My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Perih


__ADS_3

"Berhenti !!"


Terdengar suara teriakan seorang wanita dari arah pintu masuk.Semua mata menatap dengan berbagai pertanyaan dibenak mereka masing-masing.Siapa gerangan wanita yang sedang mengandung itu?


Dari meja akad Johan membulatkan matanya tak percaya.Hal yang sangat ia takutkan pun terjadi.Sedangkan Hana menatapnya bingung.Ia sejenak berfikir seperti pernah mengenal wanita itu.Seketika mata indahnya membulat sempurna menghiasi wajah orientalnya.


Bagaimana mungkin ia melupakan wanita yang pernah membullynya di masa lalu itu.Ia masih bisa mengingatnya dengan jelas.


"Clara !" ucap Johan dan Hana bersamaan.


Mereka pun saling pandang.Dan tiba-tiba Hana merasakan nyeri di ulu hatinya.Apakah wanita yang tempo hari ia lihat bersama Johan adalah wanita yang sama yang kini berdiri dihadapan mereka?Ada hubungan apa gerangan wanita berambut pirang itu dengan Johan?


"Pak penghulu tolong batalkan pernikahan ini !" teriak Clara kembali.


Ia sedikit terengah-engah karena usia kehamilannya sudah memasuki trisemester 3 ,yang artinya bayi dalam kandungan itu sudah siap lahir dan itu sangat menguras banyak tenaganya.


Clara pov


Aku berjalan mondar mandir dikamar apartemenku.Hatiku gelisah dan tak rela orang yang aku cintai yang merupakan ayah dari anak yang tengah aku kandung menikah dengan wanita lain.


Ya hari ini ia tengah melakukan prosesi pernikahan.Meski aku adalah pihak ketiga diantara hubungan mereka.Tapi aku berhak atas lelaki itu.Lelaki yang menolak cintaku tapi tak menyangkal akan anak yang tengah aku kandung adalah buah dari perbuatan kita yang tidak disengaja.


Aku tak ingin kehilangannya.Apa yang harus aku lakukan?Anak ini butuh seorang ayah.


deerrtt..


derrrt...


"Halo,kenapa?"


"Loe rela calon bapak anak loe nikah sama orang lain?" tanya seseorang yang ada di sebrang sana.


"Tidak ! gue tak rela !Tapi gue tak tahu harus berbuat apa? " jawabnya dengan sorot mata sendu.


"Ikut gue ! buruan loe siap-siap sebelum acara akadnya di mulai.Loe bisa menghentikannya."


Tanpa berfikir panjang wanita berambut pirang itu memakai sweaternya tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu atau make up sepoles pun.


"Baik gue udah siap !"


"Gue jemput loe !"


Panggilan pun diakhiri.


Sebenarnya aku deg-degan akan tetapi aku harus memperjuangkan hak anakku atas ayahnya.Ya aku harus berani apapun resikonya !Tekatnya dalam hati.


Clara pov end


Dengan segera Johan menghampiri Clara yang berada ditengah-tengah kerumunan para tamu undangan.Hana menatap tak percaya.


Lelaki itu tak menjelaskan apa-apa atas kehadiran wanita yang ia tahu teman dimasa lalu calon suaminya.Dan kini lelaki itu malah menghampirinya.Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


"Apa yang loe lakuin,hah?" gertak Johan dengan menekan suaranya agar tak didengar orang lain.


"Jo..maafin gue,gue butuh penjelasan akan hubungan kita.Bagaimana bisa loe yang sudah menghamili gue lalu loe menikah dengan orang lain?Bagaimana nasib anak gue jo?" ucap Clara parau disela-sela tangisnya.


Para undangan yang tak sengaja mendengar pun membengkam mulut mereka tak percaya.Terdengar kasak-kasuk yang membuat ruangan itu sedikit heboh atas apa yang barusan mereka dengar.


