
Waktu pun cepat berlalu tak terasa sudah selama hampir sebulan Hana tinggal di kampung jawa bersama buleknya.
"Nduk...Hana nantin kamu mau kuliah dimana?" tanya pak lek Hana saat mereka sedang makan malam bersama.
"Belum tau pak lek, temen Hana sih ngajakinnya di jogja mau ngambil jurusan kedokteran tapi Hana belum tau info selanjutnya dari teman Hana."
"Ohh....yaudah dimana pun kamu kuliah pak lek dukung dan kebetulan keponakan pak lek yang diklaten juga kuliah disana nanti kamu bisa bareng dia nduk."
"Nggih pak lek ,"balas Hana seraya menirukan logat jawa seperti halnya Wika.
"Soal biaya kamu tidak perlu kawatir nduk, pak lekmu ini banyak duitnya," ujar bu Harti sambil terkekeh.
Semua diruang makan itu pun tertawa mendengar penuturan bu Harti. Ya pak lek Hana memang dari keluarga terpandang dikampungnya, pak lek nya yang merupakan perangkat desa menjabat pula sebagai Lurah desa dikampungnya.
Sawah milik pak lek nya berhektar-hektar luasnya.Maka tak heran jika para warga menaruh hormat kepada beliau karena beliau terkenal sebagai Lurah yang bijaksana dan berkepala dingin. Pak Lurah Sugeng orang-orang menyebutnya.
Setelah selesai makan Hana pun kembali ke kamarnya. Diraihnya ponsel dari nakas samping tempat tidurnya. Ponsel yang dari pagi ia matikan.Mungkin hanya sesekali ia hidupkan. Baru saja ia buka masuklah banyak notifikasi pesan dan panggilan telepon dari nomer yang sudah ia hapus dari ponselnya tapi Hana masih mengingatnya.Dan beberapa pesan dari sahabatnya Marisa dan Johan.
Ya nomer tersebut milik Kenzi. Yang sengaja ia hapus karena Hana ingin belajar move on dari Kenzi.Sebenarnya dari hari pertama pergi meninggalkan kota, Kenzi selalu menelepon dan mengirim pesan kepadanya terus menerus hingga sekarang tapi tak satupun ia baca. Hatinya sudah terlanjur terkoyak oleh lelaki itu. Lelaki yang memberinya cinta dan yang menghancurkan hidupnya pula.
Tetapi dari sudut hati terdalamnya tak bisa ia pungkiri dirinya juga merindukan lelaki itu. Lelaki songong yang selalu merasa tampan sendiri menurut Hana. Selalu bangga karena memiliki fans.
Lalu tanpa terasa Hana pun terhanyut ke lamunannya masa dulu awal bertemu dengan Kenzi. Dan segala kisah yang ia lalui bersama lelaki itu. Sudut bibirnya terlihat tersenyum jika mengingat hal-hal konyol yang pernah lelaki itu lakukan saat bersamanya dulu.Tiba-tiba tanpa diduga terdengar ponsel Hana yang berdering menandakan ada panggilan masuk.Tanpa Hana perhatikan siapa yang malam-malam begini meneleponnya.
"Hallo.."
"Iya Hallo Hana...," Hana terpaku. Nafasnya seakan tercekat ditenggorokan. Dilihatnya nomer yang memanggilnya itu tidak terdaftar diponselnya.Tapi Hana tau dari suara itu ,suara yang jujur saja sangat ia rindukan.
"Han...Hana haloo," terdengar Kenzi memanggil-manggilnya berkali-kali.
Dengan mengambil nafas perlahan Hana pun mulai bicara.
"Ada apa Ken?"
"Han..kamu dimana Han, kasih tau aku. Aa..aaku akan menyusulmu."
"Kamu tidak perlu tahu dimana aku Ken, hubungan kita sudah usai. Yang semalam anggap saja sebuah kecelakaan dan lupakan saja ," ujar Hana datar menahan ekpresi marah.
"Han...aku gak bisa gitu, aku akan batalkan tunangan ini jika kau mau aku akan bertanggung jawab padamu," ucap Kenzi memohon.
"Sudah Ken...dari awal kita memang tak seimbang.Kamu lebih cocok dengan Luna daripada aku.Kalian terlihat pasangan yang serasi. Aku tidak apa-apa jika kamu akhirnya bersama Luna," ucap Hana sambil menahan perih dihatinya. Hatinya perih mendengar ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Hana aku hanya mencintaimu, aku tak mencintai Luna Han. Cuma kamu satu-satunya wanita dalam hatiku ," terdengar isak tangis dari sebrang sana.
Ya Kenzi menangis. Seumur hidupnya baru kali ini ia menjatuhkan air matanya. Selama ini hidupnya selalu sempurna dan bahagia. Tetapi kali ini rasanya sesakit ini ditinggalkan orang yang benar-benar kita cintai.
"Sudah Ken, kamu sudah ditakdirkan hanya untuk Luna terimalah dia dan cintailah dia. Lupakan sajalah aku.Terima saja wanita pilihan orang tuamu itu."
Setelah itu Hana menutup sambungan teleponnya. Dan memeluk ponselnya dalam dekapannya.
