
Tangan Darren gemetar memegang ponselnya untuk menghubungi sahabatnya itu. Sudah puluhan kali ia melakukan panggilan tapi tak kunjung sahabatnya jawab.
Lelaki macho itu hanya mendesah gelisah, sudut matanya melirik kearah wanita yang duduk dengan perut membuncit. Rintihan demi rintihan yang menggambarkan rasa sakit yang tiada tara itu membuatnya ketar-ketir.
Apakah melahirkan sesakit itu? Kenapa tak seenak saat membuatnya? Eh !..
Fikirannya kini mulai nyleneh, ia jadi teringat peristiwa yang viral beberapa waktu lalu yang ada di laman sosial medianya.
Apakah ia akan mengalami hal yang sama seperti yang sopir taksi itu alami? Membantu wanita hamil melahirkan dalam mobil. haha..
Pasti ia akan viral juga seperti orang itu. Dan di surat kabar akan tertulis nama beserta fotonya.
Hot News ! "Darren Ferguso seorang bujang lapuk mantan player dan pemimpin mafia menolong ibu hamil melahirkan di dalam mobil!" Waw! sekali..
Lelaki macho itu sampai terkekeh sendirian menikmati khayalannya. Sampai suara rintihan Hana yang terdengar sangat kesakitan membuat khayalannya terhempas tak tersisa.
"Ouw...ahh..Ouw...Sakit Darren, buruann!! fuuh."
Hana mulai mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Mencoba rileks dengan rasa sakit yang ia rasakan. Hingga sebuah cairan bening beserta darah merembes di antara celah kakinya.
"Dareen! buruan air ketubanku sudah keluar !"
Darren semakin panik manakala melihat cairan itu begitu deras mengalir diantara sela kaki Hana. Badannya berubah panas dingin, bahkan keringat membanjiri pelipis dan kemeja yang ia kenakan.
"Loe tenang ya Han, sebentar lagi sampai kok."
Darren mencoba terlihat tenang didepan wanita yang ingin melahirkan itu, padahal telapak tangan gemeteran setangah mati menjalankan kemudinya.
Ingin rasanya ia memaki-maki sahabatnya itu dengan nama semua isi kebun binatang, karena mandat yang laki-laki itu berikan untuk menjaga ibu hamil tidaklah mudah.
Sampainya ia di rumah sakit, Darren langsung membawa Hana menuju ruang UGD. Dari UGD Hana langsung di bawa ke ruang bersalin.
"Bapak! tolong temani istrinya dulu ya pak. Ini sudah pembukaan 9 sedikit lagi dedek bayinya keluar kok," ucap seorang perawat kepada Darren.
Belum sempat Darren menjelaskan siapa dirinya, perawat itu segera memotong ucapannya.
"Tapi saya ini_"
"Bapak tenang saja, bapak diperbolehkan ikut persalinan mendampingi istri bapak disini untuk memberikan dorongan kekuatan pada istri bapak, yasudah saya panggil dokter dulu pak!"
Sang perawat itu pergi meninggalkan Darren beserta Hana yang sebentar lagi melahirkan.
Sial! kenapa gue malah terjebak disini? Bersama wanita hamil yang akan melahirkan, astaga! gue nggak yakin kuat ini.
"Darr sini aku pengen ngomong sesuatu sama kamu," panggil Hana di sela-sela rintihan wanita itu.
"Mau ngomong apa Han, katakan saja."
"Aku..aku akhhh...bayiku mau keluar Darr!!" pekik Hana saat merasakan dorongan yang begitu kuat dari area intimnya.
"Aku nggak kuat Darr!"
"Loe tenang saja! Dokternya bentar lagi dateng," ucap Darren yang mencoba menghalau panik yang menyerang dirinya.
Tak berselang lama dokter beserta 2 perawat datang membawa perkengkapan bersalinan.
"Loh...loh ini sudah membuka sempurna bu, hayo ibunya harus dorong kuat-kuat ya tapi jangan mengejan dan jangan diangkat pinggulnya, ambil nafas yang banyak lalu hembuskan," ucap dokter perempuan itu memberi arahan.
"Suaminya juga yang kuat ya pak dan kasih dorongan terus buat istrinya. Ayo kita mulai pelan-pelan ya." tambah sang dokter.
