
Sampainya mereka bertiga di apartemen milik Kenzi, Darren terlebih dahulu keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam apartemen tanpa sepatah kata pun.
Sedangkan Kenzi menatap heran kearah lelaki macho itu. Apakah lelaki itu sedang dalam mode ngambek atau gimana ? Seperti wanita saja.
"Temenmu kenapa Ken ?" tanya Hana.
"Entahlah aku juga tak tahu mungkin dia ngambek karena ngerasa sudah kita bohongi, udahlah jangan difikirkan itu anak emang suka gitu," balas Kenzi tak peduli.
"Oh, aku jadi enggak enak sama Darren. Aku malu banget karena udah lakuin hal yang konyol seperti ini."
"Sudahlah, nanti aku bisa jelasin ke dia. Kamu tidak perlu khawatir, lebih baik kamu langsung ke kamar saja," titah Kenzi.
"Baiklah, good night ."
"Night too, Honey."
Hana pun hanya melotot mendengar balasan dari Kenzi dan bersiap akan menerkam lelaki maskulin itu. Tapi Kenzi sudah berhasil kabur darinya. Dan wanita berwajah oriental itu hanya menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh dan menghilang dibalik lift.
Lelaki maskulin itu memang mempunyai sejuta pesona yang tak mungkin wanita manapun bisa menolaknya. Bahkan sudah dua kali lelaki itu memintanya untuk balikan tapi dua kali pula ia sudah menolaknya.
Akan tetapi lelaki maskulin masih baik terhadapnya. Apakah cinta terhadapnya sedalam itu ? padahal ia hanya wanita biasa yang yatim piatu. Kadang memang ada waktunya kita merasa mencintai seseorang tanpa syarat. Tapi Hana tak ingin terluka untuk kedua kalinya.
"Loe kenapa bro ? dari tadi diem aja sakit gigi ya loe ," sapa Kenzi saat mendapati Darren diam dengan raut muka masam.
Sedangkan Darren tak bergeming, pandangannya menatap Hana tak berkedip yang berjalan melewatinya lalu menghilang dibalik pintu kamar.
"Hei ! loe kenapa diem aja. Jangan bilang loe mulai suka sama Hana ? Hana sedari dulu cuma milik gue, loe jangan macam-macam sama gue ya !" sungut Kenzi kesal akan tatapan Darren yang menatap minat kearah wanitanya.
" Ah...jangan ngadi-ngadi loe ! mana mungkin gue suka sama cewek cupu itu, dia bukan selera gue," balas Darren berbohong.
Mana mungkin ia jujur dengan perasaannya itu sama sekali bukan ciri khas dari seorang Darren. Padahal yang ia rasakan saat berhadapan dengan wanita yang dari dulu ia anggap cupu itu jantungnya masih berdebar-debar. Wanita yang cupu itu sekarang berubah menjadi wanita yang manis dan anggun. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang ?
" Terus kenapa loe lihatin Hana terus ?" tanya Kenzi menyelidik. Darren pun jadi merasa gugup karena ditatap intens oleh temannya itu.
"Itu...itu karena gue masih shock ! g*la aja kalian ngibuli gue selama ini, gue malu sama dia kampr*t !" kesal Darren sambil menoyor kepala Kenzi agak kencang.
"Malu ? malu kenapa ?"
Oh ayolah, mana mungkin Darren menceritakan dengan detail semua yang sudah ia lalui selama hanya berdua dengan Hansel alias Hana di apartemen. Dari mulai benda keramat berwarna merah muda milik wanita itu, lalu ia menyuruh pria kecil itu untuk mencuci baju dan ****** ***** yang sudah seminggu ia simpan. Dan ia juga pernah meminta pria kecil itu untuk membelikannya penyukur ket*ak. Belum kelakuan-kelakuan absur lainnya yang tidak ia sadari. Rasanya ia ingin menyelam saja di sungai Amazon yang dalam saat ini juga.