Hana menatap panik.Apa gerangan yang mereka bicarakan tentu saja ia tak mendengar apa-apa karena jarak mereka terlalu jauh.Ia hanya melihat wanita itu menangis dihadapan Johan.Sedangkan Luna dan laki-laki mongol itu tampak menyeringai menikmati kepanikan yang melanda sang calon pengantin.


"Ini sedikit kejam !" ungkap lelaki yang bernama Lee.


"Jangan munafik ! ini juga demi loe." balas Luna dengan seringaian liciknya.


Tiba-tiba disela-sela isak tangisnya Clara mengaduh menahan rasa nyeri yang teramat sangat dari perut bagian bawah.Rasa sakit yang menekan area vitalnya sungguh tak bisa ia tahan lagi.


"Aarrrgh ! sakit Jo..sakit !" keluh Clara.


Clara pun terduduk lemah. Sedangkan Johan masih tak bergeming ditempatnya.


Tentu saja Johan tahu. Clara tengah mengalami kontraksi pasca melahirkan.Tapi bukankah HPL(Hari Perkiraan Lahir) wanita itu tiga minggu lagi?Dan tiba-tiba keluar cairan bening disertai darah dari sela-sela pangkal kaki wanita itu.


Clara pun panik.Tangisnya pun menjadi-jadi antara takut dan menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


"Loe tenang saja,ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan ulangi terus menerus." ucap Johan mulai mengintruksi.


Clara pun mengangguk pasrah dan melakukan apa yang lelaki itu ucapkan.Lalu Johan membopong Clara ala bridal style menuju mobilnya meninggalkan hiruk pikuk suara yang mulai menggosipkan mereka. Luna pun berjalan anggun kearah sang MC untuk meminta mic yang ia genggam.


"test...test..tesst..ehem!"


"Wanita itu adalah temanku,dan bayi yang sedang ia kandung adalah anak dari dokter Johan Effendy." lanjutnya dengan tenang.


Hana pun tercengang dengan pernyataan wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya.Bagaimana mungkin wanita itu juga ada disini?setahunya Luna masih menetap di Perancis. Dengan perasaan bingung dan hancur yang mendera ditatapnya cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya.


Pandangannya mulai mengabur karena buliran kristal bening itu menghalangi jarak pandangnya.Ia meremas kuat-kuat kedua sisi kebaya putihnya.Hatinya perih sakit bagai ribuan jarum suntik menancap tepat dijantung dan ulu hatinya,sukmanya seolah-olah ditarik paksa untuk keluar.


Dan ia merasa bod*h dan terkhianati bersamaan.Inikah alasan lelaki itu berubah? Inikah alasan yang lelaki berwajah teduh itu sering bilang sibuk karena bisnis?Inikah alasan lelaki manis itu jarang memperhatikannya?


Ternyata selama ini ia belum mengenal baik calon suaminya sendiri.Salahkan saja kenapa ia terlalu polos dalam memahami sikap lawan jenis.


"Oke...itu saja yang ingin saya sampaikan terima kasih!"


Lalu Luna dan lelaki bermata sipit itu melenggang pergi meninggalkan kediaman keluarga Effendy dengan senyum yang mengembang.


Sedangkan mama Cyntia pun jatuh pingsan ditempat.Dan Kekisruhan pun tak terelakan.Semua hadirin pun bubar seiring kepergian Luna beserta lelaki bermata sipit itu.Kini hanya tinggal Hana seorang yang masih tak bergeming ditempatnya.


Kenzi yang baru saja menerima telfon dari klien pun membeo menatap ruangan yang sudah kosong hanya beberapa yang masih bertahan.Apa yang sebenarnya terjadi?Padahal baru dua puluh menit ia tinggal untuk menerima telepon dari kliennya.


Ia tadi meminta Sona untuk merekam prosesi akad yang akan segera berlangsung.Seketika ia bergegas menghampiri Hana yang masih diam terduduk.


"Hana...kamu enggak apa-apa? Apa yang sedang terjadi? Dimana Johan?Maaf tadi aku ada panggilan dari klien." ungkapnya menjelaskan dengan hati-hati.