Sedangkan Darren, ingin rasanya lelaki itu menghilang dari tempat itu. Menyaksikan darah berceceran membuatnya mual dan pusing. Namun cekalan kuat tangan Hana membuatnya sukses tertahan, bahkan kuku runcing Hana sukses menancap di kulit lelaki macho itu.
Anj*r! sakit banget awas loe Ken! lu harus bayar mahal atas bini lu ini! Ampun gue harus menyaksikan yang tidak semestinya.
Ya Darren menyaksikan tubuh bagian bawah Hana yang polos, dan lagi bagian inti wanita itu yang terbuka lebar terlihat dari pantulan cermin yang ada didepannya. Ia hanya melirik dari sudut ekor matanya tanpa berani menatap langsung.
Hana sudah menghalau rasa malu di hadapan teman prianya itu. Baginya rasa sakit pada tubuhnya lebih mendominan daripada rasa malunya.
"Sebentar lagi ya bu, ya ambil nafas lagi lalu dorong yang kuat ya bu. Kepalanya sudah mulai terlihat ini ayo terus semangat bu."
Darren tak berani melihat langsung, namun teriakan Hana berhasil memancingnya mau tak mau berpaling untuk melihat.
Dan betapa terkejutnya pemuda itu melihat mahkluk kecil keluar dengan berlumuran darah membuat persendiannya terasa lunak seperti jeli.
Hoekk! hoeek !
"Alhamdulillah, selamat bapak ibu anaknya berjenis kelamin laki-laki terlahir sempurna. Lah sus bapaknya kemana ya?"
"Itu dok bapaknya pingsan!"
__ADS_1
"Waduh!"
Dokternya pun terkejut mendapati Darren yang mereka kira sebagai suami pasiennya terkapar di bawah ranjang bersalin.
***
Kenzi pun bergegas menuju rumah sakit dimana Hana dirawat. Ia menyesal telah melewatkan moment penting dalam hidupnya sebagai calon ayah. Yaitu tidak mendampingi istrinya saat melahirkan.
Saat ia sudah mendapat ruangan VIP dimana Hana dirawat, Kenzi langsung memasuki ruangan itu tanpa mengetuk karena rasa bahagianya membuncah ingin segera bertemu dengan anak istrinya.
Pintu pun terbuka, lalu ia mendapati anak istrinya tengah terbaring di ranjangnya. Ia ingin segera menghampiri mereka untuk mengecup dan memeluk keduanya.
Namun langkahnya terhenti saat mendapati seorang perawat mencoba menyadarkan sahabatnya Darren.
"Dia kenapa sus?"
"Bapak ini pingsan saat mendampingi istrinya melahirkan tadi pak," tutur sang perawat.
Kenzi pun melotot sempurna karena orang rumah sakit mengira Darren adalah suami Hana.
"Dia bukan suaminya sus, suami nyonya Hana adalah saya. Dia teman saya jadi pindahkan saja di ruangan lain!" perintahnya.
"Eh ..iya pak maaf."
"Sayang kenapa kamu tak menjelaskan kepada mereka kalau suamimu itu aku, kan aku ayah dari anak kita bukan Darren," protes Kenzi dengan manja.
"Aku terlalu sibuk dengan duniaku Ken, aku bahkan hampir melupakan Darren. Lihat wajah dan tangannya jadi samsak hidupku," ucap Hana terkekeh.
Benar. Kenzi melihat Darren di penuhi luka cakar yang sebagian sudah di tutup plester. Apakah melahirkan sesakit itu? Untung ia tidak ada di tempat. Eh!
Astaga! gue kayak suami dan ayah laknat saja membiarkan istri kesakitan ditemani orang lain!
"Coba sini lihat anak papi, uh..gemoynya. Apa kamu sudah mempunyai nama untuk anak kita mi?"
Hana pun tersipu malu saat Kenzi memanggilnya dengan sebutan 'mami'. Ada rasa bahagia yang membuncah dihatinya.
"Belum...apa..pap...papi sudah?" Hana mencoba memanggil Kenzi dengan sebutan papi dengan tergagap.
"Sudah namanya Kennan Lucio Abraham," ucap Kenzi dengan mantap.
