lalu ia menangkup wajah wanita tionghoa itu dengan kedua tangannya. Dan mulai mengecup bibir tipis sedikit tebal yang sudah membuatnya candu.

__ADS_1


Cup!


C*uman itu terasa lembut. Bahkan lelaki jadi-jadian itu pun berdesir seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitiki perutnya. Nafasnya memburu, sesekali ia membalas kecupan Kenzi. Hana membiarkan lelaki itu melakukannya karena mungkin dengan sentuhan ini mampu meringankan beban lelaki itu. Saat mereka masih tengah menikmati kecupan demi kecupan hingga mereka tak sadar seseorang tengah memandangi kedua orang itu dengan tatapan bergidik ngeri.


__ADS_2