"Udahlah, loe enggak perlu tau mending kita tidur udah ngantuk ! besok gue mau pindah ke apartemen sendiri. Loe jangan macem-macem ya sama Hana !" ingat Darren dengan wajah yang memanas usai mengingat-ingat kejadian absur yang sudah ia lalui dengan Hansel.
"Memangnya kenapa ? suka-suka gue dong mau ngapa-ngapain sama Hana," jawab Kenzi santai.
"Wah g*la loe ! dia cewek baik-baik bro, loe jangan mainin dia," sahut Darren.
"Eh...tunggu dulu, sejak kapan loe muji-muji cewek gue ? biasanya loe cuek dan selalu ngatain dia cewek cupu, atau jangan..jangan__"
__ADS_1
" Eh...anu itu, udah deh ...itu enggak bakal ! Udah sana loe tidur aja sana !" usir Darren kesal karena dipancing terus.
"Loe yakin bakal tidur disini ?" tanya Kenzi heran karena Darren memilih tidur disofa ruang tamu.
"Yakin, gue pengen disini aja," balas Darren sambil memejamkan kedua matanya.
"Bagus deh, berarti gue bisa kelonan sama Hana ini bye..Darren !" ucap Kenzi sambil berlalu.
Tentu saja ucapan itu hanya bualan Kenzi semata. Ia masih punya hati jika harus menodai wanita untuk kedua kalinya.
"S*alan ! gue enggak bakal biarin dia en*k-en*k sendirian di depan mata gue ! Ken tunggu gue !" teriak Darren seraya beranjak menyusul Kenzi.
Kini mereka bertiga pun terlelap dalam satu ruangan. Hana tidur diatas ranjang sedangkan Darren tidur di sofa dan Kenzi tidur di bawah beralaskan kasur lantai.
##
Di rumah sakit Ibu dan Anak
Seorang dokter keluar dari sebuah ruangan laboraturium dengan wajah tak bersemangat.
"Dokter apa yang terjadi ? apakah darah saya cocok dengan anak saya ?" tanya Johan beruntun.
"Maaf bapak, darah bapak tidak cocok dengan putra bapak. Putra bapak bergolongan darah 'O' sedangkan bapak bergolongan darah 'AB+', kami akan usahakan mencari stok darah di PMI ( Palang Merah Indonesia ) di tempat lain di daerah sini karena rumah sakit kita stok darah untuk golongan 'O' sudah kehabisan," tutur dokter anak yang bernama Sinta itu.
Setelah di periksa secara detail oleh dokter ternyata bayi Raider dinyatakan menderita demam berdarah ditandai dengan panas yang tinggi dan mulai timbul bercak-bercak merah di kulit mulus bayi itu. Dan Hb (Hemoglobin) yang sangat rendah mengharuskan bayi itu untuk melakukan transfusi darah.
"Maksud bapak ?"
"Bagaimana mungkin darah saya tidak cocok dengan putra saya dok ? Apakah darah ibunya juga cocok ?"
Dokter yang berusia diatas tiga puluh tahun itu tampak menggeleng pelan.
"Maaf bapak, sepertinya ada kesalahan dari kami. Kami akan mencoba mencocokan data kalian kembali dengan pasien. Soalnya tak biasanya ada kasus anak berbeda golongan darah dari orang tuanya. Paling tidak anak itu menurunin salah satu dari kedua orang tuanya. Kemungkinan bisa jadi__" tutur dokter Sinta menggantung.
"Bisa jadi apa dokter ? coba jelaskan !" sentak Johan tak sabaran.
"Maaf pak, bukan maksud saya menuduh atau menyinggung. Bisa jadi pasien bukanlah putra kandung dari bapak Johan," jelas dokter Sinta pelan.
Jdeeerr !!
Johan terkejut luar biasa dengan apa yang sudah dokter Sinta jelaskan. Seperti mendapat serangan mendadak seperti halnya bom Hiroshima dan Nagasaki. Apa maksudnya ini ? anak yang ia sayangi itu ternyata bukan putranya. Lalu anak siapa ?