"Bukankah itu nama adalah gabungan nama kita dulu pi?" tanya Hana mencoba mengingat-ingat saat Kenzi mengukir nama mereka pada leher gitar kesayangan Kenzi dulu.
Wajah Hana pun merona mendengar kalimat sindiran dari Kenzi yang memang benar adanya. Baginya laki-laki songong sok kecakepan dulu memang sudah mencuri dan membelenggu hatinya sejak pandangan pertama.
"Benar kan mi, tuh muka mami aja blushing gitu. Udah mami ngaku aja, sekarang kan kita sudah hidup bersama jadi mami tak perlu malu lagi untuk mengakuinya," desak Kenzi lagi.
"Stop! pi... sudah ya mami pengen nyusui Kennan jadi papi mending keluar deh!" usir Hana.
"Loh kenapa? papi kan juga pengen mi, satu buat baby Kennan satu buat papi!"
"Ihh! papi ! malu tahu disini banyak orang! nakal yaa entar mami bilang author loh," ancam Hana.
"Banyak orang mana mi? cuma kita berdoa kok. Lagian authornya yang bikin kisah kita jadi tenang aja mi."
"Itu para readers lagi baca kan malu pi!"
"Ya sudah papi tutup aja kordennya biar mereka nggak bisa lihat."
Saat kedua pasangan orang tua baru itu sibuk berdebat, baby Kennan terbangun dan menangis kencang.
Hana pun mulai menyusui baby Kennan dengan tatapan horor ke arah Kenzi, Dan benar saja setelah Hana menyusui bayinya, tangisan baby Kennan berhenti.
***
Setelah 3 hari di rawat intensif di rumah sakit, Hana sudah di perbolehkan pulang. Selama di rumah sakit, tidak ada keluarga dari mama Laura yang menjenguk.
Dan mungkin saja sibuk, Hana berusaha memaklumi meski jauh di dalam hatinya sedikit kecewa karena ia tahu baby Kennan bukanlah cucu satu-satunya di keluarga Abraham.
Di sepanjang jalan raut wajah Hana hanya cemberut. Wanita berwajah oriental itu memang susah untuk menyembunyikan rasa kecewanya.
"Mami kok cembeyut sih? Kan bentar lagi kita pulang ke rumah," goda Kenzi lagi.
"Nggak papa pi, mami cuma lelah aja," bohong Hana karena wanita itu tak ingin suaminya tahu gelisah hati yang tengah ia rasakan.
Aku tahu baby Kennan bukan cucu satu-satunya di keluarga Abraham, tapi kenapa sampai saat ini tidak ada satu pun yang menjenguk kami. Apa kehadiran kami sebenarnya tidak diinginkan mereka? Ya Tuhan kenapa rasanya begitu sakit?
Tanpa terasa air mata Hana menetes. Tiba-tiba saja ia merasa sedih akan pemikirannya sendiri. Rasanya sungguh menyakitkan jika kehadirannya selama ini sebenarnya di tolak oleh keluarga Abraham.
Tak berselang lama mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah mewah. Bahkan mewahnya melebihin kediaman keluarga Abraham yang ada di Jakarta.
__ADS_1
"Mami sayang, sudah sampai yuk kita turun."
"Loh pi ini dimana? ini bukan rumah mama Laura bukan? Kenapa terlihat berbeda? Apa selama 3 hari rumah ini di renovasi?" tanya Hana dengan polosnya.
Kenzi tampak ingin tertawa sekeras-kerasnya melihat kepolosan istrinya. Namun melihat Baby Kennan yang tertidur pulas dalan gendongannya, ia menjadi tak tega.
"Mi sini deh, papi pengen bisikin sesuatu."
"Apa pi?"
"Rumah ini rumah baru kita mi." ucap Kenzi setengah berbisik.
"Apa??! pap..papi serius?"
"Serius mi, yuk kita masuk."
Hana masih tak percaya rumah mewah bak istana itu adalah rumah baru mereka. Ia menatap penuh haru kearah suaminya, suami yg kadang konyol dan selalu percaya diri itu ternyata sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk keluarga kecil mereka.
"Terima kasih ya pi," ucap Hana sambil berurai air mata.
