My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Country of Blue Sky


__ADS_3

Seorang wanita berwajah oriental tengah mengerjap-ngerjapkan mata upturned miliknya. Pandangannya masih mengabur. Mungkin itu karena efek terlalu lama memejamkan kedua matanya. Bahkan kepalanya masih terasa berdenyut nyeri.


Deg !


'Dimana aku ? Kenapa aku ada disini ?' monolognya dalam hati.


Ia terbangun di dalam sebuah tempat, bukan seperti rumah. Sejenis gubuk atau tenda yang berangka kayu dengan dilapisi bulu kempa (semacam kain dari kapas).


Mata upternednya pun membulat meski tak bisa berbentuk bulat sempurna. Jantungnya berdesir kuat seolah tengah memompa darah extra hingga ia mampu merasakan darah itu mengalir deras disetiap nadinya.


Wanita itu seperti mengetahui tempat ini tapi ia tak bisa yakin. Ayahnya dulu sering mengajaknya mengujungi tempat seperti ini. Seketika ia mulai merindukan sang ayah yang bernama YoungLex sebelum mengganti namanya menjadi Gunawan. Kenangan tentang keluarganya di masa lalu kian berputar-putar dalam ingatannya. Semakin menambah rasa nyeri yang menusuk-nusuk di kepala.


Kini ia mulai menajamkan indera pendengarannya. Ia masih memejamkan mata upturnednya karena masih merasakan nyeri di kepala. Sayup-sayup wanita berwajah oriental itu mendengar orang yang sedang berkuda, ada suara unta dan juga kambing atau domba.


'Mustahil ! apa aku sedang bermimpi atau berpindah ke dimensi lain ? Tapi ini terasa sangat nyata.' gumamnya lagi.


Tiba-tiba pintu terbuka. Menampilkan sesosok pria yang ia baru kenal. Ingatannya kembali berputar-putar, bukannya ia sedang bersama lelaki itu di sebuah restauran. Kenapa bisa ia ada disini ?


"Pagi, kau sudah bangun ?" tanya pria bermata sipit.


Wanita itu pun terus meringsek mundur melihat pria bermata sipit itu semakin mendekat.


"Kenapa kau semakin menjauh ? aku janji tak akan menyakitimu Hana," ucap pria bermata sipit.


"Katakan apa maumu Lee ?! Kenapa kamu membawaku kesini ? Apa maksudnya semua ini ?!" tanya Hana sarkastik.


"Tenang dulu Han, sebelumnya maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini. Aku hanya rindu kebersamaan kita dulu. Maafkan aku membawamu kemari dengan cara yang extrem yaitu dengan menculikmu. Tapi kau tenang saja, aku tak akan menyakitimu. Aku ingin membawamu merasakan kedamaian di kota ini," ucap Lee.


"Kamu g*la Lee ! katakan ini dimana ? aku hanya ingin tahu tempat ini !" tanya Hana seraya mengetatkan rahangnya.


"Welcome to Country of blue sky my Queen," balas Lee dengan tersenyum.


Hana hanya mengernyitkan dahinya bingung. Ia merasa mengenal tempat ini akan tetapi ia tak bisa mengingat nama tempatnya. Kepalanya masih terasa nyeri. Sepertinya ia tidur terlalu lama efek obat bius yang Lee berikan.


"Kau tak ingat ? ini di Mongolia kampung halamanku," ucap Lee dengan bangga.

__ADS_1


"Mongolia ? benarkah ?" Wanita itu membeku ditempat, bagaimana caranya lelaki itu bisa membawanya hingga sejauh ini ? Sepertinya ia harus lebih berhati-hati. Lee ternyata bukan orang sembarangan.


"Mari ku ajak kau berkeliling dengan berkuda, cuaca di luar sana sangat cerah. Kau tak perlu takut denganku. Anggap saja ini hanya liburan," ungkap Lee dengan menampilkan senyum merekahnya.


'Liburan katamu ?! kamu bisa memindahkan tubuhku saja dengan mudah, apalagi untuk melenyapkan diriku ? Pasti jika aku mati disini tidak akan bisa ada yang menemukan diriku, Johan maupun Kenzi mereka pasti tidak akan menyangka aku bisa berada ditempat sejauh ini.'


"Kenapa masih melamun ? Kenakan mantel hangat itu. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan," ajak Lee dengan ramah.


'Aku harus berhati-hati, lebih baik aku menuruti saja keinginannya dulu selama itu masih wajar. Demi apapun aku tak ingin mati disini, aku tak ingin mati sebelum menikah.'


"Baiklah tunggu sebentar."


Hana pun mulai keluar dari gubuk itu. Ia baru mengingat gubuk itu di gunakan oleh sebagian orang Mongol yang masih menerapkan tradisi hidup Nomaden.


Bangsa Mongol memang terkenal dengan kehidupan nomadic alias nomaden. Cara hidup yang telah menjadi tradisi bangsa Mongol ini dilakukan dengan cara berpindah-pindah wilayah tempat tinggal untuk menyesuaikan dengan lingkungan alam tempat tinggalnya tersebut. Perpindahan kaum nomaden tersebut membawa serta perkakas rumah tangga, seluruh anggota keluarga, hewan ternak, hingga rumahnya itu sendiri.


