My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Pergi Menjauh


__ADS_3

⚠PLEASE ! JANGAN BOOMLIKE UNTUK SESAMA AUTHOR SALING MENGHARGAI. KALAU MEMANG TAK INGIN BACA LEBIH BAIK LIKE 1-2 BAB SAJA. KARENA BOOMLIKE ITU BISA MEMPENGARUHI PENILAIAN KARYA DARI SISTEM DAN DIANGGAP CURANG. TERIMA KASIH.


Seorang wanita tengah membuka matanya secara perlahan. Yang pertama ia lihat adalah ruangan serba putih dan bau khas yang tampak tak asing di indra penciumannya seperti sebuah ruangan yang sudah biasa ia masuki dulu.


Ditempat itu tidak ada siapapun selain dirinya ditemani alat monitoring detak jantung dan beserta alat-alat medis yang menancap di tubuhnya.


Tubuhnya masih terasa lemah, namun ia memaksakan diri untuk bangun.


"Akh ! aku dimana ?" gumamnya lirih sambil lengannya yang tak tertancapkan selang infus memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri.


Tiba-tiba ada seorang perawat menghampirinya dan segera mengecek keadaan wanita yang terbaring lemah itu.


"Dokter ! Dokter Hana sudah sadar? Sebaiknya anda jangan banyak bergerak terlebih dahulu, kondisi dokter masih sangat lemah. Saya akan segera panggilkan dokter Egi," seru perawat itu.


Wanita berwajah oriental itu tampak tercengang. Bukankah kemarin ia sedang berada di negara antah berantah ? Kenapa kini ia sudah kembali ke negara asalnya ? Apakah yang kemarin itu hanya mimpi ? Ataukah malah kini ia sedang berada di alam mimpi ? Kenapa begitu nyata sekali ?


Dengan lemah ia mulai menyubit pipi chubynya yang berubah sedikit tirus.


"Ouch ! ternyata sakit !" rintihnya pelan.


Tanpa sadar seseorang tengah memperhatikannya sambil terkekeh.


"Hei nona ! kenapa anda menyubit pipi seperti itu ? Lihatlah ia berubah menjadi merah seperti buah cheri," tegurnya sambil tersenyum.


Hana pun tertegun. Ia hampir saja melupakan seseorang yang ada dihadapannya saat ini.


"Dokter Egi !" sapa Hana lemah kepada seorang dokter berjubah putih yang ia panggil Egi.


( Tentang Dokter Egi bisa flasback ke episode 48 dan 49 )


"Apakabar ?" sambung Hana lagi.


"Saya alhamdulillah baik, bagaimana dengan keadaan dokter Hana sekarang ? apakah masih merasakan nyeri di kepala dan jantung berdebar-debar ?" tanya balik dokter berparas ke indiaan itu.


"Jantung masih bisa berdetak tapi kalau nyeri kepala iya," jawabnya lemah.


"Ccckk ! niat hati ingin menggoda tapi malah dikacangin, huhu !" jerit Egi dalam hati.


"Dokter Egi sekarang sudah pindah jurusan kah ? Setahu saya dulu dokter Egi masih dibagian umum," tanya Hana.


"Iya benar sekali. Setelah dokter Hana dan maaf dokter Johan keluar dari rumah sakit dulu. Pihak rumah sakit menunjuk saya untuk mengganti posisi kosong yang pernah dokter Hana tempati, karena kebetulan saya melanjutkan pendidikan ke bidang spesialis. saya minta maaf," ungkap Dokter Egi menyesal.


"Johan ? Johan dimana sekarang ?" tanya Hana panik.


Tampak Hana tak mengindahkan ucapan penyesalan Egi. Ia hanya fokus kepada 1 nama yang baru saja rekan dokternya itu sebut.


"Emm...dokter Johan...dokter Johan," ucap dokter Egi terbata.


"Kenapa dengan Johan katakanlah !" desak Hana.


"Maaf, dokter Johan sudah tiada.." jujur Egi dengan berat hati mengatakan yang sebenarnya.


