
Hana pun hanya bisa menatap kepergian mobil Johan dengan kecewa. Hana sendiri tak mengerti dimana letak kesalahannya. Kenapa Johan bisa semarah ini ia masih tak mengerti. Mungkin ia harus bertanya kepada Kenzi. Apa sebenarnya yang sudah terjadi kemarin malam saat dirinya pingsan.
Dari kejauhan Boby tampak menyipitkan matanya yang memang mines. Ia seperti melihat seseorang yang ia kenal.
"Boss, wanita yang sedang berdiri dipinggir jalan sana bukankah itu Hana ?"
"Hah ! apa kata loe ?" tanya Kenzi sambil mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam.
"Coba bos perhatiin wanita yang berdiri didepan sana itu," tutur Boby sambil menunjuk kearah yang ia maksud.
Kenzi pun mengikuti arah yang ditunjuk Boby dan benar wanita yang berdiri didepan sana memanglah Hana.
"Apa yang Hana lakukan ditempat seperti ini malam-malam begini ?" gumam Kenzi lirih masih memperhatikan Hana dari kejauhan.
Wanita itu terlihat menengok kanan kirinya seperti mencari ojek atau sejenisnya. Sesekali ia menunduk dan menendang-nendang batu kerikil-kerikil kecil yang ada dibawahnya sambil mulutnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra.
"Jadi gimana bos apa kita harus kesana menghampirinya ?"
"Harus, buruan !" sentak Kenzi.
Ditempat umum seperti ini sangatlah berbahaya karena maraknya pencopetan, jambret, begal dan sejenisnya. Apalagi Hana seorang wanita seorang diri, Kenzi takut jika itu terjadi kepada wanita itu seperti yang mamanya alami beberapa waktu lalu.
Boby pun tampak memajukan bibirnya. Rasanya ia ingin mengomeli lelaki yang sedang duduk dibelakang di kursi penumpang. Bagaimana tidak ? sudah seharian dikantor ia diperintah seenaknya oleh bosnya yang labil itu.
Ia harus mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan bosnya itu sampai perihal isi perut bosnya pula harus ia sendiri yang membelinya. Dan sekarang ia harus mengantar bosnya pulang.Tidak apa-apa mungkin saat ini ia harus bersusah-susah dahulu demi masa depannya.
Tak jauh dari tempat Hana berdiri Kenzi memerintahkan Boby untuk menghentikan mobilnya.
"Kiri...kiri...!" ucap Kenzi tak sabaran.
"Apa bos pikir saat ini sedang naik angkot ?!"
"He...he..he sory !!"
Lalu Kenzi pun keluar dari mobilnya dan berjalan menuju tempat dimana Hana sedang berdiri.
"Tadi aja seharian mukanya asem banget, sekarang giliran ketemu wanita mukanya berbinar-binar gitu dasar emang bos labil," gerutu Boby melihat kepergian Kenzi.
Lelaki itu tampak mengendap-ngendap dari arah belakang tempat Hana berdiri. Ia berhenti hanya berjarak satu meter tak jauh dibelakang Hana. Ia masih bisa mendengar bagaimana wanita itu menggerutu seorang diri.
"Kalian para laki-laki kenapa seenak jidat kalian mempermainkan hati wanita, kalian pikir hati wanita itu seperti layangan yang bisa dengan mudah kalian tarik ulur begini !"
Hana masih kesal dan kecewa kepada Johan. Kenapa lelaki itu kini menjadi labil seperti saat ini lelaki itu dengan tega menurunkannya ditengah jalan seorang diri.
Padahal mereka bukanlah ABG lagi. Jika memang ada salah sebaiknya dibicarakan dengan baik-baik.
Kenzi masih memperhatikannya dari belakang sambil menahan senyum.
"Wanita ini masih sama seperti dulu jika kesal begini terlihat menggemaskan."
Lalu Hana meminum sampai habis minuman kaleng yang sedari tadi ia genggam. Setelah habis ia remas-remas kaleng itu hingga tak berbentuk sambil terus menggerutu.