Br*ngs*k ! ternyata wanita itu telah menipunya selama ini. Johan pun mengepalkan kedua telapak tangannya sampai memutih. Jika dugaannya benar ia harus memberi perhitungan kepada wanita berambut pirang itu.
"Dokter Sinta, saya minta tolong lakukan tes DNA segera dengan putra saya. Jika sudah keluar hasilnya tolong kabari saya kembali dan usahakan ibunya bayi itu jangan sampai mengetahui hal ini. Saya hanya ingin memastikan sesuatu," pinta Johan.
"Baik bapak saya mengerti, saya minta bapak melengkapi datanya terlebih dahulu di bagian laboraturium. Mari bapak ikut saya," ajak dokter Sinta.
__ADS_1
Beruntung saat ini Clara sedang tidak ada ditempat, entah wanita itu pergi kemana ia tak peduli. Wanita berambut pirang itu hanya pamit kepadanya untuk membeli makanan akan tetapi hampir satu jam lebih wanita itu belum juga kembali.
Disebuah Cafe
Terlihat 2 wanita saling tertawa. Mereka tengah asyik bercengkrama mengobrol panjang sambil sesekali menyesapi sigaret yang terselip di jari lentik mereka.
Kini mereka tengah berada di privat room jadi mereka bebas membicarakan apapun tanpa seorang pun dapat mendengar karena ruangan itu di desain dengan kedap suara.
"Jadi bagaimana kehidupan loe setelah bareng Johan,apakah sesuai harapan loe ?" tanya Luna sambil menyesapi cocktail miliknya.
Clara pun hanya menggeleng tak bersemangat.
"Dia cuma sayang sama anak gue, sedangkan sama gue ia tak pernah anggep gue ada. Padahal loe tau sendirikan gimana gue , gue juga pengen mendapat hak istri karena gue ibu dari anaknya. Tapi ia masih sibuk saja mencari cewek cupu itu, menyebalkan !" umpat Clara.
"Ya siapa tahu bentar lagi ia bisa move on dari cewek cupu itu, dan bisa menikahi loe di kemudian hari."
"Ya, semoga saja. Cuma anak itu satu-satunya alat biar gue bisa deket terus sama Johan," jujur Clara.
"Tapi tunggu dulu, loe yakin itu anak hasil loe sama Johan ?" tanya Luna menyakinkan.
"Gue yakinlah terakhir kali gue lakuinnya cuma sama Johan kok."
"Loe lupa ? bukannya seminggu sebelum kejadian loe sama Johan, loe baru saja tidur bareng Abas sebelum kalian putus ?" papar Luna.
Deg !
Itu memang benar. Tapi masa sih ? bahkan ia juga lupa waktu itu memakai pengaman atau tidak saat melakukannya bersama lelaki blasteran itu.
"Gila ya loe, bisa-bisanya en*k-en*k dulu sebelum putus !"
"Diem loe ! bukannya loe sama saja !"
Jujur perasaan Clara mulai terganggu akan pernyataan yang barusan Luna lontarkan. Bisa jadi bayi Raider adalah anak diantara kedua lelaki itu karena anak itu tak menuruni wajah manis Johan. Akan tetapi mempunyai garis wajah yang tegas.
"Kalau gue sih kalau enggak nguntungin ya tinggalinlah, bagi gue cuma Kenzi yang terpenting saat ini."
"Lalu bagaimana dengan Hana ?" tanya Clara dengan setengah berbisik.
"Tenang saja, Lee akan segera memberekannya. Wanita cupu itu benar-benar merepotkan !" kesal Luna.
"Sudahlah, mari kita bersulang kembali. Soalnya setelah ini gue harus balik ke rumah sakit, Johan pasti akan mencari gue kemana-kemana," ajak Clara kembali.
"Cheeers," ucap kedua wanita itu bersamaan.
Hai kak readers..
Tinggalkan like dan koment ya..
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya..😘😘