
Sebelumnya author mengucapkan maaf lahir batin untuk teman-teman semuanya . 🙏🙏
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan..🤗
"Hai, apa kabar my Queen....Hana ?"
Hana hanya menautkan kedua alis menatap pria bermata sipit yang sedang menyapanya. Ia sama sekali tak mengenal lelaki itu. Pria itu berperawakan tinggi, rambut lurus hitam, kulit kuning langsat , dada bidang dan otot lengannya yang tampak menyembul dibalik kemeja putih yang ia kenakan. Serta mata sipit dengan alis tebal menghiasi wajah khas orang mongol.
Kemungkinan usianya lebih tua diatas dirinya. Itu terlihat dari pembawaannya yang tenang dan sangat dewasa. Dan jangan lupakan selain dewasa ia juga lumayan tampan.
"Kau melupakan aku ?"
"Maaf anda siapa ?" tanya Hana balik.
"Apakah kau menyukai hadiah yang aku kirimkan ?"
Pria bermata sipit itu tak langsung menjawab pertanyaan Hana. Ia masih ingin menggali kembali ingatan yang mungkin terkubur tentang mereka pada diri Hana.
"Ternyata itu dari anda ? terima kasih aku menyukainya, tapi siapa anda ? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Hana masih menatap intens kearah si pria bermata sipit itu.
"Ternyata kau benar-benar melupakan aku ?"
Pria bermata sipit itu berjalan lebih mendekat kearah Hana yang masih termangu ditempat.
"Mari kita duduk dulu, tidak enak rasanya jika harus berbincang-bincang sambil berdiri bukan," ucap pria mongol bermata sipit sambil menggiring Hana kearah meja lesehan.
Wanita berwajah oriental itu pun mulai duduk mengikuti instruksinya. Sedangkan pria bermata sipit itu kini mengambil tempat kosong yang ada didepannya.
Si pria bermata sipit itu mulai mengulurkan tangannya untuk meraih teko yang terbuat dari keramik. Lalu ia mulai menuangkan sesuatu berwarna merah marrun ke dalam cangkir tanpa kuping yang menyerupai mangkuk kecil.
"Kau menyukai teh ?"
"Lumayan, tapi tolong bisa anda jelaskan siapa anda sebenarnya ?" balas Hana sarkastik.
Pria bermata sipit itu pun hanya tersenyum simpul. Ia bisa memaklumi akan rasa penasaran yang tengah dirasakan oleh wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Minumlah, aku ingin kita bisa berbicara agak santai. Maka aku akan menjelaskan siapa diriku," sahut lelaki bermata sipit dengan tenang sambil mengangkat cangkir teh nya untuk bersulang.
Hana hanya menatap minuman berwarna merah marun yang ada di hadapannya. Ia masih trauma jika harus mengalami insiden salah minum kembali. Sedangkan disini dirinya hanya sendiri bersama lelaki asing. Kali ini ia harus lebih waspada.
"Tidak perlu takut, ini hanya teh biasa," ucap lelaki bermata sipit berusaha menyakinkan.
__ADS_1
Hana pun mulai meraih cangkir yang berisikan cairan warna merah marun dan menghirup aromanya. Dan benar saja, minuman itu beraroma teh. Lalu Hana mengacungkannya kearah laki-laki itu sebagai tanda bersulang dan meminumnya. Rasa tehnya benar-benar nikmat. Akankah ia harus mempercayai lelaki asing yang ada dihadapannya saat ini ?
"Aku Lee, kita dulu adalah teman. Kau masih ingat dengan anak laki-laki penggembala domba yang di bully oleh para berandal ?" ucap laki-laki yang mengaku bernama Lee kepadanya.
"Lalu kau datang dengan berani berteriak lantang sambil mengacungkan sebatang kayu balok kearah para berandal itu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan gadis pemberani yang sudah menolongku dulu ?" lanjut Lee lagi.
Hana pun sedikit terhenyak karena tiba-tiba mengingat sesuatu. Ingatan yang sudah hampir terkubur lama itu hanya samar-samar muncul dalam memori ingatannya.
Dulu sekali keluarga Hana menetap tak lama di daerah Sanghai dekat dengan perbatasan mongolia. Kala itu ayahnya sering mengajaknya berjualan keluar masuk kota. Dan saat itu ia bersama ayahnya mendatangi mongolia untuk membeli susu domba serta kain sutera. Kain sutera buatan daerah Lee terkenal bagus dan orisinil karena masih buatan manual oleh pengrajin.
Daerah Lee kala itu mayoritas pendudukannya berternak dan pembudi daya ulat sutera. Banyak pemproduksi kain sutera memasok bahan baku pembuat kain sutera itu dari tempat Lee termasuk ayah Hana.
"Kau Zac Lee ? benar kau Zac Lee anak laki-laki yang payah itu ?" tanya Hana menyakinkan.
Pria yang mengaku bernama Lee itu pun hanya mengangguk seraya tersenyum sumringah mendapati wanita yang ia kagumi sudah mulai mengingat dirinya kembali.
Dulu Hana termasuk gadis yang periang dan pemberani. Namun saat ia dan keluarga mulai pindah tempat tinggal ke negara yang sekarang membuatnya berubah sikap yang tadinya periang dan selalu ceria berubah pendiam dan menjadi dingin.