"Kalian berdua laki-laki yang menyebalkan ! dengan mudah kalian memporak-porandakan perasaanku !"
gerutu Hana kesal sambil melempar kaleng yang barusan ia remas ke sembarang arah.
"Akkh !!"
Hana pun terperajat. Ia mendengar seseorang seperti terkena lemparan kalengnya.
"Haduh...bagaimana ini, kenapa harus mengenai orang sih kaleng ?"
Kini ia menyalahkan kaleng yang sudah ia lemparkan.
__ADS_1
Hana pun tak berani menengok ke belakang.Tiba-tiba lengannya terasa dicekal oleh seseorang.
"Akh ! tolong maafkan aku..maafkan, aku tidak sengaja tuan !"pekik Hana sambil memejamkan matanya memohon ampun.
"Hei...ini aku Hana,"tegur seseorang yang berada didekatnya itu.
Hana seperti mengenal suara itu, perlahan ia mulai membuka matanya yang terpejam. Dan benar ia melihat Kenzi didepannya.
"Apa yang kamu lakukan Ken ?"
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa malam-malam begini kamu seorang diri sendiri disini ?"
"Akh...itu...," Hana tampak ragu untuk menceritakannya masalahnya ke lelaki ini.
"Ya sudah, kita masuk mobilku saja ya diluar udaranya semakin dingin," ajak Kenzi melihat Hana yang menggosok-gosokan telapak tangannya karena dingin.
Hana pun mengangguk patuh dan mengikuti Kenzi dari belakang.
"Bob, loe bisa keluar enggak ?"
"Bisa..memangnya kenapa bos ?" tanya Boby saat ia sudah berdiri disamping Kenzi.
"Loe pulang naik taksi aja, oke ?"
"Tapi boss.."
"Udah..loe nurut aja sama gue, atau gajimu bulan ini gue potong jadi 20%," ancam Kenzi sambil berbisik.
Tanpa menunggu jawaban dari Boby, Kenzi menyelipkan dua lembar uang kertas berwarna merah disakunya.
"Ayo Hana kita masuk !"
"Loh, bagaimana dengan Boby apa ia tidak ikut bersama kita ?"
"Oh..begitu baiklah."
Saat mobil Kenzi sudah menjauh barulah Boby sadar kenapa ia hanya berdiri bodoh disini.
"Hei...bos sableng ! gue yang mengantar kenapa gue yang ditinggal ! dasar...apes banget sih gue. Oh..Tuhan kuatkan hamba," teriaknya kearah mobil Kenzi yang sudah tak terlihat.
Orang-orang yang lewat memandangnya aneh.Akhirnya ia pasrah dengan berjalan lunglai untuk mencari taksi atau ojek dan mengabaikan pandangan orang sekitar yang melihat kearahnya.
****
Sela hampir setengah jam kemudian Johan kembali ketempat dimana ia menurunkan Hana tadi. Namun tak ia jumpai wanita itu disekitar tempat itu.
Sebenarnya bukan maksud ia tega menelantarkan Hana begitu saja di jalan, akan tetapi kini ia menyadari sesuatu bahwa sebenarnya wanita itu tak memiliki cinta untuknya.
Jadi selama ini usahanya untuk meluluhkan hati wanita itu sia-sia. Semua pengorbanan dan perhatian yang ia beri tak berarti apa-apa untuk wanita itu.
Wanita yang membuatnya jatuh bangun dan rela melakukan apa saja untuknya. Wanita yang berhasil membuatnya tak mampu melihat wanita yang lain.
"Hana kamu dimana ? semoga tidak terjadi apa-apa denganmu Han," gumamnya mulai khawatir.
Kini ia menyesal karena kali ini tak bisa menahan emosinya. Dan seharusnya ia tak bersikap keras terhadap wanita selembut Hana.
"Pasti ia kecewa terhadapku, aku harus mencarinya dan meminta maaf," gumamnya lagi sambil menyalakan mesin mobilnya kembali untuk menelusuri jalan itu mencari keberadaan wanitanya.
Ditempat lain
"Sekarang jelaskan padaku, aku tahu kamu sedang ada masalah apa ini ada hubungannya dengan tunanganmu Johan ?"
"Eng..sebenarnya..."