Namun setelah pintu terbuka, membuat jantung Hana berhenti berdetak saat sebuah teriakan menyambut kedatangannya.
"Happy birtday mami Kennan!!"
Tampak dihadapan Hana semua keluarga Kenzi berkumpul, ada papa Kim, mama Laura, kak Kanza beserta kedua anaknya Keisha dan baby Jo beserta suaminya kak Kelvin.
Dan dari sudut lain ada mama Cintya beserta papa Fajar. Dan lagi Darren bahkan yang membuatnya terharu teman-teman sekolahnya bersama Kenzi dulu turut hadir. Tentu saja Darren dan Sona.
Ada juga temannya Marisa beserta Boby dan anak mereka. Ada Reno yang juga sahabat Kenzi sewaktu sekolah beserta istri bulenya. Dan ada Clara beserta baby Reiner, wanita itu dinyatakan bebas karena bersikap kooperatif selama penyidikan dan akhirnya pengadilan menyatakan wanita itu bebas dari hukuman.
Dan ada pula keluarga buleknya yang ada di kampung. Semua orang yang pernah melukiskan kisah di hidupnya berkumpul untuk memberinya kejutan.
Namun hanya satu masa lalu hidupnya yang tidak hadir dan tak akan mungkin bisa hadir. Sosok yang akan selalu tersimpan di hati selamanya.
Rasa haru tak mampu wanita itu bendung. Bahkan tak sepatah kata pun terucap dari bibir tipisnya untuk menyapa mereka semua. Hanya air mata yang tak berhenti mengalir.
"Kamu jahat pi!"
"Jahat kenapa mi?"
"Jahat kenapa nggak bilang mereka semua sudah berkumpul, penampilan mami kayak pembantu gini. Mami kan malu," gerutu Hana pelan.
"Mami tenang saja, mami tetap wanita tercantik dan tersexy di mata papi. Bahkan mami sekarang jauh lebih sexy daripada dulu," goda Kenzi sambil mengerlingkan matanya.
"Papi nakal!"
Dari seberang tampak terdengar kericuhan.
"Lepaskan pa! mama pengen lihat cucu mama. Kalian jahat memisahkan oma dengan cucunya..huaaaa!'" tangis mama Laura yang sedari tadi ingin menghambur kearah Kenzi dan Hana.
"Maafkan mama Hana, selama 3 hari ini mama di sekap mereka demi kejutan ulang tahun ini. Mama nangis terus tidak tahan pengen bertemu kalian. Pasti kamu sedih nak mama tidak ada di sampingmu selama persalinan, maafkan mama ya nak dan terima kasih sudah memberi mama cucu yang sangat tampan," ucap mama Laura dengan tulus disertai air mata.
Dalam hati Hana bersyukur ternyata prasangkanya selama ini salah besar. Keluarga Kenzi adalah keluarga baik dan sangat baik. Mereka keluarga kaya yang tidak memandang kasta ataupun suku.
"Hana yang harusnya berterima kasih sama mama dan semuanya. Hana benar-benar merasa memiliki keluarga yang utuh sekarang," tangis haru tak mampu lagi ia bendung.
Sesi haru itu tak berlangsung lama karena setelah itu mereka tertawa karena ulah baby Kennan yang mengerjai ayahnya untuk mengganti popok.
Disaat semua yang ada di dalam sibuk dengan aktivitas masing-masing, Hana tampak menangkap sebuah bayangan.
Bayangan itu adalah sosok yang sangat lama ia tak lihat. Senyuman manis yang sangat ia rindukan. Sosok itu tersenyum penuh arti kearahnya.
"Johan!"
Sosok itu pun mulai bicara meski tak begitu ia dengar namun ia mampu menangkap ucapan pada bibir sosok itu.
"Happy birtday Hana!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, sosok itu menghilang bersama angin sambil melambaikan tangan.
..._The End_...
Author mohon maaf ending novel ini hampir ngadat di jalan karena jujur author sendiri hampir lupa...✌✌😂
Untuk pertama kali author menulis sampai 2000 kata
Terima kasih untuk dukungannya ya..
Terima kasih yang setia mengikuti kisah Kenzi dan Hana..
__ADS_1
Sampai jumpa di kisah berikutnya...😘😘