Ia yakin wanita yang ada dihadapannya itu tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


Hana masih tak bergeming ditempatnya.Menatap atau pun membalas sapaan Kenzi pun tidak. Ia merasa seolah semesta memang tak mengijinkannya untuk bahagia walau sesaat.


Tanpa menatap Kenzi ia pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu.Ia sedikit berlari menuju pintu keluar.


"Han..Hana..kamu mau kemana? Han !"teriak Kenzi putus asa.


Sona pun menghampirinya dari belakang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Sona pun sedikit takut karena raut wajah Kenzi menampakan kekhawatiran dan marah secara bersamaan.


"Dokter Johan sudah menghamili wanita lain oppa." terangnya takut-takut.


"Brengs*k ! ternyata benar dugaanku.Cecunguk itu ada hubungan afair dengan wanita itu !"


Informasi yang anak buahnya berikan kemarin membuatnya terkejut.Mereka menerangkan bahwa Johan dan wanita itu terlihat beberapa kali pergi bersama mendatangi sebuah klinik.Tapi ia belum bisa memastikan kebenarannya.Dan ia tak bisa berbuat apa-apa karena pernikahan Hana sudah didepan mata.


"Ayo Sona kita cari Hana,aku khawatir jika ia nekat melakukan hal-hal tak terduga," ajak Kenzi sambil berlalu menuju mobilnya.Dan wanita cute itu pun mengekorinya dari belakang.


###


Hana berlari dan terus berlari.Ia tak pedulikan banyak pasang mata melihat kearahnya karena penampilannya yang terlihat cukup aneh.Berlari disiang hari dengan memakai kebaya?


Bahkan riasannya sudah luntur karena air mata yang terus mengalir.Ia kecewa sekaligus malu.Karena banyak teman sesama dokter dan dokter senior yang menghadiri akad nikahnya.Kesialan pun bukan hanya saja sampai disitu saja.


Cklak !


Terdengar High heels yang ia kenakan patah dibagian kakinya.


"Aakh!! kenapa hidupku s*al sekali sih?"


Dibuangnya high heels itu ke sembarang arah.Ia mulai melangkahkan kembali kaki polosnya menelusuri jalan raya itu.Rasa perih yang menghinggapi telapak kaki ia abaikan.


Meski ujung jemari kakinya mulai berdarah ia paksakan terus berjalan.Harapannya ia hanya ingin menghilang saja dari kenyataan ini.Kenyataan bahwa ia gagal menikah dengan cara yang memalukan.


Dan kini ia berdiri disamping sebuah danau yang berada di bawah jembatan layang.


Hatinya sedikit tentram mendapati dirinya jauh dari hiruk pikuk keramaian.Jujur ia belum siap mendengar cemooh dari orang-orang disekitarnya.


Lalu direbahkannya tubuh lelahnya dibawah pohon flamboyan dekat danau.Ia mulai pejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya.Jemarinya mulai meraba hiasan accessoris yang menancap dikepala lalu melepaskannya satu persatu.


Sesaat ia tampak terkekeh geli sendiri mendapati dirinya seperti orang gila berjalan keluar dengan pakaian seperti itu.


Ia mulai membasuh wajahnya dari riasan yang sudah luntur dengan air danau yang jernih.Sensasi segar yang ia rasakan mampu menepis sedikit rasa pusing yang menjalar di kepalanya.Ia masih mencoba mencerna kembali apa yang sudah terjadi.


"Oh...Tuhan semoga semua ini hanya mimpi belaka," gumamnya dalam hati dengan mata terpejam.


Angin semilir seolah mencoba menenangkan hati wanita malang tersebut.Dengan buaian-buaian yang menerpa lembut wajah orientalnya mampu membuatnya terbuai ke alam mimpi.


Ia tak peduli keberadaannya sekarang dimana.Ia hanya merasakan nyaman saat hatinya tak mampu lagi menatap dunia.

__ADS_1


__ADS_2