
Hana tampak terdiam di meja ruangannya. Pikirannya masih mencerna semua hal yang baru saja terjadi.
tok...tok..tok !
"Hana apa kamu ada didalam ?"
"Masuk saja Jo."
Terlihat Johan menutup pintunya kembali setelah masuk.
"Hana kamu sudah sarapan ? aku bawakan sandwich ini untukmu."
"Terima kasih Jo, tapi aku lagi tak berselera makan hari ini ,"jawab Hana datar.
Lalu Johan pun meraih jari-jemari Hana dan menggenggamnya lembut.
"Han...maafkan aku, bukan maksutku untuk menyembunyikan semuanya darimu,baku pikir ini yang terbaik untukmu."
"Ya aku mengerti maksudmu Jo,btapi bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Kenzi ?"
Johan tampak terdiam menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Emm...Menurut catatan riwayat medisnya Kenzi mengalami kecelakaan kurang lebih 6 tahun lalu," ucapannya pun terjeda.
"Akibat kecelakaan itu ia mengalami kebutaan dan amnesia sebagian yaitu kehilangan memori ingatannya sebagian, oleh sebab itu tadi Kenzi tak bisa mengenalimu Hana."
Hana membekam mulutnya sendiri menahan air mata yang ingin menerobos pertahanannya. Betapa menderitanya lelaki itu selama ini, hidup dengan kegelapan. Apa saja gerangan yang sudah lelaki itu lalui ? Sungguh Hana tak bisa membayangkannya sendiri.
"Aku fikir sekarang ini dirinya sudah hidup bahagia dengan Luna dan anak-anak mereka Jo."
"Tadinya aku juga berfikir seperti itu, akan tetapi tadi tante Laura menjelaskannya padaku. Dulu ketika Kenzi baru saja mengalami kecelakaan,bLuna dan keluarganya memilih membatalkan pertunangan mereka dan Luna lebih memilih karirnya sebagai model di Perancis."
Hana bergetar menahan tangis. Sungguh dirinya tak bisa membayangkan berada di posisi Kenzi. Andai saja ia dulu menerima tawaran lelaki itu sudah pasti lelaki itu tak akan melalui semua ini sendirian. Hana merutuki kebodohannya dulu. Yang ada kini hanya sebuah penyesalan.
Johan pun meraih Hana ke dalam pelukannya.Mengusap lembut rambut wanita itu dan mengecup pelan pucuk kepala wanita yang sangat ia cintai itu.Sebenarnya hati Johan merasa khawatir jika kenyataan bahwa wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu masih memiliki perasaan khusus terhadap masa lalunya. Meski Hana tak pernah sekalipun mengucapkannya.
Disentuhnya lembut wajah wanita yang ia kasihi itu dan memandanginya lekat-lekat, sungguh Johan belum siap jika harus kehilangan wanita dalam pelukannya itu.
Entah dorongan dari mana Johan seakan melupakan waktu dan tempat, menghapus jarak antara mereka.Merasakan deru nafas Hana yang menerpa wajahnya.Pandangannya jatuh kearah bibir ranum Hana yang berwarna pink alami.
Ketika Johan semakin dekat, Hana pun terlihat memejamkan kedua matanya. Seolah mendapatkan persetujuan dari sang empunya, Johan pun mulai menyatukan nafas mereka mengikis jarak yang ada.
Hana pun sedikit tersentak ketika merasakan benda kenyal milik Johan menyatu dengan miliknya.Menyesapinya dengan lembut. Menyalurkan hasrat yang telah lama terpendam.
__ADS_1
Hana pun terlihat menikmati sentuhan Johan merasakan getaran yang berbeda, sesekali ia membalas kecupan lelaki itu. Memberi ruang Johan untuk mengabsen seluruh rongga mulutnya.
Semakin lama c***** itu berubah semakin panas. Hana merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya dan oksigen yang semakin menipis diantara mereka. Tiba-tiba Hana pun tersadar, didorongnya kuat-kuat dada bidang Johan ke belakang.
C****n pun terlepas, mereka terlihat saling berebut oksigen satu sama lain.bNafas mereka menderu tak beraturan. Lalu Johan pun terlihat ingin menc**m Hana kembali tetapi dengan segera Hana menahannya.
"Maaf Jo...ini dirumah sakit tidak seharusnya kita melakukannya disini," tegur Hana dengan muka yang masih merah merona menahan malu.
Pasalnya ini baru pertama kali mereka berkontak fisik setelah sekian lama mereka saling mengenal dan belum lama ini mereka baru bertunangan.
Johan yang sudah dipenuhi dengan kabut gairah pun tampak tersadar dari perbuatannya. Ia pun tertunduk menyesal.
"Akh...Maafkan aku Hana, aku kelepasan."
"Hmm...tidak apa-apa Jo," balas Hana dengan wajah yang masih menunduk menahan malu.
Dilihatnya Hana yang masih tertunduk malu lalu diraihnya lembut dagu Hana dan menengadahkan wajah wanita itu ke arahnya. Diusapnya lembut saliva yang masih tersisa diujung bibir Hana.
"Rasanya manis seperti Vanilla."
Pandangan Hana pun langsung berpaling kearah lain.Sudah dipastikan pipinya bertambah merah semerah tomat.
"Apa kamu sakit Jo ?"
"Iya aku sedang sakit makanya aku butuh obat darimu seperti tadi."
Johan pun dibuat tertawa tertahan oleh pernyataan Hana barusan. Ini bagian yang sangat ia sukai jika sedang menggoda wanitanya itu yaitu membuat wanita yang ada dihadapan itu kesal dan berujung ngambek.