Diperkirakan sekitar 30-40% warga Mongolia yang hidup secara nomaden. Rumah tradisionalnya disebut dengan “ger” atau yang lebih dikenal dengan bahasa Rusia “yurt”. Rumah “ger” berbentuk tenda dengan rangka kayu yang dilapisi bulu kempa (semacam kain dari kapas). Bahan bangunan ini cukup ringan sehingga bisa dibawa di atas unta.


Pantas saja selama di dalam ia merasa hangat tak merasakan udara yang dingin menusuk tulang seperti di luar. Meski cuaca tampak biru cerah sedikit berawan. Hana pun mengetatkan mantelnya untuk menghalangi hawa dingin itu masuk ke dalam tubuhnya.


Wajah berwajah oriental itu tampak terpukau dengan pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Terlihat dari tatapan matanya yang berbinar-binar menatap daratan hijau nan luas membentang indah di hadapannya dengan dikeliling pegunungan.



"Sudah ku duga, kau pasti menyukainya. Aku janji akan membuatmu merasa nyaman selama disini, bagaimana pun kau sangat berharga bagiku. Jadi bagaimana ? apa kau mau ikut denganku ?" tawar Lee kembali.


Wanita berwajah oriental itu hanya mengangguk sedikit ragu-ragu.


"Baiklah, ayo kita berkuda. Apa kau bisa menunggangi kuda ?"


Hana pun hanya menggelengkan kepalanya. Dan Lee merasa gemas sendiri melihatnya. Wanita yang ada dihadapannya saat ini begitu polos. Semua wanita yang sudah pernah ia kencani tak akan pernah mau ia ajak ke tempat seperti ini.


Katanya udaranya bisa merusak kulit mulus mereka. Tapi tanggapan berbeda justru dari wanita yang ada disampingnya ini. Terlihat binar bahagia dari kedua matanya. Memandangi saja sudah membuatnya senang. Ternyata bahagia itu sesederhana ini.


"Baik, aku akan mengajarimu cara berkuda dengan baik," ucap Lee dengan senyuman bahagia.

__ADS_1


Hana pun hanya mengikutinya dari belakang. Mereka menunggangi kuda yang sama. Hana berada didepan dan Lee berada di belakangnya. Posisi ini terlalu intim untuknya.


Sebelumnya ia tak pernah sedekat ini dengan lelaki lain selain Johan dan Kenzi. Posisi ini membuatnya gugup, ia mampu merasakan hembusan nafas Lee tepat di belakang telinganya.


Tapi mau bagaimana lagi, ia memang belum bisa menunggangi kuda.


"Jika kau ingin mulai memerintah kuda ini berjalan tinggal tarik saja temalinya, maka ia akan segera berjalan. Seperti ini.," ungkap Lee menjelaskan sambil mempraktikan langsung.


"Tapi jika kau ingin menambah kecepatan larinya gunakan pecut ini, kalau tidak kudamu tak akan bisa menyalip temannya sudah pasti kau akan tertinggal," imbuh Lee.


Hana yang duduk didepan Lee hanya mengangguk mengerti, ia masih mengatur detak jantungnya yang tak menentu. Bukan perasaan suka atau apa, hanya perasaan gugup yang ia rasakan karena ia dan Lee baru bertemu kemarin meski mereka dulu berteman saat masih kanak-kanak.


Kembali Hana di manjakan dengan pemandangan yang memukau. Ada beberapa anak remaja belajar menggembala ternak milik orang tuanya. Dan pemandangan padang rumput hijau yang sangat luas.



Negara Mongolia memiliki wilayah daratan terbesar kedua di dunia. Terbesar pertama adalah negara tetangganya yakni Kazakhstan. Wilayah Mongolia diapit oleh Rusia dibagian Utara dan China di bagian selatan. Sehingga Mongolia menjadi negara daratan Asia Timur yang terkurung oleh dua negara raksasa.


Sebagian besar Mongolia terdiri dari daratan padang rumput yang sangat luas atau disebut juga Stepa. Luasnya bahkan bermil-mil membentang luas dengan di keliling pergunungan dan gurun.


Pemandangannya yang indah mampu memanjakan penglihatan matanya membuat Hana melupakan sejenak akan kenyataan bahwa ia sedang diculik. Dan juga perlakuan lelaki bermata sipit itu. Membuatnya merasa seperti bukan tawanan.


"Nanti malam ada pesta barberque apa kau ingin ikut ? kami biasa melakukan pesta api unggun disaat musim dingin menyerang begini, bagaimana ?" ucap Lee seraya memperlambat laju kudanya agar Hana mampu menikmati ciptaan Tuhan yang maha sempurna di hadapannya.


"Boleh."


Lee pun menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Ini lah waktu yang ia tunggu sedari dulu. Bisa berdua dengan orang ada dihati di tempat terdamai di kampung halamannya ini. Menghabiskan sisa umur berdua hingga akhir hayat. Sayangnya itu masih dalam angannya saja.


Lalu lelaki bermata sipit itu pun mempercepat kembali laju kudanya untuk mengajak Hana berkeliling. Ia ingin memperkenalkan budaya keluarganya kepada Hana.



Bonus visual Lee.


Apakah disini ada yang kenal dengan doi ? film layar lebar doi baru keluar tahun kemarin yang sudah nonton pasti tahu.. hehe.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya ya..


Selamat membaca.. 😘😘


__ADS_2