"Apa ! ini tidak mungkin ! dokter Egi pasti bohongkan saya ingin ketemu Johan sekarang !" teriak Hana dengan histeris.

__ADS_1


Tanpa babibu lagi, wanita berwajah oriental itu mulai menarik paksa jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Alhasil tangannya pun tergores dan menimbulkan luka kecil.


Entah kekuatan dari mana, begitu mendengar nama Johan darah dalam nadinya begitu bergejolak. Ia lari keluar dengan bertelanjangkan kaki.


"Haduh, bagaimana ini ?" ucap Egi dengan panik.


Lalu dokter berparas tampan itu menekan tombol darurat yang ada di kamar rawat Hana.


Saat sudah diluar Hana terus berjalan dengan uraian air mata. Beruntung gerombolan perawat itu tak mengenalinya, karena masker dan jas yang ia temukan di ruang loundry rumah sakit membuat penampilan terlihat seperti petugas rumah sakit ditambah sepatu safety khas petugas kesehatan.


Wanita itu mengenali setiap sudut rumah sakit itu karena memang rumah sakit inilah tempat ia dan Johan bekerja bersama setelah dimutasikan ke Jakarta dahulu.


Tidak ada yang mengenalinya. Wanita rapuh itu terus berjalan hingga keluar gedung rumah sakit. Saat merogoh kantong jas yang ia kenakan, ia menemukan beberapa lembar uang. Mungkin ini hari keberuntungannya.


Diberhentikannya sebuah taksi, lalu dengan cepat ia masuk ke dalam mobil sebelum pihak rumah sakit memergokinya.


Karena setelah ini sudah dipastikan, ia akan diberi suntikan obat penenang. Begitulah biasanya yang ia lakukan kepada para pasien yang memberontak dan histeris.


"Ke pemakaman umum pak !"


"Baik Neng," balas sang sopir dengan sopan.


Mobil taksi itu mulai menjalankan kemudinya membelah ramainya jalanan ibu kota.


Pandangan wanita berwajah oriental itu kosong. Namun kedua sudut matanya masih mengalirkan cairan bening.


Ia terus menggigit kuku-kuku dari ibu jarinya yang terlihat bergetar. Begitulah yang sering ia lakukan saat merasakan serangan panik.


"Johan, aku harap semua ini hanya mimpi. Aku harap yang ku lihat kemarin hanyalah hanya mimpi burukku semata. Jadi aku harus memastikannya sendiri," ucapnya dalam hati.


Kaki jenjangnya terus berlari menuju bagian ujung pemakaman itu. Karena bagian ujung inilah semua penghuni baru makam di kebumikan.


Netra upturnednya mulai menyapu setiap batu nisan yang terpasang. Hingga ia menemukan sebuah nama yang telah ia cari.


Nafasnya seakan tercekat. Jantungnya berdebar-debar kuat. Hal yang paling ia takuti pun benar-benar terjadi. Seolah apa yang kemarin ia lihat adalah sebuah kenyataan.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia mulai jatuh terlunglai di hadapan sebuah makam yang masih bertanah basah. Bahkan taburan bunganya saja masih terlihat segar.


"Johan !" panggilnya lirih.


Tidak ada sahutan karena hanya ia seorang yang ada di tempat itu. Wanita itu mulai menunduk seraya mendekap batu nisan yang bertuliskan nama sahabat sekaligus mantan tunangannya itu.


"Jo...kenapa kamu harus lakukan ini ! Kenapa ?!" teriaknya sambil bergetar.


"Harusnya aku yang mati saat itu, dan kamu akan tetap hidup. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri Jo please come back." raung Hana kembali.


Drap !


Drap !


Drap !


Terdengar sebuah langkah kaki diiringi deru nafas yang memburu. Begitu mendengar wanitanya sudah sadar dan kabur dari rumah sakit. Pemuda berwajah maskulin itu langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke sebuah pemakaman.

__ADS_1


Ia sudah bisa menebak pasti wanita itu akan mengunjungi tempat ini. Tempat terakhir teman sekaligus rival abadinya disemayamkan.