"Kenzi...maafkan aku, dunia kita berbeda Ken ,"gumam Hana lirih sambil terisak.
Sedangkan disebrang sana.
"Han...Hana hallo Hana ...akhhh shitt !!" umpat Kenzi seraya membanting ponselnya sampai jatuh tak berbentuk.
Pikirannya sungguh sudah buntu. Hatinya ikut sakit wanita yang ia cintai menolaknya untuk bertanggung jawab.
"Baiklah Hana...kalau itu maumu aku akan lakukan !" gumam Kenzi dengan muka memerah menahan amarah dan kecewa.
Pernah sakit tapi tak pernah sesakit ini
Karena pernah cinta tapi tak pernah sedalam ini
Memang 'ku tak rela kau bagi untuk hati yang lain
Jika memang kau bagi cintamu
Ke mana janji itu kau buang?
Kau buat 'ku menangis tanpa air mata
Sampai kuteriak pun sudah tak ada suar**a
Saat ini Kenzi hanya ingin menenangkan fikirannya.Diambilnya kunci motor yang ada di laci nakasnya dan dinyalakan motor Ninja merah kesayangannya itu. Lalu dilajukannya dengan kecepatan penuh menuju sebuah club. Dirinya butuh sesuatu yang bisa membuatnya lupa akan masalah yang ia hadapi saat ini.
Perasaannya juga kecewa akan penolakan Hana terhadapnya. Dirinya bukan lelaki sebrengsek itu.Setibanya di sebuah club milik paman sahabatnya.Kenzi langsung menghampiri meja bartender.Sebenarnya Kenzi bukanlah seorang peminum tetapi Kenzi pernah mencicipinya beberapa kali saat dirinya di korea dan saat diajak oleh Darren selaku keponakan pemilik club tersebut.
"Don....tolong berikan gue sebotol soju ."
"Baiklah tunggu sebentar."
Doni selaku bartender di club tersebut segera memberikan sebotol soju ke Kenzi.
__ADS_1
"Ini minumannya, selamat menikmati ," seru Doni.
Kenzi pun hanya menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. Minuman berbotol hijau tanggung itu pun mulai ia sesapi. Rasa panas yang menjalar di kerongkongannya pun ia hiraukan. Kenzi terus meminumnya hingga habis tak tersisa.
"Don...berikan gue sebotol lagi !"
"Baiklah...," balas Doni seraya menyerah botol soju itu kearah Kenzi.
Kenzi langsung meminumnya dan menikmati sensasi yang membuat dirinya sedikit ringan. Sakit kepalanya hilang. Semua bebannya sedikit terangkat. Kenzi terlihat sedikit mabuk berbotol-botol soju sudah ia habiskan.
"Darren....liat temen loe mabuk, biasanya dia tak seperti ini?" tanya Doni begitu Darren tiba sambil menunjuk kearah Kenzi.
Kenzi pun sudah terlalu mabuk terlihat dirinya menundukan kepalanya ke meja bar.
Darren pun juga heran Kenzi bukanlah seorang peminum tapi melihat botol yang berjejer di depannya membuatnya geleng-geleng kepala. Masalah apa gerangan yang sedang menimpa sahabatnya itu? Apakah masalahnya seberat itu sampai-sampai Kenzi berlari ke minuman.Sedangkan Kenzi bukanlah seorang peminum seperti dirinya.
"Ken...Kenzi..loe masih sadar?"tanya Darren seraya menepuk-nepuk pipi Kenzi pelan.
"Engg......"
"Ken....loe kenapa mabuk ?Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Darren dengan hati-hati.
Bagaimana pun dirinya tau yang ia hadapi saat ini orang yang sedang mabok. Sedangkan orang yang telah mabuk kesadarannya hanya tersisa seperempat persen.
"Berisiik loe !!! denger gue ini gak mabok ya, gue cuma minum dikit aja kenapa sih loe ribet amat !"
"Stop Kenb! Ini gak baik buat loe,loe bukan peminum ," cegah Darren saat Kenzi akan meminum kembali minumannya yang baru saja dibuka.
"Ahh...loe temen resek deh, udah ah gue mau cabut aja," ucap Kenzi seraya berjalan terhuyung-huyung menuju pintu 'exit'.
"Ken..loe mabok biar gue anter aja," tawar Darren seraya meraih lengan Kenzi.
Kenzi pun menepis lengan Darren secara kasar.
"Gak perlu ! gue gak butuh bantuan loe !"bentak Kenzi kasar.
Kenzi pun mulai berjalan dengan terhuyung-huyung menuju parkiran. Diambilnya kunci motor dari dalam saku hodienya. Setelah berkali-kali mencoba memasukan kunci ke lubangnya barulah motornya bisa menyala kembali. Lalu Kenzi pun melajukan motornya dengan kecepatan penuh.
Darren yang sangat kawatir akan sahabatnya yang mengendarai motor dalam keadaan mabuk itu pun terlihat menelepon seseorang. Setelah lama menunggu akhirnya telepon itu diangkat.
"Hallo.....kak Kanza..."
__ADS_1