
Hana tersentak dari tidurnya saat mendengar suara dari seorang pramugari yang menginstruksikan agar para penumpang segera bersiap dan berkemas untuk landing. Karena penerbangan dengan arah tujuan Soetta-Seoul Incheon International akan segera berakhir.
Beruntung pesawat yang ia tumpangi pun mendarat dengan sempurna tanpa suatu hambatan. Lalu Hana mulai menampakan kaki di bandara terbesar di kota Seoul itu.
Ia menarik koper berwarna magenta yang hanya berisi beberapa pakaian dan keperluan wanitanya. Karena ia hanya berencana untuk tinggal beberapa hari di negara itu sampai menemukan keberadaan Kenzi.
Kesan pertama yang tengah ia rasakan saat baru menapaki bandara Seoul Incheon International adalah wah.
Disambut oleh sebuah tulisan 'Welcome Incheon Airport' yang terdiri dari karangan bunga berbentuk huruf. Ia sempatkan diri untuk berselfi sejenak untuk kenang-kenangan.
Bagaimana pun ini hal pertama baginya bepergian keluar negeri. Setelah kejadian naas yang menimpanya dua tahun lalu.
Ada rasa trauma tersendiri sebenarnya jika bepergian jauh. Tapi menurutnya hidup itu harus menatap kedepan, ia harus berani melawan rasa takutnya sendiri agar bisa bertahan hidup dengan normal.
Keadaan bandara yang tak begitu ramai karena bukanlah waktu hari libur membuat Hana dengan mudah mengekploitasi bandara tersebut.
Meski ia tak bisa membaca tulisan yang tertera di papan penunjuk karena tulisan tersebut menggunakan huruf Hangul (aksara Korea). Setidaknya ia fasih dalam berbicara bahasa Inggris.
Hana mencoba bertanya kepada petugas bandara untuk menunjukkan pintu keluar. Beruntung ia bertemu dengan orang-orang baik yang bersedia menunjukkan arah kepadanya.
Setelah keluar, ia disambut oleh para sopir taksi yang siap mengantarkan sampai tujuan. Dengan segera ia memasuki salah satu mobil taksi tersebut dan menyerahkan alamat yang Darren berikan kemarin.
"Mau kemana nuna ?" (dalam bahasa Korea)
"Maaf, saya tidak bisa berbahasa Korea paman. Bisa kita berbicara menggunakan bahasa inggris saja ?" balas Hana dengan menggunakan bahasa inggris dengan fasih.
"Baiklah nuna, jadi nuna mau saya antar kemana ?" tanya sang sopir dengan bahasa inggris mengikuti aksen bicara Hana.
"Tolong antarkan saya ke alamat ini," sambil menyerahkan sebuah alamat yang ia sengaja tulis di notesnya.
"Baik nuna, kebetulan itu tidak jauh dari sini."
Hampir 20 menit mobil yang ia tumpangi menapaki jalanan beraspal, tak lama setelahnya mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah yang tampak terlihat dari pintu pagar yang menjulang tinggi.
"Ini uangnya paman, terima kasih."
__ADS_1
Lalu mobil taksi itu melesat pergi dari hadapannya, meninggalkan Hana seorang diri. Masih termangu menatap pintu pagar yang menjulang tinggi tersebut.
Hanya sedikit yang Hana ketahui tentang Korea, itupun ia belajar dari Sona serta searching lewat internet.
Hatinya jadi meragu, sebaiknya ia harus bertanya kepada orang sekitar. Jika benar itu alamat rumah Kenzi sudah dipastikan ada orang tua lelaki itu.
Hana terlalu malu untuk menghadapi keluarga besar Kenzi kembali, setelah penyamaran yang tengah ia lakukan beberapa waktu lalu.
Bahkan ia belum sempat untuk menjelaskannya kepada mereka waktu itu, karena insiden penculikan yang ia alami.
'Sebaiknya aku teruskan besok pagi saja, hari sudah mulai sore bakal bahaya kalau aku tetap di luar di tempat asing ini," gumam Hana dalam hati.
Lalu Hana bergegas meninggalkan kediaman rumah mewah yang berpagar tinggi tersebut sambil menyeret kopernya kembali.
Wanita berwajah oriental itu tampak mengutak atik benda pintar miliknya untuk mencari tempat penginapan terdekat dengan rumah mewah tersebut.
💐
💐
💐
Sebagai turis asing peta dan GPS ( Global Positioning System ) sangat Hana butuhkan. Tak hayal tersesat itu suatu hal yang pasti karena bagi Hana tempat serta rumah-rumah disana itu tampak sama tampilannya.