Pernah ia dulu sempat dibully oleh teman sekolahnya karena orang tuanya dari kalangan keluarga yang tidak mampu. Akan tetapi ia balas dengan sebuah prestasi yang mampu mengharumkan nama sekolah. Hingga teman-teman sekolahnya berubah sedikit sungkan untuk membully atau sekedar mengolok-olok dirinya kembali.
Dan semenjak kepergian ayah beserta kakaknya, sikap Hana berubah semakin lebih dingin dari sebelumnya terhadap siapapun. Ia hanya fokus belajar demi meraih cita-cita yang sekarang sudah ia gapai. Tapi entah ia tak tahu harus bagaimana menghadapi kehidupannya kedepan. Ia sudah mengundurkan diri dari tempat ia bekerja. Ia harus memulainya kembali dari nol.
"Aku dengar kau akan menikah, apa itu benar ?" tanya Lee berpura-pura tak tahu apa-apa.
"Aku sedang tak ingin membahasnya kembali, jadi bahas saja yang lain ya," balas Hana dengan senyum terpaksa.
"Maafkan aku Han, bukan maksudku membuatmu terluka. Tapi ini harus aku lakukan untuk bisa mendekatimu kembali, maafkan aku yang egois."
"Oiya.. apa kau sudah menikah ?" tanya Hana membalikan arah bicara.
Lee hanya pura-pura tersenyum kecut. Diusianya yang sudah menginjak kepala tiga belum juga menikah. Bukannya ia tak laku, bahkan banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendekatinya bahkan bersedia menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk Lee. Tapi ia tak memginginkan wanita-wanita itu, ia hanya ingin gadis pemberaninya yang sudah mencuri hatinya sedari ia remaja.
Untuk wanita-wanita yang sudah ia tiduri itu hanya sebagai penyalur hasrat nalurinya sebagai laki-laki dewasa diatas ranjang. Tidak ada cinta yang terselip seperti halnya dengan hubungannya dengan Luna, Just partner have fun.
"Mana ada wanita yang mau dengan laki-laki cupu sepertiku ?" balas Lee sambil meletakan sumpitnya diatas mangkuk miliknya yang sudah kosong.
Hana hanya mendelik, ia nampak memperhatikan penampilan Lee yang versi dewasa sekarang. Terlihat berkharisma, berwibawa dan juga tampan.
"Huh ! cupu dari mana ? Bahkan artis hollywood pun pasti mampu kau buat bertekuk lutut di hadapanmu Lee," gumam Hana dalam hati.
"Aku tak yakin kamu ini single, jaman sekarang mana ada lelaki berkemeja putih berbalut jas mahal , dan rambut klimis bergel berstatus single ?" ucap Hana seraya mengakhiri acara makannya.
__ADS_1
Lee pun hanya terkekeh mendengar balasan dari wanita berwajah oriental itu. Ini moment yang sangat lama ia nantikan bisa duduk santai berdua dengan Hana.
"Kau sudah selesai makannya ?"
"Sudah, aku tak bisa makan terlalu kenyang."
"Ya sudah, mari kita nikmati jamuan terakhir dariku. Aku mempunyai minuman herbal yang mampu membuat fikiran rileks dan fresh," imbuh Lee.
Hana pun mengangguk. Lalu Lee pun memanggil seorang pelayan untuk membereskan meja makan mereka dan menyajikan jamuan terakhir yang Lee bicarakan yaitu teh hijau.
Sela beberapa menit jamuan mereka terakhir sebagai penutup makanan yaitu meminum minuman herbal teh hijau.
Ketika Lee akan menuangkan teh tersebut, Hana pun melarangnya.
"Maaf, biar aku saja yang melakukannya."
Rasanya itu tidak sopan jika saat meminum teh wanita hanya diam memperhatikan. Harusnya yang menuangkan teh adalah wanita.
Lee pun tersenyum senang. Ia tak menyangka hubungannya dengan Hana akan secair ini. Ia pikir Hana akan menolaknya sebagai orang asing. Ternyata ini lebih dari yang ia kira.
"Silahkan diminum," ucap Hana dengan senyum termanisnya.
Mereka pun akhirnya bersulang untuk meminum minuman sebagai penutup acara makan mereka. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi dengan wanita berwajah oriental itu.
Tiba-tiba saja pandangan Hana mulai buram, ia merasakan kantuk yang teramat sangat. Dan tanpa sadar sudar tertidur di atas meja makan mereka.
Sedangkan Lee berpura-pura memanggil- manggil nama wanita itu.
"Han...Hana kamu kenapa Han ?" tanya Lee terlihat panik.
Setelah dirasa Hana sudah benar-benar terbuai ke alam mimpinya. Lee menyeringai menampilkan senyum evilnya.
"Maafkan aku Han, aku harus membawamu ikut bersamaku."
Hai Kak..
Maaf banget telat up, disamping sedang sibuk. Draft yang sudah susah payah othor ketik hilang tak tersimpan terus sistem eror lagi.
Jangan tanya perasaan author gimana ? 😭😭
Rasanya sama kayak diselingkuhin, sakit tapi tak berdarah karena harus mengulang dari awal.
__ADS_1
Jadi segini saja y, terima kasih untuk dukungannya.
Selamat membaca_