__ADS_1
Hana masih ragu untuk menceritakannya.
Lalu Kenzi menggenggam tangan Hana lembut.
"Sudah ku bilang, kita kini bersahabat dan aku akan menemanimu hingga kau temukan yang orang yang tepat, jadi ceritakan saja padaku."
Hati Hana berdesir kembali mendengar penuturan lelaki yang ada disampingnya itu. Air matanya terasa sudah diambang pelupuk mata.
"Aku juga tidak mengerti, kami tadi berangkat bersama dan ditengah jalan kami sempat berdebat lalu ia menurunkanku ditempat tadi."
"Br*ngs*k ! sudah ku duga, berani-beraninya cecunguk itu memperlakukanmu seperti tadi," umpat Kenzi dengan emosi.
"Kamu jangan emosi dulu Ken, Johan tak pernah memperlakukanku seperti ini sebelumnya mungkin ia ada tekanan atau hal lain mungkin."
Hana baru menyadari sesuatu yang berbeda dengan Kenzi.
"Tunggu dulu, kenapa dengan wajahmu Ken perasaan kemarin kita bertemu masih baik-baik saja ?"vtanya Hana penasaran.
"Eh...ini...anu.."
Kenzi tampak terbata-bata menjelaskannya.
"Jangan bilang kalian habis bertengkar kemarin !" potong Hana cepat.
"Hehe...sebenarnya iya..," jawab Kenzi dengan cengiran.
"Pantas saja ia marah kepadaku, jelaskan apa saja yang sudah kalian bicarakan," desak Hana lagi.
"Kami tak membicarakan apapun, hanya saja jawabannya ada padamu."
"Maksudnya ?" tanya Hana tak mengerti.
"Ya saat kemarin kamu pingsan,bkamu memanggil-manggil namaku," jelas Kenzi santai.
"Jangan bohong, yang benar saja ?"
"Apa wajahku ini terlihat pernah berbohong ?"
"Pernah."
Kenzi pun menepikan kemudi mobilnya dekat sebuah taman kota. Kebetulan sekali malam ini malam minggu jadi banyak pemuda pemudi yang sedang berkencan.
"Han..itukan hanya masa lalu, maafkan aku," ucapnya seraya menggenggam kembali jemari wanita itu dengan erat dan membawanya ke dekapannya.
"Sudahlah Ken, aku sudah lama memaafkanmu jadi hentikan dramamu ini."
Hana melempar pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin lelaki itu melihat perubahan wajahnya yang terasa panas. Sudah dipastikan wajahnya akan merah merona.
Padahal ia bukan anak ABG lagi yang baru mengenal cinta tapi debarannya masih terasa sama.
Kenzi pun terlihat semakin mendekat. Lalu ditangkupnya wajah Hana dengan lembut.
"Hana...coba tatap mataku sebentar."
Mau tak mau Hana melakukan apa yang Kenzi pinta meski itu terdengar aneh.
"Jawab jujur, apa kamu masih mencintaiku ?"
Hana bingung dengan pertanyaan lelaki yang ada disampingnya itu. Haruskah ia jujur ? Kalau ia jujur itu sama saja memberi harapan palsu kepada lelaki ini.Hana tak mampu berkata hanya air mata yang menjadi jawabannya.
Kenzi tahu apa artinya itu, lalu dengan lembut ia menghapus jarak antara mereka. Dan mulai menyentuh lembut bibir tipis itu dengan miliknya.Awalnya Hana tak begitu menanggapi akan tetapi semakin lama ia terbawa suasana. Pers*tan dengan yang lain !
Ia juga ingin meluapkan semua perasaan kecewanya kepada lelaki yang ada didepan ini. C*uman yang awalnya lembut berubah semakin panas kini mereka saling m*l*m*t satu sama lain menyalurkan hasrat yang terpendam dalam diri mereka selama ini.
__ADS_1
Sedangkan dari arah berlawanan terlihat seorang lelaki yang menyaksikan adegan mesra mereka secara live dengan mata kepalanya sendiri. Ia terlihat mengepalkan kedua tangannya dan memukul stang kemudinya dengan keras menyalurkan emosinya yang meluap kembali ke permukaan.