Hana memutuskan berjalan kaki, meski alamat yang akan ia tuju terletak jauh dari penginapannya. Karena daerah situ daerah kawasan rumah elit.
Ia berjalan sambil sesekali melihat peta dan menghafal nama jalan yang terpampang di persimpangan jalan.
Hatinya berdebar-debar. Ia harus menyiapkan hati untuk bertemu Kenzi kembali. Setelah ia mengusir lelaki itu dari hidupnya dulu, kini ia malah mendatangi laki-laki itu. Ini terasa memalukan bagi Hana.
Namun rasa penasarannya jauh lebih tinggi daripada rasa malu yang ia rasakan. Apapun yang terjadi ia harus siap dengan semuanya yang akan ia terima nanti.
Hana mencoba bertanya kembali kepada pedagang makanan yang ada disebrang dari alamat itu. Dan jawaban mereka sama, rumah mewah itu memang rumah kediaman keluarga Kim Bae Abraham pengusaha tersukses sekota Seoul.
Mendengar itu, Hana hanya mampu termangu sambil menatap rumah mewah itu dari luar pagar.
Lalu ia memberanikan diri bertanya kepada petugas yang menjaga pintu pagar tersebut, apakah ia bisa menemui Kenzi.
Namun pertanyaannya pun mengapung begitu saja karena petugas keamanan tersebut berlalu dari hadapannya menuju sebuah mobil limosin warna hitam yang terparkir didepan rumah mewah tersebut.
__ADS_1
Hana hanya mampu berdiam dan melihat apa yang mereka kerjakan.
Namun netranya tiba-tiba tercekat kala melihat pemandangan yang sangat menghunus relung hatinya.
Tanpa terasa buliran bening merayap keluar begitu saja dari celah kedua matanya.
Wanita berwajah oriental tersebut melihat seseorang yang sangat ingin dia temui saat ini, tengah memapah seorang wanita hamil.
Kenzi terlihat begitu sabar dan telaten memapah wanita hamil itu hingga masuk kedalam mobil mewah tersebut. Lalu Kenzi bergegas menuju kursi kemudinya untuk menjalankan mobil tanpa sopir.
Hati Hana mencelos. Siapa gerangan wanita hamil tersebut? Bahkan Kenzi terlihat begitu akrab dan perhatian kepada wanita itu ?
Dan jangan lupakan meski wanita itu sedang hamil, namun ia terlihat tampak cantik dengan wajah chubbynya. Sangat cocok dengan Kenzi yang penampilannya jauh lebih tampan, dewasa dan berkharisma.
Apakah wanita itu istrinya ? lalu kenapa waktu di acara televisi itu ia mengatakan belum menikah ? Dan belum bisa move dari cinta pertamanya?
Padahal ia jauh-jauh ke Korea hanya untuk mengetahui kebenaran dari bibir laki-laki itu. Namun ternyata kenyataan menghempaskannya kembali.
Ternyata usahanya sia-sia, Kenzi sudah memiliki pemilik hatinya. Hana hanya mampu tertawa miris dan kali ini ia merasa terbod*hi oleh pemikirannya sendiri.
Jika Kenzi seorang publik figur, sudah pasti apa yang ia katakan kepada publik hanya suatu kebohongan seperti kebanyakan yang para artis lakukan membuat sensasi untuk menaikan pamor mereka.
Bod*h ! bod*h kau Hana ! haha..
Wanita berwajah oriental itu hanya bisa tertawa sumbang sambil menatap kepergian mobil limosin yang melewatinya.
Langkahnya gontai menapaki jalan yang tampak lenggang dan panas.
💐
Malam harinya saat keluarga Kenzi berkumpul, sang petugas keamanan menemui Kenzi dan mengatakan apa yang Hana ucapkan kepada petugas tersebut.
"Selamat malam tuan muda, maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada tuan," sapa si petugas dengan sopan.
"Katakanlah," balas Kenzi dingin.
Semenjak perpisahannya dengan Hana, membuat hati laki-laki maskulin itu kembali dingin. Baginya tidak ada wanita yang tulus mencintainya selain harta dan kepamoran yang keluarganya miliki.
Senyum merekah yang selalu ia tampilkan didepan kamera hanyalah sebuah klise untuk membangun image baik sebagai ceo dari sebuah perusahaan sukses yang keluarganya rintis.
__ADS_1
Kira-kira siapa wanita hamil itu ya? Apakah benar Kenzi sudah menikah dan wanita hamil itu istrinya ?