"Sudah...ya jangan ngambek, kalau ngambek mau aku c**m lagi?" goda Johan lagi.
"Jooo !!! awas ya..."
"Ha..haa...oke..oke aku hanya bercanda, aku minta maaf soal tadi. Yasudah aku harus kembali ke ruanganku dulu ya kalau ada apa-apa telepon saja aku."
Hana pun membalasnya dengan anggukan. Sebelum lelaki itu pergi ia menyentuh puncak rambut Hana lalu mengacak-ngacaknya pelan. Lalu Johan pun berlalu dari ruangan Hana dengan menampilkan senyum dibibirnya yang tak pudar menandakan bahwa dirinya sedang berbahagia.
Saat sudah setengah jalan Johan pun menghentikan langkahnya. Dirabanya ujung bibirnya yang masih basah.
"Ternyata manis juga,vkenapa tidak sedari dulu aku melakukannya," gumam Johan lirih.
Serasa baru disuntik moodbooster penuh hari ini moodnya terasa naik. Sepanjang jalan ia menyapa perawat dan dokter serta petugas-petugas nonmedis yang ia lewati. Senyumnya masih tak pudar. Sepertinya Johan mulai gila dengan tingkahnya sendiri.
Sedangkan diruangannya Hana tampak merutuki kepasrahan dirinya terhadap Johan barusan. Dirinya memang tak bisa pungkiri sudah mulai sedikit membuka pintu hatinya untuk lelaki itu akan tetapi kini bayangan masa lalunya muncul kembali. Hatinya bimbang diantara dua hati.
__ADS_1
"Tuhan apa yang harus aku lakukan ? Satu sisi aku menginginkan tapi satu sisi lagi hatiku mulai meragu."
Ya Hana pun kini mulai meragu akan perasaannya terhadap Johan. Setelah kemunculan Kenzi beberapa saat lalu membuat perasaan dalam dirinya yang sudah lama ia kubur dalam-dalam kini mulai naik ke permukaan membuat ruang dihatinya bercabang.
Hana pun menepis semua fikiran-fikiran buruknya.Bagaimana mungkin ia menyakiti laki-laki yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya, menemaninya dalam susah maupun senang. Dan lelaki yang sudah mengorbankan banyak waktu untuknya. Hana tak bisa berbuat sejahat itu terhadap lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Tapi bagaimana dengan perasaannya ? Hana tak bisa munafik bahwa rasa dalam dirinya terhadap Kenzi masih sama seperti dulu. Lalu ia pun beranjak dari kursinya menuju pintu keluar ruangan.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus rajin mengunjungi pasien-pasienku agar tidak terlalu memikirkan hal ini ,"gumamnya kemudian seraya memijit pelipisnya yang mulai terasa pening.
Hana terlihat membelokan langkahnya menuju patry.Sepertinya ia butuh segelas Vanillalatte untuk menyegarkan fikirannya sejenak.
Setelah dirasa cukup ia pun mulai melanjutkan langkahnya kembali menuju keruang rawat para pasiennya. Fikirannya sudah merasa fresh kembali.Namun tiba-tiba ada yang menghadang langkah kakinya.
Hana tak mengetahui siapa gerangan yang berani bersikap seperti ini terhadapnya. Karena orang itu datang dari arah belakangnya. Hanya menampakan kacamata yang sengaja ia hadapkan tepat didepan wajah Hana. Hana pikir pasti ini ulah jahil Johan lagi.
"Johan..kamu__"
Saat dirinya berbalik bukanlah Johan ia lihat melainkan laki-laki yang beberapa saat lalu sempat ia fikirkan.
"Ken....maksudku kamu ?!"
Hana hampir saja melupakan Kenzi yang saat ini sedang mengalami amnesia. Tak mungkinkan tiba-tiba saja ia terlihat akrab sedangkan lelaki itu sama sekali tak mengingat dirinya.
"Hai...kamu yang tadi salah masuk kamarku kan ?"
Hana masih terdiam ditempatnya sambil menatap wajah Kenzi dari dekat. Wajah yang sudah lama ingin ia sentuh.
"Sudah ya menatapku seperti itu, aku tahu kalau aku ini tampan. Apa kau tidak takut kalau nanti jatuh cinta kepadaku ?hmm ," tegur Kenzi seraya menaik turunkan alisnya.
(Bahkan sudah amnesia pun sikapnya masih sama saja menyebalkan)gumam Hana dalam hati.
"Bukankah kamu baru saja pulih pasca operasi kenapa sekarang malah keluyuran diluar ? harusnya kau menghabiskan waktumu untuk beristirahat," tegur Hana balik.
"Aku sedang merasa bosan saja didalam kamar itu,aku ingin melihat pemandangan lain diluar."
"Baiklah nikmati saja pemandangannya dari atas sini."
"Iya dari sini pun tampak indah pemandanganya itu terlihat jelas," ujar Kenzi seraya menatap wajah Hana mencoba memahami sesuatu.
"Maaf ya...aku tidak ada waktu untuk meladenimu."
Lalu Hana pun berlalu dari hadapan Kenzi. Sungguh jika berlama-lama berada didekat lelaki itu membuat kinerja jantungnya menjadi tidak sehat.
__ADS_1
"Hai...hai...aku belum selesai ngomong loh,,hmm..dasar kau memang wanita es,"gerutu Kenzi kesal karena diabaikan.
Hana pun menghentikan langkahnya sesaat. Barusan apa yang ia dengar tadi 'Wanita es' ? Ia pun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya kembali. Kini langkahnya ia percepat sedikit agak berlari. Ia hanya ingin segera pergi dari hadapan lelaki itu.