"Hana," sapanya pelan.


Wanita itu masih tak bergeming. Ia masih memeluk batu nisan itu seakan yang ia peluk adalah tubuh Johan sesungguhnya.


"Hana, ayo kita pulang dan kembali ke rumah sakit hari sudah mulai gelap sebentar lagi akan turun hujan. Keadaanmu belum benar-benar stabil Han," tegur Kenzi dengan hati-hati.


Wanita berparas Tionghoa itu mengalihkan atensinya dan menatap nyalang ke arah pemuda yang berdiri tak jauh dibelakangnya.


"Ini semua gara-garamu !" pekik Hana.


"Ini semua terjadi karena kamu terlambat menolong kami, untuk apa kau menyusulku ! Pergi ! Tinggalkan saja aku sendiri !" histeris Hana.


"Han, please kamu tenang dulu. Ini semua diluar kendali kita semua. Mungkin ini juga sudah bagian dari rancangan hidup Johan. Kita bisa bicarakan ini baik-baik ya," bujuk Kenzi lagi.


"Tidak ! kamu sengaja kan biarin Johan sendiri menyelamatkanku. Asal kau tahu ia tidak terlalu pandai dalam hal bela diri, kenapa kau biarkan dia melawan penjahat itu sendirian ?!" teriak Hana lagi.


"Aku tak tahu soal itu Han, aku_"


"Bohong ! kamu sengaja melakukannya untuk menyingkirkan Johan dengan begitu kamu bisa menangin hati aku seorang diri ! Benarkan!"


Hati lelaki maskulin itu merasa tercubit. Apakah benar hatinya setamak itu?


Meski memang dalam hati Kenzi terbesit sebuah rasa entah itu rasa senang atau rasa lain. Yang pasti ia bersyukur tidak ada yang menghalangi dirinya untuk memiliki Hana kembali.


"Tidak Han, aku_"


"Cukup Kenzi ! aku tak ingin mendengar penjelasan apapun lagi darimu, lebih baik kau pergi jauh dan jangan pernah menampakkan wajahmu kembali dihadapanku !" teriak Hana dengan derai air mata.


Entah kenapa hatinya merasa sakit ketika ia mendengar kalimatnya sendiri. Seperti halnya menabur garam diatas luka yang menganga.


Perih !


Lelaki tampan berdarah Indo-Korea itu tanpa terduga menjatuhkan cairan bening dari kedua sudut matanya.


Ini kali pertama laki-laki maskulin itu menangis.


Ekpresinya datar, namun cairan bening itu tetap sesekali mengalir setelah mendengar penolakan dari wanita yang ia cintai.


"Baiklah, kalau ini maumu Han. Bagaimana pun kamu harus tahu seperti apa aku mencintaimu. Bahkan jika aku di posisi Johan aku akan melakukan hal yang sama sepertinya."


Wanita berwajah oriental itu tertegun mendengar penuturan laki-laki yang berdiri tak jauh darinya.


"Kamu tahu? bagian terindah dalam hidupku adalah mengenalmu. Karenamu aku tak bisa melihat wanita indah lainnya selain dirimu. Bagiku hanya ada 1 nama yang sedari dulu terukir indah dihatiku, yaitu namamu ! Baiklah sekarang aku akan pergi, aku akan menghilang dari kehidupanmu. Tapi 1 pintaku, teruslah bertahan hidup dan raihlah kebahagiaanmu. Selamat tinggal Hana," ungkap Kenzi seraya pergi meninggalkan wanita itu yang masih tertegun.


"Mungkin setelah ini aku akan menerima tawaran papa untuk bekerja di kantor pusat," gumamnya menyakinkan diri.


Baginya tidak ada alasan lagi ia bertahan di kota ini. Dikota dengan ribuan kenangan terpatri jelas diingatannya.


Jangan lupa tinggalkan dukungannya dengan cara like, koment, Gift dan vote (jika berkenan) ☺️


Terima kasih kepada readers yang masih setia mendukung karya receh author amatir ini🤗

__ADS_1


Saranghae_😘😘


__ADS_2